3 Komentar

Puisi Ripana Puntarasa:Sesuap Nasi dan Sebutir Peluru

 

SESUAP NASI DAN SEBUTIR PELURU

Puisi Ripana Puntarasa

 

“Sajak untuk Busairi (Bondowoso) dan Mereka (dimana pun) yang terluka dan mati karena lapar dan menjarah panganan” 

Yang Mulia, hamba lapar

Seperti juga tetangga hamba mengalaminya

Yang Mulia, isteri hamba belum lagi memasak

Begitu pun dapur-dapur tetangga hamba tidak mengepulkan asap

Yang Mulia, anak-anak hamba menangis belum makan

Sehari-hari karib di telinga hamba rintihan mereka

Berbondong berarak lapar
hanya sesuap nasi untuk rongga perut hamba sesanak-seperuntungan
Yang belum lagi terisi

Hanya sesuap nasi, Yang Mulia
Bukan sebutir peluru
Bukan pula sebilah sangkur

Sesuap nasi, Yang Mulia
Bukankah tidak lebih berharga daripada
Darah yang meleleh dari lobang di dada ini  

(Sebutir peluru menembusnya kemarin di sebuah gudang beras) 

Yang Mulia, hamba terbebas dari lapar

Peluru telah membebaskan hamba dari lapar

Yang Mulia, kabarkan pada isteri hamba harum nasi tanak di periuknya

Sudah lama ia tidak menghirupnya

Yang Mulia, ajarkan anak hamba nyenyak tidur tanpa rintih lapar

Kemarin ia bermimpi tentang semangkuk nasi dan senyanyi dendang  

Watugunung
(Pallu, 14 September 1998)  

***  

__________________________

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

3 comments on “Puisi Ripana Puntarasa:Sesuap Nasi dan Sebutir Peluru

  1. Suka ‘Sesuap Nasi dan Sebutir Peluru’, ada kemiripan kisah dengan cermin yang saya posting di http://indraisme1987.wordpress.com/2012/02/10/another-very-short-story-bahasa-indonesia/

    • Kawan Indra… ya, aku telah membawa postingan anda. Mirip? Kita sama2 bicara soal kemiskinan dan kelaparan. Miskin dan lapar untuk bertahan hidup bisa bikin siapapun gelap mata. Kita bisa bilang: Hidup adalah Hak yang harus dihormati dan dijaga. Otoritas kekuasaan juga suka bikin orang lupa, bahwa Hak atas Hidup harus selalu dijamin dan dijaga. Teringat pada pesan pidato Boeng Karno di 17 Agustus 1953: “Makhluk hidup perlu makan. Untuk makan harus kerja. Tidak kerja, tidak makan. Tidak makan pasti mati!” Politik penyelenggaraan negara harus menjamin itu. Peristiwa Bondowoso di September 1998, apapun alasan pemicu dan pendorongnya, adalah bangunan dari situasi ketidakberdayaan kolektif. Negeri ini punya sejarah emas dan sejarah loyang. Semua harus diterima sebagai bagian dari realitas. Perkaranya, bagaimana berupaya menjadi lebih baik bagi seluruh perikehidupan rakyat di masa-masa berjalan ini. Salam dan Salam. Merdeka!

  2. Saya sangat senang atas terbalasnya komentar saya untuk “Sesuap Nasi dan Sebutir Peluru”. Bait “Peluru telah membebaskan hamba dari lapar” menarik untuk disimak, karena menurut saya bisa bermakna ganda, yang cenderung ironis, jika konteks pengucapnya adalah orang-orang yang mencari nafkah dari peluru. Saya indraisme, orang yang awam akan segala hal, masih butuh mereguk berlaksa kearifan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: