Tinggalkan komentar

Hikayat 3 Sahabat #21 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama

___

 17

Akhirnya hari kenaikan kelas pun tiba! Sejak bangun pagi, hatiku sudah deg-degan. Waktu  Subuh tadi di mushola aku sholat khusuk sekali. Dan, di mushola aku bertemu Engkur dan Damis, yang tidak seperti biasanya, sholat di mushola.

Saat bertemu dengan mereka, aku tersenyum.

Engkur menafsirkan senyumanku dengan berkata, “Biarkanlah pagi ini kami merayu Tuhan dengan sholat berjamaah di sini. Siapa tahu Tuhan berkenan dengan rayuanku dan menolongku untuk naik kelas.”

Damis yang berdiri di samping, langsung menengadahkan tangan dan berkata, “Aamiiiin.”

Adzan subuh dikumandangkan. Suara Kang Amat begitu merdu. Speaker tua membesarkan suara itu hingga merambat ke pelosok-pelosok kampungku. Semestinya rambatan suara adzan itu sampai hingga ke dasar hati yang mendengarnya, tapi sayang setan begitu kuat menyumpal telinga dan hati dengan berjuta alasan.

Adzan selesai.

Kami berdoa, saat mustajab untuk berdoa sayang sekali kalau disia-siakan.

Kami mengikuti beberapa bapak-bapak untuk sholat sunat rawatib dua rakaat. Mang[1] Toyib selesai duluan, lalu meraih mike, mulailah ia melantunkan solawatan.

Ya hayyu ya qoyyum, la ilaha illa anta
Ya hayyu ya qoyyum, la ilaha illa anta
Astagfirullah al adhim min kulli dzanbin azim
Man farokal sholatan khomsah, anta muta amidan
Fajazauhum fajazauhum jahanam kholidina fiihaa.

Solawatan itu begitu menggetarkan apalagi Mang Toyib melantunkannya dengan logat Sunda yang khas. Mendayu-dayu mendengarnya. Beberapa kali solawatan itu dibacanya. Yang sudah selesai solat sunatnya ikut membaca solawat itu. Solawatan itu dibaca beberapa kali hingga imam mushola datang dan selesai sholat sunat. Kali itu Pak Ganda yang biasanya jadi imam tidak datang. Setelah semua jamaah selesai sholat sunatnya, Mang Toyib pun qomat. Kami pun sholat subuh berjamaah.

Engkur dan Damis hampir salah gerakan sholatnya di rakaat kedua. Umumnya orang-orang di kampungku, pada rakaat kedua setelah I’tidal kami akan membaca doa qunut. Engkur dan Damis yang jarang subuh berjamaah setelah I’tidal langsung melakukan gerakan untuk sujud, tapi mereka cepat-cepat bangun kembali ketika mendengar suara mamum yang teriak amiin.

Aku hampir saja tak tahan untuk tertawa. Beruntung aku mampu mengendalikan diri meskipun rasanya air muka memerah dan beberapa kali menahan napas. Khusyuk benar sholat kami saat itu. Sujud kami pun berlama-lama sampai-sampai jidat kami terasa melebur menjadi lantai mushola saking kuatnya kami menekan jidat saat sujud.

Selesai sholat, kami ikut dzikir. Aduhai, Teman, dzikir di tempatku setelah sholat subuh panjang-panjang. Tapi, kami bisa menikmati panjangnya dzikir itu demi kami bisa naik kelas. Rasanya pagi itu kami ingin benar-benar dekat Tuhan. Tapi, masalahnya adalah apakah Tuhan ingin dekat dengan kami?


[1] Mang=paman

(Bersambung)

_________________________

Ilustrasi gambar dari SINI

_________________________

INSAN PURNAMA, lahir di Karawang,  27 Juli 1969. Sekarang tinggal di Tambun, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, bersama istri dan tiga orang anak.
Sejak 1996  mengajar di sebuah lembaga bimbingan & konsultasi belajar di Jakarta,  pembuat modul belajar bahasa dan sastra Indonesia, dan sejak tahun 2003 menjadi trainer bagi guru-guru muda.
Dunia tulis-menulis digemarinya selama menjadi mahasiswa. Saat itu cerpen-cerpennya pernah dimuat di Media Indonesia; berbagai artikel masalah sosial politik pernah dimuat di Harian Terbit, Republika, dan tabloid Aksi (sekarang tidak terbit).

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: