Tinggalkan komentar

Hikayat 3 Sahabat #12 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama

___

TUAN BROSMANN: MENEER HANTU

8

Soal orang gila bola, ternyata tidak mengenal umur. Di belahan dunia mana pun yang gila sepak bola bukan cuma orang-orang tua, tetapi juga anak-anak. Di kampungku hampir semua anak-anak laki menyukai sepak bola. Sebuah kekeliruan jika anak laki-laki tidak menyukai sepak bola. Keliru sebagai laki-laki harusnya menjadi perempuan. Entahlah kenapa kami menyukai sepak bola. Kami tidak peduli bahwa lewat sepak bola, negeri ini tidak pernah diharumkan menjadi juara dunia. Bukan berarti kami tidak bangga, misalnya, dengan bulutangkis yang sudah melahirkan juara dunia dan mengharumkan negeri ini. Tapi, bulutangkis bagi kami olahraga mahal sebab kami harus punya raket, shuttle cock, dan net. Mana ada yang sanggup membeli itu? Sepak bola cukup beli satu bola. Di mana pun jadi. Tidak perlu lapangan khusus. Lebih-lebih sepakbolalah kami bisa bermain secara massal. Kadang kami tidak perduli dengan jumlah pemain yang penting semua anak yang datang ke lapangan bisa main semua.

Menurut penyanyi Ebiet G. Ade, cinta itu perlu berkorban. Demikian juga mencintai sepakbola harus berkorban. Bagi anak-anak  di sini, pengorbanan pertama demi cinta kami pada sepakbola adalah mengorbankan uang jajan untuk membeli bola plastik. Biasanya, kami papatungan. Papatungan itu beriuran. Hanya saja, uang papatungan kami cuma bisa buat beli satu buah bola plastik. Kalau untuk membeli bola bliter[1], rasanya kami perlu mengorbankan satu bulan uang jajan kami. Terlalu berat itu, teman.

Pengorbanan kedua demi cinta kami pada sepakbola adalah kami harus bermain di lapangan yang di tengah-tengahnya ada sumur burung[2] alias sumur angker. Sebenarnya, lapangan itu adalah lapangan sekolah. Lebih tepatnya, lapangan itu milik Pemerintah. Rencananya di lapangan itu akan dibangun sebuah sekolah lagi, entah kapan. Jadi, nanti di kompleks lapangan itu akan berdiri tiga sekolah dasar.

Keangkeran sumur ini membuat kami kurang nyaman bermain sepak bola di sana. Tapi, tidak ada lagi lapangan yang luas di sini. Tidak mungkin jika kami harus berlatih ke lapangan Katalaya, di sana pasti sudah dipakai PS Oray Weling atau dipakai anak-anak Katalaya atau anak kulon. Yah, dengan terpaksa, sebagai salah satu bentuk pengorbanan sebab kami begitu mencintai sepakbola, kami pun mempergunakan lapangan itu untuk berlatih sepakbola hampir di setiap sore. Kecuali, jika musim layang-layang tiba. Lapangan itu berubah menjadi tempat bermain layang-layang yang paling seru. Seru, seru sekali sebab di sini tempat pertemuan penggila layang-layang dari seluruh sudut kampungku.

Namun, layang-layang bukanlah sesuatu yang luar biasa. Di tempat kami, tidak ada pertaruhan kehormatan, semuanya hanya untuk bersenang-senang, untuk kegembiraan yang khas anak-anak. Layang-layang membuat anak-anak seperti kami bisa bergembira. Tentu saja tidak semua anak-anak pandai bermain layang-layang, tapi kegembiraan itu muncul baik saat memainkan layang-layang sendiri maupun saat menonton orang mengadu layang-layang. Damis, misalnya, yang tidak bisa bermain layang-layang, tetapi ia selalu bergembira bila melihat kami bermain layang-layang. Tugasnya sekadar penggulung benang. Tapi, ia senang sekali.

Engkur-lah yang jago main layang-layang. Berbeda dengan anak-anak lain, kalau sedang memainkan layang-layang, mulutnya akan menderu-deru seperti suara pesawat terbang. Tiada henti. Deruan itu mengikuti gerakan layang-layangnya di udara. “Huuuussss!” begitu suaranya saat layang-layang menukik. “Ngooooaaaaaaang” saat layang-layang mengangkasa jauh tinggi. Kalau sedang mengadu layang-layang, yang keluar dari mulut Engkur bukan cuma suara seperti deruan pesawat terbang, tetapi juga bunyi seperti rentetan suara tembakan. Begitulah Engkur saat bermain layang-layang seolah-olah ia seorang pilot pesawat tempur.

Pembantu setianya yang bertugas menggulung  dan merapikan benang adalah Damis. Kalau Engkur merasa sebagai pilot, maka Damis merasa sebagai co-pilot. Sambil menggulung atau mengulur, ia terus-menerus menyemangati Engkur. “Tarik! Tarik terus! Terusss!” teriaknya, “ulur, ulur dulu, ya turun ke bawah, serang dari bawah!”

“Tet-tet-tet-tet-tet!” Engkur tidak menjawab, tetapi mulutnya terus berbunyi, seperti pesawat yang sedang menembaki musuh-musuhnya. Tangan terus menerus menarik dan mengulur, seperti tidak pernah merasa pegal. Mereka berdua akan berteriak ketika layang-layang musuhnya putus. “Merdeka!” teriak Damis.

Layang-layang yang putus akan dikejar anak-anak lain yang sedang tidak bermain layang-layang. Angin yang berhembus menghempas layang-layang yang sedang diincar belasan pasang mata anak-anak. Kadang-kadang, arah angin berbalik arah, membuyarkan pengejarnya yang sudah berkumpul siap bertarung. Kadang ada anak yang membawa galah agar mereka bisa mengambil layang-layang saat masih jauh di atas tanah. Tapi, bukan berarti mereka akan selalu berhasil, sebab anak-anak yang lain tidak akan pernah membiarkan orang lain memperoleh layang-layang itu dengan mudah. Anak-anak yang membawa galah sering gagal memiliki layang-layang meskipun sudah menyangkut di galahnya sebab bisa jadi ada anak yang mendorong tubuhnya atau mendorong galahnya sehingga terjatuh,  atau anak-anak itu terus merangsek membuatnya sulit memegang tali kamah, bisa jadi ada anak yang lebih dulu berhasil memegang tali kamah. Aturan umum yang tidak tertulis di antara pengejar layang-layang adalah layang-layang yang putus tidak boleh diperebutkan lagi jika sudah ada anak yang memegang tali kamahnya.

Aku tak suka mengadu layang-layang. Aku hanya memainkan layang-layang besar yang bisa berbunyi dan berbuntut panjang. Peteng, begitu sebutan kami untuk layang-layang seperti itu. Aku pernah dibuatkan kakekku sebuah peteng yang sangat besar sehingga perlu kenur nomor 100 agar tidak mudah putus. Di bagian depan peteng itu dipasangi bambu yang dibuat seperti busur dan dipasangi sejenis pita agar di atas tergesek-gesek angin sehingga menghasilkan bunyi. “Guuuuuuung! Guuuuuuung!” seperti itu bunyinya.

Semua anak sudah tahu bahwa untuk menjadi pemenang saat mengadu layang-layang, selain harus jago main layang-layang, juga harus mempunyai benang gelasan yang bagus. Gelasan yang bagus adalah gelasan yang halus, tapi tajam. Tajamnya pun tidak sembarang tajam, sebab tajam yang sembarangan bisa melukai tangan. Warnanya juga tidak luntur. Agar bisa menang saat mengadu layang-layang, berbagai merek gelasan terbaik dibeli anak-anak. Jika kurang puas dengan gelasan dari toko, anak-anak akan membuat sendiri gelasan. Ada berbagai resep membuat gelasan. Tapi, semuanya yang jelas harus memakai beling halus, biasanya dari kaca semprong yang buat pelita. Kaca itu ditumbuk sampai halus. Nanti diadukkan ke dalam adonan aci yang sudah diberi warna. Benang yang sudah dipasang melingkar-lingkar dan ditarik kencang kemudian diolesi adonan tadi. Benang itu dibiarkan  seharian agar kering. Baru setelah itu bisa dipergunakan.

Aku pun tak pernah mengejar layang-layang putus. Kalau kakekku tahu aku mengejar kayang-layang putus, kakek akan memarahiku, mungkin juga menghukumku. Bagi kakek, mengejar layang-layang itu berbahaya apalagi jika layang-layang putus itu menuju jalan raya, bisa jadi pengejar layang-layang itu akan tertabrak kendaraan bermotor. Anak-anak yang berebut layang-layang putus juga sering berkelahi dengan bermacam-macam alasannya. Maklumlah berebutan, yang namanya terinjak, tersikut, tertarik, atau terdorong sangat sering kita alami.

Dari berbagai kejadian mengejar layang-layang putus, ada peristiwa tragis yang membuatku percaya bahwa mengejar layang-layang itu berbahaya.

Satu sore ketika musim layang-layang mencapai puncaknya, yang bermain layang-layang sangat banyak dan anak-anak pengejar layang-layang putus juga sangat banyak. Di langit-langit mungkin ada puluhan layang-layang. Pertarungan sengit layang-layang terjadi. Satu per satu layang-layang putus. Dikejar belasan anak-anak. Berteriak kegirangan, jika layang-layang bisa didapatnya. Layang-layang yang putus akan melayang jauh jika angin kencang dan saat putus, layang-layang itu sedang melayang tinggi sekali. Pengejar layang-layang akan berlari jauh melewati batas-batas lapangan sekolah, ke gang-gang sempit, ke jalan raya, ke pinggir irigasi.

Satu saat ada tiga pasang layang-layang bertarung. Salah satunya layang-layang milik Engkur. Ia sudah mengalahkan lima layang-layang. Sekarang pun dia berada di atas angin. Layang-layang musuhnya tinggal sekali lagi dipotong benangnya pasti kalah. Tak lama dua layang-layang putus hampir bersamaan. Melayang ke arah yang berbeda. Berhamburan anak-anak mengejar.

“Yaaaah, tarik, tarik, tarik!” teriak Damis, di samping Engkur. Tangannya terus menggulung benang yang sudah tertumpuk si tanah. Bisaa-bisa kusut jika dia tidak cekatan menggulungnya.

“Menaaaaaang!” Engkur teriak.

Layang-layang musuh melayang ke arah belakang sekolah. Seorang anak mengejar layang-layang itu. Hanya dia sendiri yang mengejar layang-layang itu, yang lain sudah mengejar dua layang-layang yang putus tadi. Dia sendiri berlari ke belakang sekolah. Sekencang-kencangnya ia berlari menyongsong layang-layang yang akan terhempas ke tanah. Kami berpikir layang-layang pasti akan menjadi miliknya. Ketika tiba-tiba dari tempatnya berlari terdengar teriakan keras. Banyak yang kaget mendengar teriakan itu. Anak itu terjatuh, terjungkal keras sekali. Tadinya, tak ada yang menolongnya, sudah biasa pengejar layang-layang terjatuh, paling-paling ia akan langsung bangkit lagi, dan mengejar layang-layang lagi. Tapi, anak itu tidak bangun-bangun. Beberapa orang lalu berlari ke tempat anak itu. Ternyata, anak itu pingsan dan tangan kanannya patah. Patah, bukan terkilir. Beberapa orang menggotong anak itu pulang ke rumahnya.

Sore itu menjadi kelabu. Kami sudah tak bersemangat lagi bermain layang-layang. Peteng-ku yang sedang melayang, melenggang-lenggok seirama angin, langsung aku turunkan.

“Pulang, yuk, Teman-teman!” ajakku pada Damis dan Engkur.

“Sebentar aku turunkan layang-layangku dulu,” kata Engkur, “Mis, cepat dong gulungnya, jangan sampai kusut.”

“Iya, iya, tapi pelan-pelan , dong. Lihat-lihat juga ke bawah, kalau benang masih numpuk tahan dulu, jangan ditarik terus.” Tangan Damis sibuk menggulung benang.

Setelah layang-layang benar turun, Engkur memegang layang-layang itu. Layang-layang itu dipeluknya sepenuh hati. Bangga, hari ini enam layang dikalahkannya. Kami pun pulang dengan perasaan bermacam-macam. Jujur, aku cemas dengan kondisi anak yang tadi patah tangannya itu.

Esoknya cerita jatuhnya Tarzan, nama anak itu, sudah menyebar seantero kampung. Cerita dari mulut ke mulut memang dasyat. Dasyatnya lagi cerita itu menjadi lain, ada tambah-tambahan yang kian mendramatisasi kenyataannya. Entah siapa yang menambahi cerita itu sehingga rumor yang beredar menyebutkan Tarzan jatuh didorong Tuan Brosmann, makhluk gaib penguasa lapangan sekolah, yang marah sebab layang-layang yang jatuh di sana seharusnya diperuntukkan untuk anaknya, tidak boleh ada yang mengejarnya. Besoknya di tempat Tarzan jatuh sudah ada sesajen yang diperuntukkan buat Tuan Brosmann. Tarzan tak kunjung sembuh, malah kian parah. Orang tuanya telah mengupayakan berbagai cara pengobatan, tapi Allah Yang Mahakuasa lebih menyayangi Tarzan. Sebulan kemudian, Tarzan pun meninggal.

(*)


[1] Bola kulit

[2] Kata burung dalam bahasa Sunda bermakna ‘gila’. Dalam perspektif orang Sunda, orang gila sejatinya orang, tetapi orang yang sudah mengalami “kerusakan”. Jadi, sumur burung pada dasarnya memang sebuah sumur, tetapi mengalami sesuatu hal sehingga tidak bisa dipakai lagi.

(Bersambung)

_________________________

Ilustrasi gambar dari SINI

_________________________

INSAN PURNAMA, lahir di Karawang,  27 Juli 1969. Sekarang tinggal di Tambun, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, bersama istri dan tiga orang anak.
Sejak 1996  mengajar di sebuah lembaga bimbingan & konsultasi belajar di Jakarta,  pembuat modul belajar bahasa dan sastra Indonesia, dan sejak tahun 2003 menjadi trainer bagi guru-guru muda.
Dunia tulis-menulis digemarinya selama menjadi mahasiswa. Saat itu cerpen-cerpennya pernah dimuat di Media Indonesia; berbagai artikel masalah sosial politik pernah dimuat di Harian Terbit, Republika, dan tabloid Aksi (sekarang tidak terbit).

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: