Tinggalkan komentar

Yayak Iskra, Berjuang Melalui Lagu dan Gambar (1)

Oleh: Odi Shalahuddin

 

 

Sama-sama

 

Belajar sama-sama

Bertanya sama-sama

Kerjasama-sama

Semua orang itu guru

Alam raya sekolahku

Sejahteralah bangsaku

 

Yayak Iskra

Lagu yang tidak pernah kita dengar di televisi atau di radio-radio komersial, tapi telah menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia. Disebarkan oleh para pendamping anak, kelompok-kelompok mahasiswa, dan organizer-organizer pendamping rakyat.

Puluhan ribu orang pernah mendengar atau turut menyanyikannya. Lagu ini menjadi lagu penyemangat akan kebersamaan dan semangat untuk senantiasa belajar, belajar, dan belajar, dari kehidupan.

Upaya untuk menyebarluaskan lagu ini, dilakukan oleh berbagai kelompok musik indie dengan aneka ragam aransemen yang dipublish di site-site gratisan.

Kini, lagu itu kembali terdengar di berbagai lokasi pengungsian, dinyanyikan oleh anak-anak. Baik di daerah Sleman, Muntilan ataupun di Klaten.

Ketika mengunjungi kantor Pemerintah Kabupaten beberapa waktu lalu, kebetulan tengah ada pelatihan bagi  para relawan pendamping anak. Di sela pelatihan, lagu ini menjadi salah satu lagu yang kudengar.

”Kita pakai lagu ini, tidak apa-apa, ya, Mas?”

”Santai saja, itu lagu merdeka, bisa disebarkan oleh siapa saja dan ke mana saja,” sahutku.

Lagu ”Sama-sama” adalah salah satu lagu dari ratusan lagu yang digubah oleh Bambang Adyatmata, atau dikenal juga dengan nama Yayak Kencrit atau Yayak Iskra atau Ismaya. Pria kelahiran Yogyakarta tahun 1956, alumni Fakultas Senirupa dan Disain Institut Teknologi Bandung, telah aktif dalam gerakan sosial sejak tahun 1978 yang masih berlanjut hingga saat ini. Lagu-lagu yang dibuatnya diberi nama ”Lagu Anak-anak Merdeka” dan ”Lagu Rakyat Merdeka”.

Para aktivis mahasiswa dan gerakan parlemen jalanan, walau mungkin tidak mengenal sosok Yayak Iskra secara langsung, mungkin pernah mengumandangkan lagu-lagu-nya dalam aksi-aksi mereka. Lagu ”Topi Jerami”, ”Roti Matahari”, ”Titik Api”, ”Aku Anak/Rakyat Indonesia”, ”Satukanlah” yang kemudian dikembangkan oleh Kris dari Lontar Band Surabaya menjadi lagu ”Rakyat Bersatu”, seolah menjadi lagu semi resmi bagi aksi-aksi jalanan.

Lagu-lagu ”Anak Merdeka”, lirik-liriknya banyak berkisah tentang kehidupan keseharian anak-anak. Tentang ”Burung”, ”Laut”, ”Petani”, ”Bayam Merah”, ”Ambil Biji” dan sebagainya. Lirik-liriknya juga mengajarkan tentang semangat belajar dan bekerja bersama, tentang kemerdekaan sebagai manusia, tentang semangat, dan sesungguhnya juga mengajarkan ”nasionalisme” dan pijakan terhadap nilai-nilai sosial-budaya masyarakat setempat serta kecintaan terhadap lingkungan. Simak saja lagunya tentang ”Roti Matahari”, ”Desa Merdeka” ”Sama-sama”, ”Sama Kenyang,” dan lain-lain.

Lagu itu berlirik pendek, dengan irama yang mudah dinyanyikan, sehingga anak-anak-pun dapat dengan cepat menghafalnya ketika menyanyikan dua-tiga kali. Hal ini pernah dijelaskan oleh Yayak Iskra dalam salah satu tulisannya bahwa: ”Aku belajar tentang Disain Grafis. Diantaranya belajar tentang ilmu periklanan. Di dalamnya sedikit dipelajari psikologi (sosial) dan jingle serta copy writting. Ini dia. Prinsip Jingle itu antaranya adalah musik pendek, nada esensial, nyacing kuping, diulang-ulang, sesuai sifat dan karakter produk dan seterusnya. Pun bisa dipakai. Tinggal syairnya saja kemudian kita pikirkan menuruti pesan, atau isyarat-isyarat apa yang akan kita sampaikan. Iklan tak lebih dari propaganda (suatu produk). Dan kita sadar, gerakan yang kita lakukan waktu itu adalah Propaganda counter propaganda. Perang lawan iklan, perang lawan budaya pop cengeng.

Sedangkan lagu-lagu ”Rakyat Merdeka” banyak berkisah tentang kisah-kisah duka dari rakyat yang terpinggirkan dan menjadi korban dari para penguasa yang serakah. Hampir setiap ada kejadian, ada lagu yang tercipta. Kadang tidak hanya satu lagu. Sebagian lagu, misalnya ”Kedung Ombo”, ”Tanah Badega”, ”Tanah Aceh”, kumpulan lagu tentang ”Ciliwung”, dan sebagainya.

Yayak Iskra, selain dikenal sebagai pencipta lagu anak/rakyat merdeka juga dikenal sebagai ”tukang gambar” yang sangat tajam menggugat para penguasa yang bersikap tidak adil terhadap rakyatnya. Berbagai karyanya menghiasi majalah/buletin, poster, komik, dan kalender. Salah satu karyanya berupa kalender ”Tanah Untuk Rakyat” yang dihiasi sebuah puisi dari Wiji Tukhul yang dipublish oleh berbagai organisasi masyarakat sipil menyebabkan kemarahan penguasa Orde Baru. Yayak menjadi sosok yang diburu sehingga ia harus ”nomaden” berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk menghindari dari penangkapan. Akhirnya ia bisa menyusul istri dan anak-anaknya yang telah lebih dulu kembali ke Jerman.

Jatuhnya rejim Orde Baru, yang salah satunya akibat kontribusi dari gerakan massa di berbagai wilayah di Indonesia, telah berhasil mendongkel Soeharto dari kekuasaannya. Periode baru yang disebut sebagai Orde Reformasi membawa angin segar bagi para eksil agar bisa kembali ke Indonesia. Salah satunya adalah Yayak Iskra.

Kepulangannya pertama, pada tahun 2003, disambut dengan rangkaian Workshop Musik dan Lagu Merdeka yang digelar di berbagai kota seperti Yogyakarta, Surabaya, Mataram, Jakarta, Medan, dan kota lainnya.

Sosok kurus, tinggi, dengan mata bulat yang tajam menghujam dan suara bass-nya, seakan tak kenal lelah. Selalu menyapa dengan pekikan lantang ”MERDEKA!”, ia bersama dengan berbagai kelompok musik, kelompok anak, dan organisasi-organisasi mahasiswa, kembali memperkenalkan lagu-lagu anak/rakyat merdeka dan bersama-sama menciptakan lagu-lagu baru.

Banyak lagu-lagu karya Yayak Iskra, yang beredar dari mulut ke mulut dan tidak banyak diketahui siapa pencipta lagu itu. ”Itulah makna lagu merdeka.. Semua orang boleh merubah liriknya, menambah atau mengurangi, sesuai dengan kebutuhannya,” katanya dalam suatu kesempatan.

Tawaran untuk rekaman ditolaknya. Tawaran dari beberapa penyanyi nasional untuk menyanyikan lagu-lagu-nya juga pernah ditolak. Pada sebuah surat dimana saya mendapatkan tembusannya, Yayak Iskra menuliskan:

Waktu dulu di awal 80 an, tak kurang-kurang kami menerima tawaran untuk rekaman. Kami sengaja menolak. Lagu Anak Merdeka itu biarkan menyebar dari mulut ke mulut. Menyebar antar kawan. Dari kelompok merdeka satu ke kelompok merdeka binaan yang lain. Biarkan nyebar lewat workshop, lewat training-training CO (Community Organizing). Lewat pamong-pamong pendamping , malah masuk ke jiwa anak-anak berbareng sekalian dengan penyadaran,”.

Pilihan yang dilakukan oleh Yayak Iskra untuk mengembangkan lagu-lagu anak/rakyat merdeka yang diarahkan agar dapat tercipta secara kolektif sudah banyak menginspirasi berbagai kelompok. Lagu-lagu yang berkisah tentang realitas kehidupan sehari-hari semakin tumbuh subur, menyebar dari mulut ke mulut saling bertukar lagu, sehingga menjadi lagu perjuangan bagi mereka.

Dijelaskan oleh Yayak bahwa hal yang menarik adalah bahwa penciptaan lagu-lagu dan syairnya rata-rata dilakukan secara kolektif. Sehingga semua orang yang terlibat bisa mengakui sebagai pencipta atau lebur menjadi karya kelompok atau anonym. Psikologis, ini membantu memberi rasa aman untuk menggali semerdekanya kreativitas, imajinasi, greget dan seterusnya dalam proses penciptaan. Suatu Lyrik ditawarkan, lalu dibahas bersama. Bunyi, warna, unikum, irama, thema dst. Lalu di lagukan. Atau sebaliknya, nada-nada atau irama tertentu ditawarkan, lantas lyrik diisikan. Atau bila ada yang menemukan satu lagu utuh,  langsung duji bersama. Namun, -disepakati dari awal- semua orang siap dan terbuka hati untuk menerima saja bila lagu atau lyriknya itu diaduk-aduk, dibongkar, dirombak atau diganti. Dengan cara ini, maka, puluhan lagu tercipta. Semua kawan senang menyanyi dan melagukannya.

————————-

Tulisan ini pernah diposting di Kompasiana, 22 November 2010. Lihat di SINI

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: