Tinggalkan komentar

Pertarungan Hati – Cerpen Beny Fauzan

Aku sangat merindukanmu. Aku selalu merindukanmu. Tapi ini adalah hari terakhir kau menjadi kekasihku, karena ini adalah hari di mana kita telah membuat kesepakatan untuk berpisah. Kamu ingatkan, sayangku?


Cerpen: Beny Fauzan

“Oke, siapa takut….” kata-kata itu masih terngiang-ngiang di telinga Dinda. Kata terakhir yang diucapkan kepada Aldi setelah menyetujui sebuah ide gila yang di ajukan oleh Aldi. Sebuah ide untuk berpacaran selama enam bulan kedepan.

“Wah, gila lo, Din..” komentar Putri mendengar cerita itu dari Dinda. Putri, sahabat dekat Dinda waktu mereka sama-sama kuliah dulu di salah satu universitas di Palembang, yang kini bekerja di kota Tangerang. “Lo kan belum begitu kenal dia. Terus ketemu aja, belum”

“Iya, nih. Tapi gue kan dah menyetujuinya, Put. Masak gue harus bilang gak jadi.  Bisa malu gue,” Dinda memberikan pendapatnya.

“Ya sudah, terserah lo, deh. Gue cuma pengen ngingetin, jangan pernah pakai hati lo, dan lo juga harus tahu bahwa Aldi itu adalah mantan Bunga. Lo kan juga pernah gue kenalin sama Bunga, jadi sedikit banyak gue tau tentang Aldi” nasehat putri.

“Iya, gue janji gak akan pernah memakai hati gue,” sahut Dinda.

Setelah pembicaraan ditelpon itu berakhir, Dinda masih saja belum bisa memejamkan matanya. Padahal biasanya dia sudah tertidur nyenyak jam segini. Pikiran Dinda masih saja mengutuki dirinya kenapa menyetujui ide gila itu. Berpacaran selama enam bulan dengan orang yang belum pernah bertemu? Dinda hanya mengenal Aldi dalam tulisan-tulisan yang dibuatnya pada note-note facebooknya. Belum lagi mereka berbeda kota. Dinda tinggal di Balik Papan dan Aldi di Bekasi, yang berbatasan dengan pinggiran Jakarta.

Mereka menyebut ide gila ini dengan sebutan pertarungan hati dan siapa yang kalah harus membuat status yang sedikit memalukan di account facebook mereka.

***

“Aldi sayang dinda” sebuah pesan singkat yang diterima oleh Dinda melalui Handphonenya pagi ini. Seperti ada yang berkecamuk di dalam hati dan pikiran setelah membaca pesan itu.

“Benarkah Aldi sudah menyayangi gue? jika benar, kenapa Aldi bisa secepat itu sayang sama gue?” banyak pertanyaan yang diajukan Dinda kepada dirinya sendiri.

Entah mengapa di dalam hati Dinda merasa senang mendapat pesan itu. Sepertinya akhir-akhir ini dia juga merasakan keanehan dalam dirinya. Ia mulai sering memikirkan Aldi.  Merasa kesal jika aldi tidak memberi kabar. Selalu merasa ingin hari cepat-cepat malam karena di waktu itulah dia dan Aldi bisa berbicara melalu telpon sampai pagi. Dinda menikmatinya setiap malam selama satu bulan terakhir.

“Gak mungkin Din dia bisa sayang sama lo secepat itu. Mungkin saat ini dia hanya butuh pelarian karena baru putus setelah sekian lama dia pacaran sama bunga” komentar Putri setelah mendengar cerita Dinda tentang pesan singkat yang dikirimkan Aldi kepadanya tadi pagi.

“ iya, mungkin juga, Put..” desah dinda hampir tak terdengar.

“Atau, jangan-jangan lo udah punya rasa juga sama Aldi?” pertanyaan yang terlontar terasa tiba-tiba dari Putri.

“Nggaklah,” Dinda mencoba mengelak.

“ya, gue sebagai sahabat lo, cuma ngingetin aja. Jangan pernah memakai hati lo, karena gue nggak mau ngeliat lo sakit hati nantinya. Gue tau Aldi itu orang seperti apa dari cerita-ceritanya Bunga,” Putri meneruskan ucapannya.

Pikiran dinda semakin berkecamuk. Benarkah Aldi seperti yang dikatakan Putri? Menurutnya sendiri, Aldi orang yang sangat berbeda dengan apa yang diceritakan oleh Putri. Atau itu hanya topeng Aldi saja atau dia memang sudah berubah atau memang Aldi telah belajar dari kesakitan yang telah terjadi kepada dirinya?

***

Bulan sepertinya makin berani saja menampakkan kecantikannya malam ini. Bintang-bintang-pun berkedip di angkasa seakan ingin menarik perhatian bulan. Lewat jendela di kamarnya Dinda memperhatikan tingkah mereka dan membuatnya ingin menulis puisi dengan judul: “Malam seribu bintang”.

Treet…..treet…. treet…..suara getar hanphone Dinda.

“Hai, selamat malam sayangku,” suara Aldi terdengar di seberang sana

“Malam juga Aldi”

“Dinda lagi apa?”

“Lagi coba nulis puisi”

“Puisi buat Aldi ya….?” terlanjut dalam tawa yang renyah.

“Pede amat sih. Oh iya, bulan depan kan Dinda pengen ke Palembang terus transit di Jakarta. Kita ketemuan yuk…” kata Dinda yang sempat terkejut juga dengan keberaniannya untuk menawarkan pertemuan.

“Ha..ha..ha..” terdengar suara Aldi tertawa.

“Kok ketawa?” sungut Dinda

“Gak papa kok. Cuma lucu aja …” Aldi masih meneruskan ketawanya

“Emang lucu? Kenapa? Salah ya omongan Dinda? Kalo salah, ya sudah ditarik lagi deh omongan tadi” Dinda berpura-pura marah ingin menarik tawarannya.

“Nggak. Aldi jadi ingat dulu waktu Aldi ngajak dinda untuk ketemuan, Dinda sendiri yang malah menghindar mati-matian. Tapi sekarang malah kata itu keluar dari Dinda sendiri. Membuat Aldi kaget saja. Makanya jadiketawa,” ucap Aldi sambil sekali-kali tertawa.

“Terus gimana nih? Mau nggak?”

“Ya pasti mau dong. Sekalian Aldi mau ngajak Dinda ke Anyer melihat laut dan langit yang pernah diceritain ke Dinda kemarin…” Aldi menyahut dengan cepat takut kehilangan kesempatan yang tidak diduganya.

“Benar ya? Jadi gak sabar nunggu bulan depan” suara Dinda terdengar bersemangat.

“Iya, janji. Ah ternyata tiga bulan ini telah membuat banyak perubahan di dirimu Di. Senang mendengarnya..” jawab Aldi

Matahari sepertinya sudah tak sabar lagi untuk memperlihatkan kejantanannya di kota Balik Papan. Tanda-tanda kedatangannya semakin terlihat jelas di ufuk timur. Dinda ingin tidur sebentar sebelum berangkat kerja. Sebelum tidur dia sempat mengubah judul puisi yang dia tulis tadi menjadi “malam seribu rahasia”.

***

Pagi itu udara di bandara Soekarno-Hatta terasa panas sekali. Mungkin perubahan iklim telah menaikkan suhu dikota ini.

“Dinda..! Sini..!!!” terdengar sebuah suara memangil Dinda. Seorang pria melambai-lambaikan tangan kepadanya. Seorang pria yang dikenal hanya melalui foto-foto di sebuah jaring sosial, tapi sepertinya lebih menarik aslinya, bisik hati Dinda.

“Hi, bagaimana penerbanganmu?” ucap Aldi sambil sambil mengambil alih koper dari tangan Dinda.

“Cukup menyenangkan. Tapi tadi sempat terlambat di Palembang. Kamu jadi nunggu lama, ya..”

“Gak apa-apa, kok. Untuk Dinda apa sih yang gak?” Aldi sedikit nge-gombal

“Terima kasih, ya”

“Kembali kasih sayangku”

Keduanya tertawa kecil sambil berjalan menuju parkiran mobil.

Jalan tol menuju Anyer terlihat agak sepi. Hanya terlihat beberapa truk-truk yang berjalan pelan di sisi sebelah kiri jalan. Di sebuah mobil sedan warna biru terlihat Dinda dan Aldi tampak asyik mengobrol dan tertawa-tawa. Sepertinya mereka bahagia.

“Didepan ada tempat peristrirahatan jalan tol. Kita berhenti di sana dulu ya” kata Aldi

“Boleh”

“Kamu sudah makan?”

“Sudah tadi”

“Makan lagi ya?”

“Nggak ah, masih kenyang”

Mobil berhenti di sebuah peristrihatan jalan tol. Kira-kira satu jam kemudian mobil pun mulai melaju kembali menyusuri jalan tol Jakarta – merak. Di sebuah pantai di daerah Anyer, mobil  berhenti. Terlihat orang-orang berenang di pinggir pantai. Di tengah laut terlihat banana boat dengan beberapa orang yang menikmati andrenaline mereka yang terus berpacu. Beberapa orang lainnya tengah menikmati pemandangan matahari yang mulai dimakan oleh samudera luas. Cahaya kuning kemerah-merahan semakin membuat suasana semakin indah.

“Pantai dan pemandangan sunset yang sangat indah. Terima kasih telah mengajakku melihat keindahan ini” bisik Dinda lembut ditelinga Aldi.

“Sama-sama sayangku. Aldi ingin Dinda tahu ini adalah tempat yang selalu Aldi kunjungi setiap penat dengan semua yang ada dihidup. Sepertinya pantai ini selalu membuat semangat baru bagi Aldi” ucap aldi sambil mengengam erat tangan dinda.

“Aldi”

“Sstt..mari kita nikmati matahari terbenam ini” Aldi sambil memeluk tubuh dan mencium lembut kening dinda. Seperti tersengat, tapi ternikmati, dinda membalas pelukan Aldi dan ciumannya yang lembut di bibir. Lalu terdiam menikmati keindahan sunset sore itu.

Angin laut memainkan rambut Dinda. Matahari telah ditelan samudera tapi mereka masih saja di pantai, terdiam dalam pelukan seakan tak ingin melepas. Saat itu hati mereka terbebas dari norma-norma dunia, hanya berteman sebuah rasa yang disebut cinta.

Malam ini tampak begitu cerah tak ada awan mendung. Bulan tampak bulat sempurna dengan keanggunannya. Ribuan bintang-bintang bertaburan. Dari pingir Pantai Anyer ini semua yang ada di langit tampak sempurna dalam pandangan mata sepasang kekasih itu.

”Kamu suka bintang Din?” Aldi setengah berbisik.

“Dinda suka banget ngeliat bintang”

“Nanti, jika Aldi sudah gak ada… Aldi akan menjadi bintang yang paling terang di langit untuk menemani Dinda setiap malam”, Aldi berbicara dengan suara yang terdengar agak berat.

Ada yang aneh pada kata-kata Aldi yang dirasa Dinda. Tapi baru saja dinda ingin menanyakan, Aldi terbatuk.

“Kamu sakit Di” tanya Dinda agak cemas.

“Ah, gak apa-apa kok Din…Mungkin angin malam saja” jawab Aldi tenang.

Dinda mencoba menyembunyikan perasaannya. Batuk tadi, sepertinya bukan batuk biasa. Ia yang bekerja sebagai perawat sedikit banyak tahu tentang perbedaan suara batuk. Sekali lagi Dinda ingin bertanya, tapi belum sempat terucap Aldi sudah lebih dulu mengajak mereka untuk istirahat karena besok pagi Dinda harus terbang dengan penerbangan pertama.

***

Mereka tiba terlambat tiba di Bandara. Hari Senin Bandara tidak terlalu ramai seperti waktu akhir pekan atau hari libur. Dinda harus segera menaiki pesawat dan Aldi mengantarnya sampai pintu keberangkatan.

“Aldi mencintai Dinda” kata itu keluar secara pasti dari mulut Aldi sambil mengenggam tangan, memeluk dan mencium lembut bibir Dinda.

Dinda tersenyum. Ada yang bergejolak dalam hatinya. Dinda merasa dia juga sangat mencintai Aldi. Apalagi setelah pertemuan, membuat perasaan semakin kuat di hatinya.

“Aldi…” belum sempat Dinda menuntaskan ucapannya, terdengar sebuah lagu Siddharta Band “satu cinta sempurna” dari handphonenya. Sebuah lagu yang dulu dikirimkan oleh Aldi melalui email kepada Dinda. Liriknya romantis dan sesuai dengan suasana hati. Dinda memakai lagu itu sebagai nada panggil di handphonenya.

“Dari Putri…angkat gak ya?” Dinda meminta persetujuan Aldi.

“Ya udah, angkat aja”

“Tapikan Dinda gak ngomong sama dia, kalo Dinda mampir ke Jakarta” kata Dinda.

“Ya sudah, Dinda ngomong aja kalo kamu langsung dari Palembang ke Balikpapan dan pesawat transitnya cuma sebentar” Aldi memberi saran kepada dinda.

Sambil mengangkat telpon dari Putri, Dinda memeluk Aldi sambil mulai melangkah memasuki ruang tunggu keberangkatan. Sampai batas mereka harus terpisah, sesekali Dinda menoleh ke belakang. Aldi masih berdiri dan tersenyum kepadanya.

Dari jendela pesawat dinda melihat barisan awan-awan putih. Pelan-pelan dia lihat awan-awan itu membentuk wajah dan senyum Aldi.

“Dinda mencintai Aldi” desah Dinda. Teringat  ia belum memberikan jawaban membalas pernyataan cinta Aldi. Ia bertekad setelah tiba di Balikpapan akan langsung menelpon Aldi mengungkapkan perasaannya.

***

Awan-awan hitam mengepung kota Balik Papan. Pagi ini langit bersedih dan bersiap-siap untuk meneteskan airmatanya. Di kamar kost-annya Dinda tampak memandang kosong keluar jendela, bergelut dengan pikiran-pikirannya tentang Aldi. Sudah satu bulan ini Dinda tak dapat kabar tentang Aldi, tepatnya setelah pertemuan mereka di Jakarta. Aldi seperti hilang ditelan bumi. Nomor hanphonenya sudah tidak diaktifkan dan account Aldi di jejaring sosial juga telah di deactive-kan.

“Marahkah Aldi karena aku tak membalas pernyataan cintanya, atau Aldi telah menemukan wanita lain….” Dinda menduga-duga.

“Tapi, waktu Aldi mengucapkan cinta kepadanya, sepertinya dia berkata jujur” bisik hati dinda. Dinda bangkit dari kursi, mengambil hanphonenya di atas meja dan menelpon Putri. Ia memohon kepada putri untuk menanyakan kepada Bunga tentang kabar  Aldi. Rumah mereka berdekatan, pasti Bunga tahu kabar Aldi. Agak lama Dinda memohon kepada Putri hingga putri menyetujui permohonannya dan berjanji akan memberi kabar secepatnya. Siang itu dinda berangkat kerja dengan tidak bersemangat.

***

Di atas meja di kantornya Dinda menemukan sebuah bingkisan. Langsung ia baca nama pengirimnya. Membuatnya tercekat: Aldi Wijaya.

Dinda terdiam. Dirasakan tubuhnya masih bergetar. Dengan perlahan Dinda membuka bingkisan itu. Terlihat sebuah kalung dan sebuah surat di dalamnya.

“Inikan kalung yang selalu dipakai oleh Aldi” Dinda berbicara sendiri. Dengan jari-jari gemetar Dinda menggenggam kalung itu seakan dia merasakan kehadiran Aldi. Dinda menahan nafas dan merasakan jantungnya terus berdebar. Perlahan ia mulai membuka lipatan-lipatan surat,  jemari Dinda meraba-raba kertas itu karna dalam pikirannya pasti Aldi orang terakhir yang memegang kertas itu, dan dia ingin merasakan jari-jemari Aldi lagi.

Kekasihku dinda,


Aku sangat merindukanmu. Aku selalu merindukanmu.

Tapi ini adalah hari terakhir kau menjadi kekasihku, karena ini adalah hari dimana kita telah membuat kesepakatan untuk berpisah, kamu ingatkan sayangku?

Dinda melihat kalender. Ini tanggal 25 september 2010. Dinda baru tersadarkan bahwa ini adalah hari yang mereka tentukan enam bulan yang lalu. Waktu untuk mengakhiri hubungan. Airmata segera membasahi kedua pipi Dinda tanpa bisa tertahankan. Dinda tidak ingin mengakhiri semua ini. Ia merasa baru memulai. Ia akan melakukan dan mengorbankan apa saja untuk bisa bersama Aldi. Dinda menyadari bahwa sangat mencintai Aldi.

Saat menulis surat ini aku seperti merasakan kehadiranmu di sampingku. Bisa tercium olehku wangi khas pantai yang selalu mengingatkanku kepadamu. Masih kuingat saat kau tersenyum untukku dan masih kuingat setiap detik waktu dan gerakan yang kau berikan padaku di pantai itu..


Dinda kekasihku, kau membuat hidupku berarti kembali. Aku tidak memiliki penyesalan apapun, tapi aku tahu aku hanya sebuah kisah dalam hidupmu, dan akan banyak kisah-kisah yang akan menemani perjalanan hidupmu nanti, dan aku sangat bahagia menjadi salah satu kisah didalam hidupmu.


Dinda, setelah pertemuan terakhir kita, entah mengapa aku merasa di kotaku matahari tak pernah bersinar lagi. Aku merasa hampa di dalam kegelapan hidupku. Tapi, ketahuilah kekasihku, aku sangat bahagia waktu bersamamu walau hanya satu hari tetapi itu sudah sangat cukup untukku. Aku rela menukar hidupku dengan satu hari itu.


Dinda kekasihku, ini bukanlah ucapan perpisahan, ini adalah ucapan terima kasihku. Terima kasih karena telah masuk ke dalam kehidupanku dan memberiku kebahagian. Terima kasih atas kenangan yang telah kau berikan dan akan aku simpan di hatiku selamanya. Terima kasih karena telah menjadi cinta terakhir dalam hidupku.


Yang selalu mencintaimu, Aldi Wijaya

Anyer, 10 september 2010

***

Malam itu Dinda duduk sendirian di balkon kost-annya, matanya masih terlihat sembab dan merah. Malam itu langit cerah, bulan dan bintang bersinar terang. Dinda melihat satu bintang bercahaya sangat terang dan entah mengapa tiba-tiba airmata menetes kembali di matanya. Seketika tangannya langsung memegang kalung Aldi yang Dinda pakai di lehernya. Lagu satu cinta sempurna tiba-tiba mengalun di hanphonenya.

“Hi Din…” terdengar suara putri

“Hi Put, dah dapet kabar tentang Aldi?”

Putri terdiam mendengar pertanyaan dinda.

“Put…”suar dinda terdengar kembali.

“Eh…sudah Din. Tapi, gimana ngomongnya ya?” terdengar suara Putri seperti orang bingung.

“Ya, ngomong aja Put…”sela Dinda tidak sabaran.

Setelah menarik nafas panjang akhirnya Putri kembali berbicara. “tadi gue dah nanya sama Bunga. Gue harap lo kuat dengan berita ini..”

“Emang aldi kenapa Put..?”suara Dinda terlihat penasaran.

“Tadi siang gue dah tanya sama Bunga. Dia bilang Aldi udah gak ada..”

“Gak mungkin Put. Tadi siang gue baru dapet surat dari Aldi. Pasti Bunga bohong…”suara Dinda terdengar bergetar.

“Kayaknya gak mungkin kalo Bunga bohong. Gue lihat di mata dia jujur. Saat  bercerita dia juga menangis lama. Bunga bercerita, Aldi meninggal seminggu yang lalu setelah pulang dari Anyer.. Ternyata Aldi sudah lama terkena penyakit kanker berbahaya tetapi ia tidak pernah memberitahu siapapun. Keluarganya pun baru tahu disaat-saat akhir hidupnya” Putri menjelaskan secara perlahan dengan nada hati-hati.

”Dinda…! Dinda…! Dinda…! Kau masih mendengar?” Putri setengah berteriak dengan diliputi cemas lantaran tiada terdengar jawaban dari Dinda. Suara isak-pun tidak.

________________

Gambar diambil dari SINI

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: