Tinggalkan komentar

Hikayat 3 Sahabat #15 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama

___

11

Saatnya bagi Tohir untuk menjadi tokoh protagonis sudah tiba, bola sudah jatuh ke sumur. Selalu, selalu, dan selalu Tohir-lah yang harus jadi pahlawannya. Sejak dulu, hanya Tohir yang berani mengambil bola di sumur burung itu. Tak pernah ada anak yang lain. Itulah kenapa sebenci apapun kami atas sikap dan tindakan Tohir kepada kami, tetapi kami selalu memerlukan Tohir. Tanpa Tohir, kami tidak akan bisa bermain sepak bola  dengan lepas dan gembira. Kami akan selalu was-was, tidak tenang. Permainan kami menjadi terlalu hati-hati agar bola tidak terjatuh ke dalam sumur.

“Ayo, ambil bolanya, Hir!” teriak Damis di pinggir lapangan. Dia, seperti biasa, tidak ikut bermain. Berbakat menjadi seorang suporter sejati.

“Ayo, Hir, ambil cepat!” teriak anak yang lain.

“Ya, akan aku ambil,” kata Tohir. Tohir melangkah mantap ke arah sumur itu. Tak ada rasa takut sama sekali. Sampai di sumur itu, Tohir membungkukkan badannya, menekan ke tembok yang dibangun mengelilingi pinggiran sumur. Dari kejauhan yang terlihat kaki dan pinggulnya. Tak lama dia sudah bangun, tangannya memegang bola. Lalu, dilemparkannya bola itu.

Saatnya jambul, dua orang pemain dari kelompok beda diminta bersiap-siap, lalu salah seorang dari kami melempar bola ke atas, melampaui kepada kedua pemain itu. Kemudian, pemain itu berebut menyundul bola sebelum bola itu terjatuh ke tanah. Begitulah, Aceng dan Ocid yang diminta jambul, Engkur yang melempar bola. Pertandingan pun berlanjut. Seru. Tapi, kurang dari lima belas menit, bola itu sudah jatuh lagi ke sumur. Tohir tampil lagi sebagai pahlawan.

Bola sudah enam kali terjatuh ke dalam sumur. Dan, tentu saja Tohir sudah enam kali pula mengambil bola itu. Sampai saat itu semuanya baik-baik saja. Kami pun bermain sepak bola dengan seru. Anak-anak utara sudah kalah 2-0, dari anak-anak selatan. Aku dan Engkur  ikut selatan. Seperti biasa aku menjadi kiper. Aku harus jatuh bangun menyelamatkan gawangku. Jumlah pemain utara yang lebih banyak tentu saja membuat kami cukup kerepotan. Tapi, berkah keberadaan Tohir-lah yang membuat kami menang. Setiap kali Tohir membawa bola, anak-anak utara menyingkir, jauh-jauh sambil memencet hidung. Selain baunya, juga badannya yang besar membuat anak-anak ketakutan. Pemain lain hanya berharap bola yang dibawa Tohir terlepas. Untungnya juga Tohir kurang lincah membawa bola sehingga bola di kakinya sering terlepas. Dan, itu kesempatan anak utara merebut bola. Tendangan Tohir pun kurang keras. Mungkin energinya habis buat menahan beban berat tubuhnya sehingga ketika dipakai untuk menendang tinggal seperempatnya.

Kaosku sudah kotor, penuh dengan debu sebab berkali-kali aku harus berguling-guling menangkap bola. Demikian juga badanku, wah, kotor dan bau. Mukaku juga sudah coreng-moreng dengan debu. Wajarlah aku lebih suka beratraksi waktu menangkap bola. Ya, atraksi kiper sengaja aku tunjukkan agar tampak bahwa aku adalah  kiper yang hebat. Misalnya, kalau bola sudah bisa kutangkap, aku akan menjatuhkan diri, berguling sedemikian rupa, sehingga terkesan luar biasa. Aku pun tak takut bertubrukan dengan penyerang lawan. Bola bawah aku juga mampu menangkapnya. Apalagi bola bawah, guling-gulingku menjadi-jadi. Tapi, yang jelas, teman-teman memercayai aku sebagai kiper sebab selama ini aku jarang kebobolan. Kalaupun kebobolan, paling-paling satu gol. Tak lebih.

Engkur selalu jadi kapten. Begitulah dia. Dasarnya memang dia punya karakter yang kuat untuk menjadi pemimpin. Dia selalu mempunyai inisiatif, menunjukkan dirinya mampu, dan berani berdebat. Malahan, berkelahi pun dia tak takut. Dia tidak pernah kalah dalam perkelahian. Anak-anak lain pasti dibuatnya menangis. Maka, tak heranlah selalu dia yang terpilih yang menjadi kapten. Tadi, dia sudah mencetak gol. Giranglah dia. Mainnya kian bersemangat.

Engkur sedang men-drible[1] bola, ketika melihat Tohir seorang diri tak ada yang menjaganya, bola itu ditendang tinggi maksudnya mengumpan Tohir. Tapi, ternyata tenaganya kurang kencang sehingga bola itu tidak melesat jauh, bola justru melengkung ke tengah lapangan dan kembali masuk ke dalam sumur itu.

“Tohir, cepat ambil bolanya!” kata Engkur yang sedang bersemangat. Ia ingin mencetak gol lagi.

“Ya, ya, ya! Aku ambil!” Tohir berlari. Saat itu dia pun sedang bersemangat sebab kami sudah menang dua kosong. Dia berlari, lalu tembok sumur itu dilompatinya dengan lompat harimau, dan kami tidak tahu persisnya apa yang terjadi, tapi kemudian Tohir tidak bangun-bangun, kakinya masih terlihat tertahan tembok, badannya masuk ke dalam sumur.

“Tohiiir!” kami berteriak. Tapi, kami tak berani mendekat.

“Hiiir! Tohiiir!” kami berteriak-teriak memanggil namanya.

Tohir diam tidak bergerak-gerak. Terbayang kejadian buruk menimpa Tohir. Kami panik, berteriak-teriak meminta tolong kepada orang-orang dewasa.

“Toloooong! Toloooong! Tohir dimakan sumur burung!” Ocid berteriak-teriak ke dekat rumah-rumah penduduk.

“Apa? Siapa dimakan sumur?” tanya seorang bapak-bapak yang buru-buru keluar dari rumah. Tak lama kemudian beberapa orang dewasa juga muncul. “Siapa? Siapa dimakan sumur?” begitu tanya mereka.

“Tohir. Tohir dimakan sumur,” kata Ocid sambil menunjuk ke arah sumur. Dari tempat Ocid dan beberapa orang itu berdiri memang yang terlihat hanya kaki Tohir, badannya tidak tampak.  Cepat-cepat orang-orang itu ke arah sumur. Kami, anak-anak, tetap melihatnya dari jauh. Kejadian itu membuat kami semakin takut.

Tak lama orang-orang itu sudah berhasil mengangkat Tohir dari dalam sumur. Lalu, membawanya dan meletakkannya di atas rumput. Kami pun mengerubunginya sambil memencet hidung. “Jangan dekat-dekat, biarkan dia dapat hawa segar.” Salah seorang berkata. Huh, siapa lagi mau dekat-dekat dengan Tohir, begitu pikir kami.

“Tohir pingsan,” kata seorang bapak-bapak, “tolong, ambilkan air!”

Engkur buru-buru berlari, mendatangi rumah salah satu penduduk di situ. Dan, tak lama dengan susah payah, ia sudah membawa seember air. “Pak, airnya nih!”

“Wah, maksud saya, air minum! Cukup segelas, bukan seember.” Bapak itu kaget saat melihat Engkur membawa seember air. “Sanaambil air minum. Cepat, ya.”

Engkur tidak menjawab. Tapi, ia langsung balik lagi ke rumah tadi. Sekarang dia sudah balik lagi membawa segelas air putih, dan juga membawa minyak angin yang gambar seekor burung hitam melihat ke samping. Minyak angin paling top di tempatku.

Tohir belum siuman meskipun sudah dikipas-kipas dan dipijit-pijit kepalanya. Bapak tadi membuka tutup minyak angin. Baunya yang khas secepatnya tercium. Menyengat sekali. Mengalahkan bau badannya Tohir. Didekatkannya minyak angin itu ke dekat hidung Tohir. Dibiarkannya hawa minyak angin itu terhirup Tohir.

“Hir, Tohir, sadarlah,” dipanggil-panggil nama Tohir. Didekatnya lagi minyak angin itu, sekarang malah ujung botolnya menyentuh lubang hidung Tohir. “Sadar, Hir. Sadar.”

Kami lihat kelompak matanya bergerak lemah. Bergerak lagi, sudah agak kuat. Lalu, matanya terbuka.

“Alhamdulillah,” kami serempak mengucapkan pujian itu.

Tohir sadar.

“Emang top minyak angin itu,” kata Damis, “setan saja bisa diusirnya.” Agak berbisik di telingaku.

Tohir sudah duduk. Syukurlah minyak angin itu baunya sangat menyengat sehingga kami bisa agak dekat dengan Tohir.

“Tadi, kenapa, Hir?” tanya bapak yang tadi setelah Tohir tampak sudah sadar betul.

Nyusruk[2], Pak.”

“Iya, nyusruk. Tapi, kenapa bisa nyusruk? Pakai pingsan lagi.”

“Ditarik setan, ya, Hir?” tanya Engkur.

“Ditabok Tuan Brossman?” tanya Damis.

Tohir diam saja. Dia seperti sedang mengingat-ngingat kejadian itu. Tiba-tiba dia tersenyum-senyum. Membuat kami penasaran.

“Kenapa, Hir? Mau dinikahkan sama anaknya Tuan Brossman, ya?” kata Ocid.  Sembarangan saja bicaranya.

Tohir malah tersenyum lagi.

“Wah, jangan bikin kita penasaran dong!”

“Tadi waktu mau mengambil bola, aku kan berlari, eh, aku tersandung batu. Sebab tersandung, waktu aku melompat jadi kurang tinggi. Terus…” Tohir tersenyuum lagi.

“Terus? Kenapa?” kami serempak bertanya.

“Ya, itu dia…aku jatuh dan kantung menyan[3]-ku menabrak dinding batu sumur itu..tiba-tiba saja gelap sekelilingku, aku pingsan ya, he-he-he.”

“Oooooh, pantesan.” Kami serempak paham, sebab kami LAKI-LAKI.

(*)


[1] Drible=menggiring

[2] Nyusruk= jatuh dengan kepala atau wajah duluan mengenai tanah

[3] Kantung menyan, kiasan untuk memperhalus kata  buah pelir.

(Bersambung)

_________________________

Ilustrasi gambar dari SINI

_________________________

INSAN PURNAMA, lahir di Karawang,  27 Juli 1969. Sekarang tinggal di Tambun, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, bersama istri dan tiga orang anak.
Sejak 1996  mengajar di sebuah lembaga bimbingan & konsultasi belajar di Jakarta,  pembuat modul belajar bahasa dan sastra Indonesia, dan sejak tahun 2003 menjadi trainer bagi guru-guru muda.
Dunia tulis-menulis digemarinya selama menjadi mahasiswa. Saat itu cerpen-cerpennya pernah dimuat di Media Indonesia; berbagai artikel masalah sosial politik pernah dimuat di Harian Terbit, Republika, dan tabloid Aksi (sekarang tidak terbit).

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: