Tinggalkan komentar

Hikayat 3 Sahabat #20 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama

___

NAIK KELAS

16

Sebulan sebelum kenaikan kelas, papaku menemuiku di ruang belajarku. Saat itu, aku sedang mengerjakan PR matematika. Tidak seperti biasanya beliau langsung berbicara padaku. Biasanya, apa yang hendak beliau sampaikan kepadaku selalu melalui mamaku. Papaku yang jarang bicara sangat percaya akan kemampuan mamaku menyampaikan kabar, berita, nasihat atau apa saja, baik  yang mengenakkan atau tidak mengenakkan. Apa pun yang disampaikan lewat mamaku tidak pernah mendapat pertentangan. Mamaku memang jago diplomasi. Namun, malam ini tidak. Beliaulah yang bicara padaku. Tentu saja hal ini membuatku kurang nyaman. Aku jarang berbicara dengan papaku.

 “Benar kamu mau disunat?” tanya beliau setelah dilihatnya aku selesai mengerjakan sebuah soal.

“Iya, Pa,” jawabku. Tak berani aku menatap beliau. Segera aku pura-pura mengerjakan soal berikutnya. Memang beberapa hari ini aku sering menyampaikan keinginanku untuk sunat kepada mamaku. Teman-temanku, misalnya Damis dan Engkur, sudah disunat beberapa tahun lalu.

“Kalau begitu, kamu sunat setelah kenaikan kelas,” kata papaku, perlahan-lahan dan mantap, tapi langsung membuat mataku berbinar-binar.

“Benar, Pa?” aku langsung menuntut kepastian.

“Iya,” jawab papaku. Beliau pun terus beranjak meninggalkan kamarku.

Teman, betapa gembiranya hatiku! Papaku akan menyunatku! Rasanya, hatiku berbunga-bunga. Tak terasa soal-soal matematika itu dapat aku selesaikan dengan cepat. Saking gembiranya, semalaman aku tidak bisa tidur.

Soal sunat ini menjadi soal yang penting bagiku, tentu saja juga bagi keluargaku. Keluargaku adalah keluarga keturunan, sebuah istilah yang mengacu kepada keluarga yang memiliki darah Tionghoa. Mereka yang tinggal di rumahku menganut agama yang berbeda. Mama dan papaku menganut agama Budha, sedangkan kakek dan nenekku dari pihak ibuku menganut agama Islam. Aku yang condong lebih dekat kepada kakek dan nenekku tentu saja lebih sering diajari sikap dan perilaku keislaman. Aku diajari mana barang yang haram dan yang tidak. Disuruhnya aku mengaji dan pergi ke masjid. Aku sendiri tidak pernah merasa aku beragama Budha. Aku merasa beragama Islam sejak kecil. Bahkan, aku tidak pernah pergi ke Vihara. Sekali pun tidak! Mama dan papaku tidak pernah memaksaku pergi ke vihara meskipun beliau sering menganjurkanku. Nah, kalau ke masjid, sering banget.

Jujur saja, sunat bagiku menjadi sangat-sangat penting. Teman-temanku tidak percaya kalau aku Islam,  kalau aku belum disunat. Ukuran keislaman bagi anak-anak di kampungku dulu itu adalah sunat.

Ternyata rencana sunatku ini menjadi persoalan bagi keluarga besar papaku. Beberapa hari setelah rencana sunatku tersebar salah satu bibiku datang ke rumahku.

“Papamu ada?” tanyanya padaku sesaat setelah turun dari becak. Aku sedang duduk menyiram tanaman di depan rumahku.

“Ada, Oh[1],” jawabku. Aku menemuinya dan mencium tangannya. Tanda hormat kepada yang lebih tua.

“Benar, kamu mau disunat? Tidak takut? Disunat ‘kan sakit” Bibiku seperti menakut-nakutiku.

“Tidaklah, Oh.” Jawabku. Aku tertawa saja sebab aku tidak takut disunat.

Aku iringi sampai di depan pintu. Bibiku tidak bicara lagi terus dia masuk ke dalam rumahku menemui papaku. Tak lama terdengar suara bibiku dan papaku. Tiba-tiba aku ingin tahu apa maksud kedatangan bibiku itu. Jadi, diam-diam aku mencoba mencuri dengar pembicaraan mereka. Halaman samping rumahku cukup dekat dengan ruang tama, tempat papa dan bibiku berbicara.

“Saya tidak setuju kalau si Iin disunat,” begitu suara bibiku terdengar.

Aha! Jadi, ada hubungannya dengan rencana sunatku, begitu pikirku. Kenapa ya?

“Kalau si Iin disunat, dia akan menjadi Islam betulan.” Lanjut bibiku.

Lho, kenapa kalau aku menjadi Islam betulan? Apa salahnya? Aneh juga bibiku ini.

“Kalau dia jadi Islam, dia pasti meninggalkan tradisi kita sebagai orang Tionghoa. Dia itu harapan kita untuk meneruskan kelanjutan tradisi keluarga kita. Koko ‘kan laki-laki sendirian di keluarga kita. Nah,  cuma dari garis keturunan kokolah, tradisi kita bisa dilanjutkan. Misalnya soal nama keluarga kita. Yang berhak pakai nama ‘Lie’ ya anak-anak koko, bukan anak-anak saya. Siapa yang mau sembahyang kalau koko meninggal?” Panjang sekali bibiku berbicara. Tapi, sejauh ini aku belum paham juga.

Kemudian terdengar papaku berkata, “ Iin sendiri yang mau disunat.”

Hanya itu jawaban papaku. Aku sedih juga mendengar papaku “dinasehati” bibiku. Lalu, aku pun kembali ke depan untuk menyiram pepohonan. Entah apalagi yang dibicarakan aku tak tahu.  Ketika bibiku pulang, aku lihat wajahnya merah. Bibiku marah. Dia berjalan cepat sekali.  Itu membuatku mengurungkan niat untuk bersalaman dengannya. Tak lama bibiku sudah naik becak, dan sayup sayup terdengar dia menumpahkan kekesalannya kepada tukang becak.

Alasan kenapa papaku mengizinkan aku disunat dan masuk Islam menjadi teka-teki bagi keluarga besar papa dan tentu saja bagi aku sendiri. Beliau tidak pernah memberikan alasannya kepada siapa pun. Kelak ketika aku mau berangkat ke Jakarta untuk kuliah, papaku menyampaikan alasannya kepadaku. Katanya, “Papa mengizinkan kamu menjadi Islam sebab papa ingin kamu benar-benar menjadi orang INDONESIA!”

Kalimat ini pun tidak dapat langsung aku pahami. Sumpah!


[1] Oh, lengkapnya Ooh=panggilan bibi dari pihak ayah

(Bersambung)

_________________________

Ilustrasi gambar dari SINI

_________________________

INSAN PURNAMA, lahir di Karawang,  27 Juli 1969. Sekarang tinggal di Tambun, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, bersama istri dan tiga orang anak.
Sejak 1996  mengajar di sebuah lembaga bimbingan & konsultasi belajar di Jakarta,  pembuat modul belajar bahasa dan sastra Indonesia, dan sejak tahun 2003 menjadi trainer bagi guru-guru muda.
Dunia tulis-menulis digemarinya selama menjadi mahasiswa. Saat itu cerpen-cerpennya pernah dimuat di Media Indonesia; berbagai artikel masalah sosial politik pernah dimuat di Harian Terbit, Republika, dan tabloid Aksi (sekarang tidak terbit).

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: