Tag Archive | Agus Wepe
Puisi Agus Wepe: Kita, Hujan, Selimut
KITA, HUJAN, SELIMUT buat N ketika melihatmu mencangkum dunia di ranjangmu (yang hanya dibolak-balik setiap kali basah) aku berbisik (kupingmu tak sepeka biasanya) tak perlu mengetukkan ujung jemarimu sekedar mengedipkan mata pun kamu masih mampu mengamati pasir jam berluruhan menjaga samudera agar tak menguap membakar gemintang agar tetap gilang itukah kamu sekarang? biar hujanku menenggelamkanmu […]
Puisi Agus Wepe: Wanita Purba
WANITA PURBA Puisi Agus Wepe kita tak akan memberi makan kuping-kuping dengan lidah yang tak pernah mengenyangkan; kita tak akan melayani bibir-bibir sumbing yang rindu pasal-pasal sumbang kebenaran; kugenggamkan padamu sekeping batupercik yang kutetak dari kamar-kamar bumi, agar kau mampu berjalan seiringku, memantik secercah dian hingga menjadi terang suar; berangsur aku mengumpulkan ranting-ranting, menjaga kobaranmu […]
Puisi Agus Wepe: Menikam Bapakmu dari Belakang
MENIKAM BAPAKMU DARI BELAKANG Puisi Agus Wepe aku mengetahuinya, yang nampak beliau adalah kebajikan menjelma semacam teh di sore bulan agustus yang hangat yang boleh pedas oleh sebongkah kue jahe sesekali melintas Kŏng Fūzĭ dengan semilir angin —asyik-masyuk— mungkin karena inilah kau tak mau beranjak aku menimbangnya, mungkin boleh aku menikamnya dari belakang “jangan,” katamu […]
Puisi Agus Wepe: Bapak Tobil
BAPAK TOBIL Puisi Agus Wepe tobil-tobil di mana-mana mobil, akulah satu mobil; makna macam mana yang mampu kuambil, dari jalan ajalnya yang beku berliku, dari setiap sudut setapak di bukit belukar bebatu; bapak-bapak di mana-mana tapak, akulah hutan berjejal jejak-jejak; tiang-tiang lampu jalan berserak-serakan, tanpamu aku berlarian mencari surga gersang dari yang bertumbuhan. Pancurwening, 07022012 […]
Puisi Agus Wepe: Patung Perubahan
PATUNG PERUBAHAN *buat S. H. Puisi Agus Wepe Sampaikan Duka Citaku yang terdalam buat ki sanak yang melakukan bela1 katakan—dukamu pun dukaku pula lalu siapkanlah pesta besar sraddha2! mari kita panggil para pandai pahat kita undang juru lukis dan tukang cat pesanlah Patung Perubahan yang hebat! depantivi, 16122011 1bela: adat bunuhdiri dalam Hindu bagi istri untuk menemani […]
Puisi Agus Wepe: Karena Janji Bukan Hanya Milik Pemerintah
KARENA JANJI BUKAN HANYA MILIK PEMERINTAH Puisi Agus Wepe alap-alap itu menukik, sekejap ia tangkupkan kedua sayap mudanya, ia biarkan tubuhnya jatuh terbenam dalam riak-riak penyuci. namun kemudian ia kembali muncul berkibar-kibar di atas bulir-bulir garam cair yang terkibas oleh sayapnya, membiarkan lautan rapuh itu bertanya ngilu: kenapa kau masih ragu? jawabnya: tentu, tentu akan […]
Puisi Agus Wepe: Halte
HALTE Puisi Agus Wepe tak tahu kapan perasaan menungguku buat segera mencairkan titiktitik beku cintaku kapan leburnya dengan kamu – yang jadi nyalaku sisakan resah jikalau kata yang sederhana jadi lampau beku rentang satu purnama yang lampau aku yang masih berpagut jikalau terlampau waktu yang kian bersudut jikalau terlampau waktu hingga tak ada sambut cinta […]
Puisi Agus Wepe: 17082007
17082007 Puisi Agus Wepe manusia seadanya ialah yang menyalahkan masa yang membunuh atau dibunuh manusia seadanya ialah tiada satu namun berlebih hingga seekor kutu beras jadi seonggok naga manusia seadanya ialah yang mempertahankan hidup hingga tiada nilai dan matra manusia seadanya ialah memiliki dua mata dengan itu mereka melihat-saling-melihat manusia seadanya ialah yang tak punya […]
Puisi Agus Wepe: Pagi Lapan Juni
PAGI LAPAN JUNI Puisi Agus Wepe Selamat pagi, cintaku. Pergilah kau ke mulut buaya, menyublim bareng kapurbagus, atau larutlah ke dalam aceton. Ah, andai aku hidup di zaman hitler—ah—jangan, zaman pak harto saja ding. Akan kusuruh kau buat tattoo biar kau makin seksi, kemudian cobalah kau take-a-walk di jalan-jalan dengan iringan musik house—wow—kau pasti akan […]
Puisi Agus Wepe: Kisah Anakku
KISAH ANAKKU Puisi Agus Wepe anakku menggambar di atas taplak meja digoreskannya pensil hijau pada padangrumput digoreskannya secokelat kayu pada gubuk yang ia miliki dilagukannya kain para pejuang yang merah kena getah di mana semuanya adalah satu digambarkannya sebuah hidup baru besok anakku akan menggambarkannya di atas taplak dunia jikalau aku tak sanggup menyelesaikannya Tirtoseto, […]
Puisi Agus Wepe: Melamun Itu Manis
MELAMUN ITU MANIS Puisi Agus Wepe melamun itu manis melamun itu indah melamun itu milikku melamun bukan milik setan setan masih punya yang lainnya jika melamunnya kurebut ha ha kantinperpusda, 27052007
Puisi Agus Wepe: Catatan Dua Tahun Lalu
CATATAN DUA TAHUN LALU Puisi Agus Wepe tahun itu hanya pertanda apa yang kita buat – bukan batasan barangkali kalau nanti kita ketemu lagi tidak ada tahun-tahun di tengah-tengah kita, ‘kan? ruangkelas, 28112007
Puisi Agus Wepe: Sketsa Tentang Pepucuk
SKETSA TENTANG PEPUCUK Puisi Agus Wepe Itu ranumnya pepucuk daun di Menjer tak berubah Ia tetap tak mampu bercerita tentang aku dan kamu Dan lumpur pekat terhidupi hujan itu tak ada jejaknya kita Memang tak ada tupai juga pepohon damar entah ke mana mereka lari, ke hatimukah? Masihkah mereka ceritakan kita, dengan bangganya berkata: dan […]
Puisi Agus Wepe: Yang Tak Tercari yang Tak Terhindarkan
YANG TAK TERCARI YANG TAK TERHINDARKAN Puisi Agus Wepe Ini kemarahan tak beralasan Buih dari lautku yang tenang sendiri Di baliknya, aku sendiri menggaungkannya Kabut itu temaram pada satu Yang tak tercari yang tak terhindarkan Ini filsafat batu lapuk Menunggu – sampai habis waktu 18 Februari 2008 – 10.25
Puisi Agus Wepe: Restu dari Rumah Artesis
RESTU DARI RUMAH ARTESIS Puisi Agus Wepe mohon pamit, mak, sebab aku akan tertimba jauh ke muka tanah, dengan bekalmu tiga keping zarah ini kuhujam butirku demi para khalifah berakalbudi itu, agar memercik aku ke setiap jurang dan bukit langsat mereka, menghidupi setiap rongga dalam tubuh mereka, meski tak pelak terbuanglah aku kembali pada padat […]
Puisi Agus Wepe: Soneta dalam Kilometer
SONETA DALAM KILOMETER Puisi Agus Wepe Ingatlah kala kita bergelut, Rinai tawamu – engkaulah tuak, Valium dalam darah yang larut, Ialah maut yang tak ‘kan pelak, Adalah hangat nafas yang akhir, Nyata dalam semu sekaligus, Adalah ekstase yang mengalir, Nyatu dalam cinta yang menebus, Inilah rasa takut, bagiku, Nampak seperti lintang gemilang, Dalam pekatnya malam […]
Puisi Agus Wepe: Higienis
HIGIENIS Puisi Agus Wepe Tak perlu mandi mencuci dan istinja karena kejujuran tercacah-cacah tersebar di banyak rumahsakitjiwa. Wonosobo, 22112011 Penulis: Agus Wepe, kelahiran Wonosobo, 17 Agustus 1990. Pernah kuliah di Fakultas Ilmu Budaya jurusan Sastra Inggris di UGm namun tidak selesai, kini melanjutkan studi yang sama di Universitas Sain Alqur’an (UNSIQ Wonosobo). Ia dapat dihubungi […]
Puisi Agus Wepe: Kuil
KUIL Puisi Agus Wepe Kuimani engkau yang bisa kulipat ringkas bagai buku, simpan dalam saku; kuterima agungmu sebagai sifat bak coca-cola bagi otak yang beku. Wonosobo, 22112011 Penulis: Agus Wepe, kelahiran Wonosobo, 17 Agustus 1990. Pernah kuliah di Fakultas Ilmu Budaya jurusan Sastra Inggris di UGm namun tidak selesai, kini melanjutkan studi yang sama di […]
Puisi Agus Wepe: Tanahtinggi Albasia II
TANAHTINGGI ALBASIA (II) Puisi Agus Wepe Semenjak aku lalu di tanahtinggi albasia itu, yang membuatku merinding melihat pengorbanan sisa-sisa peperangan yang meratap percuma itu, mulailah aku kembali dan membunuh diriku sendiri dalam tusukan pena-pena. Darahku menyesap menyisakan jejak-jejak, menutup pintu-pintu puri-habis-mati di balik dunia bayangan. Dari tanahtinggi itu, teronggok di kejauhan sebuah palon agung, milik […]
Puisi Agus Wepe: Kartun
KARTUN Puisi Agus Wepe kemarin kita masih bersama menyaksikan songoku dan awan kintoun mengangkasa awan serupa mimpi dan awan yang membawa kita berdua menjauh dari goku dan gohan kemarin kita masih bersama memohon balingbaling bambu untuk menisik celah angkasa menyusur cerukceruk waktu dan mimpi tersebar di mana saja atau terjepit di sela sebuah pintu kini […]
Puisi Agus Wepe: Menjadi Sapardi Dengan Sederhana
MENJADI SAPARDI DENGAN SEDERHANA Puisi Agus Wepe aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan memberimu kemudahan serupa canggihnya smartphone berfitur android, dengan memberimu naungan seperti atap kukuhnya limousine, dengan membuatmu merasa anggun di jalanan rue de champs elysees yang dingin, dengan memberi duniamu warna-warni catwalk di kota bola milano; aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan keramahan […]
2012 – Cerpen Agus Wepe
2012 Cerpen Agus Wepe Mungkin simbahku yang kyai kampung akan mengutukku habis-habisan jika mendengar bahwa aku berani mempertanyakan keabsahan janji kiamat Tuhan di esok hari. Aku tidak pernah tahu kapan persisnya Tuhan mengatakan bahwa kiamat akan diawali matahari yang terbit dari barat. Jelas saja orang jaman dulu lebih tahu sains daripada orang milenium macam aku […]
Profil Agus Wepe
Agus Wepe, demikian nama pena dari sosok pria kelahiran Wonosobo, 17 Agustus 1990. Pernah kuliah di Fakultas Ilmu Budaya jurusan Sastra Inggris di UGm namun tidak selesai, kini melanjutkan studi yang sama di Universitas Sain Alqur’an (UNSIQ Wonosobo). Ia dapat dihubungi melalui email ke: wepe.toer@gmail.com Karya-karyanya di Kumpulan Fiksi: Puisi-puisi Agus Wepe – Kepada Abram Puisi-puisi Agus […]
Puisi Agus Wepe: Kepada Abram
KEPADA ABRAM O—Bapak! Engkau telah menetak Abjad-abjad yang mati berserak Dari nama-nama yang bersemai Memakmurkan tanah dua sungai; Bapak! Darah anakmu bergolak Mewarisi jiwa yang terkoyak Oleh ajaran dan realitas Yang bertumbuhan di atas kertas. Pancurwening, 17022012 ________________________
Puisi Agus Wepe: Balada Cinta Terkorup
BALADA CINTA TERKORUP Cermin di dinding, kugadaikan wajahku dalam kegandaan-kegandaan nyata kuberikan padanya bayang citraku potret-potret beku yang bisa kau cinta; Cermin di dinding, tangkaplah bayanganku yang tengah asyik masyuk menertawakan seorang gadis manis berotak beku yang dimabuk cinta kepada bayangan. lerenggunung, 15122011 ________________________ AGUS WEPE, kelahiran Wonosobo, 17 Agustus 1990. Pernah kuliah di […]
Puisi Agus Wepe: Seteru Tanpa Kata dan Nama
SETERU TANPA KATA DAN NAMA Puisi Agus Wepe Mari, kawanku, mari menyingkirkan rontal-rontal smaradhahana itu, mengurug tapak-tapak yang tetap saja melung-melung menyayat kuping tanpa kenal siapa tuannya itu. Mari kita melanglang sesuka ujung kaki ini, masing-masing dari kita bersebaran dan janganlah kita bersua lagi, sebab engkaulah sebatas kawan yang kukenal saja. Lepas dari semua […]
Puisi Agus Wepe: Aku Tak Mau Kasih Pertanda
AKU TAK MAU KASIH PERTANDA Puisi Agus Wepe Aku tak mau kasih pertanda Atau gumam igau celoteh yang racau Semua tahu nyatanya Nanti – maka apa belang yang kutinggalkan Tak akan membangun gading Nama pun hanya pembeda – aku dan kamu Dan mereka Yang terbuai palungan Yang dianyam dari serat mata orang-orang buta Sinis […]
Puisi Agus Wepe: Aku dan Para Aku
AKU DAN PARA AKU Puisi Agus Wepe Orang-orang kolot termenung di meja masa tuanya Sebagian berlarian kena angin Para Aku bangkit dengan angkuh mengatas angin Orang-orang kolot melotot melihat dunia luar Barangkali tak pernah tahu Kami menaklukkan benteng lelaku yang kukuh mengikat para Aku Orang-orang kolot mencomot remah kebebasan Yang dikata hilangkan aturan Sembunyi mencoba […]
Puisi Agus Wepe: Pantat dan Celana
PANTAT DAN CELANA sebuah surat buat sobatku Puisi Agus Wepe Tho, sumpah aku tak punya duit kali ini demi trinitrotoluene kecilkecil ini, suatu hari nanti akan meletup dan memburaikan paruku, perutku, isikepalaku, semua yang bisa kausebut satusatu melainkan satu yang ini, yang bisa kuajak berkontemplasi dengan rasa dan nalar tak bakal mampu dimakan angin […]
Puisi Agus Wepe: Pandion Haliaetus
PANDION HALIAETUS Puisi Agus Wepe sejak lepasku dari rahim pelanglang lepaslah aku menderas setiap riak yang lahir di ceritera ini merupakan deru napas yang mencatatkan sejarah kehidupan, yang meninggalkan tapak-tapak kematian merupa cumbu sejukku pada lautan adalah angin, adalah sebaris trouts kembara di bawahnya hamparan birutelur pelukis lazuardi pemangsa matari senja adalah kecintaanku pada kebebasanmu, […]