Tinggalkan komentar

Hikayat 3 Sahabat #13 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama

___


9

Entah mengapa sepak bola selalu membuat kami gila. Rasanya kaki kami gatal-gatal kalau seminggu tidak bermain sepakbola. Kecintaan kami kepada sepakbola membuat kami melupakan segala cerita seram tentang sumur angker di tengah lapangan sekolah itu. Hampir tiap minggu kami bermain sepakbola di sana, menyingkirkan rasa takut akan Tuan Brosmann, menyingkirkan rasa was-was akan kesambet. Ya, semuanya kami lakukan demi cinta kami pada sepakbola.

“Sepak bola itu bukan permainan, tapi jiwa kita orang laki-laki,” begitu kata-kata mutiara yang sering dikatakan Kang Suta jika kami berkumpul mengelilinginya. Itu mungkin bagiku sebuah ungkapan yang luar biasa tentang sepakbola dibandingkan ungkapan, “Sepakbola bukan matematika.” Ungkapan yang biasa dikatakan pelatih yang kesebelasannya dikalahkan oleh sebuah kesebelasan yang secara matematis semestinya dapat dikalahkannya.

Engkur lain lagi falsafahnya tentang sepakbola. Katanya, “Sepakbola itu permainan kolektif.” Sebab itu, kepada anak-anak yang lain yang juga mencintai sepak bola, ia tidak segan-segan meminta dijajani sebab ia merasa bagian dari ke-kolektif-an pencinta sepak bola. Damis tidak mempunyai pendapat apa-apa tentang sepak bola sebab katanya, “Cinta tidak perlu diungkapan, tetapi dirasakan.”

Setiap minggu sore kami berkumpul dan bermain sepak bola di lapangan sekolah. Hampir tiap minggu sore sepanjang tahun, tak terkecuali bulan puasa. Herannya kalau tidak bermain sepak bola, terasa sekali lemasnya badan di bulan puasa. Tapi, begitu main sepak bola, rasanya energi kami bertambah beribu-ribu kali lipat. Bayangkan saja rasa haus yang sudah mendera dari pagi akan tiba-tiba musnah begitu kami sudah di lapangan. Apalagi ketika sudah bermain sepak bola, berlarian ke sana-ke mari dari ujung ke ujung lapangan tidak membuat kami kelelahan. Tak mau kami diganti oleh anak lain. Dan, biasanya kami baru bubaran ketika adzan hampir terdengar. Bahkan seringkali kalau belum terdengar, “Allahu akbar! Allahu akbar!” kami belum berhenti, setelah terdengar kami pun berlarian secepat-cepat pulang ke rumah untuk merasakan dinginnya air es yang sudah disiapkan ibu kami. Segaaar, haus terusir.

Di lapangan sekolah tidak ada tiang gawang. Tidak ada garis pinggir ataupun garis gawang. Tidak ada apa-apa yang menunjukkan di sana sebuah lapangan untuk bermain sepak bola. Kalau mau main sepak bola, untuk menandai adanya tiang gawang kami cukup membuatnya dengan menumpukkan sandal atau baju, atau apa saja yang penting kami sepakat bahwa itu tiang gawang. Satu di kanan satu lagi di kiri, yang kira-kira berjarak 6-10 langkah. Ke atas, tentu saja kami tidak bisa menandainya. Tapi, kami memiliki kesepakatan untuk bola yang ke atas. Sebuah bola yang ditendang melambung akan dikatakan masuk jika kiper tidak berusaha meloncat menangkap bola itu. Kalau kiper sudah berusaha meloncat, kami akan bilang bola itu melambung keluar gawang. Tapi, biasanya ada protes dari pemain lawan, tinggallah kita berargumentasi mengatakan bola itu tinggi, dan pemain lawan pun berargumentasi bola itu rendah. Kalau sudah begitu, semua bergantung kepada kerelaan masing-masing apakah akan menerima bola itu masuk atau menerima bola itu keluar.

Aku selalu menjadi kiper, seperti idolaku Kang Suta. Sebab badannya gemuk, Engkur jadi bek. Penyerang lawan pasti ketakutan jika berhadapan dengannya. Damis? Ah, dia tidak cocok di posisi mana pun. Sebagai penghormatan kepadanya, kami biasanya memasangnya di kiri luar, tapi luar banget alias pemungut bola. Baginya, itulah posisi yang menunjukkan bahwa dia betul-betul mencintai sepak bola: Tidak mendapat peran apa-apa, tapi senantiasa menunjukkan baktinya buat sepak bola.

Kalau bermain sepak bola di sana, maka kami harus bergabung dengan anak-anak dari semua arah kampung kami. Biasalah, tidak mungkin berbagi lapangan, tapi yang mau main banyak sekali. Akhirnya, bisa dibayangkan, karena yang penting main, maka tiap kelompok bisa lebih dari sebelas orang! Seru, seru banget. Apalagi tidak ada wasit. Bola dikatakan out kalau sudah mentok pagar atau tembok. Kalau terjadi handball,  yang lihat harus teriak, “Hen! Hen!” Tidak ada hukuman buat pelanggaran, kami sendiri tidak mengerti pelanggaran itu seperti apa. Jadi, dalam sepak bola kami hanya ada outball, handball, korner, dan dua belas pas. Dua belas pas atau penalti terjadi kalau bek pemain kita handball di dekat tiang gawang. Jaraknya dihitung dengan melangkah pendek-pendek sebanyak dua belas langkah. Biarkanlah kiper berhadap-hadapan dengan penembak dari kesebelasan lawan.

(*)

(Bersambung)

_________________________

Ilustrasi gambar dari SINI

_________________________

INSAN PURNAMA, lahir di Karawang,  27 Juli 1969. Sekarang tinggal di Tambun, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, bersama istri dan tiga orang anak.
Sejak 1996  mengajar di sebuah lembaga bimbingan & konsultasi belajar di Jakarta,  pembuat modul belajar bahasa dan sastra Indonesia, dan sejak tahun 2003 menjadi trainer bagi guru-guru muda.
Dunia tulis-menulis digemarinya selama menjadi mahasiswa. Saat itu cerpen-cerpennya pernah dimuat di Media Indonesia; berbagai artikel masalah sosial politik pernah dimuat di Harian Terbit, Republika, dan tabloid Aksi (sekarang tidak terbit).

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: