Tinggalkan komentar

Kekasih yang Menghilang: Cerpen Enggar Dias

KEKASIH YANG MENGHILANG

Cerpen Enggar Dias
Kuusap air mata yang mengalir turun. Pandanganku masih terpaku pada papan kayu bertuliskan namamu. Untaian melati yang layu masih tergantung di sana, sedikit menutup jejeran huruf warna putih itu.
“Kenapa begitu cepat kau pergi mas?” aku berbisik lirih. Kembang setaman yang kubeli di luar pintu pemakaman tadi, kutaburkan perlahan. Beberapa kuntum kantil yang sengaja kusisihkan, kutata rapi di sekitar maejan. Aku berharap kau bisa menghirup wanginya.
Aku masih belum bisa meredam keterkejutanku atas berita kematianmu yang tiba tiba. Kau tak pernah mengeluhkan sakit yang berarti selama berhubungan denganku. Riwayat kesehatanmu pun baik, semuanya masih dalam ambang batas normal. General check up yang rutin kau lakukan menunjukkan hal itu.
***
Duluuuu….yaa duluuu. Kau suka sekali mengumpulkan putik bunga kantil yang berserakan di pinggir pagar bandara. Pohonnya yang tinggi besar beranting banyak dan berdaun rimbun. Ranting yang menjulur dari balik pagar itu berbunga lebat, dan kau dengan suka cita akan memetiknya, lalu meroncenya bersama kuntum melati yang kau tanam di tepi pagar rumahmu. Untaian itu begitu indah, kau akan menyematkannya di rambutku setelahnya.
Kita memang sehati dalam hal selera. Aku sangat menyukai bunga melati. Entah kenapa. Wanginya yang lembut membelai cuping hidungku sangat menenangkan. Lebih sempurna lagi bila wangi melati itu ditambah aroma segar daun pandan yang baru saja diiris halus. Rasanya seperti berada di tengah tengah taman bunga yang sedang menguarkan aroma memikatnya. Damai, teduh dan menenangkan.
Mungkin karena aku tumbuh besar bersama aroma bunga melati. Ibuku seorang perias pengantin. Sejak kecil aku sudah terbiasa menghirup wanginya setiap kali ibu mendapat order. Ibu akan sibuk seharian meronce kuntum melati, putik kantil dan bunga mawar menjadi bunga hiasan sanggul pengantin yang indah.
Menginjak remaja, aku diserahi tugas merangkai bunga bunga itu sementara ibu menyiapkan peralatan dan pernak pernik lainnya. Sementara irisan daun pandan digunakan untuk membuat gelung tekuk yang dibalut dengan rambut si calon pengantin putri. Tak heran bila pengantin perempuan pada jaman kecilku dulu beraroma wangi yang natural.
***
Enam bulan yang lalu kutinggalkan kota ini. Aku merasa sudah lelah dan menyerah pada sebuah kata ‘penantian’. Bertahun tahun menjalin hubungan denganmu tanpa perkembangan yang menggembirakan pada akhirnya meruntuhkan benteng kesabaranku.
“Aku seorang perempuan mas” begitu selalu kataku. Kau hanya diam, sepertinya tak siap dengan rajukanku.
“Apa kau ingin bayi kita nanti menjadi bayi yang lemah, nggak tahan banting, sakit sakitan?” sambungku lagi.
Yaa….sebentar lagi usiaku menginjak ke kepala tiga. Menurut beberapa buku kesehatan yang pernah kubaca, kemampuan rahim memberikan nutrisi yang optimal akan menurun seiring bertambahnya usia. Apalagi untuk kehamilan yang pertama, resiko yang dihadapi akan dua kali lipat bila usia ibu telah melewati 30an tahun.
“Aahh…kau. Terlalu mengada ada. Bukankah dunia kedokteran sudah demikian canggih sekarang?” tanyamu. Selalu saja begitu, tak mau kalah berdebat denganku.
“Aku ingin merasakan nikmatnya melahirkan secara normal mas….Kata orang, itulah ciri perempuan sejati….”
“Kata orang….kata orang….kata orang saja kau pikirin,”  sergahmu.
Aku terdiam. Rasanya mustahil memberikan penjelasan panjang lebar kalau sudah begini.
Selalu saja terulang kembali perdebatan yang tak berujung ini. Salahkah bila aku mendesakmu, mempertanyakan kesungguhanmu? Sudah beberapa kali orang tuaku menanyakan kelanjutan hubungan ini. Sampai kapan aku harus menunggumu?
“Aku masih ingin mengumpulkan bekal yang cukup. Rumah belum punya, kreditan motor juga belum lunas…” gerutuan yang tak perlu kudengar itu mampir pula ke gendang telingaku. Entah kenapa, saat itu aku benar benar meradang mendengarnya.
Kutinggalkan kau yang terbengong bengong, sendirian. Aku sangat marah dengan sikapmu yang peragu. Belum cukupkah tabunganmu setelah hidup hemat bertahun tahun? Aku juga punya sedikit tabungan untuk masa depan kita. Lalu sampai kapan kau akan merasa cukup dengan apa yang kau punya?
Bukankah tak akan pernah ada kata cukup? Kita manusia, dikaruniai nafsu. Nafsu serakah, tak pernah puas, tamak, rakus….. Apakah aku harus menunggu sampai nafsumu itu terpuaskan baru kau akan melanjutkan hubungan kita ke jenjang lebih lanjut?
Kugelengkan kepala berkali kali. Aku tak percaya kau sebegitu takutnya menghadapi masa depan. Jalan pikiranmu benar benar sulit dimengerti.
***
Selain mengajukan surat permohonan agar dipindahkan ke kantor cabang, aku juga melamar ke beberapa perusahaan di kota lain. Tujuanku hanya satu, pergi sejauh jauhnya darimu. Sengaja tak kuberitahukan rencana ini kepada ibu, juga keluarga besarku agar tak bocor padamu. Aku jahat ya? Tapi itulah pilihan yang paling bisa kulakukan sebelum segalanya menjadi sangat terlambat.
Aku melangkah menyusuri bunga bunga flamboyan yang berserakan di jalan setapak itu. Koper besar dan tas jinjing yang kubawa cukup merepotkanku. Dengan air mata berlinang, kumantapkan hati memasuki halaman yang luas ini.
Bulan Nopember hampir berakhir. Udara dingin dan hujan yang makin sering turun membuatku lebih senang menghabiskan waktu senggangku di lantai atas. Pemandangan lembah yang menghijau, kupu kupu yang rajin hinggap di bebungaan, dan lenguh sapi perah di kejauhan selalu membuatku terpaku berlama lama.
Kau masih rajin meneleponku, menanyakan keadaanku. Tak lupa kau selipkan cerita tentang keberhasilanmu memenuhi ambisimu yang setinggi gunung. Jujur, hatiku hampa mendengarnya. “Kau tidak juga berubah mas. Harta dan kemewahan selalu menjadi tolok ukur keberhasilan. Lalu sampai kapan mas?” keluhku, hampir menyerupai bisikan. Kutenggelamkan diriku dalam pekerjaan yang seolah tak ada habisnya. Aku bersyukur, setidaknya aku tak punya banyak waktu luang untuk memikirkanmu di sana.
***
“Sebenarnya Dya pindah kemana bu?” tanyaku pada ibumu. Beberapa kali kucoba menghubungimu untuk menanyakan alamat lengkapmu. Namun usahaku sia sia. Kau tetap bersikukuh tak menjawab pertanyaanku.
“Maafkan ibu nak. Dya melarang ibu memberitahukan padamu….” Sorot mata ibu menyiratkan kegundahan hatinya.
“Tapi bu…..”
“Sudahlah nak Harya. Cobalah untuk mengerti kenapa Dya memilih pindah ke lain daerah. Ibu pikir Dya sudah memberimu banyak waktu untuk berpikir…..”
Kutinggalkan rumah ibumu dengan penuh sesal. Berulang kali kusalahkan diriku sendiri, kenapa aku tak bisa menangkap keinginanmu untuk menikah secepatnya denganku. Semua memang salahku. Aku yang peragu, lambat mengambil keputusan, dan terlalu takut menghadapi masa depan yang belum pasti. Ketakutanku yang utama adalah karena aku tak bisa membahagiakanmu bila menjadi pendampingku nanti.
Berlebihankah aku? Bisa ya bisa tidak. Menurut ukuranku sendiri, kebahagiaan selalu diukur dari banyaknya materi, besarnya tabungan di bank, dan tempat tinggal yang memadai untuk kita berdua dan anak anak kita nanti. Aku bahkan hampir tak pernah menanyakan padamu, seperti apakah arti bahagia itu bagimu?
Bodohnya aku…….tak henti hentinya aku mengutuki diriku sendiri. Kalau sudah begini, aku juga yang repot harus menghubungimu, mencarimu dan bahkan mungkin menghiba padamu untuk menjelaskan pendirianku.
Tetapi mungkinkah? Masihkah kau mau memberiku waktu untuk menjelaskan apa alasanku menunda dan terus menunda untuk melamarmu secepatnya?
“Dya….. kuakui kau gadis lembut yang penyabar. Sikapmu yang mengalah dan sangat perhatian sangat membuatku tersanjung dan bangga. Yaa …bangga. Siapa yang tak besar hatinya bila diperlakukan seperti satu satunya pria yang ada di kehidupanmu?” gumamku menyesali diri.
Kutenggelamkan diriku dalam kesibukan pekerjaan. Terkadang, aku melupakan rasa lelah yang lebih sering mendera tubuhku akhir akhir ini. Aku tak ingin ada jeda yang bisa membuatku mengingatmu walau sebentar. Aku ingin fokus pada pekerjaanku agar target yang kutetapkan sendiri bisa tercapai dalam waktu singkat.
“Tunggu aku Dya, akan kulamar kau segera setelah proyek ini rampung kukerjakan….” Begitu bisikku selalu. Aku masih menyimpan harapan bila kelak kau akan menyambutku di pintu dan menghambur ke pelukanku.
Akhirnya rumah yang kuidamkan sejak dulu, selesai kubangun. Rumah mungil dengan nuansa minimalis dan cat dinding warna soft makin menambah cantik penampilannya. Beberapa perabotan sudah mulai kubeli, sedapat mungkin kusesuaikan dengan seleramu yang kalem.
Kupandangi sudut demi sudut dengan rasa hati yang membuncah. Hatiku mekar sebesar balon membayangkan bagaimana kau akan berteriak dan menari nari kegirangan mengelilingi seisi rumah ini. Aku tersenyum sendiri.
***
Pulang dari berbelanja pernak pernik kamar tidur, aku memacu mobilku dalam deras hujan yang mengguyur. Jalanan tergenang air, banjir di sana sini. Tetapi aku ingin segera sampai di rumah baruku, menata perabot yang baru saja selesai kupesan di tukang kayu langgananku.
Terus terang tubuhku capek sekali, sepanjang minggu menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk. Ditambah lagi kondisi tubuhku yang kurang fit membuatku kehilangan konsentrasi saat mengemudi. Beberapa kali mobilku melenceng keluar jalur hingga beberapa kendaraan yang berpapasan terkejut sambil membunyikan klaksonnya. Berisik sekali.
Sorot lampu truk trailer yang baru saja berbelok membuatku sesaat tak bisa melihat dengan jelas karena silau. Kaget, kubanting stir ke kanan, tetapi aku lupa bila jalanan di depan menikung tajam. Moncong mobilku menabrak pembatas tebing dan…….terjun bebas ke jurang.
Aku sempat meneriakkan namamu, lalu gelap.
 ***
saat jemarimu lelah terulur
dalam rangkai bulir bulir cerita
bermahkota canda bahkan sekeranjang nestapa
satu demi satu asa terjalin
dalam hela langkah tertatih
perlahan menuju senja
 
aku masih di sini
menjalin helai helai kelebat mimpi
yang telah pernah terucap dalam janji
 
perjalalan menuju ufuk
 
dan kita pun menunggu ketuk
palu sang penjaga
 
***
“Ini ibu temukan di henpon Harya nak Dya……” ibumu menunjukkan henponmu, dimana larik larik puisi itu tertulis indah. Aku tertegun.
Sepertinya kau sudah merasa kalau akan ‘pergi’ yang lama. Aaahh, penyesalan selalu datang terlambat. Tak henti hentinya kusesali keputusanku, pindah ke kota lain dan mengacuhkanmu selama ini. Enam bulan bukan waktu yang panjang untuk berpikir, namun ternyata enam bulan itu yang memisahkan kita selamanya.
“Beristirahatlah dengan tenang mas Harya….. aku sudah memaafkan semua sikapmu dan semua salahmu. Semoga engkau pun sudah memaafkan kekeraskepalaanku juga”.
Entah, aku tak tahu harus berkata apa lagi.
***
Note :
maejan = maesan = kayu bertuliskan nama orang yang meninggal.
~seputaran Jakal, 09012013~

Tentang Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: