Tinggalkan komentar

Dhana (Bagian Dua) #12 Tamat – Cerbung Dhityo


DHANA (BAGIAN DUA)

Oleh:  Dhityo

___

Di sudut lorong, antara pantry dan lift menuju atas. Dua lelaki itu sempat beradu mulut. Mereka saling berargumentasi sebagai pemilik hati satu-satunya, wanita saleha itu. Laki-laki yang lebih tua usianya mengklaim dirinya sah dimata Tuhan, dimata keluarga, dan dimata masyarakat. “Aku sah mendapatkannya. Lantas kau? Apa yang bisa membuktikan bahwa dia milikmu?” tantangnya kepada laki-laki muda dihadapannya. “Tunjukkan kepadaku jika wanita itu memang mencintamu.” tambahnya sambil berkacak pinggang menantang.

Si anak muda tampak hanya tersenyum melihat luapan amarah laki-laki tua itu. Jawaban-jawabannya tidak menggelegar sepertinya. Dia hanya mengatakan, “Tataplah matanya, dan saksikan perilakunya padamu beberapa hari kau bersamanya. Tidakkah kau merasakan bahwa dia mengacuhkanmu?” Bagi laki-laki muda ini, cinta mereka abadi, tidak terhalangi oleh apa pun.

“Kau boleh memiliki dia secara sah namun tidak pernah akan kau peroleh hatinya yang selembut salju. Hatinya sudah tertambat padaku. Jauh sebelum kau mengenalnya.”

“Meskipun keadaanku begini. Aku selalu ada untuknya. Aku terus mendampinginya setiap waktu. Mimpi-mimpinya adalah impian kami. Kau belum pernah merasakan betapa indahnya saling mencinta, saling menyayangi. Impian dia, lamunan dia, keinginannya, hanya tentang aku. Tidak kau rasakan itu, hah?”

Anak muda ini mulai sedikit meluap emosinya. Orang tua ini, dia menganggap laki-laki di depannya, hanya merasa paling berhak memperoleh gadis berjilbab itu karena orang tuanya menerima, dan penghulu mensahkan sebagai wakil masyarakat. Mereka hanya terus saling membantah, menjawab, dan tidak mau kalah. Namun mereka masih sebagai dua pribadi yang terhormat karena tidak mengandalkan otot dan fisik untuk mempertahankan kehendaknya atas wanita saleha itu.

“Aku yakin, hanya dia yang bisa menguatkan aku, menyembuhkan sakitku. Bukan wanita yang lain. Jadi, biarkan aku bersamanya. Meniti hariku bersamanya. Kami juga akan pergi jauh bersama, menjalani kehidupan resmi kami bersama. Mengapa kau masih menginginkannya? Sementara kau sendiri tidak berani menemuinya, melamarnya, dan mengajaknya pergi, seperti impian kalian. Kau hanya berani bersembunyi kemudian mengintip, serta membayang-bayangi dirinya. Laki-laki macam apa kau itu?” pak tua ini kian menantang sang pemuda yang yakin cintanya sama besarnya dengan sang pujaan hatinya.

“Sekarang begini saja, pak tua. Kita berbagi peran untuk dia. Biarkan aku yang menjalankan kewajibanmu. Berikan aku kesempatan beberapa jam untuk bersamanya, menggelorakan asmara kami yang tertunda. Toh, kau pun tidak bisa berbuat apa-apa sekarang ini. Kau lemah, kau sudah mengakui dihadapannya kemarin. Nanti setelah aku bercinta dengannya, kau boleh membawanya pergi. Pergi kemana kau suka? Ke Amerika, kan, kau akan membawanya? Bagaimana?”

Pak tua berpikir keras. Hatinya nelangsa, perih, diremehkan oleh laki-laki muda ini. Di sisi lain, dia juga mengakui dirinya bukan laki-laki sejati. Sampai kapan pun dia tidak akan sanggup menyentuh wanita yang sudah dinikahinya beberapa hari ini. Bahtera yang akan diarunginya bersama, hanya perahu yang kosong. Ada nakodanya, ada asisten yang mendampingi namun tidak ada ABK yang meramaikan perahunya berlayar. “Apakah aku harus bertahan di samudera kehidupan penuh kepura-puraan begini?” ia menghela nafasnya perlahan, memandangi si pemuda yang menanti jawabannya.

“Baiklah jika begitu. Kuserahkan dia padamu, hanya beberapa jam saja. Kembalilah kau setelah waktuku harus pergi tiba. Jalani waktu bersama kalian, dan aku akan di sini menunggumu. Tepatilah janjimu. Jadilah kau laki-laki yang bertanggung jawab. Jika kau setuju, kita mulai sekarang saja.”

Laki-laki muda itu berjanji menepati, seperti keinginan laki-laki tua itu. Dia juga meyakinkan bahwa sebelum kepergiannya, dia akan kembali dan mempersilakan membawa pujaan hatinya. “Om, aku juga menyadari keadaanku. Aku sadar aku di mana dan kekasihku di mana? Jadi, om tidak perlu khawatirkan aku tidak kembali.”  Entah mengapa deal antara mereka justru membuat mereka akrab. Dua laki-laki yang memiliki dua kepentingan berbeda.

“Om, jika suatu hari dikesempatan nanti terjadi sesuatu padanya. Dia memberimu keturunan, tolong jaga ‘ABK-ABK itu’ untukku. Sayangi mereka sepenuhnya, ya.” Mereka lantas berjabat tangan dan berpelukan.

“Om, nanti saat masuk kamar bawakan dua gelas orange juice. Dia menyukainya. Persisnya dia suka lime squash. Selera kami sama. Tapi karena hotel tempat kalian bermalam tidak ada, berikan jus itu saja.” Pak tua itu menganggukkan kepalanya dan memberikan dua jempolnya. “Kita akan bertukar tempat setelah aku menatapnya.”

“Ohya, om. Satu lagi. Bolehkah aku memberitahukan padanya jika aku yang bersamanya malam hingga pagi nanti?” tanya si pemuda hati-hati takut pak tua ini tersinggung.

“Hmmm, nggak masalah. Kalau pun dia nanti berbadan dua, orang-orang mengira aku yang hebat. Aku kan suaminya, hahahaha…,” pak tua itu tertawa merasa menang. “Ah tidak, bukan itu maksudku. Kau justru pahlawanku, yang menyelamatkan mukaku dihadapannya. Jangan khawatir…,” tawanya mereda tidak mau terlihat pongah di depan anak muda ini.

“Ohya, tapi bagaimana mungkin dia mau meladenimu nanti? Dia sudah tahu persis aku tidak mampu melaksanakan kewajibanku,” pak tua yang hendak pergi menanyakan hal itu kepada si pemuda.

“Hahaha, tidak usah khawatir, om… Aku yang akan membereskannya. Kuhilangkan kesadarannya separo saja. Dia akan tetap bisa melihat, merasakan namun tidak bisa berbuat apa-apa. Dia akan pasrah padaku. Percayalah…”

“Baiklah. Sekarang kita mulai saja anak muda. Silakan kau bersenang-senang dengannya. Ingat janji dan pesanku,” pak tua menyalami si pemuda kedua kali dan berlalu mencari dua gelas jus.

*****

Nila terbangun keesokan harinya. Lampu kamar yang menyala temaram, masih menyisakan cahayanya. Disela-sela gordin jendela kamar, ada kilatan cahaya dari luar. Matanya melihat jam dinding yang tergantung di tembok barat, bersebelahan tulisan kiblat. Hampir jam 10 pagi. Selimut yang menutupi tubuhnya masih ada. Suaminya, Baskoro, masih mendengkur tidur di sampingnya. Disibaknya perlahan selimut yang menutupinya. Nila kaget tubuhnya tidak memakai baju tidurnya. Buru-buru ditutupkan kembali, dan dia mulai menangis. Dipandangi wajah Baskoro suaminya.

“Mas, apa yang kau lakukan padaku? Kenapa kau tega?” isaknya masih terdengar. Nila terus bersembunyi dalam selimutnya. Dia mulai kedinginan karena kamarnya berpendingin 19 derajat. Dia pun tidak berbaju.

Kekuatannya yang tersisa, kesadarannya yang coba dibangunkan, membuat Nila mengingat kejadian apa semalaman. Satu per satu diingatnya, dengan segala kekuatan yang masih memungkinkan. Tangannya meraba-raba mencari baju tidurnya yang entah tergeletak dimana saat itu. Suaminya masih mendengkur, menikmati nyenyak tidur semalam. Tiba-tiba Nila mengingat sesuatu.Sebuah tatapan. Perintah menyaksikan sesuatu di cermin. Nila mengingat yang satu ini. Kepalanya mendadak pening, terlalu berusaha mengingat-ingat kejadian semalam. Nila menangis lagi. Isaknya tetap tidak membangunkan Baskoro suaminya.

Nila mendapatkan bajunya terjatuh di bawah ranjang, di samping meja lampu duduk yang lampunya juga masih menyala. Matanya tertuju pada meja. Nila melihat bross peniti. Bukan bross yang dibawanya sekarang. Itu bross kenangannya. Di bawahnya ada selembar kertas, penuh coretan-coretan dan gambar. Diambilnya, dilihatnya, dan dibacanya. Nila kemudian menangis. Menangis karena keharuan yang kini hinggap dihatinya. Dia melupakan dirinya belum berbaju.

Dear , dicoret-coret berganti tulisan Diajeng Nila. Adinatri Shainila….

Gambar sebuah gantungan kunci berbentuk pemotong kuku bergravir namanya.

Gambar album foto bertuliskan Dear Nila, …. di depannya.

Gambar kaver buku, dan tertulis di situ Selalu di Hati.

 

T.A.M.A.T ……… T.H.E…E.N.D …….. S.E.L.E.S.A.I

(Bersambung)

__________________________

Ilustrasi gambar dari SINI


About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: