2 Komentar

Jangan Sebut Lala Anak Bajang – Cerpen Rahmad Nuthihar

Cerpen Rahmad Nuthihar

Malam semakin larut, diperbatasan hari pergantian tanggal, Lala masih saja terjaga matanya, jelalatan menatap langit. Mengejar  rupa yang menghilang menjarah waktu agar bisa terulang. Berselimut tebal menyembunyikan diri  dari terangnya lampu kamar. Langit tak berbintang bulanpun tak urun tiba. Soyogyanya Punguk merindukan bulan, begitulah pepatah yang tepat padanya. Kerinduan akan sosok yang begitu dicintai, cinta seorang ayah kepada dirinya. Namun semu dianggapnya. Satu kalipun dia tiada  pernah bertemu apalagi bertatap mata dengan sang ayah. 

Ruangan persegi 4 x 7 M adalah tempat yang terindah di kehidupan Lala. Setiap hari menghabiskan waktu di sana. Bertemankan sepi, dengan iringan bunyi jangkrik sebagai sahabatnya pada kesenyapan malam. Membisu, senyum diam sendiri tiada tempat berbagi, manakala saat ini kehidupannya dikucilkan oleh semua pihak. Betapa pedih penderitaan yang dirasakan Lala. Darah panas mengalir disekujur tubuhnya tiada henti,  dikarenakan tusukan kata-kata tajam yang menghujam dari teman-temannya dengan sebutan anak bajang.  Tiada salah ibu mengandung. Lala juga tak pernah menyalahkan ibunya yang telah melahirkan tetapi sebaliknya  berterimakasih lantaran dia telah dilahirkan.

Tok..tok..tok

Kedatangan sang ibu mengagetkan Lala.

“Duhai anakku, apa gerangan yang engkau pikirkan? Mengapa engkau belum tertidur?”

“Sebentar lagi bu, Lala belum mengantuk”.

Sapa dan tanya sang ibu memecahkan pengembaraan atas tanya dan bayang. Lala bimbang, ia sesungguhnya ingin mengatakan sejujurnya tentang apa yang dia rasakan saat ini. Namun terlalu pedih rasanya bila mengungkapkan apa yang sebenarnya telah terjadi. Ah biarkan saja kejadian itu berlalu.

“Haruskah aku jujur padanya”, batin lala.

“Ya sudah, ibu matikan lampu. Selamat malam”.

Sang ibu pergi meninggalkan kamar remaja perempuan ini. Batin Lala sebenarnya ingin bertanya kepada sang ibu siapakah ayah kandung sesungguhnya. Tiada dia ingin membangkitkan derita lama dalam kehidupan sang Ibu. Tak memiliki ayah bukan berarti tidak bisa berbuat. Masih banyak hal  yang bisa dilakukan di dunia ini.

Terik mentari  tepat berada di atas mengarah pandangan. Manakala raja surya menyisipi cahayanya lewat fentilasi dan celah-celah daun jendela membuat siapapun terbangun dari mimpinya.  Bermalas-malasan di hari minggu adalah kebanyakan yang dilakukan para remaja. Apatah arti hari libur jikalau bukan berehat sehari penuh.

Seraya menunggu agen Koran mengantarkan bacaan untuknya, lala bergegas ke dapur membuat teh untuk diseruputi di hari yang cerah. Suara burung berkicau dengan merdunya, kupu-kupu terbang menghampiri tiap bunga yang bermekaran, juanya sang lebah tak mau dianggap lemah berebut nektar dengan serangga lainnya. Selesai teh dibuatnya Lala beranjak dari dapur menuju teras rumah. Merindukan bacaan cerpen, setelah menunggu seminggu lamanya.

Jelang beberapa menit kemudian, majalah mingguan yang dipesannya pun tiba. Lala mengambil majalah tersebut  dari tangan lelaki yang disodorkan kepadanya.  Lalu membawa masuk ke dalam rumah untuk dibacakan secara seksama. Perlahan majalah itu dibukanya, sekilas tiap rubrik berisikan berita dilewatinya. Pandangannya begitu tajam, sekiranya elang yang hendak memangsa unggas.  Begitu juga dengan Lala terus mengejar rubrik budaya untuk membaca cerpen yang dimuat minggu ini.  “hari minggu tidak lengkap rasanya bila tidak membaca cerpen” pandangan Lala yang melekat dalam kepala. Lala begitu mencintai sastra.

Jauh berbeda dengan keseharian sang ibu, yang bekerja di lingkup pemerintahan. Sama sekali tidak menyukai sastra. Malah sebaliknya Jika melihat Lala asyik  membaca novel, maka sang ibu memarahinya. Entah kenapa, Lala tidak pernah tahu jawaban itu.

Dengan penuh kosentrasi Lala mengeja tiap kata yang tertulis di dalam cerpen. Tiada satupun yang dilewatinya. Terlihat  dengan raut keningnya yang mengerut petanda dia begitu fokus. Tanpa disadari tetesan air mata membasahi pipi Lala.  Cerpen yang berjudul, “Kelak anakku bukan anak bajang” seperti nyata dan tertuju untuk dirinya.  Mengapa tidak? Alur cerita seakan mengisahkan tentang jati dirinya di masa lalu. Menceritakan cinta seorang lelaki, kepada kekasihnya yang bernama Rumizah. Hampir sama dengan nama ibu Lala yang mengandungnya. Sang Lelaki ini tidak bisa berbuat apa, setelah menuai benih cinta secara suka sama suka. Maksud hati untuk melangsungkan pernikahan tetapi  terbentur dengan konflik keluarga.

Pihak keluarga pasangan perempuan tidak merestui niat baik Akmal untuk mempersunting Rumizah, karena alasan status sosial yang berbeda. Untuk mengurungkan niat Akmal, secara sengaja keluarga Rumizah menetapkan mahar yang tinggi syarat menikahi putri sulungnya itu. Tentu, sangat sulit bagi Akmal untuk memenuhi tuntutan membayar mahar sebanyak 30 gram emas murni.  Makala waktu itu Akmal hanya bekerja sebagai wartawan lepas di sebuah media lokal.

Akmal belum menyerah, segala upaya dikerahkan olehnya untuk membuktikan cintanya kepada Rumizah. Akmal bekerja banting tulang beralih profesi menjadi kuli bangunan dan bertugas sebagai satpam di malam hari di komplek perumahan. Ketegaran diri Akmal menjalani hidup akhirnya membuahkan hasil. Dua bulan kemudian dia mampu memenuhi tuntutan dari pihak keluarga. Hatinya riang menjadi-jadi. Pada hari rabu dia bergegas ke rumah Rumizah dengan membawa sejumlah uang kepada keluarga Rumizah.  Namun kenyataan yang mesti  dia hadapi berbanding balik dengan harapan yang sebelumnya. Setibanya di rumah Rumizah,  ditemuinya sepi. Pintu pagar di gembok dengan rapat. Saat menanyakan kepada tetangga disebelah rumah. mereka mengatakan “penghuni rumah tersebut telah berangkat keluar negeri”.

Semenjak itu komunikasi diantara mereka tidak pernah terjalin lagi. Sampai akhirnya Akmal  mengurungkan niatnya.

Sebuah cerita yang berakhir pilu. Tanpa disadari oleh Lala, sedari tadi sang ibu mengamati dirinya dan duduk besebelahan dengannya.

“Bagaimana Nak, cerpennya bagus ya? Ibu melihat kamu menetesi air mata”.

“Iya Bu, kisahnya mewakili perasaan Lala saat ini”.

“Apa yang kamu katakan nak?”

Lala mencoba berkata sejujurnya mengenai kerinduan akan sosok ayah yang sebenarnya. Memberanikan diri untuk menyibak takbir yang tersembunyi dibalik kemewahan yang dia rasakan kini.

“Bu, siapa ayah Lala sebenarnya? Tolong jawab Bu. Lala sekarang sudah besar dan bisa tegar mendengar apa kata ibu”.

Hati sang ibu dibuatnya was-was, beralih pada cerpen yang dibaca oleh Lala. Ia lalu mengambil majalah tersebut.  Dengan kata terbata-bata, ibunya menjelaskan secara perlahan tentang peristiwa suram yang dialaminya beberapa tahun silam.

“Ayahmu yang sebenarnya bernama M. Akmal. 2 tahun ibu pergi menjauh darinya karena larangan dari nenekmu. Nenekmu bersiteru karena kehidupan Akmal yang tidak berpenghasilan tetap. Setelah kami terpisahkan sekian lama.  ibu kembali ke kota ini dengan membawamu ke rumah ini. Ibu terus mencari informasi tentang keberadaan Akmal di segala penjuru. Kabar terakhir ibu dapatkan dari teman ayahmu yang bekerja di media, berkata Akmal meninggal setelah tabrakan maut menimpanya tepat tanggal kelahiranmu 17 september. Setelah itu ibu membuang jauh-jauh segala ingatan tentang ayahmu. Maaf, Ibu baru menceritakan kepadamu sekarang”

“Apa bu? Akmal ? Kisah cerpen ini?”.

Bernadakan terkejut Lala memperlihatkan identitas penulis yang tertera di bawah cerpen yang baru saja selesai dia baca.

Kini segela keresahan yang terkubur dalam hati Lala telah terjawabkan. Sebuah kado istimewa untuknya di hari ulang tahun ke 19 adalah sebuah cerpen yang  mewakili perasaanya dari sang ayah yang pernah dianggap semu jauh sebelum hari.  Terimakasih Tuhan telah mengenalkan padaku  siapa sebenarnya ayahku. Selamat jalan ayah, moga kita bertemu di hari kelak

Ilustrasi gambar dari SINI

_____________________

Tentang Penulis:

Rahmad Nuthihar, Penggiat di Komunitas Menulis Jeunerob

Aktif di UKM Pers DETaK Unsyiah. Alumni SMAN 4 Wira Bangsa MBO.

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

2 comments on “Jangan Sebut Lala Anak Bajang – Cerpen Rahmad Nuthihar

  1. Ceritanya bikin penasaran dek.. Coba buat seri ke-2 nya.. Pasti bakal seru…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: