3 Komentar

Hikayat 3 Sahabat #40 Tamat – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama

___

LAMPIRAN

Sekarang…

Haji Engkur adalah pengusaha bengkel bubut besar dengan nama Bengkel Bubut “EB”. Huruf EB ini singkatan dari Engkur Bubut. Kata bubut itu melekat dengan dirinya menunjukkan dedikasinya yang luar biasa kepada perbubutan. Selain pengusaha bengkel bubut, ia pun membuka dealer motor. Bisa ditebak, nama dealernya pun Dealer Motor “EB”. Tak ada orang yang bisa membubut sebaik H. Engkur. Yang luar biasa adalah dia pergi naik haji saat usianya belum 30 tahun. Saat ini, mungkin H. Engkur termasuk salah satu orang kaya di kampung itu. Waktu kerja dengan Ko Liem, Engkur menyisihkan sebagian gajinya untuk ditabung, sedangkan sisanya dipakai untuk memenuhi makan mereka. Engkur kerja dengan Ko Liem hampir tujuh tahun. Perubahan nasib Engkur terjadi setelah istri Ko Liem meninggal. Ko Liem sangat mencintai istrinya sehingga ia sangat terpukul dengan meninggalnya istrinya. Untuk melupakan istrinya, Ko Liem berniat pindah ke luar kota dan berniat membuka toko sembako di kota itu. Untuk itu, Ko Liem bermaksud menjual bengkel dan perlengkapan bubutnya. Mendengar Ko Liem mau menjual bengkelnya, Engkur berniat membelinya. Tabungannya sudah banyak, tapi masih kurang sedikit  dari harga yang ditawarkan oleh Ko Liem. Ketika tahu Engkur  sangat ingin membeli bengkelnya, Ko Liem pun menurunkan harganya disesuaikan dengan jumlah uang yang Engkur punyai. Ko Liem senang sebab  yang membeli bengkelnya adalah pegawainya yang sangat disayanginya. Dengan demikian, Engkur sebenarnya tinggal meneruskan usaha bubut yang sudah berjalan dengan lancar. Sebab itu, tidaklah heran jika dalam waktu singkat, Engkur sudah menjadi orang kaya di sana.

Damis tak kalah sukses dengan Engkur. Ia menjadi penguasa kue dan makanan. Kue dan makanan yang dijualnya bermacam-macam. Tapi, yang khas dari Damis adalah kue gemblong yang membuat dikenal sebagai Damis Gemblong. Ia diwarisi resep rahasia pembuatan gemblong oleh pembuat gemblong yang hebat.  Sebab dialah satu-satunya orang yang setia menjual gemblong orang itu. Upah dari menjualkan gemblong itu dia tabung di sebuah bank. Beruntung sekali dia, ternyata Damis mendapat hadiah sepeda motor dari bank itu ketika ada program promosi bagi-bagi sepeda motor dari bank tersebut. Yang tadinya ia berkeliling dari satu kampung ke kampung lain, ia pun berkeliling dengan sepeda motor. Maka, jangkauannya pun makin jauh. Dan, makin banyak pelanggannya. Sedikit demi sedikit hasil jerih payahnya ditabung, hingga dia mampu membeli rumah kecil. Dari rumah kecil itu, ia memproduksi gemblong sendiri. Sebab permintaan gemblongnya meningkat terus, dia pun mencari pegawai. Ketika gemblong mulai sepi, dia membuat kue lain. Kadang dia berkreasi sendiri, bukan lagi kue tradisional. Sekarang Damis punya sebuh toko kue yang terletak di jalan raya pusat kota. Bahkan, selain punya toko sendiri, Damis pun masih memasok kue-kue tertentu pada toko-toko kue di luar kota.  Sekarang dia tinggal di sebuah gedung besar.

Iin Budiman bisa menyelesaikan kuliah strata 1 di IKIP Jakarta dan strata 2 di Universitas Indonesia. Sekarang bekerja sebagai seorang dosen,  konsultan, dan trainer di Jakarta tinggal di pinggiran ibukota. Ia sering menulis di berbagai surat kabar tentang berbagai permasalahan sosial. Beberapa buku pelajaran dan buku pengetahuan umum juga pernah ditulisnya. Ia sangat bersyukur sebab tidak lagi tinggal di rumah kontrakan.

Kang Suta sudah lama meninggal. Ternyata selain punya penyakit ayan, Kang Suta juga punya penyakit asma. Satu malam ketika hujan deras mengguyur, penyakit asmanya Kumat. Tapi, tak satu pun keluargannya yang tahu sebab mereka tidur nyenyak sekali.  Mereka baru tahu Kang Suta meninggal besok paginya. Mang Kanta masih hidup. Tapi, sudah sangat tua. Sebelum PS Oray Weling benar-benar bubar, sempat ganti nama menjadi PS Sanca Muda. Akhirnya bubar juga sebab lapangan Katalaya dijual. Dan, oleh pemilik barunya, lapangan itu dijadikan pabrik. Sejak itu, kegiatan Mang Kanta hanya mengobrol-ngobrol saja dengan tetangga. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, istrinya berjualan nasi uduk pagi-pagi. Ki Ijot sudah lama meninggal. Anak-anaknya tidak ada yang mewarisi ilmunya. Mang Tiing sudah pindah dari kampung itu. Di bekas rumahnya berdiri beberapa bangunan. Salah satu bangunannya dikontrakan kepada tukang cukur. Agus sudah lama menikah. Tinggal bersama istrinya di kampung lain. Kang Utang pindah ke Kalimantan. Kang Saji sudah menikah, punya dua anak.

Tuan Brosmann? Sudah tidak ada lagi sejak sumur burung itu diratakan dengan tanah dan SD Inpres baru berdiri di sana.  (TAMAT)

Tambun, 5 Januari 2010

________________________________

INSAN PURNAMA, lahir di Karawang,  27 Juli 1969. Sekarang tinggal di Tambun, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, bersama istri dan tiga orang anak.

Sejak 1996  mengajar di sebuah lembaga bimbingan & konsultasi belajar di Jakarta,  pembuat modul belajar bahasa dan sastra Indonesia, dan sejak tahun 2003 menjadi trainer bagi guru-guru muda.

Dunia tulis-menulis digemarinya selama menjadi mahasiswa. Saat itu cerpen-cerpennya pernah dimuat di Media Indonesia; berbagai artikel masalah sosial politik pernah dimuat di Harian Terbit, Republika, dan tabloid Aksi (sekarang tidak terbit).

Tentang Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

3 comments on “Hikayat 3 Sahabat #40 Tamat – Novel Insan Purnama

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: