Tinggalkan komentar

Hikayat 3 Sahabat #14 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama

___

10

Namanya Tohir. Postur tubuhnya tinggi dan besar. Kulitnya hitam. Kalau bicara, suaranya keras bikin anak orok bangun dari tidurnya. Rumahnya di sekitar lapangan sekolah. Tohir bagi kami menjadi tokoh protagonis dan antagonis sekaligus. Tohir menjadi antagonis sebab ia suka semena-mena terhadap anak yang lain. Anak-anak takut kepadanya. Kalau ada anak yang memegang layang-layang, dan dia mau layang-layang itu maka dia akan memintanya. Jika tidak diberi, dia akan memaksa, atau dia akan merusak layang-layang itu. Saat kami main kelereng, kami berharap Tohir tidak datang ke tempat permainan kami. Bila Tohir datang, maka kelereng yang ditumpuk di tengah lingkaran sebagai pasangan akan diambilnya semua. Tak perduli ada anak yang menangis. Dia akan santai saja, meskipun ada orang tua yang memarahinya.

 Sebenarnya kami tidak mau mengajak Tohir bermain sepak bola sebab badannya selain besar juga bau. Tidak ada anak-anak yang mau berdekatan dengannya. Bau ketiaknya itu tercium dari jarak tiga meteran. Coba bayangkan kalau kita kecapaian mengejar-ngejar bola, terus ditambah harus menghirup baunya Tohir, bisa-bisa pingsan semua anak yang main bola. Kata orang-orang, Tohir mandinya seminggu sekali. Tohir juga tidak pernah mau mengaku kalau dia handball. Tidak ada handball baginya. Dia curang dan sering bermain kasar. Tapi, kami selalu perlu Tohir kalau bermain sepak bola di lapangan sana. Mengapa?

“Ajak aku main, ya!” pintanya. Dia tiba-tiba datang di lapangan. Bola sedang out. Semua mata melihatnya.

“Tohir ikut sebelah mana?” tanya Engkur, suaranya sengau sebab sambil memencet hidungnya. Tohir seperti biasa tak mengacuhkan siapapun dan apapun tindakan mereka kepadanya. Biasa saja. No problem!

“Utara!” kata anak-anak yang gawangnya di sebelah utara.

“Selatan!” teriak anak-anak yang gawangnya di sebelah selatan.

“Utara saja!”

“Selatan saja”

Semua berebut Tohir.

“Begini saja. Tohir saja yang kita suruh milih mau ikut yang mana,” kata Engkur, “nanti dua orang dari sana harus pindah, sebab Tohir kan sebanding dengan tiga orang. Setuju tidak, teman-teman?”

“Setujuuuu!”

“Tohir, kamu ikut yang mana?” tanya Engkur.

“Selatan,” jawabnya tenang. Dia pun berjalan ke arah selatan, lalu berbalik berhadapan dengan anak-anak utara. Serempak anak-anak selatan yang dekat dengannya memencet hidung masing-masing.

“Kalau begitu, Maman dan Ocid pindah ke utara.”

“Setujuuu!” teriak anak-anak serempak. Maman dan Ocid pun lalu berjalan bergabung dengan anak-anak utara.

Kami pun bersiap-siap melanjutkan pertandingan. Bola dilempar ke dalam oleh Juned, diterima oleh Aceng. Aceng membawa bola, dihalangi Maman. Aceng terjatuh, lalu bangun lagi. Tapi, bola sudah ditendang Maman ke depan. Bola jatuh di kaki Tohir. Tohir membawa bola. Tak ada anak yang berani dekat-dekat, tak ada yang menghalangi. Tohir terus membawa bola, beruntung giringan kaki kanannya terlalu kencang sehingga bola agak cepat menggelinding dan tidak bisa dikejar Tohir. Bola menggelinding ke arah Ocid. Langsung saja bola itu ditendang Ocid. Sebab Ocid pun tak mau dekat-dekat dengan Tohir. Takut Tohir terjatuh dan menubruk dirinya. Kalau itu terjadi, alamat semalaman dia bakal gatal-gatal.

Bola melambung tinggi mengarah ke tengah lapangan. Semua mata kami menatap bola itu dengan deg-degan. Dan, apa yang terlintas dalam kekhawatiran kami, benar-benar terjadi. Bola itu terjatuh ke dalam sumur burung itu.

“Yaaah!” teriak anak-anak. Permainan otomatis berhenti.

Kalau bola sudah jatuh ke sana, tak ada anak-anak yang berani mengambil bola itu. Memang sumur itu sudah diurug, tinggal merunduk saja bola sudah bisa dijangkau dan diambil dengan tangan kita. Tapi, siapa yang mau dekat-dekat dengan sumur itu, lalu sambil menungging mengambil bola yang ada di dalamnya? Tak ada yang berani mengambil resiko sebab dekat-dekat dengan sumur itu saja bahaya,  bisa kesambet, apalagi harus memasukkan kepala kita. Bisa-bisa pas bangun dan berdiri lagi, kepala kita sudah tidak ada. Hiiiiy, seram kan?

Memang sumur itu punya mitos. Mitos yang berkaitan dengan alam gaib. Yang umumnya anak-anak seusia kami menganggap dunia itu penuh dengan hantu-hantu yang menyeramkan. Hantu Tuan Brosman. Itu hantu nomor satu di situ. Belum lagi hantu-hantu yang lain. Ada jurig[1] gagu, setan PKI, hantu bau naga, hantu kolor, dan macam-macam lagi. Nama hantu itu disesuaikan saat penampakannya diketahui seseorang, misalnya hantu kolor, dinamakan demikian sebab ketika penampakannya terjadi, orang yang memergokinya melihatnya hanya pakai kolor. Jurig gagu juga demikian saat kepergok orang, hantu itu cuma berkata, “Au, au, au, au!”. Tangannya saja yang bergerak-gerak.

 Lain lagi hantu bau naga. Konon, baunya luar biasa, sangat bau, lebih-lebih dari bau badannya Tohir. Katanya, yang pernah ketemu Mang Boo. Waktu itu, Mang Boo pulang menjenguk saudaranya yang sakit. Rumah saudaranya dekat lapangan itu, saking asyiknya mengobrol tidak sadar kalau jam sudah lewat pukul dua belas malam. Ia pun pulang, sayangnya ia tidak membawa senter. Malam itu sangat gelap, gelap gulita, langit sudah berawan sejak sore. Nah, pas dekat sumur itulah, Mang Boo bertabrakan dengan hantu itu, sampai-sampai Mang Boor terjatuh dan ditindih hantu itu. Cepat-cepat Mang Boo bangun, tetapi hantu sudah lenyap, yang tertinggal baunya saja yang begitu menyengat menempel pada badan Mang Boo. Mencium bau itu, Mang Boo langsung muntah-muntah. Sambil berjalan terseret-seret ketakutan, sepanjang jalan Mang Boo muntah-muntah, sambil teriak, “Ooooek! Oooooeek!” Sejak saat itu, Mang Boo selalu bercerita bahwa di sumur itu ada juga hantu bau naga.

Soal mengapa sumur itu menjadi sumur burung tak ada yang tahu persis. Kalau ada, kurang dipercayai sebab mitos-mitos sekitar sumur itu sudah demikian mengakarnya pada kami. Taya, temanku sekelas, punya versi kisah mengerikan tentang sumur itu. “Sumur itu mirip dengan Sumur Lubang Buaya,” katanya suatu ketika saat kami keluar main setelah belajar matematika.

“Hah? Lubang Buaya? Kata siapa?”kaget kami dibuatnya.

“Kata kakekku. Waktu PKI kalah, banyak orang PKI yang ketakutan. Mereka takut ditangkap atau dibunuh orang-orang. Banyak orang PKI yang kabur dan bersembunyi. Salah satu tetangga kakek adalah anggota PKI. Menurut cerita kakek, saat mau ditangkap, dia kabur, dikejar orang-orang yang mau menangkapnya. Dia berlari sekencang-kencang ke arah lapangan sekolah. Dari arah depan, ada banyak orang yang mengejar sambil membawa obor, tapi jaraknya agak jauh.” Taya berhenti sebentar.

“Terus? Terus?” makin penasaran kami dibuatnya.

“Kalau ada es, ceritanya bisa lancar nih,” kata Taya. Ah, sebuah siasat agar kami mau mentraktirnya membelikan es.

Terpaksa aku mengeluarkan duit. Uangnya aku berikan Damis. Damis bangun, lalu berlari membeli es. Secepatnya dia kembali dengan membawa es limun dalam plastik. Dari jauh aku lihat jalannya agak melambat sebentar, rupanya dia tergoda untuk menghirup es itu juga, sedikit. Tersenyumlah dia ketika sampai di tempat kami kembali.

“Wah, kamu sudah minum duluan ya?” Taya mengambil es itu.

“Iya, sedikit. Sedikit, kok,” jawab Damis santai. Duduk kembali dia dekat Dasom.

“Terus, bagaimana kelanjutannya?” tagihku kepada Taya.

“Sabar, Teman. Aku menikmati air es ini dulu, ya.” Es itu pun disedotnya, nikmat sekali tampaknya. Disedotnya lagi pelan-pelan, matanya terpejam-pejam merasakan air dingin yang mengalir di tenggorokannya. Dasom sampai-sampai menelan ludah melihatnya.

“Sampai di mana tadi? O, ya, sampai berlari ke lapangan sekolah. Melihat di depan bakal ada orang yang menghadangnya dan di belakang orang-orang mengejar, maka orang itu pun nekad turun ke dalam sumur burung itu. Saat itu, sumur tersebut masih dalam, bagus, banyak airnya, tapi jarang dipakai orang sebab airnya asin. Orang-orang yang mengejarnya mencari-cari di sekitar sumur itu. Bahkan, beberapa orang mencoba mengobori ke dalam sumur itu. Disenteri dengan senter yang terang. Tak tampak ada bekas orang masuk ke sana. Hilang. Orang itu hilang. Besok siangnya orang-orang pun mencarinya, menyodok-nyodok dengan bambu panjang, tak ada ditemukan tubuh orang di sana. Sejak itu, penduduk sekitar sini sepakat untuk menimbun sumur itu.” Taya mengakhiri ceritanya, jam keluar main sudah habis. Bergegas kami masuk kembali ke dalam kelas ketika sepotong besi bekas rel kereta api dipukul tiga kali oleh penjaga sekolah. “Teng! Teng! Teng!”

(*)


[1] Jurig=hantu, setan.

(Bersambung)

_________________________

Ilustrasi gambar dari SINI

_________________________

INSAN PURNAMA, lahir di Karawang,  27 Juli 1969. Sekarang tinggal di Tambun, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, bersama istri dan tiga orang anak.
Sejak 1996  mengajar di sebuah lembaga bimbingan & konsultasi belajar di Jakarta,  pembuat modul belajar bahasa dan sastra Indonesia, dan sejak tahun 2003 menjadi trainer bagi guru-guru muda.
Dunia tulis-menulis digemarinya selama menjadi mahasiswa. Saat itu cerpen-cerpennya pernah dimuat di Media Indonesia; berbagai artikel masalah sosial politik pernah dimuat di Harian Terbit, Republika, dan tabloid Aksi (sekarang tidak terbit).

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: