Tinggalkan komentar

Hikayat 3 Sahabat #4 – Novel Insan Purnama

Oleh:  Insan Purnama

2

Pukul dua lewat lima menit aku terbangun. Basah tubuhku oleh keringat. Maklum sedang musim kemarau, siang-siang begini tidur bisa dipastikan mandi keringat. Aku lihat Damis masih tertidur di atas sajadah, mulutnya menganga seperti mulut ikan peda goreng. Aku duduk di pinggir ranjangku dan aku tendang-tendang pantatnya. “Mis! Mis! Bangun! Sudah jam dua lewat nih.”

Sebentar kemudian aku lihat dia menguap. Lalu, dia menggeliat. “Yaaaaaahhkkkk” Suaranya terdengar. Badannya direntangkannya dan tangannya dibuka lebar-lebar. “Krekkk! Krrekk!” terdengar bunyi tulangnya. Damis mengucek-ngucek matanya. “Jam berapa?” tanyanya.

“Jam dua lewat. Coba dengar, di rumah Ki Ijot sudah ramai,” kataku. Telingaku ku pasang saat ada suara-suara terdengar di samping rumahku. Rupanya sudah banyak orang yang ingin tahu apa rekomendasi Ki Ijot untuk PS Oray Weling. Aku bergegas bangun. Agak berlari, aku pergi ke kamar mandi, cuci muka sebentar, terus balik lagi ke depan. Di pintu tengah hampir bertabrakan dengan Damis, yang juga tergesa-gesa pergi ke kamar mandi.

Saat aku berada di halaman rumahku, aku melihat di rumah Ki Ijot sudah banyak orang. Terutama anak-anak seumuran denganku. Tampak Dadang sedang sibuk, atau sebenarnya menurutku, dia berlagak sibuk. Aku yakin bahwa dia saat itu merasa menjadi orang penting. Aku menghampirinya. Tak lama Damis sudah ada di sampingku. Mukanya masih basah dengan air, rupanya dia belum mengelap mukanya. Ujung rambutnya yang menyentuh dahinya masih sangat basah, air  bekas cuci mukanya masih mengucur dari sana.

“Apa kata Ki Ijot, Dang?” Damis langsung bertanya saat sampai di depan Dadang.

“Belum tahu. Ki Ijot sedang ngitung-ngitung di dalam bareng Mang Kanta.”

“Mereka sudah lama di dalam.”

“Baru lima menitan. Tapi, biasanya tidak lama, paling lama hanya lima belas menit.” Terang Dadang sambil duduk di atas sepedanya. Sebentar kemudian diturun lagi, sepedanya disandarkan di pohon. Diceknya ban sepeda itu, yang belakang kurang angin sedikit. “ Mau pakai apa ke lapangan?” tanyanya sambil melihatku.

“Jalan kaki,” jawabku, “bareng Engkur dan anak-anak kulon.”

Di dalam rumah Mang Kanta sedang duduk berdepan-depan dengan Ki Ijot. Orang tua itu beberapa kali bertanya kepada Mang Kanta, setiap jawaban yang diberikan oleh Mang Kanta benar-benar disimaknya. Kemudian, terlihat Ki Ijot menggerak-gerakkan jari-jari tangannya seperti orang yang sedang menghitung. Ada yang dilipat dan ada yang terbuka jari-jarinya Ki Ijot itu. Beberapa kali Ki Ijot memejamkan mata. Setelah limat menit, diawali dengan menarik napas panjang, dengan yakin dia berkata, “Kidul.”

Mang Kanta tersenyum. Sambil bangkit dari kurdinya, ia pun mengucapkan terima kasih kepada Ki Ijot. Terakhir ia bersalaman dengan Ki Ijot, tampak saat salaman ia menggenggam amplop, terdengar katanya, “Buat beli sirih dan tembakau, Ki.” Lalu, dia pun keluar rumah.

“Tuh, lihat Mang Kanta sudah keluar!” Dadang menunjuk ke arah pintu rumahnya. Orang-orang di depan pintu menyingkir, lalu mengerubungi Mang Kanta, sambil bertanya. “Sebelah mana, Mang?”

“Selatan,” jawab Mang Kanta. Ia berjalan santai saja. Seperti menikmati, betapa penting dirinya dalam suasana seperti itu.

Aku pun mendengar jawaban Mang Kanta, tapi bagiku itu bukan hal penting, yang penting adalah keluarnya Mang Kanta berarti sudah saatnya untuk pergi ke lapangan. “Mis, jemput si Engkur! Mau ikut tidak ke lapangan. Katakan kita akan berangkat sekarang.” Perintahku pada Damis.

Damis tidak menjawabku, ia langsung berlari ke arah rumah Engkur. Tak lama dia sudah kembali diiringi Engkur. Rupanya Engkur sudah siap-siap, tapi ia masih menyelesaikan sesuatu yang disuruh ibunya. Ia gembira sekali dijemput Damis sebab dengan begitu ia bisa segera meninggalkan pekerjaannya. Terpaksa ibunya mengalah membiarkannya pergi.

“Ayo, kita berangkat!” teriak Engkur begitu sampai di depanku.

“Ayo!” kataku, “kita lewat jalan dalam saja, ya. Tidak panas.” Kami berjalan bertiga. Mungkin beberapa saat lagi kami akan mendapat teman, yang juga bergerombol mau pergi ke lapangan.

Jalan dalam adalah istilah kami untuk jalan memotong. Lebih banyak pohon-pohon sehingga tidak panas. Lewat jalan dalam juga memungkinkan kami lebih cepat sampai ke lapangan, dan tentu saja lebih menghemat tenaga. Pohon-pohon jambu yang banyak ditanam di pekarangan-pekarangan rumah dengan kerindangan daunnya menyebabkan terik matahari terhalang menghanguskan kami. Senda-gurau sepanjang jalan, terasa meringankan perjalanan kami. Beberapa kali ibu-ibu yang rumahnya terlewati menegur kami, sekadar basa-basi, tapi itulah bukti keramahtamahan yang menjadi khas bangsa kita. Di depan dan belakang kami sudah banyak kelompok-kelompok pejalan kaki yang akan pergi ke lapangan Katalaya. Menonton PS Oray Weling bertanding melawan PS Tunas Muda.

Tanpa kami sadari, sepanjang jalan yang kami lalui, banyak pohon jambu sudah akan berbunga. Dan bila saat itu tiba, sebuah keceriaan dengan permainan seru menanti kami.

(*)

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: