Tinggalkan komentar

Hikayat 3 Sahabat #3 – Novel Insan Purnama

Oleh: Insan Purnama

Selain Kang Suta, keoptimisanku juga disebabkan faktor Ki Ijot. Rumah Ki Ijot disamping rumahku. Ki Ijot yang katanya sudah seminggu sakit hari itu sudah kelihatan duduk di depan rumahnya. Seperti biasa, nyisig. Nyisig itu membersihkan gigi ketika sedang makan sirih pakai tembakau. Pernah temanku, Ujem, dikerjai cucunya Ki Ijot, Dadang. Saat kami sedang bermain ke rumah Ki Ijot, Ujem menemukan sisig di atas meja. Ia tidak tahu kalau itu sisig bekas dipakai Ki Ijot. Ketika ia bertanya kepada Dadang, Dadang malahan melihat kesempatan untuk mengisengi Ujem. Dikatakannya bahwa benda itu sejenis coklat yang bisa membuat orang kebal senjata kalau sanggup mengunyah selama lima menit dan menelannya. Rupanya Ujem mempercayai kata-kata Dadang. Ia pun memasukkan sisig itu ke dalam mulutnya. Mengunyahnya. Kami yang menyaksikan kejadian itu tegang. Beberapa ada yang menutup muka, tapi kebanyakan tersenyum-senyum geli menahan tertawa. Terlihat Ujem yang mengunyah sisig itu beberapa saat kemudian wajahnya memerah. Keningnya berkeringat. Matanya mengerjap-ngerjap.  Ia seperti menahan sesuatu yang akan terlontar keluar. Sesaat mulutnya berhenti mengunyah. Yang melihat makin tegang. Diam.  Lalu, setelah hampir satu menit, Ujem pun berteriak keras, “Ooooooo!” Ia pun muntah. Kami berhamburan, kabur menyelamatkan diri dari cipratan muntahan Ujem! Sebab, yang tidak sempat kabur bakal terkena muntahannya.

Siang tadi, bada sholat lohor, aku bertemu dengan Dadang. Jangan tanyakan apakah dia salat atau tidak, pastinya dia tidak pernah tergoda untuk salat meskipun semua teman-temannya salat. Dia memang teguh pendiriannya. Banyaklah alasannya. Desas-desus temanku, Dadang tidak salat sebab dia belum disunat. Ah, masak sih? Dadang sudah kelas V kok. Tapi, waktu aku mencoba mengingat-ngingat kapan Dadang disunat, aku sama sekali tak bisa mengingatnya. Jangan-jangan dia memang belum disunat.

“Dang, apa kata Ki Ijot?” tanyaku, sementara aku mencoba membetulkan dulu letak kakiku pada sendal jepit cap swallow, ketika terlihat dia berjalan di depan mesjid. Jari telunjukku tadi yang  menjepit sendal jepitku. Semestinya kan jempol.

“Apa?” Dadang bingung. Tapi, langkahnya berhenti juga, menungguku yang berusaha mendekatinya.

“Soal pertandingan bola nanti sore.”

“Belum. Aki belum ngitung-ngitung. Tunggu diminta Mang Kanta.” Mang Kanta paling sibuk kalau PS Oray Weling bertanding. Selain menyiapkan keperluan pemain, Mang Kanta pun bertindak sebagai pelatih. Mungkin jabatan Mang Kanta itu mirip dengan posisi manajer di klub-klub sepakbola Inggris.

“Tapi, aki sehat kan?” Hampir saja aku lupa menanyakan kondisi kesehatan Ki Ijot.

“Sehat. Malah aku disuruh beli daun sirih. Katanya, kangen sudah dua jam tidak nyirih.”  Ki Ijot sangat suka nyirih, mulutnya selalu penuh nyirih. Tak heran baru dua jam saja tidak nyirih, bagi Ki Ijot bagaikan seorang gadis yang kehilangan kekasih yang paling dicntainya.

Aku pun berpisah dengan Dadang. Aku bergegas pulang ke rumah, sedangkan Dadang pergi ke warung mau membeli daun sirih buat Ki Ijot. Ki Ijot dulu menjadi wakil. Di tempatku jabatan wakil itu setara dengan kepala kampung. Sekarang Ki Ijot sudah pensiun, digantikan anaknya. Ki Ijot bagi pecinta PS Oray Weling dianggap sebagai penasihat spritual. Tempat PS Oray Weling bertanya tentang arah. Arah angin yang bisa memberikan keberuntungan. Nah, untuk urusan itulah perlu hadir tokoh penting, seperti Ki Ijot. Konon Ki Ijot bisa menunjukkan tiang gawang yang berada di arah mana yang bisa memberikan keberuntungan. Tiang gawang yang sulit dijebol penyerang lawannya. Pastinya tiang gawang ada dua dan arahnya saling berhadap-hadapan: utara-selatan atau barat-timur. Dengan menghitung-hitung hari baik dan waktu atau jam baik berdasarkan pengetahuan yang didapatnya, Ki Ijot akan menunjukkan tiang gawang sebelah mana yang harus dipilih terlebih dahulu. Kalau Ki Ijot bilang utara, berarti kesebelasan itu harus memilih pada babak pertama berada di sebelah utara, sedangkan lawannya berada di sebelah selatan. Artinya juga, pada saat akan dilaksanakannya babak pertama pertandingan itu, keberuntungan berada di sebelah utara, baru nanti setelah empat puluh lima menit, keberuntungan akan bergeser ke sebelah selatan.

Lapangan di tempatku gawangnya berada di utara-selatan. Ki Ijot sudah tahu. Tapi, kalau PS Oray Weling mau bertanding ke luar kampung, atau ke luar kecamatan, Ki Ijot akan wanti-wanti agar pengurus PS Oray Weling mencari tahu tiang gawangnya berada di sebelah mana dan kapan waktu pertandingan akan dimulai.

Sesampai di rumah, Damis sudah menungguku. Dia sudah tidur-tiduran di lantai kamarku. Rupanya dia tadi salat di rumahku, sajadah bekas dia solat dipakai alas untuk tidur-tiduran. “Nanti sore mau nonton tidak?” tanyanya saat dia mengetahui aku masuk ke dalam kamar.

“Nonton.” Sambil menjawab, aku merebahkan badanku di tempat tidurku, sebuah ranjang nomor dua, yang sudah dilepas kelambunya. Aku sengaja melepas kelambunya, sebab dengan ada kelambunya, kesannya seperti tempat tidur anak bayi.

Kamarku memang sering dijadikan markas oleh teman-temanku. Mungkin sebab karakter keluargaku, yang senang kalau rumah kami dijadikan tempat berkumpul. Hanya ada satu poster di dinding kamarku itu. Poster seorang anak kecil gendut lucu dan di bawah gambar anak itu ada tulisan: No Problem. Di kamarku juga ada radio tape stereo, yang waktu itu merupakan barang langka di kampungku. Tapi, tape-nya jarang kupakai, aku lebih sering putar radionya. Kalau subuh, dengerin ustadz kondang dari Jakarta, dari Dinas Bintal Angkatan Darat, K.H. Kosim Nurseha. Malam minggu radio itu aku pakai untuk mendengarkan siaran wayang golek semalam suntuk. Lumayan juga buat hiburan.

“Mau jalan kaki? Apa naik sepeda?” tanya Damis. Ia tetap berbaring.

“Jalan kaki. Nanti berangkat setelah sholat ashar.”

“Kita berdua saja?”

“Mau ngajak siapa lagi?”

“Berdua saja juga tidak apa-apa kan? Nanti yang jalan ke lapangan kan banyak dari sini.”

“Kita bareng Dadang aja ya?”

“Dadang kan biasanya bawa sepeda ke lapangan. Aku mau tidur dulu sebentar, ya.” Baru beberapa saat aku mencoba konsentrasi untuk tidur, Damis malah bertanya lagi.

“Kita menang-tidak, ya?”

“Ehmmm.” Aku hanya bergumam.

“Berapa skornya?”

“Ehhhmmmm.” Sekali lagi aku hanya bergumam. Lebih panjang. Aku membalikkan badanku, menghadap arah membelakangi Damis. Bantal yang setiap malam aku lukis gambar-gambar pulau, aku tarik dan aku pakai menutup telingaku.

“In. In!” terdengar sayup-sayup Damis memanggil namaku saat pertanyaannya tak kujawab-jawab. Tak lama kemudian aku pun terlelap. (*)

(Bersambung

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: