1 Komentar

Tentang Venus – Cerpen Armin Bell

TENTANG VENUS

Sebuah cerpen oleh: Armin Bell

 

 

Masih pagi, tapi antrian sudah mulai panjang. Dia ada di antrian itu, dia yang sudah lama menyita pikir dan memberi tambahan waktu berjaga sebelum tidur. Siapa namanya? Aku tak tahu. Aku hanya peduli pada senyum yang memikat itu, pada sikapnya yang luwes santun itu, pada kemeja kotak-kotak dan celana jeans biru kehitaman itu, pada sepatu kets merk ternama itu, pada jam tangan sporty itu.  

My Gosh! Begitu detilkah ingatanku tentangnya? Damn!

Ini baru kali ketiga aku melihatnya. Selalu di tempat ini dengan rentang waktu yang lama, setiap enam bulan sekali. Selebihnya aku menghadirkannya setiap malam dalam khayal. Aku jatuh cinta. Ya, jatuh cinta sejak pertama melihatnya sampai hari ini, belum berubah.

***

Namaku Venus. Kata teman-temanku, jodohku nanti harusnya bernama Mars. Mereka mengatakannya sekedar mengolok-olok pilihan nama yang tak biasa. Aku jelas tidak merasa bersalah. Orangtuaku yang pilihkan aku nama dan setelah itu mereka pergi. Meninggal dunia dengan tragis.

Mama disambar kilat saat mengangkat jemuran di samping rumah. Bukan mama yang salah, tapi pohon mangga besar itu yang entah mengapa dengan seksi mengundang sambaran api langit. Bapa tewas dalam perang antar kampung, merebut tapal batas tanah kuburan. Kami menyebutnya perang tanding.

Setelah peristiwa itu, aku tak punya rasa sedih lagi. Termasuk ketika kakakku mati di jalan, ditabrak pick up pengangkut ikan yang ngebut mengejar waktu pasar pagi di kota. Aku sudah terbiasa dengan kematian. Demikianlah aku terbiasa dengan cemoohan. Itu semua terjadi ketika aku masih sepuluh tahun, kelas empat SD. Dan siapakah yang tidak menjadi kuat ketika kehilangan semua yang dicintai pada usia semuda itu?

Kelas dua mama meninggal, kelas tiga bapa menyusul, aku dan kakakku harus pindah ke rumah nenek, kelas empat aku harus terbiasa pergi sekolah sendiri setelah kakak pergi dengan cara yang juga menggenaskan. Kelas lima dan enam aku mulai nyaman dengan olok-olokkan anak yatim piatu. Beberapa bahkan menyebutku anak sial.

Seorang peramal tua di kampung itu bilang, “Kau akan jadi orang hebat! Kematian bapa, mama dan kakakmu adalah bayaran untuk suksesmu nanti.” Saya kelas dua SMA ketika itu dan mulai percaya mengapa mereka, para sahabat kecilku menyebutku anak sial. Ya, bukankah hanya orang-orang sial yang mengorbankan orang lain untuk kesuksesan pribadi mereka? Maka aku tak pernah marah disebut anak sial.

***

Demikian pula aku tak marah disebut mahasiswi bernama aneh ketika kuliah. Venus. Mereka memandangnya aneh karena itu adalah judul buku; perempuan dari venus dan pria dari mars, begitu kira-kira judul buku itu dan aku tidak pernah baca. Tetapi perlahan hidupku memang menunjukkan jatidirinya sebagai anak aneh dengan sangat baik. Selalu juara sejak SD sampai kuliah dan kini kerja di Bank terkemuka, jauh dari kampung asalku, padahal aku yatim piatu.

“Kau bisa saja gila,” kata dosen pengantar psikologi ketika mendengar ceritaku di semester awal.

“Tetapi saya tidak gila!” kataku tegas.

“Ada luka di hati?”

“Sepertinya tidak. Tapi paru-paruku mungkin luka.”

“Kenapa?”

“Aku merokok sejak SMP.”

Sejak itu dia tak berminat lagi pada ceritaku. Hanya sesekali memberi hadiah ketika IP-ku selalu yang terbaik setiap semester.

Aku terbiasa mencumbu luka sejak kecil sehingga tak lagi tahu mana yang sakit dan mana yang perih. Semua terasa biasa. Aku terheran-heran ketika teman-temanku menangis lama saat diputus pacarnya. Patah hati. Apa itu? Aku jelas tak tahu. Bagiku, pacar adalah pejantan yang kuijinkan menandak setiap malam Minggu di atas tubuhku asal mampu memberiku kepuasan. Ketika mereka tidak bisa mengalahkanku, aku mencari pejantan lain. Aku mengusir mereka, lelaki dengan kemampuan setengah tetapi berharap dapat tidur denganku. Puihhh!

Tetapi lingkungan punya cara lain melihat itu. Mereka menganggap aku sial maka selalu ditinggalkan pacar-pacarku. Mereka tidak salah. Aku memang sial karena pacar-pacarku tidak bisa memberiku kepuasan. Sama-sama sial, tetapi kami melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.

***

“Venus, pergilah ke dukun. Usir sialmu atau kamu tidak akan punya suami,” kata seorang teman di tempat kerja.

“Siapa yang sial?”

“Kamu. Buktinya tidak pernah punya pacar yang bertahan lama. Jodoh kamu jauh, Venus!”

“He he he he…”

“Ini serius!”

“Belum ketemu yang cocok aja.”

“Tidak akan ketemu kalau kamu belum usir sial!”

“Saya cari yang kuat.”

Dan dia tidak bicara lagi tentang itu, ketika mantan pacarnya sempat jadi pacarku lalu kucampakkan.

Mantannya itu menangis meraung di pelukannya, curhat membabi buta tentang caraku mengusir dia di tengah malam. Temanku tahu, bukan jodohku yang lari, tetapi aku yang menendang mereka. Tetapi aku memang sepertinya akan selalu disebut anak sial kalau itu artinya adalah pembawa sial.

***

Ketika akan melamar kerja di Bank ini, saingan terberatku gagal lalu bunuh diri. Ayahnya sudah menyogok puluhan juta rupiah dan saya lolos seleksi tanpa mengeluarkan sedikit uangpun. Baju wawancara kerja kupinjam dari temanku. Dan aku tidak bermasalah dengan sebutan anak sial itu.

***

Aku hanya bermasalah dengan pemuda itu. Dalam hidupku baru pertama aku tahu mengapa aku disebut anak sial dari sudut yang lain. Setahun yang lalu, aku baru sebulan kerja di Bank ini ketika dia datang. Pesonanya menyirapku. Aku berharap semoga nomor antriannya mengantarnya ke bagianku, teller tiga. Tetapi aku sial. Dia di teller satu. Kulirik dia melalui punggung temanku di teller dua.

Ah, pemuda yang ramah. Berharap besok dia kembali, aku baru melihatnya lagi enam bulan kemudian. Enam bulan yang lalu. Kali itu aku bertugas di teller satu, dan dia bertransaksi di teller tiga. Sial.

Hari ini aku berharap kesialan itu berakhir. Dia masih dengan tampilan yang sama, kecuali bahwa celana jeansnya terlihat agak pucat. Satu setengah tahun dengan jeans yang sama, pasti sering dicuci.

Oh… My… God…! Aku beruntung! Hari ini dia tepat di posisiku. Teller dua.

“Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?” tanyaku ramah. Aku tidak berdebar-debar. Sudah terlalu lama terbiasa dengan situasi sulit. Dia yang kulihat tersenyum canggung.

“Mau transfer ini. Uang kuliah UT.”

“O… Mari, saya hitung uangnya ya,” kataku ramah. Meraih uang dan kertas aplikasi transferan registrasi Universitas Terbuka.

Saya melakukan pekerjaan ini seperti biasa, sesekali melirik dan mengajaknya ngobrol ketika printer sedang mengetikkan validasi di kertas aplikasi itu.

“Ikut kuliah UT?”

“Bukan.. eh… tidak. Saya urus punya kakak.”

“Kakaknya di mana?”

“Di kampung, di kecamatan.”

“O… Ini, sudah selesai,” kataku menyodorkan aplikasi itu padanya. Dia sudah mau pergi. Tetapi aku sedang ingin mengusir sial dan tak akan membiarkan dia pergi secepat itu.

“Mmmm… maaf, namanya siapa? Saya juga minta nomor telfonnya ya. Takutnya nanti ada masalah sama aplikasi ini, jadi saya bisa kontak.”

“Tapi selama ini tidak begitu.”

“Hehehe… namanya juga jaga kemungkinan.”

“Oh… Nama saya Lino. Ini nomor handphone saya,” katanya sambil menuliskan nama pada secarik kertas yang diambilnya dari dompet kulitnya. Dompet itu kumal, tapi saya suka. Gosh…!

“Lino. Kerja di mana?”

“Di bengkel Mas Jono.”

“Wah… sarjana teknik mesin?”

“Hehehe… bukan. Saya tamat STM jurusan mesin.”

***

Hari ini aku benar-benar ingin melepas sial. Jam sebelas malam, di kamar kos. Namanya Lino. Di tempatku di Manggarai Flores, Lino berarti dunia. Nama lengkapnya Lino Damian. Kupanggil dia Lino Dami, di kampungku itu berarti Dunia Kami. Sekarang dia sedang di kamar mandi setelah bertarung denganku hampir satu jam.

Dia menang tak jadi kutendang. Kuambil agendaku, melihat halaman yang kuberi judul Kriteria Jodoh. Mencoret dengan spidol besar kriteria nomor lima, harus sarjana. Kriteria itu kini terhapus tak terbaca. Lino keluar dari kamar mandi dengan pesona tak terbantah. Dia duniaku mulai hari ini, juga sehari setelahnya dan berbulan-bulan setelahnya. Aku telah lepas sial.

Tetapi lingkungan punya cara lain melihat itu. Mereka masih menganggap aku sial, kali ini hanya karena pacarku bukan orang penting, hanya pekerja di bengkel Mas Jono.

“Sudah cantik, sarjana, kerja di Bank… eh… malah pacaran sama anak bengkel,” kata ibu kosku ketika bergosip di rumah tetangga. Suami si tetangga juga pernah kutendang di tengah malam. Bajuku baru terbuka separuh, dia sudah selesai.

Selesai

Ilustrasi diambil dari SINI

Armin Bell adalah penulis buku Kumpulan Cerpen: Telinga – Sebuah Antologi

_____________

Tentang Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

One comment on “Tentang Venus – Cerpen Armin Bell

  1. keren ceritanya…sial!!!! :D

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: