Tinggalkan komentar

Hikayat 3 Sahabat #7 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama

___

17 AGUSTUSAN

4

Orang-orang tua di kotaku percaya dan sering bercerita, bahwa Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia itu di sini, di Rengasdengklok, pada tanggal 16 Agustus 1945! Rumah Baba Kisong sering disebut-sebut sebagai tempat beristirahatnya Soekarno-Hatta setelah menempuh perjalanan jauh dari Jakarta. Menurutku, sekarang rumah itu terlihat biasa saja. Mungkin dulu rumah itu merupakan rumah yang besar dan mewah sehingga dianggap sebagai rumah yang paling pantas untuk disinggahi tokoh hebat sekaliber Soekarno dan Hatta. Sekarang rumah itu kalah besar dan kalah mewah dibandingkan dengan rumah-rumah lain yang berdiri di sepanjang jalan Bojong. Kampung Bojong adalah nama kampung di mana rumah Baba Kisong berdiri sejak dulu sampai sekarang. Di kampung itu, sebagai tanda bahwa tempat itu juga memiliki peran bersejarah dalam kemerdekaan, maka didirikanlah tugu peringatan, yaitu: Tugu Peureup.

Tugu peureup, begitulah orang-orang sana menyebut tugu peringatan itu. Disebut begitu sebab puncak tugu itu berbentuk peureup yang menyeruak keluar menembus dari dalam sebuah benda yang bundar. Lalu, pada bagian badan tugu itu, sebuah batu marmer dipahat berisi teks kemerdekaan. Yang sering kami perdebatkan adalah apakah benda bundar itu sebuah telur ataukah sebuah bola.  Aku pernah berdebat dengan Damis, soal apakah benda bundar itu.

“Benda bundar itu pasti sebuah bola,” kata Damis suatu ketika ketika kami kebetulan sedang bermain-main di sana. Kepalanya miring-miring memperhatikan Tugu Peureup. Lalu, ia pindah tempat, juga dengan kepala miring-miring. “Benar! Pasti bola, itu teh,” ucapnya dengan menambah penegas teh. Tekanan khas orang Sunda.

“Kenapa?”

“Bentuknya kan bundar. Sudah begitu, di sini ada lapangan bola. Sepakbola itu jelas-jelas permainan yang sesuai dengan slogan, ‘bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh’. Nah, kemerdekaan itu sudah pasti dicapai sebab bangsa Indonesia ini bersatu melawan Belanda.” Demikian penjelasan Damis, mencoba mencari korelasi antara sepakbola dengan kemerdekaan. Sebuah hipotesis yang harus diuji pakai rumus statistika Pearson Product Moment yang diajarkan dosen metodologi penelitian di semester enam.

“Itu bukan bola, tetapi sebutir telur. Telur itu melambangkan bakal kehidupan baru. Jadi, dengan kemerdekaan, kita itu diibaratkan akan memulai kehidupan  yang baru, yang berbeda dengan sebelumnya. Tapi untuk pastinya, nanti aku akan tanyakan lagi pada kakekku,” sanggahku. Aku sendiri tidak yakin benda apa itu, tapi yang terlihat olehku benda itu sisinya pecah-pecah seperti pecahan telur yang sudah ditetaskan.

“Bertaruhlah, aku yakin itu mah bola!” Damis masih tetap ngotot kalau benda itu bola.

“Jangan taruhan, dosa!” sergahku.

“Tidak berani? Kalau begitu, setuju saja kalau itu bola.” Damis mulai menekanku.

“Kalau begitu, nanti saya lapor kepada Kang Utang kalau kamu mengajak bertaruh. Bagaimana?” Aku balik menekannya. Kang Utang adalah ustadz yang mengajari kami mengaji, di kampungku para ustadz itu dipanggil “Kang”, kependekan dari akang[1].

“Jangan! Nanti saya disetrap, disuruh berdiri dengan satu kaki, sambil tangan menjewer kuping sendiri.” Cegah Damis. Terbayang dia berdiri di hadapan teman-teman pengajian yang lain.

“Ya, sudah kalau begitu. Makanya jangan mau menang sendiri.”

“Memangnya kamu yakin kalau itu sebutir telur?”

“Tidak.”

Tapi, soal peureup semua setuju. Bahwa itu sebuah kepalan tangan. Kata peureup adalah sebuah kata bahasa Sunda yang berarti ‘kepalan tangan’. Sebuah kepalan tangan yang biasa dilakukan ketika orang-orang Angakatan 45 dengan sepenuh hati dan jiwa-raga memekikkan kata “Merdeka!”. Sebab ada tugu peringatan itu pulalah, kampung itu dikenal juga dengan sebutan Bojong Tugu. Setiap bulan Agustus, kampung Bojong Tugu menjadi istimewa. Hampir setiap tahun lapangan Bojong Tugu selalu dipenuhi ribuan orang yang ingin mengenang detik-detik kemerdekaan kita. Rasanya bagi orang Rengasdengklok kalau tujuhbelasan tidak ke Bojong Tugu terasa hambar.

Tempat favorit setelah upacara peringatan itu biasanya Tugu Peureup. Sambil memandang tugu itu, tak jemu-jemunya orang-orang menceritakan kembali episode penculikan Soekarno-Hatta baik yang benar-benar nyata maupun dengan tambahan imaginasi di sana-sini. Semuanya sekadar membanggakan kota Rengasdengklok. Banyak yang berfoto di Tugu Peureup. Aku juga pernah difoto di sana. Waktu itu fotonya masih hitam-putih. Papaku yang mengajakku ke sana. Sebenarnya aku tak suka difoto, tapi papaku terus membujukku apalagi tukang fotonya teman baiknya. Papaku tidak ingin mengecewakan teman baiknya itu. Dan, aku pun menyerah, akhirnya aku difoto juga di Tugu Peureup itu. Di potret yang sekarang kertasnya sudah kekuning-kuningan itu, tampak aku berdiri tegak membelakangi marmer teks proklamasi, menatap ke depan, dan bersandal jepit. Sayangnya aku tak tersenyum di potret itu.

Soal upacara peringatan tujuh belasan ini, Rengasdengklok menjadi sangat-sangat meriah. Semua kampung akan membuat rombongan arak-arakan (karnaval). Setiap kampung tidak mau kalah dalam soal arak-arakan itu. Meskipun tidak dinilai dan tidak mendapat penghargaan, kebanggaan ditonton banyak orang menjadi obsesi tiap rombongan. Macam-macamlah bentuk rombongan itu. Ada rombongan yang semua orangnya berpakaian seperti pejuang 45, ada rombongan yang membawa becak yang telah dihias seperti tank baja, ada rombongan ibu-ibu PKK membawa bakul nasi, ada rombongan pemuda dengan bambu runcing, dan lain-lain. Setiap rombongan arak-arakan akan membawa grup kesenian sendiri-sendiri sesuai dengan yang dimiliki kampung itu.

 Tidak ketinggalan di lapangan itu selalu ada atraksi drumband. Dua grup drumband selalu tampil bersaing menunjukkan kebolehannya. Dua grup drumband itu berasal dari dua SMP, yaitu SMPN 1 dan SMPN 2. Saat itu di Rengasdengklok memang hanya ada dua SMP.

Semua rombongan yang akan memperingati detik-detik proklamasi kemerdekaan itu harus sudah berkumpul sebeblum pukul sembilan. Pukul sembilan acara dimulai. Kampung-kampung yang jauh letaknya dari Bojong Tugu akan lebih pagi  memulai arak-arakannya.

Mang Tiing adalah maskot kampungku dalam arak-arakan tujuh belasan. Selalu. Selalu dia maskotnya.  Laki-laki yang umurnya sudah setengah abad itu sebenarnya seorang tukang cukur. Mang Tiing hanya tahu tiga model potongan rambut, yaitu cepak, sedeng, dan setik. Bercukur rambut kepada Mang Tiing, tidak boleh meminta model. Dia sudah menetapkan kategorinya sendiri, kalau tidak suka silakan potong ke tempat lain. Hanya saja di tempatku tukang cukur hanya Mang Tiing sendiri. Jadi, terpaksa semuanya menurut aturan Mang Tiing daripada tidak bercukur. Semua anak-anak yang dipotong rambutnya pasti mendapat potongan cepak, potongan seperti tentara berpangkat prajurit. Bapak-bapak yang bercukur akan mendapat potongan sedeng, atau sedang, panjang tidak pendek pun tidak. Kalau pemuda akan dipotong setik, cukup rambut yang menyentuh telinga dan melewati matanya dipotong sedikit, yang penting tidak menyentuh telinga dan melewati mata lagi.

Kekakuan Mang Tiing dengan model itu menyebabkan semua laki-laki yang sebaya di kampungku memiliki model rambut yang sama. Mang Tiing tidak perduli ketika sebuah salon muncul di kampungku sehingga satu per satu pelanggan meninggalkannya pindah ke salon itu. Tapi, Mang Tiing memang hebat sebab ternyata masih ada pelanggan yang setia dengannya. Misalnya, aku. Tapi, sebenarnya bukan atas kemauanku sendiri, melainkan atas kemauan mamaku. Mama selalu membawaku, kalau bukan menyeretku,  untuk potong rambut di tempat Mang Tiing.


[1] Akang=abang. Panggilan untuk menghormati.

(Bersambung)

_________________________

Ilustrasi gambar dari SINI

_________________________

INSAN PURNAMA, lahir di Karawang,  27 Juli 1969. Sekarang tinggal di Tambun, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, bersama istri dan tiga orang anak.
Sejak 1996  mengajar di sebuah lembaga bimbingan dan konsultasi belajar di Jakarta, menjadi pembuat modul belajar bahasa dan sastra Indonesia, dan sejak tahun 2003 menjadi trainer bagi guru-guru muda.
Dunia tulis-menulis digemarinya selama menjadi mahasiswa, saat itu cerpen-cerpennya pernah dimuat di Media Indonesia; berbagai artikel masalah sosial politik pernah dimuat di Harian Terbit, Republika, dan tabloid Aksi (sekarang tidak terbit).

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: