Tinggalkan komentar

Hikayat 3 Sahabat #8 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama

___

Tempat Mang Tiing buka praktik mencukur itu ada persis di serambi rumahnya. Kalau tidak ada yang bercukur, Mang Tiing akan tidur-tiduran di kamarnya yang terletak di depan. Tinggal panggil saja namanya, dia akan keluar.  Kalau dia tertidur, maka kita harus berteriak agar dia segera terbangun. Mama sering berteriak memanggilnya sebab setiap kali membawaku ke sana selalu saja saat Mang Tidur sedang tertidur di kamarnya.

“Maaaang! Cukur!” teriakan mama keras. Mengejutkan bebek-bebek Mang Tiing yang sedang mencari makan di dekat situ. “Kamu duduk saja di sini, sebentar juga Mang Tiing keluar,” kata mama menunjuk kursi cukur.

Dengan segan-segan, aku pun duduk. Melihat wajahku pada cermin yang menggantung di depanku, aku memegang-megang rambutku yang masih pendek. “Rambutku kan masih pendek, Ma. Kenapa harus dicukur?”

“Itu sudah panjang. Lihat jambulnya lebih dari dua senti.”

“Tapi dua senti kan masih pendek, Ma,” protesku. Kutatap lagi cermin. Kupikir-pikir wajahku lebih mirip mama daripada papa. Aku tersenyum simpul sendiri.

“Kenapa tersenyum-senyum?” tanya mama.

Aku tidak menjawabnya. Aku tundukkan wajahku, khawatir mama akan tahu apa yang sedang aku pikirkan.

“Maaaang! Cukuuuur!” mama berteriak lagi sebab Mang Tiing belum keluar.

“Iya! Tunggu sebentar!” jawab orang dari dalam. Suara Mang Tiing:  berat dan keras.

Mang Tiing keluar dari kamarnya. Berjalan menuju ke tempatku. Setelah memasangkan kain agar potongan rambut tidak terkena bajuku, tanpa basa-basi lagi Mang Tiing pun  langsung mencukurku. Hanya lima menit sudah selesai. Sekali lagi hanya lima menit Mang Tiing  menyelesaikan pekerjaannya. Tidak pernah lebih seingatku, entahlah kalau mencukur bapak-bapak. Kalau anak-anak, semuanya dicukur lima menit. Tak ada yang protes, mamaku juga tidak protes. Malahan mama tersenyum melihat rambutku yang makin pendek saja. “Bagus, bagus,” kata mama.

Penampilan Mang Tiing dalam arak-arakan selalu ditunggu-tunggu orang. Padahal sejak ada arak-arakan, seperti yang diceritakan orang-orang tua kepada kami, Mang Tiing selalu tampil persis seperti tahun-tahun yang lalu, yaitu tampil sebagai seorang bencong: bergelung, berkebaya, wajahnya dibedaki sangat-sangat putih, dan didagunya diberi tahi lalat palsu: seperti ratu dangdut Hj. Elvi Sukaesih. Bibirnya dipoles lipstik. Hanya saja bibir itu lebih mirip burger yang diberi saos sebab bibir Mang Tiing tebal dan dower. Jalannya dibuat-buat agar tampak luwes. Ia pun memakai selendang dan tas tangan segala. Saat melihat Mang Tiing seperti itu, alih-alih cekikan,  ibu-ibu justru akan tertawa terpingkal-pingkal. Bapak-bapak hanya senyum-senyum saja, maklum bapak-bapak lebih mampu menahan perasaannya dibandingkan ibu-ibu. Sedangkan, anak-anak berteriak-teriak  sambil meniru-nigu gaya Mang Tiing. Mungkin waktu itu kami sangat jarang melihat bencong sehingga orang yang bergaya seperti perempuan menjadi tampak lucu di hadapan kami. Berbeda sekali dengan sekarang, yang di mana-mana bisa ditemukan bencong.  Menurutku, seandainya Mang Tiing tampil seperti itu sekarang ini tentu penampilan tidak lucu lagi.

Arak-arakan dari kampungku akan berangkat pukul tujuh. Yang mau ikut dalam rombongan itu berkumpul di halaman rumah Pak Wakil Idi, kepala kampung kami. Anak-anak seusia denganku sudah banyak yang datang. Satu per satu bapak-bapak dan ibu-ibu bermunculan. Kami membuat helikopter-helikopteran dengan menghiasi becak sedemikian rupa dengan kertas dan kayu. Beberepa anak-anak mencuri-curi kesempatan mencoba menaikinya. Bila ketahuan Pak Wakil, anak-anak itu dimarahinya, disuruhnya melihat-lihat saja. Hanya saja, ada saja anak yang bandel, yang tidak menghiraukan Pak Wakil. Temanku, Ujem, malahan tidak perduli terhadap Pak Wakil. Ujem tetap saja masuk ke dalam helikopteran itu, sambil menguncang-nguncangkannya, ia pun bersuara seperti suara helikopter. Ia baru keluar saat seorang  hansip mengangkat tubuhnya, membopongnya, membawanya ke rumah dan mengadukannya kepada ayahnya.

Pukul setengah tujuh datang rombongan topeng banjet. Topeng banjet adalah kesenian khas daerah Karawang. Pada waktu itu grup topeng banjet yang terkenal adalah grup Daya Asmara. Ali Saban dan Ijem adalah pentolan grup itu. Mereka berdua pasangan yang kompak saat membawakan bodoran. Aku jarang menonton pementasan mereka secara langsung, tapi aku sering mendengarkan kaset rekamannya. Satu bodoran mereka dalam kaset rekamannya, sampai sekarang aku masih mengingatnya, saat Ijem berpura-pura menjadi pesinden dan Ali Saban memintanya menyanyikan berbagai lagu yang saat itu terkenal. Apapun lagu yang diminta, Ijem selalu menyanyikan lagu “Manuk Dadali[1]” dan meyakinkan Ali Saban bahwa yang tadi dinyanyikannya adalah lagu yang diminta Ali Saban, bukan Manuk Dadali. Lagu “Manuk Dadali” itu diawali dengan lirik, “Mesat ngapung luhur jauh di awang-awang[2]…” Ketika Ali Saban tahu bahwa dia dibohongi Ijem, maka waktu Ijem baru akan menyanyikan ,”Mesat ngapung…”, Ali Saban yang memarah langsung melanjutkannya dengan kalimat, “jauh di beungeut sia![3]

Tapi, yang baru datang bukan grup itu. Hanyalah sebuah grup kecil, grup kampung. Meskipun begitu, bagi kami, dengan adanya grup itu rombongan kami lebih meriah. Sebelum sampai ke rumah Pak Wakil, bunyi tabuh-tabuhannya sudah terdengar dari jauh. Anak-anak mengiringi rombongan itu. Sampai di halaman rumah Pak Wakil, bunyi tabuh-tabuhan itu pun berhenti. Alat tabuhannya diletakkan di tanah, sedangkan orang-orangnya langsung duduk-duduk di kursi yang sudah disediakan. Mereka, seperti juga yang lain,  menghadapi meja-meja yang di atasnya sudah disediakan banyak kue-kue basah yang menggoda untuk dicicipi.

Anak-anak langsung berebut memainkan tabuhan itu. Seketika itu juga sebuah orkestras tak beraturan memekakkan telinga yang mendengar. Tak ada yang marah sebab saat itu saatnya bergembira.

“Plak-plak-tung-tung-tung!” begitu bunyi gendang dipukul keras-keras.

“Preeeeet! Preeeeeeet! Preeeee….eeet!” suara terompet kian membisingkan telinga.

 “Gooong! Gooong! Goooo! Gooong!” tak ketinggalan gong dipukul-pukul pakai tinju.

 Dan, entah alat apalagi yang dimainkan anak-anak. Tak ada yang melarang, anak-anak dibiarkan menikmati polahnya dengan alat-alat itu.

 “Mang Tiing belum datang ya?” tanyaku pada Damis.

“Belum. Nanti kan arak-arakan kita lewat depan rumahnya, Mang Tiing akan langsung gabung. Kita akan ikut ke Bojong?” Damis berdiri saja, tangannya bersedekap. Matanya serius memperhatikan orang-orang di sana.

“Boleh. Aku sudah izin pada mamaku.” Pagi-pagi tadi aku sudah izin pada mama. Mama hanya pesan agar aku hati-hati di jalan. Tidak lupa pula aku diberinya uang, untuk jajanku kalau-kalau nanti aku kehausan atau kelaparan.

“Bawa duit tidak?” tanya Damis, sebuah pertanyaan yang sekadar untuk meyakinkan dirinya saja. Sebab dia sudah tahu kebiasaan mamaku, kalau beliau mengizinkanku pergi pastinya beliau juga sudah memberikan uang saku.

“Bawa. Memang kenapa?” Aku meliriknya. Dia tetap menatap serius orang-orang di sana.

“Buat beli es. Capai kalau jalan. Pasti kehausan.” Jawabnya, santai dan sekenanya.

“Kamu sendiri bawa duit tidak?” aku balik bertanya. Semestinya aku tidak perlu bertanya padanya sebab aku tahu pasti jawabannya.

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Kan kamu sudah bawa duit, buat apa aku harus bawa duit juga. Tuh lihat arak-arakan akan segera berangka!”  Sebuah alasan dengan logika sederhana, tetapi sangat manis baginya. Bagiku: TIDAK.

“Lihat Engkur di sana! Ia asyik banget memukul-mukul gendang.” Aku menunjuk Engkur yang sejak tadi sudah membaur dengan anak lain berebut tabuhan.

Saat jam tujuh kurang sepuluh menit, rombongan disiapkan. Tampak seorang hansip sedang mencoba mengatur rombongan arak-arakan itu. Para pegawai tingkat kampung, bapak-bapak RT, bapak-bapak RW, kepala kampung, ibu-ibu PKK dibariskan. Barisan yang dibuat tidak rapih-rapih, maklum mereka tidak pernah diajari baris-berbaris. Di depan rombongan, helikopter-helikopteran sudah siap-siap bergerak. Di dalamnya Kang Dali tersenyum-senyum bangga sebab banyak yang suka terhadap helikopteran yang dibuatnya itu. Di belakang rombongan, pemain topeng banjet sudah siap mengiringi mereka. Tabuh-tabuhan sudah dimainkan. Ketika barisan dirasa sudah cukup teratur, Pak Hansip yang menjadi komandannya memberi aba-aba, “Satu, dua, tiga…majuuu jalan!”  Lalu, rombongan arak-arakan lebih dari lima puluh orang itu pun mulai melangkah, berjalan santai, bukan berbaris. Di belakang para penghibur, yang kebanyakan anak-anak,  pun bergerak juga.

“Lewat rumah Mang Tiing! Dia sudah menunggu di sana.” Terdengar suara Pak Wakil beradu dengan suara musik topeng banjet.

Semakin siang jalan-jalan semakin dipenuhi orang-orang yang ingin menonton. Beberapa rombongan dari kampung lain sudah lewat. Jalur ke Bojong Tugu yang paling nyaman bagi orang kampung lain hanya satu, yaitu melewati jalan raya kampungku. Saat rombongan kami sudah berada di jalan raya, orang-orang menyemangati kami. Ada yang bertepuk tangan. Bersuit-suit untuk kami. Bahkan, ada yang berteriak, “Merdekaaaaa!” ke arah kami. Rombongan pun membalas dengan berteriak, Merdekaaaaaa!” lebih keras dan lebih bertenaga.

“Awas! Ada helikopter! Tapi, sayang tidak bisa terbang,” ledek beberapa pemuda.

Kang Dali hanya tersenyum-senyum.  Dengan bersemangat, ia mengayuh becak yang sudah berubah menjadi helikopter palsu itu. Wees-eweees-wes-ewessss, kayuhan Kang Dali sepanjang jalan.  Keringatnya pun mulai timbul dijidatnya, di badannya. Bajunya kian basah dan ketiaknya kian bau.

Setapak demi setapak rombongan berjalan. Lelah belum terasa. Aku, Damis, dan banyak anak-anak yang lain berada di belakang rombongan itu. Bersorak-sorak sepanjang jalan. Engkur malah berjoget, istilahnya yang tepat ngibing, mengikuti irama topeng banjet. Karena itu, ia terpisah dengan kami. Gerakannya seperti jaipongan. Banyak yang terpingkal-pingkal melihat tingkah polah Engkur itu. “Goyang terus, Kaaang!” beberapa kali dia teriaki penonton.

Tepat di depan rumah Mang Tiing, rombongan berhenti. Pak Hansip meniup peluit beberapa kali mengarah ke dalam rumah itu. Ratusan pasang mata menanti apa yang akan keluar dari rumah Mang Tiing. Semenit, dua menit, tiga menit…sepuluh menit, tak ada yang keluar. Semuanya mulai cemas. Rumah itu bahkan terlihat sepi, seperti tak ada penghuninya, biasanya ada empat orang di sana: Mang Tiing, istrinya, dan kedua anaknya. Ke manakah mereka?

“Maaang! Keluar, Mang!” teriak Pak Hansip di teras rumah Mang Tiing, mencoba melongok ke dalam rumah yang tertutup rapat.

Tiba-tiba pintu samping rumah itu terbuka. Dari dalam rumah keluar dua orang berpakaian perempuan dengan dandanan sangat menor. Postur badannya berbeda: satu besar dan satu lagi kecil. Semuanya terbelalak, kaget melihat dua bencong. Tapi, kemudian semuanya tertawa terpingkal-pingkal setelah menyadari bahwa bencong yang kecil itu ternyata anak laki-laki Mang Tiing. Jadi, tahun itu, pada arak-arakan  tujuh belasan, kami memiliki dua bencong. Bencong ibu dan anak! SIAPA BILANG BENCONG TIDAK BISA MELAHIRKAN?

Dari balik gorden, istri dan anak perempuan Mang Tiing juga tertawa sambil mengintip keluar, puas hasil dandanannya dihargai orang sekampung.

(*)


[1] Manuk dadali adalah burung garuda. Pencipta lagu ini adalah Sambas.

[2] Artinya,”Terbang melayang sangat tinggi di langit…”

[3] Artinya, “jauh di mukamu!”. Ungkapan beungeut sia (muka kamu) biasanya sebagai bentuk umpatan.

(Bersambung)

_________________________

Ilustrasi gambar dari SINI

_________________________

INSAN PURNAMA, lahir di Karawang,  27 Juli 1969. Sekarang tinggal di Tambun, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, bersama istri dan tiga orang anak.
Sejak 1996  mengajar di sebuah lembaga bimbingan dan konsultasi belajar di Jakarta, menjadi pembuat modul belajar bahasa dan sastra Indonesia, dan sejak tahun 2003 menjadi trainer bagi guru-guru muda.
Dunia tulis-menulis digemarinya selama menjadi mahasiswa, saat itu cerpen-cerpennya pernah dimuat di Media Indonesia; berbagai artikel masalah sosial politik pernah dimuat di Harian Terbit, Republika, dan tabloid Aksi (sekarang tidak terbit).

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: