Tinggalkan komentar

Hikayat 3 Sahabat #17 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama

___

13

Anak-anak kulon sedang berkumpul di halaman depan rumah Mang Ajum. Halaman depan rumah Mang Ajum cukup luas, tidak berpagar, dan  ada tiga pohon jambu yang tumbuh di sana. Pohon-pohon jambu sedang berbunga. Beberapa bunga sudah berubah menjadi buah. Tapi, tentu saja masih kecil-kecil perlu waktu sebulan lagi baru besar dan matang. Anak-anak itu ada mungkin sekitar lima belas orang. Mereka ada yang duduk-duduk di teras rumah itu, ada yang duduk-duduk di halaman itu dengan sandal jepit jadi alasnya, ada juga yang berdiri dan mencoba-coba menembak-nembakkan tembak-tembakannya. Kalau ada angin yang cukup kuat berhembus, berjatuh-jatuhanlah bagian kepala bunga jambu yang ukurannya kecil dan berwarna putih itu. Kadang langsung berjatuhan ke tanah. Kadang berjatuhan ke atas kepala anak-anak itu sehingga mirip dengan uban pada kepala. Kalau kebetulan jatuh ke atas kepala kita, biasanya kita langsung membersihkannya dengan mengibas-ngibaskan tangan pada bagian kepala yang terkena. Tapi, itu tidak berlaku bagi Kayon. Ia justru membiarkan kepalanya dipenuhi putih-putih kepala bunga jambu itu. Jadilah, ia tampak seperti kakek-kakek tua yang kepalanya dipenuhi uban. Ia tidak perduli teman-teman yang lain meledeknya, ia justru makin senang saja diolok-olok teman-temannya.

“Tinggal nyisig[1]…pasti jadi kakek-kakek beneran,” ejek satu temannya.

Nyisig? Boleh juga, siapa yang punya?” kata Kayon.

“Di sini mah tidak ada yang punya. Di sini ‘kan tidak ada aki-aki[2] atau nini-nini[3].” Terdengar seseorang menjawab, sesaat aku dan Engkur sampai di sana.

“Kenapa rambutmu dibiarkan banyak putih-putih bunga jambu?” tanyaku. Setelah bertanya begitu aku langsung duduk di teras rumah Mang Ajum. Dengan anak-anak kulon kami banyak kenal, beberapa di antaranya teman sekelasku di SD dan teman mengaji di rumah Kang Utang. Kayon, misalnya, teman sekelasku di SD, tapi dia bukan temanku mengaji.

“Biar keren.” Kayon menjawab enteng. “Mau ikutan perang-perangan?”

“Iya dong, aku sudah punya peluru banyak sekali. Nih lihat di ranselku.” Engkur menurunkan ranselnya, lalu membukanya. Beberapa anak melihat isi ransel itu.

“Wah…banyak banget tuh.” Komentar satu orang.

“Berat tidak bawanya?” Satu orang bertanya.

“Berat sih berat. Daripada kehabisan peluru kan lebih baik punya banyak peluru. Yah, anggap saja ringan,” jawab Engkur. Diusapnya keringat yang bercucuran di dahinya. Aku perhatikan dia sebenarnya sudah kecapaian membawa ransel yang penuh dengan bunga jambu.

“Kapan perang-perangannya?” Aku bertanya tapi entah kutujukan kepada siapa pun. Suaraku agak keras.

“Sebentar lagi!” jawab beberapa orang hampir serentak.

“Sebentar lagi?” tanya Engkur, “Memang kenapa?”

“Tunggu Aceng, dia lagi beli karet pentil dulu. Sebentar lagi juga balik.”

Tak lama Aceng datang. Dan, surprise sebab ia datang bareng Damis.

“In, kenapa aku ditinggal?” tanyanya langsung waktu melihatku.

Aku tidak menjawab sebab keburu dijawab Engkur, “Aku pikir kamu tidak mau main perang-perangan.”

“Kita tidak jadi perang-perangan,” kata Aceng.

“Mengapa?” tanya kami serempak.

“Kata orang-orang di jalan ada anak yang matanya terkena peluru waktu perang-perangan. Anak itu tadi dibawa ke Mantri Ayung… Aku juga lihat di tempat praktik Mantri Ayung banyak orang,” jelas Aceng.

“Terus, kenapa?” tanya Engkur.

“Nah, sebab perang-perangan pakai bunga jambu berbahaya kalau kena mata bisa buta, Pak Wakil melarang anak-anak sini perang-perangan. Aku tadi dicegat Pak Wakil. Karet pentil dan tembak-tembakanku diambil oleh Pak Wakil,” jelas Aceng.

“Iya, tadi aku lihat Pak Wakil mencegati anak-anak yang bawa tembak-tembakan dan menyita semua tembak-tembakan dan peluru-peluru bunga jambu,” tambah Damis.

“Jadi, kita bagaimana nih? Jadi tidak main perang-perangannya?”

“Ya, tidak jadilah daripada kita nanti dimarahi Pak Wakil,” kata seorang anak kulon, entah siapa aku lupa namanya.

“Ayo, bubar! Bubar!” teriak Engkur kecewa sebab kesempatannya main perang-perangan  dengan anak kulon hilang. Lebih kesal lagi, ia harus membuang bunga jambu sebanyak setengah ransel yang susah-susah dikumpulkannya.

Kami pun bubar. Aku, Damis, dan Engkur berjalan beriringan, sedangkan yang lain bubar menuju rumah masing-masing.

“Buang di mana, ya, peluruku ini?” tanya Engkur  saat kami sudah meninggalkan rumahnya Mang Ajum.

“Sudah bawa saja ke rumahmu,” kata Damis.

“Berat tahu bawanya,” sergah Engkur.

“Terus mau dibuang sembarangan begitu?”

“Tidak juga, tapi aku akan sangat bahagia jika Damis, temanku yang paling baik hati ini, mau membawakan ranselku sampai rumahku,” katanya sambil tersenyum.

“Tak sudi!” teriak Damis, sambil terus berlari.

Melihat Damis berlari, aku dan Engkur pun tertawa, tak tahan melihat caranya berlari, seperti anak perempuan pakai selop. Dan, tiba-tiba, “Gubraaaak!” Ia terjatuh, cepat-cepat ia bangun, tapi ia hanya bisa duduk dan terlihat ia meringgis menahan sakit. Segera aku dan Engkur berlari membantunya.

“Hek-hek-hek-hek…hek-hek-hek…” Damis menangis sepanjang jalan, aku dan Engkur hanya bisa tersenyum-senyum kecil.

(*)


[1] Nyisig=membersihkan gigi dan sebagainya dengan tembakau saat makan sirih.

[2] Aki-aki=kakek-kakek

[3] Nini-nini=nenek-nenek

(Bersambung)

_________________________

Ilustrasi gambar dari SINI

_________________________

INSAN PURNAMA, lahir di Karawang,  27 Juli 1969. Sekarang tinggal di Tambun, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, bersama istri dan tiga orang anak.
Sejak 1996  mengajar di sebuah lembaga bimbingan & konsultasi belajar di Jakarta,  pembuat modul belajar bahasa dan sastra Indonesia, dan sejak tahun 2003 menjadi trainer bagi guru-guru muda.
Dunia tulis-menulis digemarinya selama menjadi mahasiswa. Saat itu cerpen-cerpennya pernah dimuat di Media Indonesia; berbagai artikel masalah sosial politik pernah dimuat di Harian Terbit, Republika, dan tabloid Aksi (sekarang tidak terbit).

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: