1 Komentar

Naskah Tua #3 – Cerbung Asih Suwarsy

Cerbung:  Asih Suwarsy

” Demi?? Dua minggu ini kamu kemana? Teman-temanmu resah mencarimu.” sambut mas Ivan saat aku muncul dikantornya. Aku duduk di kursi didepan mejanya.

” Mencari ide, mas. Kadang ide harus dicari melalui beberapa petualangan.” kataku sambil tersenyum.

” Kamu bisa saja. Bagaimana? Kamu tentu kemari tidak untuk menyapa aku kan? ha..ha.. “

Mas Ivan tertawa. Tawa yang aku suka.

” Apa ini ada hubungannya dengan telponmu semalam?” aku mengangguk cepat.

” Benar, mas. Aku ingin mas menunda dulu untuk menerbitkan novelku. Aku ingin mas membaca dulu naskah ini. Aku yakin ini lebih keren dari tulisan-tulisan yang pernah aku buat.” aku menyorongkan naskah itu ke mas Ivan.

” Pasti sesuatu yang istimewa hingga kamu rela menunda dua tulisanmu untuk diterbitkan.”

” Benar, mas. Ini proyek uji coba. Kalau tulisan ini diterima masyarakat, maka akan terus berlanjut dengan cerita-cerita yang lebih menarik.”

Mas Ivan membuka naskah yang aku berikan. Kubiarkan dia tenang membacanya dengan cara tak mengajaknya berbicara. Aku ingin mas Ivan menyimak tulisan itu sebelum memutuskan menerimanya. Tapi berdasarkan pengalamanku, setiap tulisan yang aku berikan, mas ivan selalu menerimanya dengan senang hati.

Perkiraanku tepat. Kulihat mas Ivan tersenyum saat membaca tulisanku. Dia kemudian membaca bagian akhirnya sebelum dia menutup naskah itu lalu menaruhnya diatas meja.

” Aku sudah membaca garis besarnya. Aku yakin, novelmu akan laris manis.”

” Jadi mas setuju? Menurut perkiraanku juga begitu, mas. Syukurlah, karena mas juga sependapat denganku. Baiklah sekarang aku permisi dulu, aku mau menemui teman-teman.”

Aku pamit dan meninggalkan ruangan mas Ivan. Saat keluar tak sengaja aku menabrak tubuh seseorang . Kami berdua kaget saat saling memandang.

” Demi?”

” Nando?”

” Aku ingin bicara denganmu. Penting.” Nando menarik tanganku. Dia mengajakku ke parkiran. Diparkiran ada sebuah pohon besar yang biasa di pakai untuk tempat berteduh. Bangku kayu yang disediakan disana membuat nyaman siapapun yang sedang gerah dan ingin menikmati sejuknya semilir angin yang berhembus.

” Kenapa seminggu ini kamu menghilang? Aku mencarimu kesana kemari. Handphonemu juga tidak aktif. Apa kamu marah karena kejadian hari itu?” Aku terdiam. Aku tidak merasakan lagi emosi yang ada waktu itu. Ternyata ada gunanya juga menyepi. Amarah dalam diri sirna juga.

” Waktu itu aku marah tapi sekarang tidak lagi. Aku pikir-pikir tak ada gunanya aku marah padamu.”

” Demi, aku mencarimu berhari-hari untuk menjelaskan tentang masalah waktu itu. Aku ingin minta maaf karena sudah berkata keras padamu. Padahal waktu itu aku tidak tahu masalah yang sebenarnya. Setelah Retno menjelaskan aku baru mengerti. Sekarang Yeni tidak bersama kita lagi. Aku memintanya mengganti semua uang yang telah dia pakai, setelah itu dia harus keluar dari kelompok kita.”

” Keluar? Jadi Yeni sudah keluar? Kapan?”

” Sudah empat hari. Dia sudah minta maaf tapi menurutku minta maaf saja tidak cukup. Yang kita butuhkan adalah kepercayaan. Menangani keuangan tentu harus orang-orang yang jujur. Kita akan terus khawatir kalau orang itu pernah berbuat salah.”

” Seharusnya dia tidak perlu keluar.” kataku. Aku jadi menyesal karena telah membuat Yeni keluar dari kelompok kami.

” Sudahlah, jangan menyesali keputusan yang sudah aku ambil.”

” Tapi Yeni kan pacarmu?” aku baru mengingat hal itu. Nando tertawa. Dia menepuk-nepuk pundakku.

” Kamu ini sahabat macam apa, sih? Masak aku tidak mengenalkan pacarku sama kamu kalau memang aku memiliki pacar. Aku hanya refleks waktu itu, karena aku kaget kamu tiba-tiba menamparnya.”

” Jadi diantara kalian tidak ada hubungan special.”

” Ha..ha.. nasi goreng kali spesial..jelas saja tidak ada, sudahlah jangan membicarakan itu lagi. Aku ingin tahu, dua minggu menghilang ide apa yang sudah ada dikepalamu. Semalam mas Ivan menelponku, katanya kamu punya cerita bagus. Katamu ini bisa jadi best seller. Benarkah?”

” Mas Ivan bilang begitu? Padahal aku menyampaikan itu untuk meyakinkan mas Ivan. Itu hanya dugaanku saja. Kita lihat saja nanti. Sepertinya mas Ivan ingin langsung mencetak dan menerbitkannya. Dia sama tak sabarnya denganku…ha..ha…..”

” Aku jadi penasaran. Seberapa dahsyatnya sih.ceritamu itu sampai mas Ivan pun terhipnotis.”

Aku hanya tersenyum. Kubiarkan Nando dengan rasa penasarannya. Aku makin tidak sabar menunggu keluarnya novel terbaruku. Apalagi baru saja mas Ivan mengirim pesan singkat di hanphoneku. Dia menjanjikan dalam waktu satu bulan novelku itu akan segera diterbitkan. Benar-benar fantastis. Padahal biasanya butuh waktu dua bulan, untuk aku menunggu sebelum novelku benar-benar diterbitkan.

Hari-hari berlalu. Aku menjalankan rutinitas harianku seperti biasa. Menggarap proyek novel berseri bersama Hadi. Tapi kali ini kami tak hanya berdua. Aku mengajak serta sahabatku, Nando. Bukan karena dia sahabatku sehingga aku mengajaknya. Tapi karena cara dia memohon yang membuatku jatuh iba dan akhirnya mengikutkan dia dalam kegiatan kami. Tapi tentu saja aku telah mengultimatum agar dia merahasiakan kegiatan kami. Aku tidak mempermasalahkan keuntungan yang nanti kami dapatkan akan kami bagi tiga. Karena bukan itu tujuanku. Aku hanya kasihan melihat naskah sebagus itu harus teronggok di gudang tua milik mama.

*

(Bersambung)

____________________________

Ilustrasi Gambar diambil dari SINI

_____________________________

____________________

Bagian lainnya:

Naskah Tua #1

Naskah Tua #2

Naskah Tua #3

Naskah Tua #4

Naskah Tua #5

____________________________


About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

One comment on “Naskah Tua #3 – Cerbung Asih Suwarsy

  1. wah Kak Asih… cerita dan bahasanya baguuuss sekali,.. izinkan saya mengikuti cceritanya… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: