Tinggalkan komentar

Hikayat 3 Sahabat #23 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama

___

19

Besoknya mamaku menepati janjinya. Bahkan, mama mengajak juga Damis dan Engkur. Jadilah kami menikmati sate ayam di dalam pasar. Untuk kami, bisa menikmati sate ayam adalah kesempatan yang sangat langka. Selain harganya mahal, makan sate ayam juga harus ada alasannya. Ya, sekarang ini alasanya adalah sebab kami naik kelas.

“Jadi, kamu disunat?” tanya Engkur.

“Emang berani?” sambung Damis.

“Beranilah!” aku langsung jawab.

Saat itu, mamaku sedang memesan sate. Aku dengar dia minta empat puluh tusuk. Asyik, banyak juga jatah kami.

“Ma, kapan aku mau disunat?” tanyaku saat mama sudah duduk di dekatku.

“Kamu maunya kapan?” mama malahan balik bertanya.

“Secepatnya saja, mumpung lagi liburan,” pintaku

“Kamu mau disunat pakai bengkong[1] atau pakai dokter?” tanya Engkur.

“Bengkong saja,” kata Damis, “aku dulu pakai bengkong.”

“Aku juga pakai bengkong,” Engkur tak mau kalah.

“Sakit tidak?” aku penasaran.

“Tidak,” Engkur spontan menjawab.

“Sakitlah,” Sanggah Damis.

“Iya, sakit. Waktu dijepitnya, tapi waktu dipotongnya tidak sakit.” Engkur berubah pendapatnya.

“Apanya yang dijepit?” aku heran.

“Ujungnya…” Engkur tidak melanjutkan ucapannya. Sate kami sudah datang. Mamaku membagi sate itu, tiap orang mendapat sepuluh tusuk.

“Mang, sekalian minta nasinya empat,” pinta mamaku.

Tak lama nasinya pun datang. Engkur sudah makan satu tusuk sate. Aku masih menikmati bau sate itu. Damis sudah pegang-pegang tapi belum berani makan.

“Ayo makan dulu,” suruh mamaku.

Kami pun dengan lahap menikmati sate itu. Rasanya nikmati sekali. Tapi, nikmat rasa sate itu disebabkan kami naik kelas. Coba saja jika kami tidak naik kelas, pasti rasa sate itu tidak enak.

Selesai makan sate,  aku minta izin pada mamaku untuk main-main dulu di pasar bersama Engkur dan Damis. Kami mau lihat-lihat bioskop dulu. Mamaku mengizinkan malahan diberinya aku uang saku yang kira-kira cukup bagi kami untuk beli empat tiket dan pulang naik becak. Mama sendiri langsung pulang naik becak. Maklum jarak dari pasar ke rumahku sekitar lima kilometer.

Kami menyelusuri trotoar jalan. Letak bioskop dari tempat kami makan sate sekitar tujuh ratus meter. Sambil berjalan, aku terus bertanya soal sunat kepada mereka berdua. Rupanya Engkur dan Damis punya pengalaman sunat yang berbeda.

Engkur, misalnya, dia sunat saat umurnya empat tahun. Karena usahanya sedang maju waktu itu, ayah Engkur mempersiapkan sunatan buat Engkur secara meriah. Ayahnya mengundang banyak saudara, teman, dan tetangga. Untuk menyenangkan hati Engkur, ayahnya menanggap sisingaan yang didatangkan dari Garut. Engkur didandani bagai priyayi kecil. Ia memakai baju kebesaran priyayi yang berwarna hitam dengan bahan beludru, bersandal selop, dan kepalanya memakai blangkon sunda. Wajahnya dibedaki, alisnya ditebalkan dengan potlot alis warna hitam. Jadilah, Engkur terlihat gagah dan tampan. Kemudian, dia diarak keliling kampung. Ia duduk di atas sisingaan yang digotong empat orang. Para pemain sisingaan yang menggotongnya sepanjang jalan menari. Tarian yang mirip dengan pencak silat. Sebab itu, sepanjang jalan kepala sisisngaan itu mengangguk-angguk demikian juga Engkur yang menaikinya badannya bergoyang-goyang terus. Engkur sempat takut juga. Tapi, ia tahan takut itu sebab dia begitu bangganya ditonton banyak orang.

Setelah diarak keliling, ia duduk di kursi pengantin sunat. Kursi yang sudah dihias dengan lampu-lampu bohlam kecil yang berwarna-warni dan berkedip-kedip. Setiap tetamu yang datang akan menamuinya. Lalu, tamu itu akan menepuk pundak atau mengelus kepalanya sebagai tanda bangga atas keberaniannya untuk sunat. Tak lupa, tamu itu akan menghadiahinya uang. Dan, Engkur sangat senang.

Malamnya hajatan itu dimeriahkan dengan wayang golek. Tapi, jam sembilan malam dia sudah disuruh tidur oleh ayah dan ibunya.

Sebenarnya Engkur sudah agak lupa bagaimana proses sunat itu berlangsung. Katanya, dia dibangunkan pagi-pagi, disuruh mandi, lalu dipakaikan baju, tanpa dipakaikan celana. Ia masih ingat saat proses sunat itu berlangsung dia dibopong ayahnya dengan cara kedua pahanya diangkat. Engkur dan ayahnya menghadap ke depan. Lalu, bengkong menjepitkan sesuatu… saat itu dia merasa sakit, tapi tak lama dia merasakan ada sesuatu yang sedikit terputus lewat proses yang sangat cepat. Saat itulah ayahnya berteriak, “Belaaaaa! Belaaaa!”

Mendengar teriakan itu, orang-orang pun berteriak, “Potong ayamnnya!” Tak lama, ayam jago yang sudah disiapkan sebagai ayam bela pun dipotong. Kelak ayam itu akan dijadikan bakakak yang khusus untuk dinikmati anak yang disunat.

Berbeda dengan Engkur, sunatan Damis tidak meriah. Tidak ada hajatan. Tidak ada ayam bela, tidak ada tetamu. Malahan, Damis sendiri yang pergi ke bengkong.  Orang tua tidak punya biaya untuk dia sunat. Tapi, ia terus memaksa. Maka, ia pun nekad sunat sendiri. Untunglah, bengkong tidak meminta biaya sebab menyunat merupakan ibadah. Damis tidak menangis saat disunat.


[1] Bengkong=tukang sunat tradisional

(Bersambung)

_________________________

Ilustrasi gambar dari SINI

_________________________

INSAN PURNAMA, lahir di Karawang,  27 Juli 1969. Sekarang tinggal di Tambun, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, bersama istri dan tiga orang anak.

Sejak 1996  mengajar di sebuah lembaga bimbingan & konsultasi belajar di Jakarta,  pembuat modul belajar bahasa dan sastra Indonesia, dan sejak tahun 2003 menjadi trainer bagi guru-guru muda.

Dunia tulis-menulis digemarinya selama menjadi mahasiswa. Saat itu cerpen-cerpennya pernah dimuat di Media Indonesia; berbagai artikel masalah sosial politik pernah dimuat di Harian Terbit, Republika, dan tabloid Aksi (sekarang tidak terbit).

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: