Tinggalkan komentar

Hikayat 3 Sahabat #9 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama

___

5

Sebenarnya upacara peringatan detik-detik proklamasi di Bojong Tugu biasa saja, kalah meriah bila dibandingkan dengan upacara di Istana Negara. Mungkin juga kalah khidmat, sebab ketika pasukan diistirahatkan untuk mendengarkan pidato yang disampaikan Pak Camat, bagian belakang barisan diam-diam membubarkan diri, menyerbu tukang jajanan yang berjejer di sepanjang lapangan.

“Hanya mereka yang berjiwa patriotlah yang tidak membubarkan diri,” kata Damis, mengomentari barisan upacara yang sudah acak-acakan. Hanya bagian depan yang terlihat masih rapih.

“Menurutku, sebenarnya mereka yang di depan itu mengutuki dirinya, menyesali berada di depan barisan. Inginnya mereka pun berada di belakang barisan. Mereka sangat sedih sebab tidak bisa buru-buru menikmati es orson [1]seperti kita ini. He-he-he,” ujar Damis. Meskipun datang ke lapangan upacara, kami  tidak ikut upacara, kami hanya penggembira. Setelah melihat-lihat Tugu Peureup yang dikerubungi banyak orang, kami sudah langsung jongkok-jongkok menikmati es orson di pinggir jalan. Es orson itu murah-meriah, dan warna-warni.

“Ke mana Engkur, ya?” tanyaku pada Damis.

“Entahlah. Sejak tadi kan tidak bareng dengan kita. Rombongan kampung kita saja sudah tidak jelas berada di barisan mana. Nanti saat pulang, kita lewat Kalimati saja ya?”

“Kalimati?”

“Iya. Lebih adem sebab banyak pohon.”

“Eh, coba lihat yang di sana, seperti Kang Suta.” Aku menunjuk ke arah seorang laki-laki tinggi kurus yang sedang berjalan-jalan di antara kerumunan orang.

“Kang Suta!” teriak Damis. Dia bergegas bangun menemuinya.

Yang dipanggil berhenti. Mencari-cari ke arah suara itu datang. Ketika dilihatnya Damis menghampirinya, ia pun tersenyum. Mereka bersalaman. Aku melihat Damis bercakap-cakap dengan Kang Suta. Tidak terdengar apa yang mereka percakapan. Tak lama mereka pun berpisah, Kang Suta kembali berjalan-jalan, sedangkan Damis kembali menghampiriku. Duduk di sampingku, meminum habis es orsonnya yang tinggal seperempat gelas.

“Apa yang kamu bicarakan dengan Kang Suta?”

“Tidak ada. Aku hanya tanya kesehatannya. Sejak pertandingan melawan PS Tunas Muda dua bulan lalu, Kang Suta kan tidak pernah berlatih sepakbola lagi. Dia sudah merasa sehat. Tapi, katanya ia sangat sedih kita kalah waktu itu.”

“Itu kan tidak sengaja. Kang Suta tetap hebat. Kalau saja ia tidak ayan, pasti…” ucapanku belum selesai, Damis mengajakku pulang.

“Ayo, kita pulang sekarang. Bayar dulu es orsonnya.”

Kami bangun dari duduk hampir bersamaan. Aku mengeluarkan uang lima ratusan. Setelah menerima uang kembaliannya, aku ditarik Damis untuk segera jalan.

“Benar lewat Kalimati?” tanyaku kembali. Tempat itu rada sepi. Rasanya lebih enak lewat jalan biasa. Aku masih ingin melihat drumband. Kalau aku sekolah SMP nanti, aku mau masuk grup drumband, aku mau bawa tambur yang paling besar. Gagah sekali, kubayangkan. Lewat Kalimati, tentu tidak bakalan melihat rombongan drumband lagi.

“Iya.”

Belum jauh kami melangkah, ada orang yang memanggil-manggil kami. “Hooooi, tunggu! Dua anak ganteng yang tidak lebih ganteng daripada aku, tungguuu!” teriakan Engkur terdengar. Saat kami menoleh, terlihat ia berlari-lari kecil mengejar kami.

“Dari mana saja kamu?” tanya Damis saat Engkur sudah berada di depan kami.

“Dari Sungai Citarum. Tadi mulas, terpaksa deh cari semak-semak di pinggir Citarum. Eh, tadi waktu aku nongkrong ada orang yang mengintipku.”

“Ah, ada-ada saja kamu! Aneh sekali kalau ada orang yang mau mengintipmu.”

“Benar, kok. Orang itu tukang mancing. Tadi setelah aku cebok di sungai, aku lihat orang yang mengintipku itu diam-diam ke tempatku tadi nongkrong. Aku lihat dia sedang jongkok dan tangannya memegang daun pisang.”

“Terus?”

“Aku tidak jelas melihat apa yang dilakukannya. Tapi, ketika dia bangun meninggalkan tempat itu, aku lihat tinjaku yang tadi ada di sana sudah hilang.”

“Hah, hilang?”

“Iya, hilang. Lalu, aku intip orang itu. Ternyata dia kembali mau mancing. Saat sampai dipinggir sungai, aku lihat dia membuka bungkus daun pisang tadi. Dan ternyata….”

“Ternyata apa?”

“Isi daun pisang itu…tinjaku!”

“Haah? yang benar?”

“Benar! Sumpah! Eh, ternyata dipakai buat umpan!”

“Buat umpan?”

“Iyaaa, buat umpan. Hebatnya, kurang dari sepuluh menit, orang itu sudah mendapat ikan besar. Besar banget. Aku senang, berarti makanan yang kumakan benar-benar bergizi. Ikan saja sampai tertarik begitu.”

Kami pun tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Engkur itu. Banyak orang yang menoleh kepada kami. Namun, kami tidak mengacuhkannya. Tidak terasa kami sudah masuk kampung Kalimati. Berbeda dengan kampung kami, yang sebagian wilayahnya berdekatan dengan sawah, Kampung Kalimati justru tempat orang berkebun. Paling sering orang menanam singkong di sini. Ditanam juga cabe, jagung, terung, dan kacang panjang. Namun, tidak sebanyak yang menanam singkong. Pohon mangga banyak tumbuh di pinggir jalan kampung itu. Disebabkan antara rumah dengan kebun sangat jauh, dan rumah-rumah di sana berjauhan, banyak anak-anak yang melempari buah mangga jika lewat kampung Kalimati.

Kami melewati kebun singkong. Kata Damis, lebih cepat daripada lewat biasa. Engkur bukan main senangnya saat tahu kami akan lewat kebun singkong.

“Aku mau sambil cari jangkrik,” kata Engkur. Pohon singkong yang sudah lebih tinggi daripada kami menutupi tubuh kami. Sulit orang melihat kami. Engkur lari mendahului kami. Lalu, aku melihatnya berjongkok, mengorek-ngorek tanah.

“Ada apa?” tanya Damis.

“Jangkrik kliong!” teriaknya. Jangkrik kliong adalah jangkrik aduan. Tubuhnya besar dan di lehernya ada lingkaran cincin berwarna kuning.

“Dapat tidak?”

“Dapat. Tapi, kimpa.”  Kimpa berarti satu kakinya hilang.

“Wah, sayang dong. Dilepas saja lagi.”

“Sudah,” jawabnya. Lantas, ia berdiri, menepuk tanah yang menempel di lututnya. Mengusap-ngusap telapak tangannya menjatuhkan tanah dan debu. Kami beriringan berjalan bertiga. Jika saja ada yang melihat kami dari atas, maka ia hanya akan melihat daun singkong yang bergoyang-goyang, teratur seperi gelombang di pantai.

Sampai pada satu bagian kebun singkong itu, kami bertemu kakekku. Kakek dari papaku. Rupanya tanpa aku sadari, kebun singkong itu adalah kebun singkong kakekku. Ia langsung tersenyum melihatku. “Rupanya kalian. Engkong[2] sangka anak-anak nakal yang mau mencuri singkong. Dari mana kalian?”

“Dari Bojong Tugu, lihat upacara tujuh belasan.”

“Mau mampir dulu ke rumah engkong, apa langsung pulang?”

“Langsung pulang saja.”

“Mau bawa singkong? Kalau mau, cabut sendiri saja, singkongnya sudah gede-gede.”

“Mauuu!” jawab kami kompak.

Aku memilih satu pohon singkong. Dengan sekuat tenaga aku mencabutnya, tapi tak tercabut juga. Damis membantuku. Bruuuuut. Pohon  itu pun tercabut singkongnya besar-besar. Kakekku langsung membersihkan tanahnya, memotong batang pohonnya, dan memisahkan singkongnya.

Saat melihat kami berhasil mencabut pohon singkong, Engkur mencobanya juga. Dengan pura-pura mengeluarkan tenaga dalam, dia memasang kuda-kuda lebar. Tangannya memegang batang pohon. “Aaaaahhhhhh,” suaranya terdengar mengerang, sekuat-kuatnya dicabutnya pohon itu. Tanah di bawah pohon itu bergetar, hanya retak-retak, tapi singkongnya belum terangkat. Sekali lagi dicobanya.  “Aaaaaaaahhhhh.” Engkur mengerang lagi. Tiba-tiba terdengar suara, “Breeeeeeeeet!” Kami menengok ke arah Engkur yang sedang mencabut pohon itu dengan berkuda-kuda sangat lebar. Lalu, tawa kami pun meledak, sebab ternyata suara breeet tadi itu adalah suara celana Engkur yang robek lebar banget. Dan, tawa kami makin meledak ketika tahu rupanya Engkur tidak memakai celana dalam sehingga “burungnya” terlihat.

“Wah, bisa-bisa tidak pulang nih,” kata Damis menggoda Engkur. Ia masih tertawa.

Kakekku hanya tersenyum. “Di rumah ada sarung. Mau pakai sarung tidak?”

“Tidak. Nanti disangka baru sunat,” kata Engkur.

Setelah kami periksa, ternyata celana Engkur parah robeknya. Jahitan pinggir celana itu juga ikut robek. Engkur kebingungan sebab ia hampir telanjang dengan kondisi celananya seperti itu. Kami tabahkan hatinya bahwa kami akan mencari cara agar dia bisa pulang. Atas kreativitas yang kami miliki, sekeliling bagian celana Engkur kami pasangkan banyak daun singkong, kami ikatkan pakai tali yang kami buat dari batang pohon pisang. Jadilah, celana itu berumbai-rumbai! Unik sekali.

Setelah mencabut beberapa pohon lagi, dan memasukkan singkong-singkong itu ke dalam kantung plastik, kami pamitan dengan kakekku. Kakekku pesan, “Hati-hati di jalan. Jangan mampir-mampir nanti ibumu mencarimu.”

Kami kembali menyelesuri jalan dengan beban berat. Masing-masing menentang sekantung plastik besar singkong.  Langkah kami terasa sangat lambat. Bahkan, seperti merangkak. Herannya Engkur tenang-tenang saja.  Bahkan, tampak ia senang banget dengan model baru celananya. Sepanjang jalan ia bersiul-siul meskipun tangannya gemetaran menahan beratnya singkong.

(*)


[1] Es orson=es sirup

[2] Engkong=kakek

(Bersambung)

_________________________

Ilustrasi gambar dari SINI

_________________________

INSAN PURNAMA, lahir di Karawang,  27 Juli 1969. Sekarang tinggal di Tambun, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, bersama istri dan tiga orang anak.
Sejak 1996  mengajar di sebuah lembaga bimbingan dan konsultasi belajar di Jakarta, menjadi pembuat modul belajar bahasa dan sastra Indonesia, dan sejak tahun 2003 menjadi trainer bagi guru-guru muda.
Dunia tulis-menulis digemarinya selama menjadi mahasiswa, saat itu cerpen-cerpennya pernah dimuat di Media Indonesia; berbagai artikel masalah sosial politik pernah dimuat di Harian Terbit, Republika, dan tabloid Aksi (sekarang tidak terbit).

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: