Tinggalkan komentar

Hikayat 3 Sahabat #19 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama

___

15

Selain kijing, berkah lain dari surutnya air irigasi adalah tanah liat. Tanah liat menjadi sangat berlimpah. Kalau kijing dinikmati dengan dimakan, maka tanah liat dinikmati dengan menciptakan berbagai bentuk mainan. Masternya berkreasi dengan tanah liat adalah Agus, anak Pak Wakil.

Satu sore aku, Damis, dan Engkur kembali ke irigasi. Sejak kejadian pakaian Damis dipakai oleh Tohir, kami sudah jarang mencari kijing. Kali ini kami ingin mengambil tanah liat dari irigasi. Surutnya air irigasi menyebabkan tepi irigasi makin ke tengah. Akibatnya, di tepian yang tadinya terendam air itulah kami mengambil tanah liat. Tiap-tiap kami mengambil tanah liat sebesar kepala anak bayi.

Kami berniat untuk pergi ke rumah Pak Wakil. Sore-sore seperti ini rumah Pak Wakil  biasanya dipenuhi anak-anak sepantaran kami. Mereka duduk-duduk di setiap sisi rumah Pak Wakil. Mereka asyik membentuk tanah liat menjadi bermacam-macam benda: orang, mobil, motor, binatang, atau apa saja yang mereka sukai. Tapi, sentral dari semua anak-anak itu adalah Agus. Agus menjadi tempat meminta bantuan anak-anak. Anak-anak minta diajari bagaimana membuat berbagai benda itu.

Betul saja ketika kami tiba di rumah Pak Wakil, sudah banyak anak-anak di sana. Mereka teman-teman kami juga. Hitunganku sekurangnya ada lima belas anak di sana.

Aku mengambil tempat di teras rumah Pak Wakil. Engkur duduk di samping Ocid. Damis dekat Maman.

Tapi, aku tidak melihat Agus.

“Agus ke mana?” tanyaku pada Taya yang datang menghampiriku.

“Entahlah,” jawabnya. Dia duduk dekatku. “Bagi aku sedikit tanahmu ya.”

“Ambil saja. Tanahku banyak, dan mungkin kebanyakan.”

Aku tak yakin dengan apa yang akan aku buat. Beberapa kali tanah yang sudah setengah terbentuk aku pencet lagi sehingga tak terbentuk lagi. Apa yang harus kubuat ya?

Taya sudah hampir selesai membuat mobil-mobilan.

“In, lihat! Aku buat motor-motoran.” Engkur langsung duduk di depanku.

“Hebat!” pujiku, “bagus tuh. Damis bikin apa?”

“Damis bikin kue-kuean! Kue gemblong!” kata Engkur agak keras.

Damis yang merasa sedang dibicarakan langsung bereaksi, “Hoi! Ada apa?”

“Kata Engkur, kamu bikin kue gemblong ya?” tanyaku.

“Iya. Aku bikin gemblong. Lihat nih bagus deh.” Sambil duduk, Damis mengangkat karyanya, berupaya menunjukkannya kepada kami.

Aku tersenyum kepadanya. Sebagai teman, aku tetap harus mendukungnya. Aku pikir siapa pun pasti bisa membikin gemblong, sebab gemblong tak berbentuk jelas, hanya elips seperti kepalan tangan anak-anak.

Agus pulang. Rupanya, ia tadi masih sekolah. Ia tidak menghiraukan kamu. Ia langsung masuk ke dalam rumahnya. Seperempat jam kemudian, ia baru keluar lagi. Kami tahu, dia tadi makan dulu.

Beberapa anak memanggilnya. Agus menemui beberapa anak. Lalu, terdengar ia memberi petunjuk, dan juga terlihat beberapa kali ia memperbaiki kerjaan anak-anak. Sentuhan tangannya luar biasa. Hanya sekejap tanah liat itu ia bentuk menjadi berbagai benda yang mirip sekali dengan asli. Cuma warnanya saja yang beda.

Aku masih berpikir mau membuat apa ketika tiba-tiba tanpa aku sadari Agus sudah berdiri di dekatku.

“Apa yang mau kamu bikin?” tanyanya mengejutkanku.

Agak kaget, aku melihatnya.

“Entahlah,” jawabku.

“Mana tanah liatmu?”

“Ini semua tanah liatku.”

“Coba bagi aku, aku mau membikin sesuatu buat kamu.”

Aku sodorkan tanah liatku yang masih sebesar kepalan tangan.

Agus mengambil tanah liat itu. Dengan kedua tangannya, tanah liat itu dia remas-remas. Kemudian dia berusaha membentuk sesuatu. Beberapa saat tanah liat sudah agak terbentuk.

“Apakah itu tv?”

“Bukan, tapi mirip tv.”

Agus menambahi dan memperbaiki bentuk yang mirip tv itu. Kemudian, dia mengambil segumpal tanah liat lagi. Dibentuknya lagi.

“Ini mesin tiknya,” katanya. Saat aku terbengong-bengong melihat hasil kerjaannya.

Lalu, dia menggeleng-geleng tanah liat sehingga mirip bentuknya dengan cacing. Lalu, tanah yang berbentuk cacing itu dipakainya seolah-olah kabel yang menyambungkan benda yang mirip tv itu dengan yang disebutnya mesin tik.

Dengan wajah tersenyum gembira, dia berkata, “Ini adalah mesin tik-tv!!!”

Saat itu aku tak paham apa-apa, yang aku tahu benda yang mirip tv itu memang seratus persen mirip tv, dan mesin tik itu sangat bagus. Ternyata dengan imajinasinya Agus sebenarnya sedang membayangkan bentuk KOMPUTER! Benda yang saat itu belum pernah kami lihat.

(*)

(Bersambung)

_________________________

Ilustrasi gambar dari SINI

_________________________

INSAN PURNAMA, lahir di Karawang,  27 Juli 1969. Sekarang tinggal di Tambun, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, bersama istri dan tiga orang anak.
Sejak 1996  mengajar di sebuah lembaga bimbingan & konsultasi belajar di Jakarta,  pembuat modul belajar bahasa dan sastra Indonesia, dan sejak tahun 2003 menjadi trainer bagi guru-guru muda.
Dunia tulis-menulis digemarinya selama menjadi mahasiswa. Saat itu cerpen-cerpennya pernah dimuat di Media Indonesia; berbagai artikel masalah sosial politik pernah dimuat di Harian Terbit, Republika, dan tabloid Aksi (sekarang tidak terbit).

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: