2 Komentar

Malinggg Juga Maling! – Cerpen Ramdani Nur

Malinggg Juga Maling!

oleh: Ramdhani Nur

Sumber gambar:http://kongbengwahyu.blogspot.com/

“Sekali waktu ada yang berani mencuri. Seperti yang dialami Samsuri. Dia dipukuli habis-habisan. Padahal sebenarnya dia tidak bermaksud mencuri. Hanya meminjam tanpa bilang-bilang. Sayangnya dalam bahasa hukum, maknanya tetap saja sama. Mencuri.”

*****

Sepanjang sejarah berdirinya, baru kali ini isu pencurian begitu geger mengguncang Desa Kerto. Tiga bulan lalu empat sapi milik Haji Sobran ludes digasak maling, bingarnya tak sampai seberisik ini. Atau yang lebih parah lagi adalah kejadian yang menimpa keluarga Pepeng hampir setahun lalu. Bukan cuma isi rumah yang sukses digondol rampok melainkan juga anak gadisnya sendiri yang raib dibawa serta. Bahkan ketika istri Pepeng yang tertimpa stres berat setelahnya, masyarakat sudah mulai lupa. Hilang dihantam berita penggasakan warung nasi milik Mugeni.

Desa ini sudah terbiasa dengan pencurian. Mulai dari hal sepele hingga yang bertele-tele. Pencurian bibit padi, mangga, ayam, sapi, hp, tv, motor, tanah, rumah, semua sudah pernah terjadi. Dulu masyarakat Desa Kerto memang resah. Maling kok tidak ada berhentinya. Banyak yang menuding bahwa lemahnya pengamanan adalah sumber masalahnya. Satpam di sini tidak mumpuni untuk menjaga keamanan masyarakat. Puncaknya, Kades diminta warga untuk segera mengganti pimpinan keamanan. Atau kalau perlu ada penambahan personil polisi untuk memperkuatnya.

“Siapa yang mau menggaji?” Pak Kades bertanya. Ingin memastikan kesungguhan warga untuk menambah kekuatan keamanan di desanya.

“Kami! Masyarakat semua, termasuk Pak Kades,” jawab Haji Sobran yang diusung-usung warga menjadi perwakilan mereka.

“Caranya?”

“Naikkan saja tarif uang kebersihan, atau tips pembuatan KTP, KK dan surat-surat lainnya. Saya kira cukup untuk menggaji seorang polisi dalam satu bulan.”

“Kalau cuma mau minum kopi atau sarapan, saya bisa gratiskan di warung saya!” timpal Mugeni.

“Servis motor, atau ganti oli bisa cuma-cuma di bengkel saya,” tambah Sukrisno.

“Nah, kalau kebetulan badan pegel-pegel atau masuk angin, bisa minta pijit atau kerokan di tempat saya,” suguh Yuk Karsih tukang pijat desa setengah tersenyum.

“Bagaimana? Setuju Saudara-saudara?” tanya Haji Sobran.

“Setujuuu!” begitu koor yang tercipta di belakang tubuh Haji Sobran. Sekelompok orang yang pernah menjadi korban pencurian.

Pak Kades memang tidak secara nyata menyetujui, tapi minggu depannya terasa ada yang berbeda di Desa Kerto. Seorang Polisi berpangkat Brigadir Satu, kerap terlihat di jalan-jalan desa. Ini mungkin petugas yang dimaksud. Tampangnya cukup menyeramkan. Besar dan gagah. Maling sepertinya akan tersungkur menerima satu pukulan darinya. Ditambah lagi sebilah belati dan sepucuk pistol yang tersangkut di kiri kanan pinggangnya. Para maling itu harus berpikir tiga atau empat kali untuk kembali menjarah penduduk desa.

Memang ada perubahan drastis setelah anggota polisi itu mulai bertugas. Dalam satu minggu tidak ada lagi laporan masyarakat atas kehilangan harta bendanya. Warga tidak terlalu was-was lagi memarkir motornya di halaman rumah. Atau keluar rumah pada malam hari karena ada suatu keperluan. Semuanya serba terjamin.

Sekali waktu ada yang berani mencuri. Seperti yang dialami Samsuri. Dia dipukuli habis-habisan. Padahal sebenarnya dia tidak bermaksud mencuri. Hanya meminjam tanpa bilang-bilang. Sayangnya dalam bahasa hukum, maknanya tetap saja sama. Mencuri. Akibatnya Samsuri harus masuk rumah sakit gara-gara sapi yang dipinjamnya dari pamannya – Haji Sobran – dibawa ke rumahnya untuk dikawinsilangkan dengan sapi miliknya.

“Namanya Sukroto!” bisik Mugeni pada Margono lewat azan Dhuhur di warung nasinya.

“Kok namanya aneh. Mamang sampean nanya begitu?”

Ndak…! Saya ndak berani ngobrol banyak-banyak. Orangnya sangar!”

“Lha itu kok tahu?”

“Kan ada tulisan di baju seragamnya.”
Mugeni menyerahkan segelas teh hangat di depan kursi duduk Margono. “Kadang saya menyesal juga pernah menyanggupi ngasih makan dan kopi buat polisi itu. Makannya ndak kira-kira. Ya ayam, ya ikan juga. Plus telor asin. Kopi panas sih sudah pasti ndak kelewat. Kalau tiap hari begitu bisa rugi juga saya.”

“Tapi kan hasilnya aman. Tidak ada maling.”

“Kalau dihitung-hitung dalam sebulan ya lebih rugi daripada kemalingan.”

Ini baru dari mulut Mugeni. Ternyata Yu Karsih pun belakangan mengeluhkan hal serupa. Dia pikir polisi bertubuh besar itu tidak akan pegal-pegal setiap hari. Tapi nyatanya kok ya hampir tiap malam polisi itu selalu datang ke rumah Yu Karsih. Ada-ada saja permintaannya. Paling sering ya minta dipijiti. Atau tetap minta kerokan padahal sudah diberi jamu bermacam rupa.

“Badannya itu lho, alot. Pegelnya bukan main kalau habis mijit punggungnya. Terus mintanya pengen yang lama. Lha pelanggan saya akhirnya pada nggak kebagian pijitan saya. Saya dapat uang dari mana?”

“Kan dari saya!” kali ini Margono tengah berada di dipan rumah Yuk Karsih. Minta dipijati.

“Halah! Sampeyan paling banter cuma ngasih duit sepuluh ribu.”

“Yang penting bayar,” balas Margono. “Anu, selain mijit dia suka minta apa lagi?”

“Hush! Itu rahasia!” genit Yu Karsih.

Ini cuma awalnya saja. Keresahan Mugeni dan Yu Karsih ternyata menjalar ke lain warga. Bukan soal keamanan. Dan mungkin juga tidak ada sangkut pautnya dengan kehadiran polisi itu. Pak Kades jadi sewenang-wenang. Minggu lalu tarif uang kebersihan naik lagi. Padahal waktu awal bulan sudah naik. Begitu juga dengan tarif pembuatan KTP. Untuk menutupi biaya operasional keamanan, katanya. Entah benar atau tidak. Warga tidak lagi berani berduyun-duyun bertanya pada Pak Kades. Keburu dihadang anggota polisi itu beserta para satpam bawahannya. Belum cukup isu ini mereda, ada lagi laporan dari masyarakat miskin. Bahwa untuk mengambil jatah raskin dan pembuatan surat gakin, ternyata harus sedia uang sekian rupiah. Sudah keterlaluan Pak Kades ini. Kejengkelan warga terhadap Pak Kades harus surut di bawah tatapan tajam polisi berpangkat Briptu.

“Kita harus bertindak, Pak Haji!” pinta Margono pada rapat tertutup warga di rumah Haji Sobran. “Kita tidak mungkin terus menerima perlakuan seperti ini.”

“Iya, Pak Haji. Selain tiap hari saya mesti nombokin makanan, warga juga jadi takut mampir ke warung saya,” Mugeni ikut menambahkan.

“Tempat pijat saya juga sepi, Pak Haji. Pelanggan saya nggak kebagian servis saya,” ringis Yu Karsih.

“Orang miskin kok disuruh beli raskin. Harganya juga mahal. Lha duit dari mana?”

“Saya mengerti,” Haji Sobran menenangkan, “cuma saya belum kepikiran caranya. Saya masih teringat-ingat nasib Samsuri. Saya tidak mau ada warga kita yang mengalami nasib serupa. Kecuali ada yang punya ide lain.”

Semua terdiam. Sepertinya, dengan situasi ini, penyelesaiannya hanya meninggalkan dua cara. Pertama dengan cara kekuatan, yaitu dengan mendobrak kekuasan Pak Kades setelah terlebih dahulu mendobrak hadangan pasukan keamanan yang dikomandai petugas polisi itu. Risikonya pasti akan ada korban yang berjatuhan, terutama dari pihak warga. Terlebih, sepertinya belum ada warga yang berani melakukan cara itu meski dilakukan bersama-sama. Cara kedua? Nah, itulah yang tengah dipikirkan Margono, mantan mahasiswa yang tidak pernah diwisuda. Saat kepepet begini idenya selalu lahir tiba-tiba.

“Kalau yang lain setuju, saya punya cara sendiri sebagai jalan keluarnya.” Begitu Margono mulai berbicara.

“Kamu mau melawan polisi itu?”

“Bukan, Pak Haji!”

“Lalu?”

“Saya mau mencuri!”

Lemaslah badan Haji Sobran. Sama juga yang terlihat pada peserta rapat lainnya. Ini jelas bukan solusi. Meski Margono tetap berapi-api menjelaskan maksudnya, warga yang hadir sudah terlanjur pesimis.

“Saya yakin, Saudara-saudara! Ini pasti berhasil!” itu teriakan Margono sebelum rapat akhirnya bubar.

***

Dimulai pada hari Senin lalu. Isu pencurian yang menggeger itu bermulalah. Kali ini bukan harta benda warga yang raib digondol maling. Sumber keributannya datang dari Pos Keamanan dan Kantor Kuwu, saat apel mingguan itu baru dimulai. Pak Kades dan Kepala Keamanan yang dijabat polisi berpangkat Briptu itu tak juga muncul di halaman kelurahan. Seperti ada masalah yang tengah dialami keduanya.

Suara bising terdengar dari kamar mandi Pos Keamanan. Lengkingan umpatan jauh lebih lantang terdengar dibanding yang bersumber dari toilet Kantor Kuwu.

“Kampreeet!!! Keparat! Siapa yang berani mencuri celana seragam saya? Saya tembak nanti!”

Yang mendengar hanya mampu tersenyum-senyum tak berani membantu membukakan pintu.

Di lain tempat, Pak Kades terpaksa menutupi kemaluannya dengan kaus singlet, sebelum diberikan celana seragam milik tukang sapu.

Begitu. Dan itu terus terjadi beberapa kali sampai hari ini. Pencurian celana seragam itu lebih menggegerkan daripada seluruh kisah pencurian yang pernah terjadi di Desa Kerto. Karena pencurinya tidak pernah tertangkap.

*

“Hebat kamu, Gon!” puji Mugeni pada Margono di warung nasinya. Margono hanya tersenyum sambil menyeruput kopi. Dua buah celana seragam polisi dan PNS milik Pak Kades teronggok di sampingnya. Itu celana seragam kelima hasil curiannya sampai hari ini. Apa mereka masih punya malu, meski tanpa celana seragam? Begitulah kira-kira pikiran Margono.

*

Cirebon, 3 Januari 2012

*Judul tulisan diinspirasi dari novel “Poconggg Juga Pocong” karya @poconggg/Arief Muhammad

2 comments on “Malinggg Juga Maling! – Cerpen Ramdani Nur

  1. [...] Read more from the original source:  Malinggg Juga Maling! – Cerpen Ramdani Nur « Kumpulan Fiksi [...]

  2. tulisan yang membuat saya senyum-senyum sendiri , sambil membayangkan kejadian itu disebuah desa yang penduduknya jujur, polos tetapi penakut. Cepat marah tetapi cepat memaafkan

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s