Tinggalkan komentar

Naskah Tua #5 – Cerbung Asih Suwarsy

Cerbung:  Asih Suwarsy

Beberapa bulan kemudian.

” Demi, musibah itu terjadi!” aku kaget ketika tengah malam Nando menelponku. Kurapatkan handphone ditelingaku. Masih dengan kesadaran yang belum pulih, aku mencoba mendengarkan kata-kata Nando.

” Ada apa, Ndo.”

” Musibah yang ada didalam novel seri dua.”

” Lho, bukankah sudah direvisi?” tanyaku heran.

” Benar, makanya aku tidak memperhatikan. Aku tenang saja selama seminggu ini. Tapi aku curiga setelah aku baca naskah sebelum kamu edit. Kok ceritanya sama.”

” Sama?”

” Iya. Kamu perhatikan lagi. Ada empat kejadian di dalam novel seri dua. Sama dengan seri pertama. Sudah tiga yang terjadi.”

” Lho kenapa bisa? Bukankah yang kita serahkan naskah yang sudah kita revisi?”

” Benar. Aku bahkan melihat kembali filenya di komputer mas Ivan. Tapi kenapa kalimat yang sudah kita edit masih tetap terjadi? Ada hal aneh juga, mi. Saat aku melihat novel ke dua yang sudah diterbitkan. Kamu tahu apa yang membuat aku kaget setengah mati?”

” Apa itu?”

” Kalimat yang sudah kita edit, ternyata tetap ada! Sama sekali tidak hilang. Berarti saat naskah itu dicetak, kalimatnya tetap sama. Tidak ada gunanya kita edit.”

” Kok bisa seperti itu?”

” Itulah. Makanya aku yakin, naskah itu keramat!”

Selesai menerima telpon Nando, aku bangun dari pembaringan. Aku ingin membaca novel kedua yang telah terbit. Aku belum sempat melihat lebih detil isinya karena kecemasanku waktu itu sudah tidak ada. Aku merasa tenang karena kalimat-kalimat yang mengundang musibah sudah kami edit. Tapi telpon Nando malam ini membuatku membuka novel seri dua. Seluruh tubuhku terasa lemas saat aku melihat kalimat-kalimat yang menurutku sudah aku edit. Ternyata kalimat-kalimat itu masih lengkap. Tersusun dengan manisnya diantara paragraf-paragraf dalam novel.

Aku bersandar di kursi. Pikiranku teromang-ambing antara mempercayai atau tidak kalau naskah itu keramat. Naskah itu seperti mengandung kutukan. Apakah benar-benar ada hubungannya?

*

Pagi-pagi sekali, saat kabut masih betah menghiasi bumi. Handphoneku berbunyi. Kulihat layarnya, dari mas Ivan. Jantungku berdebar kencang. Semoga mas Ivan tidak mencurigai novelku ada kaitannya dengan kecelakaan-kecelakaan yang ramai diberitakan.

” Pagi, Demi.” sapa mas Ivan.

” Pagi.” balasku dengan suara gugup.Aku berusaha bersikap tenang tapi tetap saja rasa gugup itu menguasaiku.

” Maaf, pagi-pagi sudah menghubungi kamu. Begini, mi. Ada seseorang yang bertanya padaku. Dia dari media. Dia mengatakan sesuatu yang menurutku mustahil.” aku menyimak perkataan mas Ivan.

” Katanya, novel kamu berkaitan dengan kecelakaan yang terjadi akhir-akhir ini.”

Brukk. Aku merasakan tubuhku melemah. Aku terduduk di sofa.

” Maksud mas Ivan?” tanyaku. Kurasa tanganku mulai berkeringat. Kebiasaanku kalau sedang gugup, tanganku selalu basah oleh keringat dingin.

” Ini belum pasti. Tapi kalau ada kalangan media yang mulai menghubungkan, aku jadi khawatir. Makanya aku menelponmu. Aku tidak ingin kamu mengetahui ini dari orang lain. Aku ingin kamu siap, kalau tiba-tiba ada pertanyaan seputar cerita dalam novelmu dengan kejadian nyata yang ada diluar. Kamu harus siap dengan jawaban yang tentu saja masuk akal. Sedikit saja salah dalam jawabanmu, itu bisa mencemarkan namamu dan mungkin menghentikan peredaran novel itu. Mungkin saja novel itu akan ditarik.”

Aku terhenyak, tak bisa berkata-kata.Akhirnya yang takutkan terjadi juga. Ada yang mulai memperhatikan isi cerita dalam novelku.

Handhoneku berdering lagi. Dari Nando.

” Ya, ndo. Ada apa?”

” Mi, hentikan saja proyek novelmu itu. Kalau perlu naskah tua itu kita bakar saja.”

” Apa??

” Aku khawatir ada orang lain yang nanti memanfaatkan naskah itu. Kalau keadaannya seperti itu maka akan banyak korban lagi yang berjatuhan. Sekarang lebih baik kita kerumah mamamu. Kita harus melenyapkan novel itu.”

Saran Nando untuk segera menghilangkan novel itu masuk juga dalam pikiran normalku. Mungkin sebaiknya novel itu kami hilangkan agar tidak ada pihak lain yang menerbitkannya. Tapi betapa kagetnya aku dan Nando. Begitu kami tiba digudang mama, naskah-naskah itu sudah tidak ada. Aneh. Siapa yang sudah memindahkannya?

” Kalian mencari naskah-naskah itu?” suara Hadi tiba-tiba terdengar dibelakang kami. Aku berbalik.

” Iya. Kemana naskah-naskah itu? Apa kamu yang telah memindahkannya?” Hadi mengangguk.

” Aku dan bapak sudah membakarnya.” jawab Hadi pelan. Aku dan Nando terperanjat.

” Kamu membakarnya?”

” Aku membakarnya setelah mendengar cerita dari bapak. Selama ini bapak tidak tahu kalau kita bertiga sedang menggarap naskah itu menjadi novel. Saat aku membaca novel itu dan melihat berita-berita kecelakaan yang ada di tivi. Aku mulai meyakini kalau naskah itu mungkin berisi kutukan.”

” Apa yang bapakmu ceritakan?”

” Tidak banyak. Bapak hanya mengatakan, kalau sebelumnya gudang itu kosong. Kenapa tiba-tiba aku menemukan banyak naskah-naskah tua di sana? Bapak merasa naskah itu mungkin akan membawa petaka.”

Kami bertiga kemudian menuju lokasi dimana Hadi membakar naskah-naskah tua itu. Asap hitam masih terlihat mengepul dari kejauhan. Begitu dekat, aku lihat hampir seluruh naskah-naskah itu telah terbakar. Aku terpana. Inikah akhir dari naskah yang membuat aku terpesona dengan ceritanya.Awal yang aku harapkan akan bersinar sekarang malah menjadi mendung. Redup seiring rasa ketakutan kami akan musibah yang mungkin akan lebih parah.

Aku meninggalkan rumah mama dengan rasa yang tak bisa aku lukiskan. Semua bercampur baur dalam pikiranku. Pertama kalinya aku menggarap proyek naskah bersama, sekarang proyek itu harus kami hentikan.Dan yang menyedihkan bagiku, adalah saat melihat naskah-naskah itu terbakar. Karya indah yang harus berakhir dalam sebuah kobaran api. Rasanya tak rela saat melihat asap-asap hitam itu mengepul ke udara. Seperti melihat sebuah ritual yang mengantarkan roh ke alam baka.

Malamnya aku bermimpi. Kami bertiga, aku, Nando dan Hadi tengah berlari di sebuah taman yang sangat indah. Tiba-tiba Hadi terjatuh ke sebuah rawa.Aku dan Nando berusaha menariknya. Tapi anehnya semakin kami tarik, Hadi malah semakin terbenam. Tiba-tiba dari arah belakang muncul Pak Haryo. Dia sekuat tenaga berusaha menyelamatkan anaknya. Tapi malah Pak Haryo ikut terjebak ke dalam rawa. Saat aku berusaha menarik Hadi, tangan Nando menahanku. Dia tak ingin aku ikut terjebak ke dalam rawa.

Aku terbangun dengan rasa pening dikepalaku. Mimpi yang berakhir tanpa aku tahu akhirnya. Keringat dingin mengucur ditubuhku. Aku langsung teringat dengan naskah tua itu. Mungkin karena terlalu memikirkannya, akhirnya terbawa dalam mimpi.

Karena perasaanku yang tidak nyaman, aku kemudian beranjak dari pembaringan. Aku ingin minum segelas air, rasanya tenggorokanku kering. Kunyalakan lampu kamar. Saat itulah handphoneku berbunyi. Aku yang sudah hampir mencapai pintu, berbalik lagi menuju meja di samping tempat tidur. Kuraih handphoneku yang masih bergetar diatas meja. Panggilan dari mama. Aneh. Bukan kebiasan mama menelpon tengah malam.

” Halo. Ma?” aku tidak mendengar suara mama. Aku hanya mendengar tangisan.

” Ma? Mama kenapa?” tanyaku makin penasaran. Yang terdengar tetap tangisan.

” Demi. Demi..Pak Haryo dan Hadi meninggal. Mereka terbakar di halaman belakang…huhuhu..”

” Apa, ma? Kenapa dengan Pak Haryo dan Hadi?” aku masih tidak percaya dengan pendengaranku.

” Pak Haryo dan Hadi terbakar di halaman belakang! Mereka tewas!”

Badanku langsung lemas. Tubuhku lunglai menyentuh lantai. Handphoneku masih dalam genggaman. Suara mama masih terdengar tapi aku tak sanggup lagi mengangkat handphoneku. Airmataku menetes, mengalir dipipiku. Aku teringat mimpiku. Mungkin inilah arti dari mimpiku. Mimpi yang membuat jantungku berdebar dan membangunkanku ditengah malam. Aku teringat naskah itu. Benarkah Pak Haryo dan Hadi terkena kutukan dari naskah tua itu. Kalau benar demikian, aku jadi sangat menyesal. Karena ide yang aku usulkan, maka terjadi begitu banyak musibah. Aku terus menangis dalam rasa sesal. Maafkan aku Pak Haryo. Maafkan aku Hadi.

* TAMAT*

____________________________

Ilustrasi Gambar diambil dari SINI

_____________________________

____________________

Bagian lainnya:

Naskah Tua #1

Naskah Tua #2

Naskah Tua #3

Naskah Tua #4

Naskah Tua #5

____________________________


About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: