Tinggalkan komentar

Yayak Iskra, Berjuang Melalui Lagu dan gambar (3)

Oleh: Odi Shalahuddin

_______________________________________________

 

Roti Matahari.....

Banyak orang telah mendengar dan akrab dengan lagu-lagu dan gambar-gambar karya Yayak Iskra yang tersebar secara tersembunyi, namun belum mengetahui sosoknya atau tidak tahu bahwa Yayak Iskra adalah sang penciptanya.

”Ini karya merdeka, anonim, siapa saja boleh mengklaimnya, merubah, mengganti, dan menyebarluaskan lagi. Ilmu itu harus disebarkan, biar rakyat kita pintar,” katanya pada suatu ketika yang tidak mempersoalkan orang tahu atau tidak tentang karya-karyanya.

Maka, ketika kepulangan pertama di tahun 2002, saya sungguh berbahagia ikut terlibat merancang kegiatan apa yang bisa dilakukan olehnya. Mulai dari rencana penyambutan, workshop-workshop untuk pendamping anak, hingga workshop musik dan lagu rakyat merdeka. Akhirnya beberapa kawan sepakat hanya mengadakan workshop musik dan lagu rakyat merdeka saja. Saya dipercaya untuk mengorganisir workshop di Yogyakarta dan workshop nasional-nya yang juga digelar di Yogyakarta.

Pada workshop nasional sebagai penutup dari rangkaian workshop di berbagai kota, mantan-mantan aktivis 80-an dan awal 90-an serta aktivis-aktivis muda dari berbagai latar belakang seperti aktivis mahasiswa, aktivis buruh, aktivis anak jalanan, yang masih aktif dari berbagai kota seperti Yogyakarta, Semarang, Solo, Surabaya, Mataram, Medan, Bandung, Jakarta, Kediri, Pontianak, turut terlibat. Acara ini tampak seperti temu kangen para aktivis yang telah mengenal Yayak Iskra dan juga rasa penasaran karena selama ini hanya mendengar namanya saja. Memang, banyak orang-orang terkejut ketika mendengar lagu-lagu yang akrab dengan mereka dan kerap dinyanyikan di jalan-jalan adalah karya dari Yayak Iskra. Yayak hanya tertawa saja ketika mereka menanyakan kebenaran itu.

Selama tiga hari workshop di gelar di Studio Puskat. Lagu-lagu anak/rakyat merdeka-pun berkumandang. Semua orang bebas memegang dan memainkan berbagai alat musik, menyesuaikan iramanya, dan menyanyikan bersama-sama. Workshop kilat, kemudian hasilnya di rekam di Studio Puskat dan di SMKI Yogyakarta. Upaya dokumentasi untuk disebarluaskan ke kawan-kawan yang lain. Gambar-gambar karya bersama juga dibuat. Masing-masing orang bebas menggambarkan apapun yang dia mau. Dasar aktivis, kepalanya hampir sama, menyuarakan ketidakadilan yang ada di negeri ini.

Pada akhir acara, digelar pementasan musik. Bertempat di Pendopo Taman Siswa. Sebuah sekolah yang pernah menjadi sekolah dari Yayak ketika di TK dan di tingkat SD. Ajaran-ajaran yang diterima  selama bersekolah yang melekat dan menjadi bagian dari hidupnya memandang tentang metode pendidikan. Hal itulah yang selalu berulang ia ceritakan baik secara lisan ataupun melalui tulisan-tulisannya.

Yayak menjadi bintang pada malam itu. Ia menyanyikan lebih dari 10 lagu. Setiap menyanyi, para penonton mengikutinya. Satu persatu ikut bergabung di panggung, memegang alat musik, dan jadinya hampir separuh orang yang ada di pendopo berada di atas panggung. Acara berlangsung lancar. Semua puas, semua senang. Demikian pula dengan diriku.

* * *

Bagiku, lagu-lagu Yayak Iskra tidaklah asing. Aku telah mendengarnya sejak tahun 1985, ketika Yayak Iskra bersama Mohammad Farid (Aktivis hak anak terkemuka) dan kawan-kawannya menyelenggarakan program Olah Anak Kreatif. Aku bersama kawan-kawan, yang ketika itu masih SMP sering menyanyikan lagu-lagunya. Lagu yang paling disuka pada saat itu adalah lagu Aku Anak Indonesia yang berirama melayu.

Aku Anak Indonesia

Aku anak Indonesia

Aku punya cita-cita

Punya mobil punya sawah

Jadi mentri atau bupati

Aku cinta indonesia

Aku cinta pancasila

Apa daya uang tak punya

Sekolahpun aku binasa

Reff:

Indonesia kaya raya

Mengapa aku menderita

Tapi aku tetap gembira

Karena Indonesia merdeka

Aku anak siapa saja

Bapak kerja ibuku juga

Pagi sampai sore hari

Upahnyapun habis sudah

Aku makan propaganda

Dengan lauk janji-janji

Terka aku anak siapa

Aku anak indonesia

Kembali ke Reff:

Pada akhir tahun 80-an, lagu-lagu ini selalu menjadi kutipan dari pemberitaan media massa karena banyak dinyanyikan oleh anak-anak di berbagai lokasi yang terkena penggusuran. Misalnya oleh anak-anak Kedung Ombo. Tapi pemberitaan tidak pernah menuliskan siapa nama pengarangnya. Perkembangan lainnya, kata anak bisa berubah menjadi ”buruh”, ”Petani”, ”rakyat”, dan sebagainya yang disesuaikan dengan kelompok yang menyanyikannya.

Mengenai lagu ini, Yayak pernah menuliskan bagaimana lagu ini lahir. Pada suatu hari, katanya, ada anak muda dari dusun, tak selesai SD, pengamen,  nyasar ke kampus. Dia bawa gitar bobrok dengan tiga senar. Kita stem string itu, dan diciptakanlah lagu itu. Pengamen itu terlihat sangat gembira.

Mengenai Lagu Anak merdeka, lagu yang pertama kali diciptakan oleh Yayak Iskra adalah lagu ”Roti Matahari”.

Kubawa bawa matahariku,

Kubagi bagi layaknya roti,

Semua mendapatkannya,

Semua suka bersama sama.

(1980)

Menurut Yayak, Syairnya terilhami dari gambar anak-anak yang seringkali menyertakan matahari dalam obyek gambar-gambar  mereka. Matahari menjadi semacam simbol dari semangat hidup mereka. Terutama setelah mereka terbebas dari kungkungan gambar simbolik stereotyp: 2 gunung mengapit matahari terbit.

Lagu ini iramanya riang, dari lambat ke cepat. Pada pengulangan ke III ke V, seketika berhenti  serta berteriak Merdeka sekeras-kerasnya sebanyak tiga kali. Hal ini juga bisa dilakukan pada lagu-lagu yang lain. Tujuannya jelas yaitu penanaman jiwa merdeka, lewat penghayatan kata dan sikap. Jemari dikepalkan, tinjulah langit sekuatnya.

Metode untuk menyanyikan lagu-lagu Yayak (yang biasanya lirik-liriknya pendek) secara berulang-ulang dengan tempo yang semakin cepat dan diakhiri dengan teriakan ”merdeka” berulang kali, sering kami praktikkan ke anak-anak. Ini bisa menjadi penyemangat bagi anak-anak. Metode ini juga bisa menjadi semacam trauma healing bagi anak-anak korban bencana. Misalnya yang kami lakukan kepada anak-anak korban gempa di Kabupaten Bantul pada tahun 2006 dan juga pada anak-anak yang menjadi korban letusan merapi yang terjadi pada tahun ini. Hal serupa juga dilakukan oleh kelompok-kelompok lain.

Lagu-lagu Anak Merdeka, juga sering dinyanyikan oleh orang dewasa. Utamanya para aktivis mahasiswa dan rakyat tergusur. Misalnya saja lagu ”Topi Jerami” yang irama lagunya banyak menjadi lagu untuk para supporter bola.

Topi Jerami

Di bawah topi jerami

Kususuri garis matahari

Sejuta kali putar bumi

Bagiku satu langkah kaki

Titik Api

Dari titik api matahari pagi

Kan kutangkap semangat menyala nyala

Bakar badanku bakarlah jiwaku

Biar matang merdeka

(1985)

Lagu untuk anak, yang kemudian dikembangkan menjadi lagu orang dewasa dan menjadi lagu jalanan adalah lagu ”Satukanlah” yang akhirnya berubah judul menjadi ”Rakyat Bersatu”

Lirik awalnya:

Satukanlah dirimu semua

jadi bangsa senasib seraga

sakit suka dirasa sama

bangun-bangun segera

Satukanlah berai jemarimu

kepalkanlah dan jadikan tinju

bara lapar jadikan palu

‘tuk pukul lawan tak perlu meragu

Setelah itu mendapat tambahan lirik oleh Kris dari Lontar Band Surabaya, yaitu:

Reff:

Pasti menang, harus menang

Rakyat berjuang

Pasti menang, harus menang

Rakyat merdeka

Hari terus berganti

Haruskah kalah lagi

Si Penindas harus pergi

Tuk hari esok yang lebih baik

Reff:

Pasti menang, harus menang

Rakyat berjuang

Pasti menang, harus menang

Rakyat merdeka

Jangan mau ditindas

Jangan mau dijajah

Jiwa dan pikiran kita

Tuk hari esok yang lebih baik

Reff.  (10 X)

Pasti menang, harus menang

Rakyat berjuang

Pasti menang, harus menang

Rakyat merdeka

(1987-1996)


Pada masa-masa akhir 80-an, Yayak Iskra banyak mencipta lagu-lagu tentang isu tanah rakyat yang tergusur atau rakyat yang terpinggirkan, seperti Kedung Ombo, Badega, Buruh, Ciliwung, dan sebagainya.

Beberapa contoh lirik lagunya:

Ada apa di Kedung Ombo

Kedung Ombo jadi berita

Orang pun ribut, pro dan kontra

Apa yang nyata disana

Segeralah simak saja:

Reff:

Disana telah terjadi

Bencana yang terencana

Anak-anak jadi tumbal

Sakit dan mati tenggelam

Masa depannya ditebas

Demi listrik dan restoran

Diperbodoh, ditelantarkan

Demi turis dan pelacuran

Badega Menjerit

Kudengar swara, tanah terluka

Bumi Badega menjerit lara

Bumi ibunda nyata dihina

Kaki kaki busuk jiwanya nista

Reff.

Bangunlah kawan, apikan jiwa

Si Pemakan Tanah, usirlah musnah

Yakinlah benar kita tlah sadar

Bumi Badega kita empunya

(1988)

Kebun Aceh

Tanah kebun di Aceh ini

Sudah lama kami rasa punya

Dia nyawa seluruh keluarga

Tak mungkin kami sia-sia

Reff:

Lompatilah nyawa kita

Bila mau merebutnya

Tanah Aceh tanah bunda

Kan kami jaga sampai menang

(1988)

Buruh Bersatu Tak Bisa Dikalahkan

Kepalkan tangan, satukanlah tujuan

Bangkit bergerak melawan penindasan

Rebut kemenangan, tegakkan lah keadilan

Buruh bersatu, tak bisa dikalahkan

Buruh bersatu, tak bisa dikalahkan

(1999)

Selain lagu-lagu di atas, ada puluhan lagu-lagu yang diciptakan oleh Yayak. Beberapa ada yang merupakan adaptasi dari lagu-lagu perlawanan dari berbagai negara.

 

Bahan Bacaan:

  • Brosur pameran ”Karya Eksil Yayak Iskra: Manusia Bumi Selatan”, Agustus 2003
  • Surat Yayak Iskra , tertanggal 30 April 2002
  • Wawancara dengan Yayak Iskra, dalam buku ”Berjalan sambil Buat Jalan”, Save the Children – SAMIN, 2010
  • Gambar-gambar Yayak Iskra dalam account FB-nya

______________________________________________

RIWAYAT HIDUP YAYAK ISKRA

______________________________________________

  • 1956                   Lahir di Yogyakarta
  • 1977 – 1984:  Fakultas Senirupa dan Disain, Institut Teknologi Bandung, jurusan Desain Grafis
  • 1977 – 1989 : Disaner grafis dan ilustrator beberapa majalah di Indonesia
  • 1992                 : Tinggal di Koln, Jerman
  • 1993                 :  Pendiri Kelompok Seniman Wulung, Koln, Jerman
  • 1998                 :  Anggota Federatian Critique, Paris, Perancis

 

Pameran Tunggal:

  • 1990:  “Anak Selatan Bumi”, di 35 sekolah di Perancis Selatan
  • 1992:  “Karikatur Politik dan Gambar”, Evangelishe Akademie, Iserlohn
  • 1992:  “Karikatur Politik dan Gambar”, Wekstatt 3, Hamburg
  • 1992:  “Aksi Gambar”, Palais du Trocadero, Paris
  • 1992:  “Karikatur Politik dan Gambar”, Dam, Amsterdam
  • 1993:  “Karikatur Politik dan Gambar”, Rote Fabrik, Zurich
  • 1993:  “Karikatur Politik dan Gambar”, Okobildungswerk, Koln
  • 1994:  ”Anak Selatan bumi”, Bilderschec, Koln
  • 1995:  ”Selatan VS Utara” Jendela Seni Componet, Koln
  • 1995:  ”Karikatur Politik dan Gambar” Universitas Humbold, Berlin
  • 1995:  “General und Hightech” Cafe International, Hannover
  • 1995:  ”Karikatur Politik dan Gambar”, Institut und Sammlung fur Volkerkunde Universitat Gottingen, Gottingen.
  • 1995:  ”Aksi Gambar” Pasar Maling, Utrecht
  • 1997:  ”Message From the Future” Galeria Asia Pasific Reisen, Koln
  • 1998:  “Pekerja Anak dari Asia, Amerika Latin dan Afrika” Global March, Poitiers, Perancis
  • 1998:  “Anak Sial Bumi Selatan,” Drittewelt Zentrum, Aachen
  • 2003: ”Manusia Bumi Selatan” Galeri Surabaya, Dewan Kesenian Surabaya
  • 2004: ”Semua Orang Itu Guru, Semua Tempat adalah Sekolah,” Cipta Galeri, Taman Ismail Marzuki, Jakarta

 

Pameran Bersama

  • 1984:  Galeri Utama Taman Ismail Marzuki, Jakarta
  • 1990:  Kunstschalter, koln
  • 1992:  Kunstschalter, koln
  • 1995:  Begegnung, EuroCentres, Koln
  • 1996:  Alles Quadrat, Hotel Et Cetera, Koln
  • 1996: ”Gambar-gambar”, Chiang Mai, Thailand
  • 1998: Federation Critique, Grande Arche La Defense, Paris
  • 1999:  Seniman Melayu” Alte Leder Fabrik, Koln
  • 2000: ”Seni untuk Rakyat” Asien Haus, Essen
  • 2001: ”Seniman Jerman VS Indonesia” Deustsche Welle, Koln
  • 2002: “Anti Militerisme” Indonesia House, Amsterdam
  • 2003: “Seni Mutahir Indonesia” Atmoshphaere Galery, Koln

 

Publikasi

  • 1990: ”Tini” Komik, ORCADES, Poitiers
  • 1992:  Ilustrasi majalah SuOstASIEN Essen, TAPOL, London, IFM Amsterdam, dan beberapa koran di Jerman, Inggris dan Swiss
  • 1993: ”Air untuk Sahel: material untuk pengembangan kesaedaran, ORCADES, Poitiers
  • 1993: ”Hak Asasi Anak” Poster, Terre des Hommes Germany
  • 1994: ”Buah dari Selatan bumi” seri poster dan mainan, ORCADES Poitiers
  • 1994: ”Salam dari Selatan”, Katalog, ORCADES, Poitiers
  • 1995: ”General und Hightect” LIT Verlag, Munster
  • 1995: ”Welcome to Indonesia” Poster, Amnesty International, London
  • 1996: ”Thibaud a la decouverte du Cacao” Pekerja Anak di Perkebunan Coklat di Pantai Gading, Komik, ORCADES, Poitiers
  • 1997: ”Thibaud a la decouverte de la banana” Pekerja Anak di Perkebunan Pisang Ecuador, Komik, ORCADES, Poitiers
  • 1997: ”Thibaud a la decouverte du The”, Pekerja Anak di Perkebunan Teh di India, Komik, ORCADES, Poitiers
  • 2000: ”Militerisme di Indonesia, untuk Pemula” Komik, penerbit bersama, Jakarta
  • 2002 :“Pembantaian Massal Sejak Oktober 1965”, Poster, Penerbita Bersama, Jakarta

 

 

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: