Tinggalkan komentar

Hikayat 3 Sahabat #11 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama

___

7

“Engkur sakit,” kata mamaku, “kasambet di sumur burung.”

Baru saja aku sampai di rumah sepulang dari sekolah, mama langsung mengabariku tentang Engkur. Kasambet berarti sakit disebabkan gangguan makhluk halus, sejenis jin. Yang tidak aku mengerti adalah mengapa di sumur burung. Sumur burung adalah sebutan orang kampung kami untuk sumur angker yang terletak di lapangan sekolahku. Bukankah semalam Engkur pergi ke Kalimati?

“Ganti baju dan makanlah dulu, baru nanti tengoklah dia,” mama mengingatku, khawatir aku langsung pergi ke rumah Engkur.

Aku ganti baju seragamku dulu, terus makan. Rupanya mama memasak pindang gabus. Makanan paling aku sukai. Tapi, aku tidak bisa menikmatinya. Pikiranku melayang-layang,  ingin buru-buru ke rumah Engkur. Aku penasaran atas apa yang terjadi padanya. Tadi subuh, dia tidak datang sholat berjamaah di mushola. Kata Damis, “Engkur pasti kesiangan. Semalaman begadang mencari jangkrik.” Tidak kami sangka bila dia sakit.

“Ma, aku pergi ke rumah Engkur, ya.” Aku pamit pada mama. Setelah piring bekas makan, aku cuci terlebih dahulu. Mama kami mengajari anak-anaknya untuk membantunya sedikit-sedikit.

“Ya,” sahut mamaku, di depan mesin jahitnya.

Aku bergegas berjalan. Aku ingin cepat sampai di rumah Engkur. Matahari siang begitu menyengat memaksaku berjalan di pinggir-pinggir rumah. Cukup jauh rumah Engkur dari rumahku. Rumahnya ada di timur, sedangkan rumahku di barat.

“Mau kemana?” tanya tetanggaku yang berpapasan denganku.

“Ke rumah Engkur,” jawabku hanya menoleh sebentar kepadanya, terus melanjutkan jalan tanpa mengurangi kecepatan.

Satu saat aku terpaksa berhenti. Di depanku induk ayam dengan delapan anaknya yang masih kecil-kecil menghalangi jalanku. Jika aku terus berjalan, bisa-bisa induknya akan menyerangku, menduga aku akan mengganggu anak-anaknya.

“Hush-hush-hush!” Aku coba usir ayam-ayam itu. Tanganku aku gerak-gerakan, bagaikan Pak Polantas sedang mengatur arus lalu lintas. Induk ayam itu malahan seperti siap-siap hendak menyerang. Anak-anaknya berciap-ciap. Induknya mengangkat sayapnya sedikit, kepalanya waspada: formasi untuk menyerang.

Aku diam. Terbayang kalau induk itu menyerangku, aku bakalan ditaladung: dipatuk, terus ditendang kaki ayam yang sedang kalap. Ngeri juga. Untunglah, anak-anak ayam bergerak menjauh dariku sehingga induknya pun mengikuti menjauhiku. Aku buru-buru lari, memburu ke rumah Engkur.

“Assalamualaikum!” aku uluk salam di depan rumah Engkur.

“Wa’alaikum salam,” suara bapaknya Engkur menjawab uluk salamku, “Masuk. Di dalam sudah ada si Damis.” Bapak Engkur membukakan pintu untukku. Aku langsung menuju kamar Engkur. Damis sedang duduk di sisi tempat tidur. Tampaknya ia baru saja sampai. Engkur tampak pucat, berbaring.

“Bagaimana ceritanya?” Aku langsung minta penjelasan. “Bukankah semalam kamu ke Kalimati?” Tak ada tempat untuk duduk, aku pun berdiri.

“Semalam setelah pamitan denganmu, aku mampir dulu di rumah Saudaraku, tidak langsung pergi ke Kalimati. Aku nonton televisi dulu di rumah Saudaraku itu. Sampai jam sepuluh. Lalu, aku pergi ke Kalimati. Setelah hampir sampai Kalimati, aku coba senterku sebab dari tadi aku belum coba senter itu. Ternyata senter itu tidak menyala. Baterainya sudah habis. Aku terpaksa balik lagi daripada gelap-gelapan di kebun singkong sendirian. Aku pulang. Tanpa aku sadari, aku salah pilih jalan, aku lewat lapangan sekolah. Bukan jalan yang biasa. Sebab sudah capai, aku malas kembali ke jalan biasa,  dengan terpaksa aku memberanikan diri lewat lapangan sekolah. Aku ingat soal sumur burung[1].  Saking takutnya, aku pun berlari apalagi di lapangan sekolah kan gelap. Saat aku berlari itu, aku melihat dari dalam sumur burung keluar bayangan. Aku ingin berteriak minta tolong, tapi suaraku hilang yang terdengar hanya erangan saja. Aku pun lari sekuat-kuatnya tanpa menengok lagi. Sampai-sampai aku menubruk pintu rumahku, lalu jatuh pingsan. Sadar-sadar aku sudah di dalam rumah.”

“Yang keluar dari sumur itu, apa?” tanyaku.

“Entahlah. Tapi, tampak sekali makhluk itu besar dan tinggi. Tingginya mungkin dua kali tinggimu. Untunglah makhluk itu tidak mengejarku.” Engkur mengambil air minum yang tersedia di meja dekat tempat tidurnya. Ia pun minum, setengah gelas air habis. “Tanganku masih pegal, singkong kemarin ternyata melemahkan otot-otot tanganku.”

“Makhluk itu kira-kira apa?” Damis penasaran.

“Tadi sih kata Mak Kulo, yang keluar dari sumur itu Tuan Brosmann, tuan tanah pada zaman Belanda. Dialah pemilik semua tanah lapangan di sini. Katanya, dia suka menyiksa orang yang masuk ke tanahnya tanpa izin darinya.”

“Memangnya Mak Kulo sudah ke sini?” tanyaku. Mak Kulo itu seorang dukun yang dipercaya oleh orang kampungku bisa mengetahui keberadaan makhluk halus.

“Iya, tadi. Diundang Bapakku.”

“Pantasan, bau kemenyannya masih tercium.” Damis mengendus-ngenduskan hidungnya di dekat ketiaknya sendiri. “Betul, bau kemenyannya kuat sekali.”

Setelah setengah jam, aku pun mengajak Damis pulang. “Pulang, yuk, Mis!” ajakku, “ada PR yang harus aku kerjakan.”

“Ayo! Kamu sudah makan belum?”

“Wah, terlambat kau teman, aku sudah makan tadi. Tapi jangan khawatir mamaku  tetap akan senang memberimu makan, kok.”

“Pakai apa makannya?”

“Pindang gabus.”

“Allah memang tahu kesenangan hamba-Nya.” Ia menengadahkan keduanya, lalu mengusapkannya ke wajahnya. “Amiiin,” katanya.

Setelah pamitan dengan semua yang ada di rumah itu, kami pun pulang. Di tengah jalan aku bertemu Kang Warsa. Rumah Kang Warsa dekat lapangan sekolah itu. Ia terkenal cukup ramah dengan siapa pun. Ketika melihat kami, ia tersenyum. Ia kenal kami, begitu juga kami.

“Dari mana?” tanyanya.

“Dari rumah Engkur.” Damis langsung menjawabnya, menyalaminya. Kami berhenti. Aku pun menyalaminya. Tersenyum.

“Kenapa si Engkur itu?”

Kasambet semalam di sumur burung. Ia melihat Tuan Brossman di sana.” Sahutku. Cuma intinya yang kusampaikan.

“Hah? Semalam? Aku juga melihat Tuang Brosmann semalam. Ia lari dari pinggir lapangan sangat cepat seperti sedang mengejar sesuatu. Hussss, seperti angin. Kencang sekali larinya. Saat melihatku, ia mengerang dan membuatku ketakutan setengah mati. Aku pun lari sekencang-kencangnya.” Kang Warsa menceritakan “pertemuannya” dengan Tuan Brosmann. Air mukanya serius sekali.

“Kalau begitu, yang melihat Tuan Brosmann semalam ada dua orang dong. Engkur dan Kang Warsa,” simpul Damis dengan pasti, rasanya ia seperti ingin berteriak, “Eureka!”

“Ya, ya, bisa jadi begitu. Sudah ya, kalau begitu aku juga mau ke rumah Engkur, ingin tahu cerita lengkapnya.” Kang Warsa menepuk pundakku. Terasa berat. Tangannya besar dan kekar. Ketika aku amati tinggi sekali tubuhnya. Hampir dua kali tinggi tubuhku.

“Jangan-jangan… semalam Kang Warsa…Engkur….” Pikirku saat aku menyadari betapa tinggi besarnya Kang Warsa, seperti postur Tuan Brosmann.

(*)


[1] Sumur burung=semur angker

(Bersambung)

_________________________

Ilustrasi gambar dari SINI

_________________________

INSAN PURNAMA, lahir di Karawang,  27 Juli 1969. Sekarang tinggal di Tambun, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, bersama istri dan tiga orang anak.
Sejak 1996  mengajar di sebuah lembaga bimbingan & konsultasi belajar di Jakarta,  pembuat modul belajar bahasa dan sastra Indonesia, dan sejak tahun 2003 menjadi trainer bagi guru-guru muda.
Dunia tulis-menulis digemarinya selama menjadi mahasiswa. Saat itu cerpen-cerpennya pernah dimuat di Media Indonesia; berbagai artikel masalah sosial politik pernah dimuat di Harian Terbit, Republika, dan tabloid Aksi (sekarang tidak terbit).

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: