2 Komentar

Satu Cinta Dua Agama (21 & 22 – Tamat) – Cerbung Fitri Y. Yeye & Katedra M. Rajawen

Oleh:  Fitri Y. Yeye dan Katedra M. Rajawen

(21)

“Ok..jika itu telah putusan final darimu. Sia- sia aku datang ke sini! Tetapi aku juga harus sadar mulai saat ini!” Hampir tak terdengar suara Rizal saat mengatakan itu seakan mengingatkan dirinya.

“Selamat Ramli, jaga Tri baik-baik dan jangan kecewa. Agar kau tahu saja, aku sangat mencintainya. ” Rizal mengulurkan tangannya pada Ramli. Ramli menyambutnya dengan hati sedikit kebingungan.

“Maafkan aku. Rizal. Aku mengerti perasaanmu. ” Lama ia menatap kearah Tri. Tri tidak sanggup menantang tatapan itu. Rizal kembali menjulurkan tangannya.

”Aku sudah mendengar jawabanmu, Tri. Semoga kau bahagia dengan pilihanmu. Aku tidak akan mengganggumu lagi. ” Tri terharu mendengar kata-kata Rizal, tanpa sadar matanya yang sudah hangat sedari tadi, menitikkan airmata.Tri mnyambut tangan Rizal dan berucap.

”Terimakasih sudah mau mengerti aku Rizal. Maafkan aku, selamanya kau adalah sahabatku. ” Sesungging senyum tulus degan air mata yang terus menetes ia menyambut tangan Rizal.

Rizal memaksasakan juga bibirnya tersenyum, saat ia melihat air mata Tri betapa pilu hatinya, airmata itu adalah air mata tulus seorang sahabat yang tidak ingin kehilangan sahabatnya. Rizal tersadar, betapa cantiknya wajah itu tanpa air mata. Lalu ia sangat menyesal telah membuatnya menangis.

“Ayo, hapus air matanya, kamu jelek sekali kalau menangis. ”Canda Rizal sambil mengeluarkan saputangan kotak-kotak berwarna abu-abu dari kantong celananya. Sungkan Tri menerima saputangan itu.

“Ayo..Tri Rizal benar, hilang manisnya karena air mata itu. !” Ramli ikut membenarkan.

Kemudian Tri tertawa dan menagambil saputangan itu. Tri mengusap air matanya, Tri bisa mencium bau wangi parfum dari saputangan Rizal. Rizal tersenyum, Ramli juga tersenyum. Bertiga mereka saling berpandangan lalu kemudian tertawa.

“Tri, ayo, bawa tamunya masuk. Kita makan bersama !” Suara Mama dari dalam rumah membuat tawa mereka terhenti.

“Waah, sepertinya Mama sudah menyiapkan santapan lezat untuk kita. Kebetulan aku sangat lapar. ” Celoteh Rizal.

“Yuk, kita masuk dulu kalau begitu ”Ajak Tri. Kemudian mereka melangkah ke dalam rumah. Sore itu menjadi sore yang indah di umah Tri. Tawa, canda terdengar di meja makan. Rizal yang paling banyak bicara, karena memang ia sebenarnya kocak dan cuek. Ramli hanya ikut-ikutan tertawa, barangkali juga ia menjaga wibawanya di rumah calon mertua.

**
Sebulan lagi, Tri dan Ramli akan melangsungkan pernikahan. Tri tidak ingin terlalu lama membuat orangtuanya menunggu lagi. Lagipula ia mulai yakin, bahwa Ramli adalah lelaki yang baik, shaleh, dan bisa membuatnya bahagia.

Mendengar kabar ini, tentu saja Li bahagia, namun masih terbersit sebuah pikiran,”Andai saja pengantin pria itu adalah aku! Ah, tapi sudahlah, kenyataannya bukan aku!”

Bukankah saat ini Li sudah menemukan pengganti Tri yang sepadan, Fera Noor Aini. Wanita agresif, ceria, dan baik hati. Yang penting lagi keluarga Fera bersedia menerima Li apa adanya dalam hal keyakinan. Mereka bisa menikah kelak tetap dengan keyakinan masing-masing. Itulah komitmen mereka.

Sepertinya Li dan Fera tidak mau kalah dengan pasangan Tri dan Ramli yang akan segera menikah. Karena mereka sudah serius merencanakannya dengan matang.
Li merasa ia dan Fera adalah pasangan yang cocok. Bisa saling melengkapi dan saling mengerti.

Perbedaan yang ada diantara mereka tak menjadi halangan. Dua agama akan dipersatukan dalam satu cinta anak manusia. Sebab cinta warnanya adalah sama dan tidak pernah membedakan.

Setiap manusia memiliki cinta suci di dalam sanubarinya yang dapat mengalir kemana dan kepada siapa saja. Ketika manusia dapat menyadari alangkah bahagianya.

Li telah menemukan warna cinta yang sama nan tulus dari seorang wanita yang bernama Fera Noor Aini.

Di kafe dimana biasanya mereka menghabiskan waktu senja itu Li mengabarkan sebuah berita untuk Fera. Dalam remang petang ibu kota mereka berdua berbicara.

“Fer, aku bahagia sekali. Hari ini aku mendapat kabar, bahwa bulan depan mantanku akan menikah!”

“Mantan? Maksudmu, Tri?” Fera menanggapi dengan serius kali ini.

“Ya, memang yang mana lagi?” Li sedikit menggoda. Sebelum melanjutkan, Li menyeruput kopi hangat yang terhidang di depannya.

“Aku berpikir, sudah waktunya juga aku akan melamarmu, Fer!” Kata Li serius dan tegas.

(22)

“Menikaaah?” Fera terbelalak dengan ucapan Li yang tiba-tiba. “Koko serius,? Bukannya aku tidak percaya Ko! Tapi tolong jawab tanyaku dengan hati yang jujur.!” Kali ini Fera terlihat sangat serius, tidak seperti biasanya yang suka bercanda. Mungkin karena ia sadar pernikahan bukanlah soal sepele dan bisa dibuat bercanda.

“Apa Koko benar-benar mencintaiku? Apa aku bukanlah pelarian unuk cinta Koko yang kandas bersama Tri?” penuh harap Fera menunggu jawaban Li.

Li menarik nafas dalam. Sebelumnya ia telah menduga Fera akan bertanya hal itu, karena memang hubungan mereka begitu cepat terjadi.

“Bukan sayang!” dengan tampang yang selucu mungkin Li menjawab keresahan hati Fera. Li memiliki wajah yang lentur, muka lucu bisa dipertontonkan dengan seribu wajah. Tentu saja ini sebuah keunikan yang sangat disukai para gadis, termasuk Fera.

Paras lucu dengan senyum terunik kali ini, tidak bisa membuat Fera untuk tidak tertawa. Tapi itulah hebatnya Li, saat senyum dan tawa Fera mengembang ia cepat mengambil alih, dan langsung bicara serius.

“Aku mengerti kekhawatiranmu Fer. Aku memaklumi, wajar saja jika kamu meragukan cintaku. Jujur Tri memang belum hilang dan jejaknya tak akan terhapus di hatiku. Namun bukan berarti aku tidak mencintaimu.

Kau sangat mengenal diriku, kita besama di kantor ini sudah cukup lama. Kamu mengerti aku selalu berusaha cepat mengambil keputusan. Jika satu jalan tertutup bagiku, aku sgera mencari pintu lain yang bisa kumasuki.

“ Tri kini adalah bagian dari masa lalu. Dan kita tidak bisa larut dalam masa lalu itu, sebab hidup terus berjalan. Masa depan akan menjelang.

Tidak bisa di hambat, kebahagiaanku adalah saat ini. Aku ingin yang menemaniku menikmati kebahagiaan itu adalah kamu Fer.” Li meraih tangan Fera, menggenggamnya.

Kemudian ia kembali bicara “Menikahlah denganku!” Senyumnya penuh harap.

Fera tergugu dalam diam, kata-kata Li begitu penuh makna. Sesuatu yang sangat dikagumi Fera darinya.

“Kau tidak perlu percaya hari ini, karena mungkin kata-kataku belum sanggup membuktikan ketulusan cintaku.”Li melanjutkan dengan tangan Fera masih ada dalam genggamannya.

“Setelah menikah, kamu akan tahu bahwa dirimu adalah wanita isimewa untukku. Tentu saja aku juga akan menempatkanmu di tempat paling istimewa dalam hatiku.”

Begitu serius Li mengungkapkan isi hatinya.

Fera menunduk, memandangi tangannya yang semakin erat digenggaman Li. Terasa aliran hangat cinta Li menyentuh sampai ke kalbunya. Ia membiarkan air bening dari sudut matanya membuat garis lurus di wajahnya yang mulus. Pelan-pelan air mata itu jatuh menimpa tangan Li.

Li bergegas melepaskan genggamannya, sigap ia menghapus airmata itu dari wajah Fera dengan ujung jari jempolnya.

“Aku tidak percaya seorang Fera menangis!” Li menggoda kekasihnya. Sebuah pukulan lembut mendarat di lengan gagah Li.

Ehemmm…! Ok. Aku mau menikah denganmu.” Jawaban Fera matap. Membuat mata Li berbinar bahagia. Ingin ia mencium dan memeluknya erat. Tapi diurungkan niatnya. Senyum mengembang di bibir sepasang kekasih itu.

“Tri akan menikah minggu besok, dan aku akan mengajakmu ke sana untuk menghadiri undangannya. Kita akan menyusul mereka sebulan setelahnya. Apa kamu siap?” Li kembali bertanya.

“Berarti waktu kita untuk persiapan masih ada kira-kira satu setengah bulan lagi? Apa itu cukup?” Tanya Fera serius.

“ Ku kira cukup, toh kita bukan anak pejabat bukan? Yang harus repot dengan beragam ceremonial.” Ujar Li mantap.

“Ok deh, aku siap. Setelah ini kita cari gaun penganten ya..!” bujuk Fera manja.

“Baiklah sayang, beres!” balas Li.

Lalu mereka beranjak dari duduk dan terus meluncur meninggalkan café itu. Mereka selalu bergandengan tangan, terlihat sekali hati mereka tengah berbunga-bunga.

***

Bunyi saluang memecah hening malam di desa Tri. Dendang pantun terdengar begitu meriah. Saluang adalah musik tradisional Minangkabau, dengan seruling yang dibuat secera sederhana dari bahan bambu yang tipis sebagai alat musiknya. Permainannya dengan cara ditiup, pemain saluang mampu menyanyikan satu lagu dengan satu nafas tanpa putus. Malam ini saluang didendangkan untuk menghibur ibu-ibu yang memasak untuk persiapan pesta Tri esok hari. Semua yang hadir menikmati malam bahagia itu.

Malam ini juga adalah malam bainai, yakni malam Tri dipasangkan inai sejenis kutek pada kukunya yang lentik. Besok adalah hari bahagia Tri, ia akan menjadi ratu sehari, dan Ramli adalah rajanya.

Rumahnya dipenuhi kebahagiaan yang berlimpah, pelaminan ala adat minangkabau telah terpajang dengan indahnya. Kental sekali terasa nuansa adat dalam rumah itu Selain Tri, Mamanya adalah orang yang paling bersyukur dan bahagia menyambut pernikahan Tri. Ia sangat terharu akhirnya anak gadisnya menikah juga. Sekelumit doa mengalun dari bibirnya. Ia mengetuk pintu langit agar Tuhan membukakan pintu keberkahan untuk putri semata wayangnya.

*

Tri sangat cantik sekali hari itu. Dengan pakaian adat Minangkabau kebanggan daerahnya Sunting di kepala dan senyum merekah yang tiada henti menghiasi bibirnya. Ramli juga tak kalah gagah hari itu, dengan pakaian serasi mereka duduk bersanding di pelaminan, menunggu tamu undangan yang sebentar lagi akan datang.

Pesta berjalan sangat meriah, para undangan sudah mulai rami yang datang. Serombongan teman-teman Tri datang dari Jakarta. Ternyata Li, Fera dan teman kantor mereka. Ada Diah dan beberapa teman lain yang Tri tidak kenal sebelumnya.

Mereka semua menyalami pasangan penganten yang tengah berbahagia. Saat Li menyalami Tri dan mengucapkan selamat, lama mereka saling diam. Sebelum ucapan selamat keluar juga dari mulut Li.

“Selamat berbahagia ya Diak! Semoga menjadi keluarga yang diberkahi.” Ucap Li tulus.

Kemudian Li menyalami Ramli. “ Aku percaya kamu adalah imam yang baik untuk Tri” sebuah tepukan di lengan Ramli Li berkata.

Tri dan Ramli di Pelaminan saat Li menyalami Ramli

”Trimakasih, aku akan selalu ingat kata-katamu Li” tegas Ramli yakin dengan senyum bahagia hingga memperlihatkan giginya yang putih bersih.

Tripun menyambut ucapan Li dengan seyum penuh kelegaan.  Hatinya puas Li dan dirinya sudah dapat menerima takdir hidup dengan keihklasan. Tidak ada lagi rasa canggung soal perasaan di hati mereka.

Tri semakain bahagia saat Li juga memperkenalkan Fera sebagai calaon istrinya, secepatnya mereka akan menyusul untuk menikah. Tentu berita ini adalah berita gembira untuk mereka semua.

Tiba-tiba Rizal juga muncul. Tapi ia hanya sendiri. Rizal bergabung besama rombongan Li. Rizal menyalami Tri dan Tri untuk mengucapkan selamat.

Saat Li memperkenalkan Fera pada Rizal. Mata Rizal memandang seorang wanita di samping Fera. Dengan gaya khasnya ia berkata. “Li, Fera temanmu cantik sekali, boleh aku mengenalnya?” Tanya Rizal serius.

Diah yang disentil memerah wajahnya. Lalu secepat kilat Rizal sudah menjulurkan tangannya. “Rizal !” ia menyebutkan namanya dengan sedikit kerlingan mata.

“Diah menyambut tangan itu. “Diah” senyumnya manis.

Rizal senang menatap Diah berlama-lama, sepertinya ia jatuh cinta pada wanita itu. Dan gayung seolah bersmabut. Karena Diah menunjukkan sinyal yang sama. Diah terlanjur suka dengan gaya cuek Rizal.

TAMAT

________________________

Tentang Penulis:

Fitri Y. Yeye, seorang kompasianer yang pada saat ini, terlihat memiliki gairah menulis yang sangat tinggi. Menjadi Kompasianer sejak 5 Desember 2010,  gairah menulis ini dapat terliaht dari jumlah postingannya yang setiap bulan senantiasa meningkat. Pada bulan Desember ia memposting 33 tulisan, dan pada bulan Juni, ia telah memposting 80 tulisan. Mengenai dirinya ia menyatakan sebagai Wanita biasa yang sangat sederhana. Cinta kesederhanaan dan selalu ingin berada dalam kesederhanaan itu. (intinya SEDERHANA deh …)

.

Katedra M. Rajawen, menjadi kompasianer sejak 22 Oktober 2009. Termasuk kompasianer awal yang senantiasa mengikuti perjalanan kompasiana dengan segala ragam suka-dukanya. Tapi ia memilih posisi untuk terus menulis. Melakukan pencarian dan mengekspresikan berbagai renungan sehari-hari. Mengaku hanya mengandalkan HP untuk menulis dan memposting, tentu ini hal yang luar biasa  mengingat sehari ia bisa memposting beberapa tulisan. Keaktifannya menulis  membuat kita tidak heran ketika ia mendapatkan penghargaan sebagai Kompasianer teraktif pada awal tahun 2011.  Ia memang layak untuk mendapatkannya. namun ia selalu tidak pernah berpuas diri. Tetap menulis, menyapa sesama kompasianer, dan pada saat ini menyatakan dirinya sebagai: Bukan penulis biasa dan juga tidak luar biasa. Hanya bisa-bisanya menulis dan menulis sebisanya, serta menulis apa saja selagi bisa.

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

2 comments on “Satu Cinta Dua Agama (21 & 22 – Tamat) – Cerbung Fitri Y. Yeye & Katedra M. Rajawen

  1. kisah ny persis banget sama apa yg sedang saya alami sekarang,, hhhmm sedih saya jadinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: