Tinggalkan komentar

Hikayat 3 Sahabat #18 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama

___

14

Musim perang-perangan dengan bunga jambu pun tiba-tiba usai sudah ketika Pak Wakil dengan beberapa stafnya menempel kertas pengumuman di setiap tiang listrik dan pos ronda. Pengumunan itu berbunyi, “ DILARANG MAIN PERANG-PERANGAN PAKAI PELURU DARI BUNGA JAMBU SEBAB BERBAHAYA BISA MEMBUTAKAN MATA. BARANGSIAPA TIDAK MENGHIRAUKAN PENGUMUMAN INI AKAN DIKENAKAN SANKSI!”. Rupanya Pak Wakil serius dengan pengumumannya sebab Pak Wakil setiap hari rajin merazia anak-anak yang masih main perang-perangan. Tak segan-segan, Pak Wakil menyita tembak-tembakan, bahkan memanggil orang tua anak itu. Hukuman yang diterima anak itu adalah membersihkan selokan sepanjang 10 meter dan orang tuanya harus mengawasi anak itu selama membersihkan selokan. Sebab itu, kami pun tak mau lagi main perang-perangan.  [Tapi, perlu dicatat, ternyata setiap musim jambu datang, kami pun tetap saja sembunyi-sembunyi bermain perang-perangan.]

Tak apalah kami tidak bermain perang-perangan lagi. Sebab, perhatian kami sekarang tertuju pada keringnya irigasi. Irigasi itu, teman, urat nadi kehidupan penduduk di sini. Saluran irigasi yang mengaliri kampung kami adalah saluran primer langsung dari Waduk Jatiluhur di Purwakarta sana. Lebar dan dalam! Panjang? Tentu saja panjang, dari Waduk Jatiluhur sampai Tanjung Pakis sana entah berapa ratus kilometer.

Kalau ada julukan Kabupaten Karawang sebagai “Lumbung Padi Jawa Barat” maka kami menjuluki kota kami dengan sebutan “Lumbung Padi Kabupaten Karawang!” Berlebihan, ya? Begitulah cara kami membanggakan kota kami itu.

Di sini panen bisa tiga kali dalam setahun. Air yang melimpahlah yang membuat kami bisa begitu. Tak ada kekeringan di sini selama Waduk Jatiluhur tegak berdiri. Dalam setahun, irigasi akan dikeringkan selama  dua bulan. Saat itu, petani tidak lagi menggarap sawah, sengaja untuk menjaga kesuburan tanah, tidak baik ditatami terus-menerus.

Saat dikeringkan, bukan berarti air irigasi itu sama sekali tidak ada, melainkan airnya menyusut cuma tinggal sepinggang orang dewasa di tengah-tengah irigasi.

“In!” teriak Damis memanggilku dari tengah irigasi. Rupanya ia sudah duluan datang ke irigasi. Yang terlihat hanya kepalanya saja. Seluruh badanya terendam air. Begitulah posisi orang yang sedang mencari kijing[1].

“Yaaa!” aku balas teriak. “Engkur mana?”

“Dia di sebelah sana!” Damis menunjuk ke arah hilir.

“Engkur! Engkur!” panggilku. Aku lihat Engkur baru saja muncul di permukaan air setelah beberapa saat ini menyelam.

“Ayo, mandi!’ teriaknya.

Tanpa membuka pakaianku aku langsung aku lompat nyebur ke irigasi. Aku tak biasa mandi telanjang di irigasi.

“Buaaaaaar!” begitu suara air terkena tubuhku.

Wajah Damis terpercik air dan segera diusapnya air itu dengan tangannya.

“Aku sudah dapat setengah ember,” katanya ketika aku sudah muncul ke permukaan. Aku lihat ember di dekatnya yang terapung agak miring, setengah badan ember itu tenggelam.

“Sayang aku tidak suka kijing. Jadi, aku bantu kamu saja ya,” kataku. Kakiku menyelesuri dasar irigasi, jari-jariku mencengkeram-cengkram lumpur di dasar irigasi. Aku mencoba merasa-rasakan adanya kijing yang tercengkeram kakiku. Tak lama kemudian aku merasakan jariku mengenai benda keras, ibu jari dan telunjukku mencoba merasakan dan menerka bentuknya. Aha! Aku dapat satu Kijing. Kijing itu aku cengkeram pakai ibu jari dan telunjuk kakiku. Aku angkat, kemudian aku ambil dengan tanganku saat masih di dalam air. Kemudian, kijing itu aku lempar ke dalam embernya Damis.

Aku bergerak sambil merendam badanku di irigasi. Aku mendekati Engkur. “Kamu cari kijing?”

“Tidak.”

“Jadi?”

“Aku cuma mandi. Menikmati air irigasi sebelom air ini menjadi keruh banget.” Jelas Engkur.

“Sudah berapa lama kamu mandi?”

“Sejak pulang sekolah tadi.”

“Pantesan. Kulitmu sudah keriput kedinginan. Hampir dua jam kamu mandi rupanya.”

“Bantu Damis yuk,” ajakku.

“Sudah tadi. Sekarang aku cuma mau mandi sepuasnya.”

“Ya, sudah kalau begitu. Tapi, lihat siapa yang datang?” Jariku menunjuk sesosok tubuh anak yang tinggi besar, yang tiba-tiba muncul dan siap-siap nyebur.

“Hah!? Tohir!” teriak Engkur.

Ketika melihat Tohir berkelebat untuk meloncat ke irigasi, kami pun segera bangkit keluar dari irigasi. Berbarengan Tohir jatuh ke dalam air, kami pun berhasil naik dari air.

“Buuuuaaaaaaaaaar!” Tampaknya berat sekali tubuh Tohir. Air yang terpercik kemana-mana jauhnya.

“Alhamdulillah, kita selamat,” begitu kata Engkur setelah kami berhasil keluar dari irigasi. Tidak seperti aku, Engkur hanya memakai celana. “Kalau tidak, kita bagaikan mandi dengan air comberan!”

“Ha-ha-ha-ha” kami pun tertawa. Mandi bareng Tohir atau dekat Tohir  dijamin tidak akan bersih, malah makin kotor dan bau. Maklumlah Tohir terkenaL sebagai anak yang jarang sekali mandi.

Kepala Tohir muncul ke atas permukaan, badannya tetatp terendam air. “Hai, teman-teman, kalian sudah mandinya?”

“Sudah Tohir!” jawab kami serempak. Beberapa meter ke arah hulu kami pun melihat Damis bergegas naik dari irigasi. Tapi, dia segera turun lagi ke irigasi.

“Kenapa?” tanyaku pada Damis.

“Pakaianku hilang,” jawabnya cemas. Muka Damis pucat.

“Apa yang hilang?”

“Celana dan bajuku. Aku tidak bisa pulang nih,”

“Emang kamu taruh di mana?’’

“Di situ.” Tunjuk Damis ke arah rerumputan di pinggir irigasi.

Kami berjalan ke arah yang ditunjuk Damis. Melihat-lihat ke sekitar tempat itu, dan memang tidak kami temukan pakaian Damis.

“Hoi! Kalian cari apa?” tanya Tohir dari dalam irigasi.

“Pakaian Damis. Apakah kamu melihatnya, Tohir?”

“Aku tidak melihatnya. Tapi,…”

“Tapi apa?” perasaan kami mulai tidak enak.

“Tapi, … lihat aku memakainya. Ha-ha-ha-ha…” jawabnya  sambil melompat-lompak menunjukkan badannya yang memakai baju Damis. Tohir pun tertawa. Tawa yang sangat menjengkelkan, sekaligus membuat Damis menangis saat itu juga.

(*)


[1] Kijing=kerang  hijau


(Bersambung)

_________________________

Ilustrasi gambar dari SINI

_________________________

INSAN PURNAMA, lahir di Karawang,  27 Juli 1969. Sekarang tinggal di Tambun, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, bersama istri dan tiga orang anak.
Sejak 1996  mengajar di sebuah lembaga bimbingan & konsultasi belajar di Jakarta,  pembuat modul belajar bahasa dan sastra Indonesia, dan sejak tahun 2003 menjadi trainer bagi guru-guru muda.
Dunia tulis-menulis digemarinya selama menjadi mahasiswa. Saat itu cerpen-cerpennya pernah dimuat di Media Indonesia; berbagai artikel masalah sosial politik pernah dimuat di Harian Terbit, Republika, dan tabloid Aksi (sekarang tidak terbit).

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: