Tinggalkan komentar

Anak Lelaki pembawa Petaka – Cerpen Annisa F Rangkuti

Cerpen:  Annisa F. Rangkuti

Nur dan Samad. Keduanya adalah sepasang suami istri. Keduanya bekerja sebagai petani dan telah dikaruniai tiga orang anak perempuan. Si sulung 7 tahun, si tengah 5 tahun, dan si bungsu 4 tahun. Si sulung sudah bersekolah di SD dekat rumah mereka. SD yang tak terlalu bagus rupanya, bila tidak mau dikatakan jelek.

Cat sekolah itu sudah pudar, dari warna putih menjadi krem yang sudah kotor di sana sini. Kalau hujan, maka dapat dipastikan air akan menggenang di halaman yang masih berupa tanah itu. Berjalan harus perlahan di sisi-sisi halaman bila tidak mau terkena becek, kalau perlu memakai sandal terlebih dahulu atau sepatu berbungkus plastik kresek. Sampai di kelas, bukan tempat kering yang didapat, tapi lantai yang juga becek karena atap yang sedikit bocor. Beberapa meja dan kursi juga basah karena titik-titik air yang menderas malam sebelumnya. Kelas ini baru akan kering sore hari. Jadi agar tetap bisa belajar dengan tenang, murid-muridnya terpaksa harus merapat ke sisi-sisi kelas yang meja dan kursinya tak terkena rembesan air hujan.

Dan pagi ini hujan lagi. Si sulung ingin tetap sekolah, tapi kali ini Nur melarangnya. Selain hujannya cukup deras, kondisinya yang tengah hamil tua membuatnya ingin ditemani saja oleh si sulung. Meskipun si sulungnya itu terhitung masih kecil, tapi Nur sudah mengajarinya memasak dan membersihkan rumah. Jadi hari ini ia mengharapkan si sulung membantunya untuk memasak dan membersihkan rumah sederhana mereka. Perutnya sebenarnya sudah mulas-mulas sejak tadi malam. Tapi baru nanti sore ia dan suaminya berangkat ke rumah sakit di ibukota kabupaten. Ia masih harus menunggu surat keterangan kurang mampu dari kelurahan untuk mengurus kartu Jamkesmas yang katanya akan keluar siang ini.

Sorenya, Nur dan Samad pun berangkat ke rumah sakit umum dengan menumpang mobil angkutan. Si sulung dan dua adiknya dititipkan dulu ke tetangga sebelum adik ipar Nur datang untuk menjaga mereka malam harinya. Di mobil angkutan, rasa mulas yang dirasakan Nur  semakin menjadi. Suaminya hanya bisa merangkul bahu sang istri untuk menenangkan. Sesampainya di rumah sakit, langsung saja Nur dibawa ke ruang persalinan. Dokter dan perawat  langsung sigap melaksanakan tugasnya. Hampir satu jam kemudian, terdengarlah suara tangis bayi. Samad yang menunggu di luar segera saja menghambur masuk ruang persalinan. Langsung ditanyakannya jenis kelamin anaknya itu.

“Laki-laki,” jawab dokter.

Matanya langsung terbelalak dan berbinar bahagia. Ia dekati istrinya yang masih lemah di tempat tidur.

“Akhirnya ada penerus margaku, Nur,” bisiknya.

Air mata Nur pun mengalir. Penantian yang selama ini membuatnya merasa tertekan batin pun segera sirna dalam sekejap. Takkan ada lagi pertanyaan-pertanyaan yang bernada menuntut dan mendesak dari kedua mertuanya. Sakit yang sempat dirasakannya kala sebelumnya mengalami dua kali keguguran pun telah tergantikan oleh rasa bahagia yang kini membuncah. Tuhan memang Mahabaik, batinnya.

Suaminya yang duduk dan mengelus-elus kepalanya dengan sayang pun tak henti-hentinya mengembangkan senyum. Dibayangkannya, takkan ada lagi kata-kata tuntutan dari orangtuanya agar ia segera memiliki anak laki-laki. Sindiran teman-temannya di lapak tempat biasa ia santai  di sore hari pun ia pastikan takkan pernah ia dengar lagi. Ia dan istrinya telah berhasil menutup mulut-mulut usil mereka, karena kini mereka telah memiliki anak laki-laki. Anak gagah yang akan menjadi penerus marga keluarga Samad.

Tak sampai tiga hari di rumah sakit, Nur dan Samad pun pulang dengan membawa suka cita. Ayah Nur dari kampung tetangga dan mertuanya yang tak jauh tempat tinggalnya dari mereka pun telah siap menyambut sang anggota baru keluarganya. Beberapa tetangga pun segera datang dan bergegas masuk untuk melihat bayi laki-laki yang lebih mirip ibunya itu. Mereka semua tak henti-hentinya mengembangkan senyum. Ucapan selamat datang silih berganti. Berbagai rencana tentang acara syukuran untuk menyambut kehadiran sang bayi laki-laki pun sesumbar diungkapkan. Nur, Samad dan orang-orang yang ada di situ bersuka cita, hampir tak memedulikan tiga anak perempuan yang tampak diam menyudut di pojok ruang.

***

Pagi ini kembali hujan. Si sulung hampir akan berangkat ke sekolah ketika Nur memanggilnya dari kamar depan. Si sulung pun menunda niatnya untuk memakai sepatu. Dengan berkaus kaki, ia masuk ke kamar si ibu.

“Nang, hari ini kan hujan. Mamakmu ini mau minta tolong sama kau. Mamak mau pigi dulu sebentar melayat ke rumah Uwak Sarmin yang meninggal barusan sama Mamak si Suti ya. Tadi Mamak si Suti yang datang bilangkan kabar ini. Jadi Mamak minta kau bisa kan jaga adekmu ini?” kata Nur sambil memandang bayi laki-laki yang kini menjadi si bungsu.

Si sulung ingin menolak, karena hari ini ada PR yang harus dikumpulkannya. Kalau tidak, besok ia akan disetrap oleh guru di depan kelas.

“Ini kan hujan. Nggak apa-apa lah ya hari ini kau tak masuk lagi? Kasian lah nengok adekmu ini. Siapa nanti yang menjaganya? Mamak cuma bentar aja. Iya, Nang?” suara dan mata Nur sedikit memaksa, hingga mau tak mau si sulung mengangguk mengiyakan.

Si sulung pun melepas kembali pakaian sekolahnya, meletakkannya kembali ke lemari. Kaus kakinya ia taruh lagi di dalam sepatunya yang sudah memudar dan sedikit robek di sana sini. Mamaknya telah berangkat bersama Mamak si Suti, teman bermainnya. Tak berapa lama, bangunlah dua adik perempuannya, si nomor dua dan nomor tiga, yang langsung masuk ke kamar Ayah dan Mamaknya. Keduanya langsung mendekati si bungsu, anak laki-laki berkulit lebih terang daripada mereka dan berhidung mancung, mirip sekali dengan Nur. Keduanya lalu seperti berebutan mengelus-elus pipi si bungsu yang sedang tidur, sesekali menciumnya. Si sulung hanya mengamati saja sambil sesekali mengipas-kipas dan memeriksa popok adik bungsunya.

Dua adik perempuannya kini bermain agak berisik, bermain “Pok Ame-ame” di dekat si bungsu. Si sulung langsung menyuruh diam karena takut adik laki-lakinya itu terbangun. Tapi kedua adik perempuannya itu masih saja menepuk-nepukkan tangan mereka sambil menyanyikan lagu ‘”Pok Ame-ame” dengan berbisik, hingga si bungsu pun terbangun dan menangis. Ketika mendengar tangisannya, si nomor dua dan nomor tiga saling tuduh, suara dan tepukan siapa yang paling keras sehingga membangunkan si bungsu.

Lama-lama mereka saling dorong. Makin lama makin kuat dorong-dorongannya, dan makin kuat pula tangisan si bungsu. Si sulung mencoba melerai, tapi aksi dorong-dorongan itu makin menjadi. Si nomor dua yang badannya sedikit lebih besar dari si nomor tiga, sekali ini mendorong adik perempuannya dengan kuat hingga menimpa si bungsu. Si nomor dua terus saja mendorong dan menekan adiknya. Si bungsu yang terjepit makin kuat menangis hingga lama kelamaan akhirnya tak terdengar lagi suara tangisannya.

***

Samad begitu terpukul ketika mengetahui anak laki-laki kebanggaannya itu kini sudah tiada. Sang bayi meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit. Kesedihan dan amarah berganti-ganti memenuhi rongga hatinya. Ia bingung, tak tahu harus bagaimana agar bisa mendapatkan pengganti si bayi. Bayi laki-laki itu laksana permata, menyangkut harga dirinya sebagai laki-laki bermarga, sehingga nyaris seperti hidup dan matinya juga. Suku mereka masih mendewakan sosok anak laki-laki sebagai penerus marga yang dibangga-banggakan. Dalam kegalauannya, setan amarah menyalangkan matanya. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan cepat ke belakang rumah, melewati orang-orang yang berkumpul untuk melihat jenazah si bayi tanda turut berduka cita.

Dengan gerakan hampir secepat kilat, ditariknya si sulung yang sedang duduk seorang diri di dapur dan membawanya pergi agak jauh ke dekat pepohonan di belakang rumah mereka. Tanpa berkata-kata, ditamparnya pipi anak itu kuat-kuat sampai berkali-kali, sampai berdarah-darah. Si anak menangis sampai sesenggukan tapi tak mampu melawan. Terakhir dihempaskannya tubuh anak kecil itu ke tanah. Tanpa diketahuinya, tubuh anak itu mendarat di sebuah balok kayu berpaku tajam di antara semak-semak. Dadanya tertancap paku dan segera saja darah segar menderas membasahi tanah. Kesadaran Samad pulih ketika melihat si anak diam dan tak bergerak. Namun semua sudah terlambat. Di hari yang sama, Samad dan Nur kehilangan dua buah hatinya.

 ______________

>> Kenyataan tentang anak laki-laki sebagai penerus marga yang lebih dibanggakan daripada anak perempuan masih terjadi sampai saat ini, khususnya di suku-suku tertentu seperti, Batak, yang masih memegang kuat adat istiadat leluhurnya. 

________

Ilustrasi gambar dari SINI

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: