Tinggalkan komentar

Hikayat 3 Sahabat #10 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama

___

6

Singkong rebus mengepul di meja. Kata mamaku, bikin singkong rebus lebih praktis dibanding singkong goreng yang harus membolak-balik segala. Tapi, aku tahu bahwa alasan utamanya adalah singkong rebus nanti kalau tidak habis akan dibikin keripik singkong, dengan mengiris-ngiris menjadi potongan kecil, menjemurnya hingga kering, lalu digoreng, setelah kering diangkat, biar tambah nikmat ditaburi garam halus. Keluarga kami sangat menyukai keripik singkong. Biasanya kami menikmati keripik singkong itu sambil menonton film akhir pekan di TVRI.

“Roti sumbu sudah matang nih,” tawar mama.

Aku segera mengambil piring dari tangan ibuku, langsung kuhidangkan kehadapan Damis dan Engkur. Kami sedanng berkumpul di kamarku setelah sholat magrib. Malam ini pengajian libur sebab malam jumat. Begitulah di tempatku, pengajian anak-anak libur setiap malam Jumat.

Tak lama terdengar suara mamaku berteriak dari dapur. “Ambil nih gula merahnya. Buat dicocol dengan singkong.”

“Mis, tolong ambil gula merahnya,” aku minta tolong pada Damis, sebab aku berada di tengah, sedangkan Damis di depan pintu. Segera saja ia bergegas pergi ke dapur.

“Tanganku masih gemetaran,” kataku pada Engkur.

“Aku juga. Urat-urat tanganku menonjol keluar.” Engkur menunjukkan tangannya padaku.

“Ya, samalah. Apa kata ibumu tentang celana yang robek itu?”

“Ibuku tidak bicara apa-apa. Tapi, waktu aku sampai di rumah disangkanya aku orang gila. Adikku yang kecil ketakutan. Bapak sampai buru-buru keluar waktu adikku menangis dan menunjukku sebagai orang gila.”

“Kamu tidak dimarahinya?”

“Tidak. Ibuku senang banget dapat singkong. Aku bilang diberi engkong kamu di Kalimati.”

Damis sudah balik. “Ini gula merahnya,” katanya sambil duduk kembali.

Segera saja aku cocolkan singkong yang sedang kupegang pada gula merah. Dan, langsung aku proses dengan nikmatnya. Yang lain pun tak ketinggalan langsung mengembat singkong dan gula merah itu.

“Nanti setelah sholat isya, aku mau balik lagi ke Kalimati,” kata Engkur dengan mulut penuh singkong. Suaranya tidak jelas begitu.

“Apa?”

“Aku mau balik lagi ke Kalimati. Aku mau cari jangkrik. Kata orang-orang kalau bisa menangkap jangkrik keliong yang cincin dilehernya merah malam jumat kliwaon, jangkrik itu bakal tidak terkalahkan kalau diadu.”

“Kamu mau mengadu jangkrik? Kan tidak boleh. Kata Kang Utang, kalau kita sering mengadu binatang, maka nanti di akhirat kita bakal diadu oleh binatang itu. Emangnya kamu mau diadu?”

“Siapa bilang mau mengadu jangkrik? Aku mau menjualnya. Pasti harganya mahal.”

“Kamu tidak takut malam-malam begini ke sana.”

“Tidaklah. Kalau takut, mana mungkin aku berpikir untuk balik lagi ke sana.”

Singkong rebus sudah habis. Dari luar terdengar suara adzan. Aku mengambil air minum buat teman-temanku. Setelah minum, kami pun bergegas pergi ke mushola.

Rasanya aku tidak khusyuk sholatku. Aku bayangkan malam-malam begini Engkur kelayapan sendiri di tengah-tengah kebun singkong. Bagaimana kalau dia disangka pencuri singkong? Bagaimana kalau dia bertemu ular? Tangannya dipatuk? Rasanya aku ingin buru-buru sholatku selesai, tapi imam seperti tidak tahu kegelisahan hatiku. Surat yang dibacanya setelah Fatihah, surat-surat yang agak panjang. Coba Kulhu atau Innaatoina kan cepat, begitu pikirku.

Selesai sholat, aku buru-buru menemui Engkur di depan mushola. Damis masih melakukan sholat sunat rawatib dulu.

“Lebih baik kamu tidak usah pergi lagi ke sana,” saranku pada Engkur saat kami duduk di lantai mesjid.

“Memangnya kenapa?”

“Aku khawatir terjadi apa-apa denganmu. Siapa yang akan menolongmu? Aku tidak mungkin menemanimu, mamaku pasti tidak akan mengizinkanku.”

“Tenang saja. Tadi aku sudah mempelajari situasinya kok. Aku membawa senter. Tiga baterai, pasti terang banget.” Ditunjukkannya kepadaku senter cap macan, made in China yang terkenal itu.

“Ya, sudah. Hati-hati, ya.” Kutepuk-tepuk pundaknya. Seperti dia hendak pergi jauh saja.

“Aku jalan ya. Dan, bilang pada Damis, nanti aku beri dia jangkrik kliwon, tapi… yang betina. Bagi dia, jantan dan betina sama saja kok. Yang penting ada suaranya kan buat menakut-nakuti tikus. Satu lagi, maaf, jangan tatap aku seperti sedang melepas kekasih untuk pergi jauh lama tak kembali.” Ia pun nyengir setelah berkata begitu.

Engkur pun melangkah meninggalkanku. Ke barat, ke arah Kalimati. Bulan cuma separuh, itu pun terhalang sedikit awan.

“Ke mana Engkur?” Damis mengejutkanku. Dia sudah berdiri di sampingku ketika aku sedang menatap sosok Engkur yang ditelan kegelapan.

“Ke Kalimati. Dia mau memberimu jangkrik, tapi yang betina.”

“Asyik, aku bakal punya jangkrik, tikus pasti kabur dari rumahku,” katanya girang.

“Ayo, pulang. Mau menginap di rumahku tidak?” Aku menoleh kepadanya.

“Aku kan paling senang menginap di rumahmu, sebab pasti sarapan pagiku terjamin. Kalau tidur di rumah, aku tidak mungkin dapat sarapan pagi. Jadi, ayo, jangan khawatir dengan senang hati,  aku temani kamu tidur. Bahkan, dengan niat yang ikhlas.”

“Itu sih bukan niat yang ikhlas, tapi dengan niat sarapan pagi.”

“Segalanya usaha, usaha, temanku.” Katanya tersenyum.

(*)

(Bersambung)

_________________________

Ilustrasi gambar dari SINI

_________________________

INSAN PURNAMA, lahir di Karawang,  27 Juli 1969. Sekarang tinggal di Tambun, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, bersama istri dan tiga orang anak.
Sejak 1996  mengajar di sebuah lembaga bimbingan & konsultasi belajar di Jakarta,  pembuat modul belajar bahasa dan sastra Indonesia, dan sejak tahun 2003 menjadi trainer bagi guru-guru muda.
Dunia tulis-menulis digemarinya selama menjadi mahasiswa. Saat itu cerpen-cerpennya pernah dimuat di Media Indonesia; berbagai artikel masalah sosial politik pernah dimuat di Harian Terbit, Republika, dan tabloid Aksi (sekarang tidak terbit).

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: