1 Komentar

Hikayat 3 Sahabat #5 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama

3

Lapangan Katalaya hanyalah sebuah tanah lapang yang sangat luas, bukan sebuah stadion. Tak ada stadion di kampungku. Stadion hanya ada di ibukota kabupaten, di karawang kota, Stadion Singaperbangsa. Selain Lapangan Bojong Tugu, mungkin hanya lapangan ini yang biasa dipakai untuk pertandingan sepakbola. Tapi, dibandingkan lapangan Bojong Tugu, lapangan ini masih kalah pamor. Sejak kemarin lapangan itu dibenahi. Garis pinggir, garis tengah, dan garis kotak penalti ditaburi bubuk kapur mentah agar jelas batas-batasnya itu. Tiang gawang nyaris tidak pernah diperbaiki, dari dulu tiang gawang itu tidak pernah diganti, bahannya dari kayu yang sangat kuat. Tiang gawang itu tidak berjaring. Nanti penonton mengelilingi lapangan itu tepat di atas garis putih pinggir lapangan. Anak-anak duduk atau berjongkok sedangkan orang tua berdiri di belakang anak-anak itu. Dan, pastinya semua tepi lapangan akan terisi, bahkan jangan heran kalau ada penonton yang berdiri atau duduk-duduk persis di bawah tiang gawang. Pernah suatu ketika ada penonton yang pingsan terkena bola yang masuk gawang, ditendang dengan sekeras-kerasnya oleh pemain lawan. Dia tidak sempat menghindar sebab begitu cepat proses tendangan itu. Setiap pertandingan di sini tidak pernah ada hakim garisnya. Tidak perlu. Hakim garisnya, ya, penonton itulah. Wasit harus jeli matanya dalam memimpin pertandingan, sebab dia bekerja seorang diri.

Saat kami sampai di sana, sudah sebagian pinggir lapangan yang dipenuhi penonton. Anak-anak kecil sudah duduk-duduk bersila di pinggir garis. Tapi, banyak juga penonton yang mencari jajanan terlebih dahulu. Sebuah truk di sisi lapangan dikerubungi orang-orang. Truk itu yang mengangkut pemain dan pengurus PS Tunas Jaya. PS Tunas Jaya dari kecamatan tetangga, sekitar lima belas kilometer. Di samping truk itu, para pemain PS Tunas Jaya sedang berganti pakaian. Mereka sedang memakai kaos seragam, kaos kaki, sepatu, dan, pernak-pernik lainnya.

Berbeda dengan PS Tunas Jaya yang hampir sudah siap, pemain PS Oray Weling belum lengkap. Pemain PS Oray Weling datang ke lapangan satu per satu. Ada yang berjalan kaki dan ada yang diboncengi naik motor, atau berboncengan naik motor, atau naik sepeda. Pokoknya, sebisa-bisanya merekalah bagaimanapun caranya harus sampai ke lapangan. Mereka datang dengan kaos seragam yang sudah dipakai. Dengan celana kolor warna apa saja, yang penting pakai celana kolor. Tak ada yang membawa sepatu sepakbola, seperti biasa mereka akan nyeker melawan lawannya yang bersepatu. Itu bukan masalah bagi pemain PS Oray Weling. Meskipun kalau terinjak sepatu pemain lawan, mereka akan berteriak sekeras-kerasnya. Tentu saja mereka kesakitan, tapi anehnya tidak pernah ada yang mau digantikan dengan pemain lain.

Tiba-tiba terdengar teriakan anak-anak mengelu-ngelukan nama seseorang. Makin lama makin terdengar jelas, yang dielu-elukan itu nama Kang Suta. “Hidup Kang Suta! Hidup Kang Suta!” Begitu kata-kata yang terdengar. Kemudian terdengar orang-orang bertepuk tangan seolah-olah menyambut pahlawan mereka. Kang Suta sendiri hanya tersenyum-senyum saja, sesekali bersalaman dengan orang yang mengajaknya bersalaman. Dia memakai kaos hijau berlangan panjang. Saat itu, kaos lengan panjang identik dengan kiper. Tidak bersepatu. Di dengkul kakinya dipasang kaos kaki yang sudah dipotong bagian bawahnya. Kaos kaki itu melingkari dengkulnya. Fungsinya agar dengkul itu tidak lecet kalau dia terpaksa harus menubruk bola yang menggelinding deras ke arah gawangnya.

“Asyik, Kang Suta main!” Engkur tiba-tiba berteriak, lalu berjingkrak-jingkrak kegirangan.

“Aku sudah tahu dari tadi,” kataku datar.

“Kira-kira kita menang tidak, ya?” Damis cemas.

“Menaglah!” sahut Engkur setengah berteriak.

“Tapi, mereka diperkuat mantan pemain nasional,” imbuh Damis .

“Tidak apa-apa. Kang Suta main. Pasti tidak akan kebobolan kita.” Engkur tetap yakin atas kehadiran idolanya itu. Lalu, ia berlari-lari mencari tempat.

“Mudah-mudahan saja…” kata Damis tanpa menyelesaikan kata-katanya.

“Mudah-mudahan apa?” tanyaku penasaran.

“Tidak kebobolan banyak,” jawab Damis lirih.

“Mestinya mudah-mudahan menang. Jangan pesimis begitu. Ayo, kita cari tempat. Sebelah sana belum banyak orangnya.” Aku menarik tangan Damis.

Engkur sudah melambai-lambaikan tangannya, rupanya ia sudah menemukan tempat menonton yang cocok buat kami. Betul saja tempat itu masih kosong, anak-anaknya baru kami bertiga. Kami duduk berbaris. Tak lama kemudian tanpa terasa di belakang kami sudah berdiri orang-orang dewasa. Makin lama makin terasa sesak. Tapi, kami menikmati situasi itu dengan senang hati. Pukul tiga kurang sepuluh menit lapangan sudah dikelilingi penonton. Bau keringat penonton sudah tercium olehku. Matahari memang sudah condong ke barat, tapi tetap saja membuat orang-orang berkeringat. Aku lupa membawa topi untuk menjaga teriknya matahari tidak membakar mukaku.

Tak lama kemudian pemain kedua kesebelasan sudah memasuki lapangan. PS Oray Weling hanya kausnya yang seragam berwarna merah, sedangkan warna celana kolornya bermacam-macam, tidak seragam dan terkesan norak. Tidak bersepatu. Tapi, ada empat orang yang memakai kaus kaki. Itu pun sebelah saja. Konon agar tidak sakit kalau menendang bola. Sedangkan PS Tunas Muda berseragam sejak kaus, celana, kaus kaki, dan sepatu. Semuanya berwarna biru.

Penonton bertepuk tangan riuh-rendah. Bergembira sebentar lagi pertandingan akan dimulai. Di tengah lapangan ada pemandangan yang berbeda. Seorang pemain PS Tunas Muda ternyata memiliki postur tubuh yang berbeda dengan pemain-pemain lainnya. Pemain itu badannya tinggi besar, berkulit hitam, dan rambutnya keriting. Tipikal saudara kita dari Papua. Beberapa penonton mengenalinya sebagai mantan pemain nasional. Tapi, aku sendiri tidak begitu jelas mendengar namanya. Beberapa penonton yang di dekat dan kutanya tentang pemain itu, jawabnya hanya, “Katanya dia pemain nasional dulu.” Wasitnya sudah bersiap-siap di tengah lapangan. Kapten PS Oray Weling langsung menemui wasit dan berkata mereka memilih tempat sebelah selatan. Wasitnya mengangguk setuju saja. PS Tunas Muda tidak protes. Mereka yang memegang bola. Setelah posisi kedua kesebelasan siap, wasit pun meniup peluit.

Pertandingan langsung seru. Hanya perlu beberapa menit saja, si mantan pemain nasional sudah berhasil menerima umpan di kotak penalti dan menendang bola. Untunglah, bola yang ditendangnya dengan deras itu dengan mudah ditangkap Kang Suta. Bahkan, agar terlihat hebat, Kang Suta pakai bersalto segala menangkap bola itu. Penonton bertepuk tangan. Dielu-elukanya Kang Suta, “Hidup Suta! Hidup Suta!”. Pertandingan pun kembali berjalan seru. Tapi, tampaknya PS Oray Weling betul-betul kewalahan menahan serangan bertubi-tubi yang dilakukan PS Tunas Muda. Apalagi si mantan pemain nasional itu begitu cekatan dan gesit, berkali-kali berhasil menerobos masuk ke dalam kotak penalti. Hanya kehebatan Kang Suta-lah sebagai kiper yang menyebabkan sampai empat puluh lima menit pertama PS Oray Weling tidak kebobolan satu gol pun. Decak kagum penonton terhadap Kang Suta terdengar sepanjang waktu. Bahkan, si mantan pemain nasional itu sering geleng-geleng kepala tidak percaya tendangannya selalu bisa ditangkap Kang Suta. Sekali lagi, ditangkap, bukan ditinju atau ditips, tapi ini benar-benar ditangkap. Bola atas ataupun bola bawah sama saja.

(Bersambung)

_________________________

Ilustrasi gambar dari SINI

_________________________

INSAN PURNAMA, lahir di Karawang,  27 Juli 1969. Sekarang tinggal di Tambun, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, bersama istri dan tiga orang anak.
Sejak 1996  mengajar di sebuah lembaga bimbingan dan konsultasi belajar di Jakarta, menjadi pembuat modul belajar bahasa dan sastra Indonesia, dan sejak tahun 2003 menjadi trainer bagi guru-guru muda.
Dunia tulis-menulis digemarinya selama menjadi mahasiswa, saat itu cerpen-cerpennya pernah dimuat di Media Indonesia; berbagai artikel masalah sosial politik pernah dimuat di Harian Terbit, Republika, dan tabloid Aksi (sekarang tidak terbit).

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

One comment on “Hikayat 3 Sahabat #5 – Novel Insan Purnama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: