2 Komentar

Kisah Cinta Selop Batik – Cerpen Ana Antarisa Nugroho

Cerpen:  Ana Antarisa Nugroho

Yogyakarta 1984…

Jumadi si Jawa tulen asli Sleman, umur 27 tahun. Hitam manis, kumis tipis, rambut ikal, walau pria tapi bulu matanya lentik ngalahin sapi … Pekerjaan: tukang parkir Pasar Terban Yogyakarta. Sejak pukul 6 pagi Jumadi sudah mejeng di pasar yang sekaligus dipakai sebagai terminal bayangan angkot angkot jurusan Yogya – Prambanan dan Yogya – Kaliurang. Jaket warna biru tua lusuh, topi loreng tentara dan priwitan menggelantung di ketiaknya adalah seragam dinas sehari hari. Walau hanya tukang parkir, Jumadi dikenal rajin dan tak pernah mengeluh harus berpanas panas atau kehujanan.

Jumadi adalah pemuda yang pemalu, terutama terhadap lawan jenis. Sebab itulah dia tak kunjung bertemu jodoh walau warga lapak sudah banyak yang “menawarkan” mulai dari anak, cucu, tetangga, keponakan, teteh, kakak, adik, sepupu, tante, bibi, nenek.. eh salah, sampe janda kembang lapak sebelah.

“Biarlah rasa ini hanya aku dan Pencipta ku yang tau”… itulah jawaban Jumadi meng-copy paste pujangga lokal.

Bagi Jumadi, cinta begitu sederhana… Cinta tak perlu dicari dan dikejar. Sesuai job description-nya, dia meyakini bahwa cinta akan parkir dengan sendirinya. Bagai air hujan tercurah dari langit, bagai sinar matahari yang menghangatkan bumi, begitu tulusnya, rasa itu pasti kan datang, karena cinta itu anugerah terindah.

*

Juminten, sebenarnya wajahnya biasa saja layaknya ABRI eh.. gadis desa masuk kota. Gadis kelahiran Boyolali 21 tahun yang lalu, berkulit sawo matang bersisik, gigi putih rapih, rambut mayang tersibak alias kurang disisir, apa adanya, tetapi dia memiliki pancaran wajah bak sinar petromak yang membuat orang begitu nyaman di dekatnya, matanya bulat memancarkan rembulan dan yang paling dahsyat… senyumannya,  itu dia! Senyumnya setara dengan senyum Mboknalisa yang lukisannya dipajang di warung Gudeg Alun Alun….  Ya dia Juminten si bakul jamu gendong, satu satunya yang selalu memakai selop batik!

Ramah dan gaya bicaranya sedikit manja membuat mas mas dan para mandor sedikit amnesia terhadap pasangannya… Alhamdulillah, Juminten selalu menjaga harkat dan martabat sebagai Bakul Jamu Gendong Berseri; Bersih, Serasi dan Rindang… (lhoo, kok kayak slogannya kota sebelah ya?)

Suatu siang di bulan November

Hujan…

Jumadi harus memandu mobil box parkir pada lajurnya. Jatuhan air hujan betul betul membuatnya ribet, ditambah mantel hujan yang lebih mirip jubah drakula era 70-han. Jumadi lari menghindari siraman hujan sambil menunduk, tiba-tiba… GUBRAK!!! Jumadi sudah terkapar di tanah, dingin-dingin empuk…

Opo iki??” Jumadi masih belum sadar

 “Adooooohh…. Sikil ku ojo mbok lungguhi Maaasss….!!” Juminten menjerit.

Di bawah guyuran air itu…. Jumadi beradu mata bulan milik Juminten. Sekejap darahnya berdesir, jantungnya berhenti berdegup. Ia hanya sanggup diam takjub menatap Juminten yang basah kuyup di depannya. Petir menyambar menambah dramatis adegan pertemuan Jumadi vs Juminten…. Oalaahh.

Belum sempat Jumadi mengucapkan sesuatu, Juminten sudah lebih cepat berdiri dan berlari masuk ke dalam angkot yang sedari tadi menunggunya di pinggir jalan sambil terus membunyikan klakson yang berisiknya lebih mirip suara ayam mau disembelih. Bahkan, sebelah selopnya yang terlepas tak sempat diambil saking terburu-buru, bukan karena Juminten takut berubah jadi labu, tapi takut di tinggal angkot. Jumadi hanya mematung di tepian, tidak merasakan lagi guyuran air hujan yang semakin deras. Matanya terus menatap Juminten yang hilang ditelan angkot…

Jumadi masih berdiri persis orang orangan sawah,  sampai akhirnya dia dikagetkan dengan bunyi klakson mobil yang hendak keluar dari parkiran. Jumadi memungut selop Juminten yang baunya paduan jempol dan jengkol… Bak dongeng Cinderella, kini Pangeran Jumadi hanya bisa memeluk selop Juminten dengan erat.. “Putriku… aku cintaa…”

Begitulah awal pertemuan Jumadi dengan Juminten… sederhana, tanpa di cari, di minta dan disengaja, dibawah guyuran air hujan yang tulus membasahi bumi yang kering, sama halnya pertemuan yang menyejukkan hati Jumadi yang garing…

 

4 hari berselang…

Masih dengan seragam dinasnya, sore itu Jumadi sudah bersiap hendak pulang, ia berdiri di tepi jalan hendak menyeberang… tiba tiba, pandangannya tertuju pada sebuah becak bercat putih yang melaju ke arahnya. Pastinya bukan becaknya apalagi Pak Becaknya (ih, masak jeruk makan purut sih?) yang jadi focus of interest adalah penumpang yang ada di dalamnya! Sang Putri berselop batik!!

Gayung besambut, Juminten juga ingat padanya, pemuda yang telah menggabruk sampai dia kehilangan salop batiknya. Juminten tersenyum manis, semanis manisnya, jangankan Jumadi, semut dan tawon pun kepincut.  Karena jalanan agak menurun, otomatis laju becak lebih kencang. Tak ingin kehilangan momen penting dalam sejarah hidupnya, Juminten dengan sengaja melemparkan sandal tekleknya dan berteriak.

“Setooooppp Paaakkk!! Kiriiiiiiii!!! Teklek ku jiblooookkk!!!!

Pak becak otomatis mengerem mendadak, becak oleng dan nyaris melempar Juminten ke aspal !

“Oalaaah, mbaaak, sampeyan kok marai jantungan mawon.. nyaris kulo manggil 911!“ gerutu tukang becak.

Berharap Jumadi yang mengambil sandal yang terjatuh, kenyataannya pemuda idamannya hanya melongo di pinggir jalan “Ini perempuan apa kernet truk pasir?! Tarzan sekali… ” pikir Jumadi.

“Mas, mas.. teklek ku pliisss” sambil melongok dan menunjuk tekleknya dari becak. Jumadi sigap, dipungutnya teklek yang baunya tak asing baginya, semerbak jempol campur jengkol ! Gak salah lagi memang dia si Putri Selop Batik.

“Selop batik mbak masih saya simpan… saya ambil ya” sambil memandang mata bulan Juminten tanpa berkedip.  Tanpa meminta persetujuan, Jumadi berlari ke lapak mengambil selop batik.

“Kulo Jumadi yang nubruk mbak waktu itu, tukang parkir di Pasar Terban. Maaf waktu itu mboten sengaja” tuturnya sopan sambil menyerahkan selop batiknya.

Ndak apa apa Mas, aku Jumi, Juminten, bakul jamu gendong” balasnya manja.

Mereka bersalaman, bersentuhan lama, tangan Jumi kuning kuning kena kunyit, tangan Jumadi item item bekas oli… tapi mereka tidak peduli. Hati mereka bertaut sudah.

“Mbaak, transaksi ne sampun dereng??? “ suara Pak becak membuyarkan lamunan mereka.

Mata mereka saling menatap, rasanya tidak ingin melepas, hati mereka seperti selop batik yang ketemu pasangannya lagi… klop! Kekuatan cinta memang luar biasa.

*

Kali ini Jumadi bertekad mengungkapkan perasaannya… sudah 3 hari ini dia tidak doyan makan karena hormon cinta meningkat melebihi angka normal. Jumadi terus menjaga matanya mengawasi setiap orang yang lalu lalang di depan Pasar Terban.

AHA ! Baskom bersambut… diseberang perempatan dia melihat  bayangan Jumi dengan bakul jamunya berjalan di trotoar. Sekejap Jumadi langsung menyambar sepeda ontel milik Lik Parmin, ojek sepeda.

“Pinjem yo Lik, tugas negoro memanggil!” Tanpa menunggu jawaban, Jumadi langsung tancap gas, awan tebal yang menyelimuti siang itu seolah menambah semangatnya menggenjot pedal sepeda Lik Parmin.

“Wealaaah, Jumadi semprul.., pit-e rusak! awas mreteli ning dalan!” peringatan Lik Parmin pun tak sempat didengar.

Jumadi dengan gagah perkakas menerobos lampu merah. Wuusss…. nyaris diplindes angkot, untung supirnya lagi tobat, jadi dia menjalankan angkotnya sesuai instruksi bapak polisi alias kalem mode on.

Sreeettt… Ngepot, Jumadi dengan lincah membelokkan sepeda pinjaman dan kini telah sejajar dengan trotoar dimana Jumi berjalan…

Jumadi mengatur kayuhan sepedanya yang terasa tambah berat… “Dik! Dik Jumi…!” serunya… yang dipanggil lempeng maju jalan. Entah jual mahal (lhoo, kan Juminten jual jamu, kok bisa jadi jual mahal ? red) atau memang ada gangguan pendengaran? hmmm… biasa, akal akalannya wanita, suka jinak jinak perkutut…

Jumadi terhenti, stuck. Something wrong with his bike. Kali ini Jumi yang blingsatan, lirak lirik, kok yayank Jumadi ndak nututi?! Dia memperlambat langkahnya, pura pura selopnya kemasukan kerikil, tapi bayangan Jumadi semakin jauh… Jumi memperlambat langkahnya.

Jumadi usrek, akhirnya sepeda bisa dikayuh kembali… abooot, “Heraaan, Lik Parmin kok yo tega membiarkan sepedanya babak belur gini? Majikan TER LA LU !” batinnya..

“JUMII!! Juminteeeennn….!!!!” teriak Jumadi sambil mengayuh kencang-kencang sepedanya..

Sreeek sreeek sreeek….. berisik sekali bunyi rantai sepedanya. Srooooaakkk, Glooodaakkk !!! sepeda mendadak mogok tidak mau di genjot, tepat di sisi Juminten sang Cinderella…. Jumadi nyaris jatuh tersungkur.

Badjiguur tenan, munyuk,…. Rante ne pedhot !!” umpatnya dalam hati.

Juminten menoleh, seolah kaget (padahal sengaja sudah nyetel pose)

“Mas Jumadi??!” nada kaget agak lebay.

Sekonyong konyong Jumadi melompat dari sepedanya, dibiarkan sepeda malang Lik Parmin ambruk di tepi jalan. Jumadi menerjang pembatas jalan meniru gaya bintang pilem India saat mengejar pujaan hatinya. Jumadi meraih tangan Juminten yang bau kencur. Kali ini Jumi betul betul kaget, karena ini diluar skenario. Tanpa disadari ikatan jarit bakul jamunya mengendur.

Gerimis mulai turun, angin berdesir menerbangkan dedaunan… Sayup sayup terdengar lagu keroncong dari radio tukang tambal ban dekat mereka berdiri…”Dibawah sinar bulan purnama… air laut berkilauan, berayun ayun ombak mengalir…” menambah romantis adegan Jumadi “melamar” Juminten.

“Dik Jumi… aku teklekmu, eeh, akuu padamu… ” halaaah, saking gugupnya, Jumadi mendadak gagu susah ngomong. “Perasaan aku ndak keselak priwitan kok susah men arep ngomong.” batinnya.

“Aku cin…” kata katanya belum selesai, tiba-tiba…. BRUUUKK !!!

“Wadooooh !!”  Bakul penuh botol jamu menimpa kakinya, Jumadi pringas pringis.

Juminten cekikikan, pipinya memerah, rupanya dia lebih dulu bisa menguasai diri daripada Jumadi yang sudah hancur mina saking bolotnya…

“Mas Jumadi, aku mau jadi teklekmu, eeh, kekasihmu… monggo kulo buatkan jamu spesial buat kangmas..”

Kini hujan mulai turun… dan mereka berdua berteduh di bawah pohon asem sambil menikmati segelas jamu beras kencur penghangat badan, selama itu pun Jumadi tak lepas memandang mata bulan milik Juminten… Aah, love is so right, love is so strong….

 

17 tahun kemudian…

“Dibawah sinar bulan purnama… hati susah jadi senang, Gitar berbunyi riang gembira, Jauh malam dari petang…Beribu bintang taburan menghias langit hijau.. Menambah cantik alam dunia, serta murni pemandangan….” suara Chrisey mengalun syahdu…

Jumadi dan Juminten kembali duduk berdua, berpegangan tangan di bawah pohon asem di depan kedai “Jamu Juminten” milik mereka di tepi jalan Pasar Terban yang kini telah berubah wajah…  Seperti dulu, masih mesra, Jumadi tak lepas mamandang Juminten. Mereka menikmati indahnya malam, taburan bintang dan senyum rembulan, sambil mengingat kisah cinta selop batik, 17 tahun yang lalu…

Hmm, I N D A H …

*  Singgahsana ku, Cloudy Sunday, March 27, 2011 ~ 10.20pm, dedicated to my friends lapak Guweg, thanks ya curhatannya malam itu… 

_____________

Ilustrasi gambar diambil dari SINI

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

2 comments on “Kisah Cinta Selop Batik – Cerpen Ana Antarisa Nugroho

  1. memang cocok kunir asemnya dan beras kencur buat kesehatan

  2. critane sederhana, gaya bahasane sederhana, tapi bener2 mengena….uapik dab…menyentuh naluri dasar manusia….mantab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: