Tinggalkan komentar

Hikayat 3 Sahabat #6 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama

___

Saat pertandingan istirahat, aku mengajak Damis ke mushola untuk sholat ashar dulu. Engkur tidak mau waktu aku ajak. Katanya, dia sholat di rumah saja nanti.  Dia malah berlari ke tengah lapangan seperti anak-anak yang lain, menyempatkan waktu istirahat untuk dipakai bermain-main di tengah lapangan. Beberapa kelompok anak bermain-main bola di tengah lapangan itu. Di luar lapangan, tukang jualan dikerubuti penonton. Tukang jualan es yang paling laku. Udara panas menyebabkan banyak orang yang kehausan. Mereka menyerbu beberapa tukang jualan es.

Selesai sholat, aku kembali ke tempat kami tadi duduk. Tapi, rupanya sudah ditempati anak-anak lain. Tadinya hendak aku usir, tapi ternyata anak-anak itu didampingi bapak-bapaknya. Aku jadi tidak berani, terpaksa aku mencari tempat yang lain. Waktu istirahatnya hanya lima belas menit. Wasit sudah masuk lapangan. Tak lama kemudian pemain kedua kesebelasan masuk lapangan juga. Sekarang berpindah tempat. PS Oray Weling di sebelah utara.

Dengan berbisik aku berkata pada Damis, “Kalau bukan Kang Suta, kita sudah pasti kemasukan lebih dari lima gol tadi. Syukurlah Kang Suta main.”

“Jangan lupa, Ki Ijot memilihkan tempat yang tepat. Untunglah Ki Ijot tidak salah hitung. Kalau salah, sehebat apa pun Kang Suta pasti sudah kebobolan.” Damis menjelaskan Ki Ijot.

“Tapi, meskipun Ki Ijot memilih tempat yang tepat, tapi kalau bukan sebab kehebatan Kang Suta, tentu sudah kalah,” sergahku.

“Pokoknya kedua-duanya,” simpul Damis tak mau lagi berdebat denganku saat kami dengar wasit sudah meniupkan peluitnya.

Pertandingan babak kedua sudah dimulai. PS Tunas Muda langsung menggebrak. Beberapa pemain mereka diganti dengan pemain yang baru yang lebih segar. Tidak ada pergantian pemain di PS Oray Weling, sebab tidak ada lagi pemainnya. PS Tunas Muda langsung menggebrak. Serangan PS Tunas Muda dari sayap kanan. Pemain sayapnya melewati pemain belakang PS Oray Weling, lalu mengumpan bola ke tengah di mana si pemain nasional menunggunya. Bola itu ditanduknya tepat ke arah gawang, tapi lagi-lagi Kang Suta berada pada posisi yang tepat. Bola itu pun berhasil ditangkapnya, lalu dipeluknya seperti memeluk seorang kekasih setelah lama tak bertemu.

Penonton pun bersorak. “Hidup Suta!” teriakan keras terdengar dari pinggir lapangan. “Hebat Suta! Padahal itu sebuah sundulan keras yang dilakukan mantan pemain nasional.” Begitu sebuah suara terdengar di belakang. Seorang bapak yang mengucapkannya.

Pertandingan berjalan lagi. Tapi, selalu saja pemain-pemain PS Tunas Muda berhasil mengambil bola yang dibawa pemain PS Oray Weling. Bahkan, lama-kelamaan PS Oray Weling benar-benar tidak mampu membangun sebuah serangan pun. Mereka terkurung di setengah lapangan, mereka hanya mampu bertahan. Dan atraksi yang sesungguhnya adalah atraksi kehebatan Kang Suta menyelamatkan gawangnya. Tampak sekali si mantan pemain nasional sudah frustasi tak mampu menjebol gawang Kang Suta. Meskipun secara pertandingan menjadi tidak menarik sebab hanya PS Tunas Jaya yang menyerang, tapi secara individual inilah atraksi kehebatan Kang Suta, atraksi yang sangat menarik.

“Hidup Suta!” kebanggaan.

“Hebat Suta!” pujian.

“Suta, edaaaaan!” sebuah kekaguman daripada cercaan.

“Sutaaaaaaaaaa!??” kebingungan.

Tampaknya pertandingan akan berakhir seri 0-0 saat pertandingan tinggal lima menit. Bola ditendang Kang Suta jauh melewati garis tengah lapangan. Disundul pemain PS Tunas Muda dan keluar lapangan. Kang Suta terlihat berjongkok, kecapaian, istirahat sebentar mumpung bola jauh di pertahanan lawan. Lemparan ke dalam untuk PS Oray Weling. Seorang pemain melempar bola kepada temannya yang langsung menendang tak terarah hingga keluar. Tendangan gawang buat PS Tunas Muda. Dengan sekuat tenaga, kiper PS Tunas Muda itu menendang bola tersebut. Bola melesat jatuh di kotak penalti, lalu menggelinding perlahan-lahan ke arah gawang. Kang Suta yang sedang berjongkok tidak bergerak. Diam. Diam saja. Membiarkan bola itu menggelinding masuk gawang.

“Gooool!” Pemain PS Tunas Jaya kegirangan. Tapi, pemain PS Oray Weling dan penonton kebingungan. Wasit meniup peluit mengesahkan gol itu. Tapi, Kang Suta diam saja, tidak bergerak, lalu dia tersungkur ke tanah, kejang-kejang, mengerang, dan mulutnya berbusa. Sadarlah semuanya, penyakit ayan Kang Suta kumat.

Beberapa penonton dan pemain segera menolong Kang Suta. Untungnya itu menit terakhir pertandingan. Wasit pun meniup panjang tanda pertandingan usai. Kang Suta digotong beberapa orang di bawa ke mantri terdekat dari situ. Bubarlah penonton dari lapangan itu. Semua kecewa tapi tidak sedikit yang begitu kagum atas penampilan cemerlang Kang Suta. Namun, semua memaklumi kondisinya. Semua penonton bangga, PS Oray Weling hanya kalah 0-1 dari PS Tunas Muda.

Aku baru menyadari kebenaran mitos Kang Suta, “Tak pernah ada bola yang bisa melewati gawangnya, kalau Suta sendiri tidak membiarkannya masuk.” Ternyata Kang Suta tidak secara sadar membiarkan bola itu melewati gawangnya. Penyakit ayan yang sering tiba-tiba menyerangnya seperti pada pertandingan tadi membuatnya tak berdaya menghalau bola yang menggelinding sepelan apapun. Mitos itu begitu lekat dalam ingatan penduduk kampungku bertahun-tahun kemudian. “Seandainya Suta tidak punya penyakit ayan, tentu dia sudah menjadi kiper nasional PSSI.” Begitu kata-kata yang diucapkan orang-orang tua atau anak-anak muda tentang Kang Suta dengan nada bangga sekaligus kekecewaan.

(*)

(Bersambung)

_________________________

Ilustrasi gambar dari SINI

_________________________

INSAN PURNAMA, lahir di Karawang,  27 Juli 1969. Sekarang tinggal di Tambun, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, bersama istri dan tiga orang anak.
Sejak 1996  mengajar di sebuah lembaga bimbingan dan konsultasi belajar di Jakarta, menjadi pembuat modul belajar bahasa dan sastra Indonesia, dan sejak tahun 2003 menjadi trainer bagi guru-guru muda.
Dunia tulis-menulis digemarinya selama menjadi mahasiswa, saat itu cerpen-cerpennya pernah dimuat di Media Indonesia; berbagai artikel masalah sosial politik pernah dimuat di Harian Terbit, Republika, dan tabloid Aksi (sekarang tidak terbit).

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: