Tinggalkan komentar

Penggalan Surat, Ternyata Berisi Renungan – Catatan Martin Siregar

Oleh:  Martin Siregar

Ini adalah penggalan surat ku untuk empat gadis manis yang sebaya dengan anak anak kawanku. Mereka tinggal di Pontianak sedang repot meninti karir kehidupan.

minggu ke tiga mei 2009

Aku sendiri masih heboh dengan jualan buku. Cukup menyenangkan karena kawan kawan lama di saat ABG tahun 80 an memberi respon positif terhadap karya tulisku.

Wacana dan aura realitas yang paling dekat dengan dunia kami pada saat itu tergambar di kepala kawan kawan lama. Beberapa kawan menghimbau anaknya yang sudah SMA dan mahasiswa tuk membaca karyaku. Mungkin dinilainya buku aku bisa bikin anaknya semakin matang menghadapi hidup ini.

Disisi yang lain, aku banyak kenal sosok muda yang memberi perhatian serius terhadap dunia tulis baca. Ada yang masih dalam semangat menggelora, Dia mengoceh panjang ke aku tentang pentingnya menulis. Katanya,… peradaban dunia ini dimulai dari ditemukannya mesin cetak pada abad 15. Kemudian revolusi industri itu mulai menemukan radio, televise dan handicamp dan lain lain. Perangkat perangkat audiovisual yang sangat praktis dan efektif. Semua perangkat lunak yang mahal harganya,…Ternyata tidak mampu mengalahkan kekuatan tulisan dalam menyampaikan pesan kepada masyarkat. Laskar Pelang dan Ayat Ayat Cinta adalah karya tulis yang diobah menjadi karya film. Para penonton film kecewa karena pesan yang disampaikan lewat tulisan (dalam buku) justru menyimpang dan tidak mendalam ketika disampaikan lewat film. Makanya kawan muda itu sangat fanatic mencintai kegiatan menulis. Aku merasa semakin dikuatkan oleh diskripsi yang dipaparkannya.

Tapi ada juga yang pesimis mengalami jalan buntu dalam usaha menekuni dunia tulis menulis. Mulai ngak percaya profesi nulis bisa menjamin masa depan gemilang. Padahal dia sudah berprofesi sebagai reporter di harian ternama. Dia sedang bingung melihat media massa tempat kerjanya yang kurang menyediakan sarana untuk reporter kreatif. (Mungkin) itu yang membuat dia kecewa dan mengeluarkan penyataan tersebut.

Ada pula yang meninjaunya secara ideologis. Katanya :” Bang..di dunia musik ada aliran baru yang sedang berkembang”. Namanya aliran “indi” . Sebuah aliran musik yang didasari oleh kejengkelan melihat perkembangan musik yang sangat ditentukan oleh industri dan kebutuhan konsumen. Kreatifitas yang orisinil tidak bisa muncul karena karya cipta musik sangat ditentukan pemilik modal yang sudah memahami kebutuhan pasar. Oleh sebab itu, segala cipta karya yang bertentangan dengan kebutuhan pasar adalah “jelek”. Kawan muda yang simpatik ini kembali menambahkan uraiannya. Sekarang para seniman musik tersebut semakin potensial. Semakin mampu mandiri tanpa dicengkeram oleh pemilik modal dalam menciptakan hasil karya.

Walaupun disisi lain terjadi penghianatan. Ada konser musik Indi yang disponsori oleh…….(sebuah industri rokok).

Aku berbicara lisan bukan lewat tulisan dengan kawan muda yang satu ini. Makanya dengan jelas aku bisa tangkap air mukanyanya yang sedih pedih melihat penyimpangan tersebut. Begitu besar niatnya berpihak ke kemurnian karya seni musik . Dan, terkesan dia sangat mengharapkan aku membantu luka hatinya. Ini yang membuat aku bingung. Bagaimana mungkin aku yang belum ngerti soal pertikaian itu bisa membantu dia secara kongkrit ??. Bagaimana mungkin ????

Aku semakin suntuk dan berbeban berat ketika dia lanjut bicara. “Mungkin abang bisa mengorganeser para penulis pemula untuk menganut aliran indi”. Aku sangat yakin bahwa dia salah alamat. Mana mungkin aku mau dan sanggup melakukan itu ???. Kunyatakan bahwa aku tidak bersedia mengemban tugas tersebut. Mendengar responku yang negative membuat dia sedih. Katanya: “Sebenarnya abang adalah orang yang kental dengan aliran indi. Aku terkejut dan:”Kenapa kok dibilang begitu”.

Abang sudah menciptakan karya tulis orisinil yang tak memperdulikan kaidah kaidah bahasa Indonesia dan scenario yang ditetapkan oleh para sastrawan. Menerbitkan karya itu atas (modal) usaha diri sendiri, lantas menjualnya sendiri lewat berbagai sarana. Aku bilang tidak secara langsung niatku melawan mereka. Tapi, banyak pihak nyatakan bahwa aku telah melakukan perlawanan. Ucapanku yang sembarangan, justru membuat kawan muda ini bersemangat. Nah !! Itu dia. Kemurnian abang yang tidak ingin popular dan dapat duit banyak dari karya tulis adalah potensi tuk bangun organisasi indi. Dia sangat yakin dan aku tak kuasa membantah keyakinan dia. Maka kututup pembicaraan kami sore itu.”Okelah..nanti bantu aku mengerjakan tahapan tahapan yang perlu kita lalui demi untuk mencapai aliran indi tersebut.” Oke…!!!, akupun genjot sepeda. Meninggalkan dia yang masih menyisakan kesedihan.

Kukayuh sepeda tuaku sambil merenung kalimat yang tadi disebutkan kawan yang tinggal di Palembang: ” Proses interaksi bersama mahluk hidup (hewan tumbuhan dan manusia) adalah sarana untuk mewujudkan cinta kasih yang sempurna serta rendah hati yang sungguh”.

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: