Tinggalkan komentar

Pak Sintong #7 – Cerbung Martin Siregar

Pak Sintong #7 

Cerbung Martin Siregar

Amsal dengan perasaan bersalah  dan suara memelas menjelaskan alasannya datang ke HRM.

“Oh !!! kami belum baca tulusan itu. Dimuat dimana dan tentang apa? Masuklah dulu “ Ari mulai mengendur merasa iba melihat Amsal yang macam orang pesakitan menerangkan alasannya datang ke HRM.

“Ma kasih… Bang”  Ferri membuka sepatu dan duduk bersama Amsal dan Ari. Tulisannya itu cukup ekstrim berjudul; ”Negara adalah Alat Pemaksa”. Dalam tulisan itu diuraikan Pak Sintong bahwa negara bisa lahir apabila ada kelas sosial tertentu yang rakus kekuasaan berhasil menguasai kelas sosial lainnya. Jadi, negara tercipta karena ada niat mempermanentkan penindasan oleh kelas sosial tertentu.

“Kami kesini ingin mendiskusikan hal itu sekaligus menghapus rindu sudah lama tak ke HRM”. Ferri membuka pembicaraan.

“Kalau thema tulisan itu sudah pernah saya baca di file komputer Pak Sintong”. Dan kami sudah mendiskusikannya”. Nah…mungkin tulisan itu sudah lama dikirim Pak Sintong dan baru hari ini dimuat di koran”. Ari menunjukan sikap seorang senior yang bersahabat, lalu dilanjutkannya: “Kalau ingin mendiskusikan hal itu, lebih baik dengan Bang Indra” . Pikiran Bang Indra tak banyak beda dengan Pak Sintong.

“Mana Bang Indra ?. Amsal antusias bertanya.

“Ada itu diruang kerjanya. Apa mau dipanggil sekarang ?” Ari menawarkan

“Ah tak usahlah Bang, nanti saja kalau ada waktu santai kita diskusikan thema itu”.

Lalu Asep datang dengan 3 cangkir kopi “Silahkan diminum” katanya.

Belakangan ini polisi negara memang menghabiskan energi untuk mengawasi gerakan terrorisme islam. Disana sini terjadi tindak kriminal yang menelan korban nyawa maupun harta benda. Padahal pusat pusat bussines ekonomi negara dan swasta sudah mendapat pengawal ketat supaya tidak terjadi perampokan. Tapi, tetap saja jebol dan berhasil dirampok atau di bom.

Memang ada perbedaan pendapat di internal islam dalam memberi konstribusi politik negara. Tapi, itu hanya terjadi di internal lembaga dan individu umat islam. Jadi sangat jauh dari terroris. Kelompok terroris tidak terlibat dalam perbedaan pendapat tersebut.  Kelompok islam ekstrim adalah gerakan bawah tanah yang ingin merusak negara. Termasuk merusak nama baik lembaga lembaga islam yang menghargai kemajemukan. Para santri dilatih perang gerilya, membuat bom rakitan cara membunuh secara praktis, dan berani mati demi untuk sebuah cita cita yang busuk. Mungkin pondok pesantren Al Dalamis dimusuhi pondok pesantren Al Kanting karena membuka diri bekerja sama dengan pihak diluar Islam. Dan dari belakang layar mungkin  Al Kanting yang membuat Pak Sintong diangkut paksa oleh militer dari HRM tempo hari.

Tapi, semuanya itu masih praduga. Kita tak punya kesempatan untuk menelusuri kepastian praduga tersebut. Masih banyak kerja lebih bermanfaat yang dapat kita lakukan dari pada menghabiskan energi untuk melacak keterlibatan Al  Dalmais.

Indra keluar dari kamar kerjanya. “Hey ! apa kabar. Sudah lama kalian tak kesini. Apa kalian hanya mau berkawan dengan Pak Sintong dan tidak mau berkawan sama kami?” Indra sapa Amsal dan Ferri.

“Ah,.. tidak bang Indra. Kami kawan dengan seluruh warga HRM. Hanya saja kebetulan ingin jumpa dengan Pak Sintong”. Ferri merespon Bang Indra sambil senyum.

“Memang Pak Sintong manusia yang luar biasa, sehingga banyak masukan yang dapat kita peroleh dari beliau. Selama kami diskusi, saya mendapat banyak ilmu dari Pak Sintong yang selalu pura pura bego” “Jadi wajar saja kalian simpatik terhadap beliau”. Indra ikut duduk bersila di ruang tamu. Tidak kembali lagi ke ruang kerja setelah buang air kecil di WC belakang.

“Memang betul ada tulisan Pak Sintong di koran. Naskahnya sudah dikirim Pak Sintong minggu lalu dan baru diterbitkan hari ini. Naskah itu pernah kami diskusikan, jadi, sedikitnya saya sudah agak menguasainya”. Indra rupanya nguping pembicaraan dari tadi, sehingga langsung paham maksud kedatangan Amsal dan Ferri.

“Iya Bang… menarik sekali tulisan itu. Menurut pendapat saya itu pikiran komunis. Apa betul begitu, Bang” Amsal merasa senang, nampaknya Indra berniat mendiskusikannya sebagai pengganti  posisi Pak Sintong.

Pikiran yang ke kiri kirian agak populer di tengah tengah mahasiswa. Hal ini juga melanda pikiran Amsal dan Ferri. Mereka berdua dapat mendalami ideologi  kiri karena mengenal Pak Sintong yang tidak dikenal oleh mahasiwa pada umumya. Kupasan Marx disajikan lengkap mendalam dan dipaparkan pak Sintong dengan ringan. Sedangkan, para mahasiswa pada umumnya terlalu dangkal mengkaji pikiran (terutama) Marx.

Ada mahasiswa yang merasa dirinya sangat radikal karena sudah pakai ikat kepala rambut gondrong, kaos t shirt gambar che gevara,  celana jeans sengaja lutut dikoyak berteriak teriak menenteng poster sambil ramai berbaris melakukan demo. Padahal tak pernah mengisi kepalanya dengan ilmu pengetahuan. Ada yang mengoceh panjang lebar tentang  gagasan dari sebuah buku, padahal buku itu tak pernah dilihatnya (apalagi dibacanya). Hanya mendengar sebuah pemikiran yang disampaikan pada seminar, lokakarya dan tidak pernah mengupasnya secara mendetail. Tapi, mahasiswa sudah berani mengoceh ke sana sini. Dan, banyak juga mahasiswa yang tak mau perduli terhadap gerakan mahasiswa. Mereka sibuk belajar sambil menutup kuping dan mata supaya tidak tergoda ikut gerakan mahasiswa. Amanah orang tua dari desa supaya belajar sungguh sungguh di perguruan tinggi diijalankan dengan sangat serius. Sehingga tak mengenal dunia lain, selain ruang kuliah dan kamar indekost. Ada mahasiswa terlibat dalam perdagangan narkoba, sexual, islam garis keras, perampok dan lain lain. Beraneka corak mahasiswa dapat kita tonton di setiap kampus Indonesia. Jauh sekali dari suasana  intelektual yang mengemban tri dharma perguruan tinggi.

Amsal dan Ferri adalah sebuah pengecualian. Mereka tak terhegomoni oleh keberadaan mahasiswa saat sekarang ini. Mereka tekun belajar dan mengorganiser kawan kawanya agar menimba ilmu bukan dari ruang kuliah saja. Tapi, belajar dari realitas sosial yang terjadi dalam kehidupan sehari hari di masyarakat.

“Sulit kita membahas ideologi Marxisme. Apalagi kalau tak ada persiapan”. Indra mulai bicara.

“ Yah,…pokoknya kalau bicara Marxisme kita jangan macam mahasiswa” ha…ha… ha… Ari berkomentar. Nampak sekali kebenciaan Ari terhadap keberadaan mahasiswa. Dalam setiap pembicaraan Ari tetap memojokan mahasiswa. Seolah oleh tidak ada lagi hal posistif yang bisa diteladani dari mahasiswa.

“Sudahlah Ari, komentarmu diluar konteks. Biar saja mahasiswa berbuat apa saja. Yang jelas Amsal dan Ferri bukan bagian dari gambaran mahasiswa yang bobrok itu. Mereka berniat baik mempelajari pikiran Marxisme”. Indra kawatir Amsal dan Ferri tersinggung oleh perkataan Ari. Itu makanya diklarifikasinya ucapan Ari. Sedangkan Ari karena merasa sudah paham pikiran Amsal dan Ferri, maka dia yakin bahwa ucapanya itu tak menyinggung perasaan Amsal dan Ferri”.

“Saya pikir harus jelas dulu apa yang melatarbelakangi niat kalian mengenal pikiran Marxisme”.

Berkerut kening Amsal mendengar ucapan Indra. Mungkin lontaran pertanyaan Indra belum terpikirkan Ferri dan Amsal.

“Ah !!! sekedar wacana saja Bang Indra. Supaya jangan terlalu buta mata kami mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan” Ferri mencoba merendah .

“Yah,… walaupun kau sebut hanya sekedar wacana, tapi saya melihat, pasti ada obsesi mu yang masih kau rahasiakan”. Indra menebak isi pikiran Ferri. Ferri jadi malu mendengar respon Indra. Tapi dia yakin tak ada niat bang Indra memojokan dirinya. Seluruh warga HRM berwatak positif dimata Amsal dan Ferri. (bersambung)

________________

Martin Siregar

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: