1 Komentar

Kanjeng Mami – Cerpen Ana Antarisa Nugroho

Oleh:  Ana Antarisa Nugroho

Kenalkan…
Namaku Macaca,
rupaku menawan,
bodyku elok,
aku ratu panggung !

Aku perempuan dewasa, single dan enerjik. Tampangku sebenarnya tidak istimewa. Tapi kata orang aku memiliki bibir yang cukup membuat para pejantan terhipnotis sekian detik. Karena primadona, aku lebih popular dengan sebutan Kanjeng Mami. Ya, aku adalah RATU !

Keseharianku biasa saja, aku tinggal di sebuah bilik kecil yang terletak di Gg. Guweg yang dihuni 26 warga. Beberapa gadis yang sedikit lebih muda dari ku dan selusin pemuda dari berbagai daerah. Pak Gondrong adalah Ayah Angkat ku, jarang tersenyum dan memiliki tatapan tajam, membuat para warga enggan jika harus dekat atau berbincang dengannya.

Oom Toni, dia adalah pelatih body language ku. Pekerjaanku menuntut selalu tampil prima, supaya saat menghibur para tamu, aku bisa lebih luwes. Terus terang aku tidak suka dengan kegenitannya, Oom Toni suka mencolek pinggul gitarku dan menjawil daguku… “Idih, emang gue cewek apaan ?” tapi aku tak berdaya karena tatapan Pak Gondrong tak pernah lepas mengawasi saat Oom Toni melatihku.

Mak Ifah satu satunya orang yang mengerti aku. Beliau yang menyiapkan segala keperluan sehari hari, wanita Jawa ini pula yang mengajariku bergincu, berbagi daster kumelnya, dan menghibur dengan suara lembutnya ketika aku lelah dan letih setelah memuaskan tamu tamuku.

Hidupku keras, aku sudah banyak makan asam garam, bersahabat dengan deru, debu, cercaan bahkan kejaran Kamtib. Tapi itu semua menempa aku menjadi lebih kuat dan tegar. Aku tidak boleh mengeluh apalagi menyerah. Kusyukuri segala nikmat dan peran ini sebagai anugerah yang paling indah dari Yang Maha Terhebat.

Aku bertemu begitu banyak manusia yang penuh kepalsuan, kemunafikan, ketidak tulusan, serakah, bahkan mereka tidak kenal yang namanya hati nurani. Terus terang, aku sudah 3 kali jatuh ke pelukan lelaki yang berbeda. Sungguh aku letih. Aku tak punya daya, inilah tuntutan karier. Sampai suatu ketika, aku bertemu dengan juragan batu yang berhati salju, dari Cimaung, Wan Hasyir.. dia memperlakukan aku betul betul sebagai wanita, membawaku menjadi penghuni tetap lapak Gg. Guweg ini. Setidaknya teduhan ini jauh lebih baik dari singgahan singgahan ku sebelumnya.

Hidupku sedikit berwarna dengan kehadiran tetangga baru.. sebut saja mas Eko, asal Gunung Kidul… usianya sekitar 4 tahun lebih tua dari ku, walau badannya sedikit montok, tapi perhatian dan tutur sapanya sudah mencuri hampir setengah kilo hatiku. Dia pengagum sejati bibirku yang memang sekseee… Warga lapak akhirnya menjuluki mas Eko, Ndoro Papi sebagai pasangan Kanjeng Mami. Aku bahagia sekali…  “Ndoro Papi, aku padamu… “ itulah ratapan ku tiap malam untuknya.

Beda lagi Antuza, aaah…. Pemuda seberang kemarin sore yang terlampau berani merayuku terang terangan. Sepertinya dia pemuda yang penuh petualangan, karena banyak penghuni lapak yang tersakiti hatinya. Dik Ant misalnya, di”lepeh” di tengah jalan menuju UGD saat dia kram perut, hanya karena Antuza bermain mata dengan Jeng Yayi, sinden RT sebelah saat berhenti di lampu merah… sungguh TER LA LU.

Sudah pukul 10 malam…

Kurebahkan badan kurusku di atas kasur tipis beralas selimut tua…

Memandang sinar bulan dari jeruji bilikku,

aku rindu kampungku,

aku rindu rumahku,

aku rindu bisikan angin dari pucuk ranting bakau,

pesisir hutan Mangrove yang rindang dan berlumpur,

Mataku basah, dan aku terlelap….

***

Subuh, fajar merekah… langit bersemu jingga, embun menetes basah…

Mak Ifah menarik selimutku, suaranya yang lembut membuat aku selalu tersenyum saat membuka mata. Gaun, segambreng asesoris dan kotak bekal sudah disiapkan diatas meja lapuk satu satunya di bilikku. Mak Ifah duduk di lantai, disampingnya sudah ada Beauty Case yang terbuat dari kotak sepatu, siap “melukis” wajahku.

Mak Ifah mulai menyapu wajahku dengan bedak tebal. Entahlah apa merk nya, aku pikir yang dia oleskan bukan bedak tapi wall filler karena hasilnya wajahku lebih mirip dempulan tembok. Ahh… andai saja aku bisa protes, tapi aku diam saja…

Kini giliran pipi, blush on terstempel paksa membuat aku lebih mirip boneka dakocan lengkap dengan bendera Jepang menempel di pipi. Berikutnya mataku yang di acyak acyak ketumbar mere jahe… Tidak tanggung tanggung, warna hijau daun pisang dan blue navy genjreng noraks tralala sudah terpulas dimataku. Menurutku, lebih mirip digebukin Satpol PP dari pada riasan seorang Kanjeng Putri Karatan.. eh, Keraton. Hmm…, sungguh selera berias papan tripleks kelas atas ! Dan aku tetap terdiam…

Nah, akhirnya riasan pamungkas, mendandani bibirku ! Kali ini Mak Ifah menekan keras keras pinsil bibir warna merah tua itu untuk membentuk bibir ku agar tampak lebih tebal dan tentu saja sekseee…. Dipilihnya warna lipstik paling mencorong dalam sejarah hiburan. Merah cabe terang merekah, glossy dengan efek basah. Aku mendadak susah mingkem, tapi justru semakin membuat aku berkesan penggoyah ulung iman kaum Adam. Bayangkan saja, efek basahnya benar benar basah sampai nyaris menetes… (padahal itu benar benar ilerku yang menetes menahan rasa aneh minyak lipgloss yang dipakai Mak Ifah).

“Mboh wis.., sak karepmu Mak, you’re the expert !”… batinku.

Dan aku memang selalu pasrah, Mak Ifah ahli juru paes nomer satu di Gg. Guweg.

*

Pukul Sembilan lewat sepuluh pagi, di Perempatan Jl. Arteri Pondok Pinang, Jakarta Selatan, aku siap beraksi…

Bang Estu menggamit ku menyusuri trotoar, sesekali dia mengelus rambutku. Aku memang telah menanda tangani kontrak dengannya selama satu bulan ke depan ini sebagai partner kerjanya.

Dung tak dung dung, tak dung dung…. “Macaca pergi ke pasar… dandan dulu biar cantik…, pakai payung biar gak kepanasan..eit, bawa kranjangnya”…. Dung, dung, dung, tak dung, dung…

Ya kenalkan,
Aku Macaca Fascicularis
Monyet Ekor Panjang…
Aku, artis Topeng Monyet !

***

Dedicated to my beloved friends, warga Guweg ~ SMP Wolu’86 Yogya,  Ai lop yu pull … !!!

Singgahsanaku,  January 29, 2011 ~ 00.03 am

___________________

Gambar diambil DARI SINI

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

One comment on “Kanjeng Mami – Cerpen Ana Antarisa Nugroho

  1. Gakgakgakgak. . . PeDe banget . . Padahal monyet!
    Hahahaha. . . . Tapi ttp bagus kok! Banget malah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: