Tinggalkan komentar

Hikayat 3 Sahabat #24 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama

___

20

Bioskop itu bernama Gembira. Gedungnya tinggi. Ada halamannya yang cukup luas. Poster-poster film yang akan diputar dipasang. Ada empat poster yang dipasang. Di atas poster-poster itu masing-masing ada tulisan: Hari Ini, Akan Datang, Selanjutnya, dan Midnight.

Setiap hari sekitar jam 2 sore, mobil colt buntung milik bioskop itu akan berkeliling kampung memberitahukan film apa yang akan diputar hari itu. Di atas kepala mobil itu dipasang TOA atau speaker. Dibelakang mobil itu, poster film digantungkan pada kayu yang dibuat khusus. Bila mobil melaju, poster itu berkelebat-kelebat. Mobil itu sering lewat depan rumahku. Kalau mobil itu lewat, anak-anak akan mengejarnya untuk berebut programa[1] berisi film yang mau diputar. Sedangkan, orang tua cukup berdiri dipinggir jalan, nanti pas mobil itu melintas tinggal memberi isyarat meminta dengan tangan, maka Darmo akan memberikan programa itu kepadanya. Tapi, harus sigap menangkap programa itu sebab mobil iterus berjalan.

Orang penting di dalam mobil itu adalah Darmo. Mungkin juga, ia sangat penting untuk bioskop itu. Darmo mudah dikenali. Kepala depannya botak dan kumisnya tebal. Biasanya, dia duduk di depan berdua dengan sopir saat mobil bioskop berkeliling. Darmo-lah melalui TOA menceritakan serunya film yang akan diputar. Ia pandai menarasikan.

“Saksikanlah! Saksikanlah!” begitu suaranya terdengar lewat speaker yang terguncang-guncang di atas kepala mobil. “Karate tangan kosong! Karate tangan kosong! Dijamin seru. Lewat jurus-jurus mabuknya, Chen Lung mengalahkan musuh-musuhnya. Chen Kuan Tai beraksi membasmi penjahat-penjahat di jalanan. Perguruan Shaolin diserang, pertarungan tidak terhindarkan. Ciaaat! Ciaaaaaat! ” mulut Darmo membusa-busa. Itu kalau film Hongkong.

“Ayo, ramai-ramai! Datang ke Bioskop Gembira. Tonton Cowboy bertempur melawan Indian. Wawawawawawawawawawawawaw!” tangan Darmo menutup-nutup mulutnya sambil berteriak. “Dor! Dor! Dor!” dia menirukan bunyi pistol. Telunjuk dan jempolnya membentuk pistol. Berulang kali tangan itu dia acung-acungkan seolah-olah dia sedang menembak. Aksinya mempromosikan film Hollywood memang sangat luar biasa. Kadang terdengar Darmo melarang anak-anak terus mengejar mobilnya. Tapi, anak-anak itu terus mengejar.

“Ayo, lihat kecantikan Hemamalini yang secantik bidadari. Dharmendra yang ganteng! Kalau bosan dengan pasangan Anda, inilah saatnya Anda menatap bintang pujaan Anda. Cukup sesaat, Anda akan merasa pasangan Anda seperti bintang pujaan Anda!” Bujuknya agar kita pergi ke bioskopnya. “Jangan lupa membawa saputangan yang banyak. Air mata Anda akan terkuras kisah cinta sejati ini!” Ah, Darmo bisa-bisa saja.

“Si Buta dari Gua Hantu! Demi mengalahkan musuhnya, Badra membutakan matanya. Jurus-jurus silat tingkat tinggi akan memenuhi semua adegan pertarungan. Ayo, saksikan si Buta dengan monyetnya…jangan sampai Anda tidak datang, sebab jika Anda tidak datang, si Buta akan mencari-cari monyetnya!” Yang mengerti tersenyum-senyum, dasar Darmo sinting, begitu pikirnya. Yang tidak mengerti cuma bingung.

Tapi, apa pun filmnya, Darmo tidak lupa untuk  berteriak, “Yang nonton jadi senang. Yang tidak nonton akan sedih. Ayo, saksikan beramai-ramai! Ajak emak, bapak, tante, om, aki-aki, nini-nini, kabeh[2]…!”

Jam pertunjukkan bioskop itu masih lama, sekitar dua jam lagi. Sebab itu, bioskop itu masih sangat sepi. Yang datang barulah kami bertiga. Kami masuk ruang lobby bioskop itu. Poster-poster yang dipajang di dinding dan ditutupi kaca menarik perhatian kami. Kami bertiga memandangi poster-poster itu.

“Bisa tidak ya aku jadi bintang film?” Damis seperti bergumam.

“Memang kenapa?” tanya Engkur heran.

“Aku ingin jadi bintang film, tapi….”kata Damis, tapi ucapannya belum selesai Engkur sudah menambahinya.

“Jelek,” kata Engkur, lalu dia nyengir sambil melihat Damis, yang kemudian juga ikut nyengir.  Mereka berdua nyengir kuda.

“Jangan khawatir,” kataku, “ banyak kok bintang film yang tidak cantik dan tidak tampan.”

“Misalnya?” Damis menyergapku.

“Benyamin Sueb.” Aku mencontohkan Benyamin S, sebab beliau idolaku, film-filmnya membuatku tertawa terpingkal-pingkal, belum lagi lagu-lagunya, luar biasa!

Satu per satu poster itu kami pandangi. Kami komentari sebisanya kami. Macam-macamlah komentar kami. Mulai dari bintang filmnya, itu pun kami tidak memakai referensi apa pun maklum saja dulu tabloid yang mengupas kehidupan para selebritis tidak ada. Kami hanya menilai berdasarkan fisik-fisiknya saja. Bintang filmnya ganteng atau cantik, ah, lebih ganteng atau lebih cantik, dan seterusnya. Atau, yang lebih seru adalah kami menceritakan potongan adegan yang terlihat di poster. Ya, tentu saja suka-suka kami. Foto adegan dua orang jagoan kungfu yang sedang bertarung, misalnya, kami bisa bayangkan, lalu kami ceritakan bareng-bareng kira-kira bagaimana pertarungan itu terjadi. Yang kadang kami menambahi dengan suara kami untuk menggambarkan sabetan pedang, dua pedang yang sedang beradu, pukulan yang mengenai sasaran, dan seterusnya. Seru sekali sehingga kami tidak sadar waktu sudah mendekati jam dibukanya loket karcis pertunjukan.

Ketika kami melewati loket, dari lubang loket yang mirip lubangnya tikus Jerry dalam film kartun Tom and Jerry itu, tiba-tiba nonggol sebuah wajah: berkumis dan berkepala botak. Saking kagetnya kami berteriak.

“Setaaaaan!” teriak Engkur.

“Darmooo!” teriakku.

“Setan Darmooo!” teriak Damis.

Kami pun lari keluar bioskop itu diiringi tertawa orang yang kepalanya nonggol di lubang karcis. Kepalanya Darmo.

“Ha-ha-ha-ha-ha!!!” tawa Darmo bergema di seluruh ruangan gedung bioskop itu.


[1] Programa=brosur atau poster kecil

[2] Kabeh=semua

(Bersambung)

_________________________

Ilustrasi gambar dari SINI

_________________________

INSAN PURNAMA, lahir di Karawang,  27 Juli 1969. Sekarang tinggal di Tambun, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, bersama istri dan tiga orang anak.

Sejak 1996  mengajar di sebuah lembaga bimbingan & konsultasi belajar di Jakarta,  pembuat modul belajar bahasa dan sastra Indonesia, dan sejak tahun 2003 menjadi trainer bagi guru-guru muda.

Dunia tulis-menulis digemarinya selama menjadi mahasiswa. Saat itu cerpen-cerpennya pernah dimuat di Media Indonesia; berbagai artikel masalah sosial politik pernah dimuat di Harian Terbit, Republika, dan tabloid Aksi (sekarang tidak terbit).

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: