Tinggalkan komentar

Saat Subuh Menyapa (1) – Cerpen Kolaborasi Asih Suwarsy, Odi Shalahuddin & Fitri Y. Yeye

Cerpen:  Asih Suwarsy, Odi Salahuddin, Fitri Y. Yeye

Subuh hampir menyapa. Alunan ayat suci sudah terdengar berkumandang dari pengeras suara Masjid di ujung jalan. Seperti biasanya, selalu terulang, pada saat-saat semacam inilah akan terdengar ketukan keras di pintu. Mi, seperti biasa pula, hanya membaringkan tubuh dan berusaha keras agar tak tertidur, betapapun dirinya telah letih dan sangat mengantuk. Ia tak ingin tidak terjaga. Bila sampai terjadi, maka ketukan akan terus bertubi-tubi, dengan keras, seakan hendak menjebolnya. Ya, Mi, tak ingin hal itu terjadi. Ia tidak ingin tetangga menjadi terganggu dan menjadi bahan omongan di kampung ini. Oh, bukan hanya itu sebenarnya. Terlambat membuka pintu bisa mengakibatkan tubuh-tubuhnya menjadi sasaran empuk hantaman Bo, suaminya.

Ketukan pertama sudah terdengar. Mi tak perlu menunggu ketukan berikutnya untuk segera bangkit dari ranjang. Ketukan demi ketukan yang mengeras saat ia masih tergesa menuju pintu. Segera ia membukanya. Aroma minuman keras menyeruak. Walaupun telah menjadi sarapan rutin pada dini hari, aroma itu tetap saja menyesakkan pernafasan Mi. Sesosok tubuh di depan pintu, dengan langkah terhuyung akan masuk ke dalam rumah ini.Belum tentu bisa sampai ranjang. Seringkali sudah terjatuh diruang tamu.

Walau dengan kekuatan yang nyaris tak ada, Mi akan memaksakan diri untuk membawa suaminya ke tempat tidur. Bukan karena Mi kasihan terhadap Bo, tapi Mi takut dengan tindakan Bo. Seperti yang pernah terjadi, karena tidak kuat memapah Bo, akhirnya Mi membiarkan saja Bo tertidur di ruang tamu.

Akibatnya tak pernah Mi bayangkan. Seperti beruang mengamuk, Bo menghancurkan apa saja yang ada di dalam rumah. Teriakan-teriakan kemarahan, sumpah serapah, hingga kata-kata penghinaan terdengar di telinga Mi. Saat itu Mi hanya bersembunyi di balik lemari. Dia memeluk ke dua anaknya yang sama takutnya dengan dirinya. Dua bocah perempuan yang tak tahu apa-apa. Mi khawatir dengan keselamatan ke dua putrinya. Dia tidak ingin anak-anaknya menjadi sasaran kemarahan Bo. Karena itu saat Bo mengamuk, Mi terus memeluk ke dua putrinya yang masih balita dengan erat. Dia bisa saja meminta ke dua anaknya untuk lari ke tetangga. Tapi sejak suaminya membuat keributan dengan para tetangga, tak ada lagi yang bersimpati untuk menolong Mi dan kedua anaknya. Mungkin mereka sudah lelah atau juga sudah kesal dengan tingkah Bo yang selalu membuat masalah dengan mereka.

 ”Mengapa harus dipertahankan bila dirimu selalu tersiksa,”  Wi, seorang sahabat dekatnya berkomentar. Sungguh, Mi sama sekali tidak menceritakan apapun tentang dirinya. Sama sekali tidak curhat. Mungkin saja Wi berusaha menebak melihat kondisinya. Atau ia mendengar kisah-kisah dari para tetangga.

Ini masalah rumah tangga sendiri, tidak baik diobral kesana kemari. Apapun yang terjadi, biarlah aku sendiri yangmenanggungnya. Demikian Mi berpikir dan bersikap. Bo adalah pilihan hatinya sendiri. Bukan paksaan. Ia memang sangat mencintai Bo, seorang laki-laki dari desa sebelah. Memang, Bo bukanlah lelaki sempurna. Ia tidak berperawakan tegap ataupun ganteng. Ia biasa-biasa saja. Tubuhnya kurus, walau tidak kurus sekali. Penampilannya selalu ceria, banyak canda dan senyum. Ia juga memiliki jiwa sosial yang tinggi. Tak segan membantu kawan-kawan semampu ia bisa. Ia juga biasa menyikapi hidup dengan enteng.

”Sudah susah hidup ini, biarlah kita buat tertawa,” demikian ia selalu berkomentar.

Perjumpaan Mi berkenalan pertama kali saat ada lomba karnaval tingkat kecamatan. Waktu itu ia menjadi salah satu panitia. Demikian juga Bo. Semula tidak ada perasaan apa-apa. Tapi kepergiannya dengan Bo, menggunakan sepeda keliling desa-desa untuk menyampaikan undangan, mengompori agar terlibat dalam lomba, membuatnya menjadi dekat.Kisah berjalan begitu saja sehingga mereka menjadi pasangan walau tiada kata cinta terlontar.

”Bukankah cinta tak perlu dikatakan? Biarlah ia mengalir bagaikan air,” demikian Bo pernah berkata ketika ditanyakan apakah ia mencintai Mi dengan sungguh-sungguh. Jawaban yang mengambang dan bisa menjadi pembelaan bila kelak terjadi sesuatu. Tapi Mi diam saja, akhirnya mengikuti aliran kehidupan bersama Bo. Sampai pada akhirnya Bo, setelah mendapatkan pekerjaan sebagai buruh di sebuah pabrik di pinggiran kota, menyatakan ingin memperistrinya, ia sama sekali tak menolak.

Pernikahan mereka berlangsung sederhana. Namun itu tak mengurangi kebahagiaan yang Mi rasakan. Baginya, asal mereka sudah menikah, sesederhana apapun acara itu tak lagi penting. Bahkan andai Bo mengajaknya menikah hanya berdua saja menghadap penghulu, Mi bersedia. Cinta dalam hati Mi sudah seperti bola salju, yang setiap hari bertambah besar. Mi sadar ia tak bisa lagi berpaling dari sosok Bo, lelaki pertama yang singgah dan menempati ruang dalam hatinya.

Hari-hari berlalu dengan tawa dan cerita bahagia. Sinar cinta terlihat jelas dari rumah mereka. Rumah peninggalan orang tua Mi. Rumah yang lumayan tua dan tak lagi terlihat keindahannya. Tapi karena cinta, rumah itu terlihat bercahaya. Oleh Bo rumah itu kemudian di cat dengan warna cerah, hingga tak tampak lagi kalau rumah itu adalah rumah tua yang sudah ketinggalan jaman.

Setiap pagi, saat Bo akan berangkat kerja. Mi akan mencium tangan suaminya. Ciuman tangan itu di iringi doa, agar suaminya mendapat kemudahan dalam mencari rejeki. Dengan lembut pula, Bo akan mencium kening istrinya. Berharap saat kembali nanti, ia masih bisa melihat senyum dan wajah manis istrinya. Dan dengan lambaian tangan, pasangan yang tengah di penuhi bunga-bunga cinta itu pun berpisah. Kehidupan yang indah. Langit mendung tak pernah terlihat di atas rumah mereka. Hanya sinar mentari dan siluet senja yang mewarnai. Sesekali keindahan pelangi, juga menampakkan diri

Kelengkapan kebahagiaan kehidupan mereka saat anak pertama lahir sangat terasa sekali. Sayang, situasi berubah pada tahun ke lima pernikahan mereka. Peristiwa yang harus dialami selepas melahirkan anak perempuannya yang kedua.

Pada saat itu, ketika kehamilannya mencapai tujuh bulan, Bo mengabarkan kepadanya bahwa dirinya mendapatkan tawaran menggiurkan dari juragan Min yang dikenal bisa menyalurkan orang-orang untuk bekerja di luar negeri. Bo mendapatkan pilihan apakah ke daerah Timur Tengah, Singapore, Malaysia, atau Korea. Ketika disampaikan kepada Mi tentang niatnya, Mi merestui.

”Bila itu pilihan terbaik, aku pasti akan selalu mendukungmu, Kang Mas. Aku pasti bisa menjaga anak-anak,”

Surat-surat mulai diurus. Semuanya butuh uang. Tabungan dan seluruh perhiasan Mi yang memang tak seberapa telah berpindah tangan ke pihak lain untuk memenuhi kebutuhan itu.

”Mi, harus bayar 25 juta.” kata Bo, di suatu senja, di teras rumah sembari duduk berdua menikmati kopi dan pisang goreng. ”Kalau tidak, perjalanan akan gagal.”

”Dua puluhlimajuta?!” Mi terpana. Darimana mendapatkan uang sebesar itu? Uang yang tak pernah terpegang tangan olehnya. Membayangkan-pun juga tak pernah.

”Diberi waktu dua minggu, ini, Mi.” Bo sambil menatap cahaya matahari yang memerah, yang menelusup lewat dedaunan pohon mangga.

Bo sendiri merasa pasrah. Ia merasa tidak bisa melanjutkan perjalanannya untuk mencapai harapan untuk melakukan perubahan dalam kehidupan mereka. Hal mana seperti ia lihat si Dar, Minto, Wek, dan kawan-kawannya yang telah banyak mengalami perubahan dalam hidupnya. Mereka kelihatan lebih makmur. Lebih gagah menggunakan sepeda motor keluaran terbaru.

”Ya, sudahlah, Mi,” Bo sambil meraih dan menggenggam jemari Mi yang duduk tertunduk.

”Jangan dipikir. Memang bukan rejeki kita,” lanjut Bo sambil berdiri dan membungkuk di depan Mi. Tangannya mengelus-elus perut Mi yang telah semakin membesar.

Tapi Bo tampak resah. Di kepalanya terbayang uang yang dikeluarkan sudah sekitar dua juta lebih untuk mengurus dan melengkapi surat-surat yang dibutuhkan. Uang itu dapat hangus begitu saja tanpa guna.Suratketerangan kesehatan, paspor, dan setumpuk surat-surat lainnya hanya menjadi kertas belaka.

Mi mengangguk-anggukkan kepala. Tapi pikirannya juga berkecamuk. Ia ingin membantu Bo, suaminya. Ia mencoba menerobos berbagai dinding di kepala mencari celah dan harapan guna membuka jalan agar uang yang dibutuhkan bisa tersedia. Sudah separo jalan, tak perlu dihentikan. Bukankah bila Bo berhasil, ia dan anak serta jabang bayinya juga yang akan beruntung.

 ”Eh, kemana si Si, Mi?” Bo membuyarkan bayang-bayang yang tengah bermain dalam kepala Mi menanyakan Si, anak pertama mereka.

Mi menoleh ke arah Bo. Lalu matanya menjelajah sekeliling rumah yang tertangkap mata. ”Tidak kelihatan, mungkin masih asyik bermain di rumah Mpok Ani. Biar aku cari dulu, hampir Maghrib”

 ***

Mi tidak bisa melepaskan dirinya larut dalam tidur. Walau matanya terpejam, pikirannya terus berlari-lari. Seakan menembus semak belukar, memasuki hutan perawan, menghempaskan berbagai tanaman membuka jalan, suasana gelap. Ia terus berlari, mencari suara gemercik air, mencari cahaya terang. Tapi ia merasa terus berputar pada jalan tak beraturan. Bahkan kembali ke titik semula.

Membuka mata, terlihat Bo sudah terlelap. Kedua anaknya, juga tampak lelap tidur berpelukan di dipan yang terpisah.

”Ah, Kang Bo, pasti ada jalan, pasti ada jalan. Oh, Tuhan, bukalah pintumu, biar aku memasuki rumahmu,danberilahpeneranghatidanpenerangjalan,”pinta Mi dalam hati.

***

Suatu sore, tanpa sengaja Mi berbelanja ke warung pinggir jalan. Di sana ia berpapasan dengan Bu Hani yang sudah berada di atas motor butut dengan mesin yang sudah menyala. Tampak sebuah tas yang terkalung di lehernya menempel di dadanya. Ini seakan menjadi ciri khasnya.

Ia orang kampung sebelah, namun seringkali mengunjungi orang-orang kampung ini. Mi sendiri tidak begitu tahu apa pekerjaan Bu Hani, dan tidak pernah menanyakan langsung ataupun menanyakan kepada para tetangganya yang tampaknya sudah sangat akrab dan sering dikunjungi rumahnyaoleh Bu Hani.

 ”Ke warung,”sapa Bu Hani ramah.

Mi Mengangguk lalu meneruskan langkahnya.

Bu Hani mematikan mesin motornya. ”Mi, suamimu bekerja dimana?”

Pertanyaan yang terasa aneh di telinga Mi, sehingga ia menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Bu Hani yang juga sudah turun dari motor dan mendekati dirinya. ”Suamimu kerja di mana?” ulangan pertanyaan.

”Ya,cuma buruh pabrik, bu. Dipinggiran kota sana.Ada apa toh, Bu?”

”Tidak, aku dengar katanya mau kerja ke luar negeri ya?”

Mi memandang wajah Bu Hani yang tampak ramah. Mi mengangguk.

 ”Kapan berangkat, Mi?”

”Entahlah, bu. Sebenarnya sudah mengurus surat-suratnya. Sudah lengkap dokumen-dokumennya semua.Tapi…..”

”Belum ada kepastian berangkat, Mi?”

”Kata Kang Bo sih kemungkinan bulan depan sudah bisa berangkat. Itu yang diceritakan kepada saya tentang apa yangdikatakan oleh Kang Min kepadanya. Suami saya kan minta bantuan dia untuk bisa menyalurkan dirinya agar bisa bekerja di luar negeri itu, Bu.”

”Oh. Lantas, kenapa? Ada masalah?”

”Hm…..”

”Ya,siapa tahu ibu bisa bantu. Sesama tetangga kitakan harus saling membantu,”

***

”Begini loh, Mi,” Bu Hani yang terus memburu hingga sampai di rumah Mi. ”Sayang loh, kalau sudah keluar uang, tapi tidak jadi berangkat. Saya bantu, pasti saya bantu. Apalagi dirimu sudah hamil begini,”

”Tapi,Bu…”

”Ah, tenang saja. Tidak akan ada yang tahu. Saya tidak pernah akan cerita ke siapa-siapa. Kalau ada yang tahu juga jangan dianggap. Tidak perlu malu. Hampir semua orang yang ada di kampung ini pernah saya bantu. Pak Kri waktu menikahkan anak perempuannya secara besar-besaran itu sampai nanggap wayang segala, itu saya bantu loh. Tadi Mbak Na, warung yang kau datangi tadi, juga baru saya bantu. Ini saya mau ke Pak Somad, katanya anaknya butuh biaya. Jadi, jangan sungkan,” Bu Hani semangat sekali membujuk Mi.

Mi tercenung. Tak disangka ada jalan yang terbuka. Tapi ada keraguan mengapa Bu Hani semangat sekali ingin membantunya. Darimana ia tahu Bo berencana bekerja di luar negeri? Mengapa ia tak tahu bahwa Bu Hani sangat giat membantu orang-orang di kampungnya? Ah… Pikiran Mi melayang-layang. Tas plastik belanjaan masih berada di pangkuannya. Ia berdiri. “Maaf sebentar Bu Hani, saya masukkan dulu belanjaan. Hm, mau minum apa, Bu?”

“Tidak usah repot-repot Mi. Santai saja. Seperti dengan siapa saja. Ya, sudah belanjaannya dibawa masuk dulu.”

Mi masuk meletakkan belanjaan di dapur. Pikirannya masih saja melayang-layang. Ah, Kang Bo, impianmu bisa  terwujud, untuk meraih mimpi-mimpi kita bersama. Ada kesempatan di depan mata.Tapi mengapa?

“Jadi, bagaimana, Mi? Kebutuhannya berapa sih?”

“Besar sekali,Bu.Dua puluhl ima juta,”nada ragu tampak dari suara Mi.

“Oh, gampang, itu gampang, Mi.Ehm, tapi kamu punya sertifikat tanah rumah ini, kan?,”

Mi tercekat. Rumah peninggalan orangtua merupakan kekayaan satu-satunya yang ia miliki sekarang. Tidak.. Tidak akan aku lepas. Tidak akan aku jual. Lama ia terdiam sampai beberapa kali Bu Hani menegurnya.

“Jangan berpikir buruk dulu, Mi. Bukan Ibu hendak membeli. Tapi sebagai jaminan. Ya, untuk jaga-jaga. Pinjam di Bank, sudah pakai jaminan, birokrasinya berbelit-belit, belum tentu juga diberi,” ucap bu Hani dengan nada penuh tekanan.

”Terima kasih banyak, Bu. Terima kasih. Sungguh saya bahagia Ibu akan membantu. Biar saya pikir-pikir dulu, ya Bu.Nanti malam akan saya bicara kan dengan Kang Bo,”

”Iya, santai saja. Biar Ibu besok ke sini lagi,”

“Terimakasih, Bu.Terimakasih banyak.” Mi dalam rasa bahagia dan kebingungan serta prasangka yang berbaur.

Pandangan mata Mi mengikuti Bu Hani yang melarikan motornya dengan santai hingga hilang dalam pandangan setelah berbelok jalan.

Mi merencanakan akan membuat kejutan. Ia tidak akan menceritakan hal ini kepada Bo,suaminya.Biarlah ia terkejut ketika ada uang yang diserahkan besok.

* * *

Keesokan hari, di pagi hari sekitar pukul 10.00, Bu Hani datang. Penampilan yang sama dengan kemarin dan seperti biasanya. Ia menggunakan sepeda motor bututnya, dengan tali tas dikalungkan di leher. Tasnya sendiri menggantung dan bersandar pada dadanya.

Mi menyambut Bu Hani dengan gembira. Betapa baiknya orang ini. Ia yang butuh,tetapi Bu Hanilah yang mendatanginya sendiri. Sungguh tetangga yang melebihi saudara, demikian pikir Mi.

“Sertifikat rumah ini mana, Mi?”

“Ya, bu.Sudah saya siapkan,” Mi menyerahkan sertifikat tanah peninggalan keluarganya.

“Nah, sekarang, tandatangan di sini, ya..” Ibu Hani menunjuk satu tempat dari selembar kertas putih yang kosong.

“Loh….”

“Sudah tenang saja, Mi. Masak tidak percaya dengan ibu,”

Walau dengan ragu, Mi kemudian menandatangani kertas kosong tersebut. Bu Hani dengan wajah berseri-seri menyambut uluran kertas itu. Selanjutnya iamemasukkan ke dalam map, mengeluarkan uang dari tasnya.

“Ini,Mi. Dihitung saja dulu, siapa tahu kurang,”

“Ah, percaya deh dengan Bu Hani,”

* * *

(Bersambung)

Lihat Bagian Dua

__________________

Ilustrasi Foto berasal dari SINI

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: