Tinggalkan komentar

Hikayat 3 Sahabat #27 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama

___

MENGAJI

23

Setiap sore anak-anak di kampungku pergi mengaji. Biasanya pengajian itu berlangsung dari magrib hingga jam delapan atau jam sembilan malam. Anak-anak kecil paling-paling mengaji hingga jam tujuh malam. Mereka biasanya didahulukan mengajinya dibanding anak-anak yang sudah besar. Maklumlah anak-anak kecil tak tahan duduk lama-lama dan cepat mengantuk. Lagi pula, anak-anak kecil ribut sekali, tidak mau diam, berjalan-jalan dan melompat-lompat di ruangan pengajian. Ramai sekali seperti di pasar.

Sebab sunat, aku libur mengaji. Aku dan Damis mengaji kepada Kang Utang, sedangkan Engkur mengaji kepada Kang Aning. Ada banyak pengajian di kampungku. Pengajian-pengajian itu sebagian besar diselenggarakan di rumah penyelenggaranya. Padahal, rumah mereka itu biasanya tidak terlalu besar. Ruang tamunya yang dijadikan tempat untuk mengaji. Seperti pada pengajiannya Kang Aning. Aku pernah mengaji di tempat Kang Aning sebelum mengaji pada Kang Utang. Waktu itu Engkur belum mengaji sehingga aku merasa tidak punya teman di situ. Saat Damis mau mengaji di tempat Kang Utang, aku pun ikut mengaji di Kang Utang. Di tempat Kang Utang, tidak lebih dari tiga puluh orang anak yang mengaji. Itu pun sudah padat, padahal tempat yang dijadikan pengajian bukan ruang tamu, melainkan bagian sebelah rumah yang dijadikan tajug[1]. Sepertiga yang mengaji itu adalah anak-anak kecil yang usianya rata-rata delapan tahun, sisanya anak-anak besar yang usianya sudah baleg[2]. Yang kecil-kecil itu belajar membaca huruf Arab dengan bantuan kitab Huruf Hijaiyah dan Juz Amma[3], sedangkan yang besar mengaji Al-Qur’an. Selain belajar membaca Al-Qur’an, biasanya juga diajarkan tata cara berwudlu, sholat, hadist, dan tajwid.

Sore itu Damis sudah menjemputku untuk pergi mengaji. Masih kurang setengah jam untuk masuk waktu maghrib. Sunatku sudah sembuh dua hari yang lalu. Aku sudah bisa memakai celana. Nyaman sekali rasanya setelah hampir seminggu aku setiap hari memakai sarung.

“Jadi tidak kamu mulai mengaji malam ini?” tanya Damis.

“Jadi,” jawabku. Saat itu, aku baru saja selesai mandi dan berganti pakaian.

“Cepatlah, Teman, sebentar lagi maghrib,” imbuh Damis.

“Aku sudah siap, kok, tinggal pamit dulu pada mamaku.” Sejenak berdiri di depan cermin, aku rapikan kerah bajuku, lalu aku tatap wajahku. Rambutku tak kusisir, tidaklah mungkin menyisir rambut model cepak buah karya Mang Tiing. Wajah Damis muncul di cermin, tersenyum. Aku tertawa. Model rambutnya sama dengan rambutku. Kalau Engkur ada, juga dipastikan model rambutnya sama. Ya, begitulah nasib anak-anak seperti kami yang menjadi korban kefanatikan cukuran ala Mang Tiing, yang dijamin praktis, awet, dan murah.

Di depan rumah, mama sedang mengobrol dengan temannya. Saat melihat kami datang menghampirinya, mereka berhenti mengobrol.

“Jadi mau mengaji sekarang?” tanya mamaku.

“Iya, Ma,” jawabku.

“Sudah sembuh, ya?” tanya teman mamaku.

“Sudah, Bu. Dua hari lalu perbannya dilepas.”

“Ini uang buat beli minyak tanahnya. Beli setengah liter buat berdua dengan Damis,” kata Mamaku.

Damis langsung tersenyum ketika namanya disebut Mamaku. Dan berbisik padaku, “Nasib baik selalu beserta orang soleh.”

Setelah aku terima uang dari mamaku, kami pun berangkat. Terlebih dahulu, kami mencium tangan mama dan temannya. Lalu, pergi ke warung Haji Embo untuk membeli minyak tanah. Jangan heran, Teman, saat itu pengajian di kampungku tidak menetapkan iuran dalam bentuk uang. Ustadz-ustadz itu hanya menganjurkan  siswanya untuk  membawa segelas minyak tanah saat pergi mengaji yang akan dipakai untuk mengisi lampu petromak sebagai penerangan waktu kami mengaji. Anjuran itu sebenarnya untuk anak yang keluarganya dianggap mampu membeli minyak tanah lebih  saja.  Tapi, siapa sih saat itu yang tidak mampu membeli minyak tanah? Minyak tanah sangat berlimpah dan murah kok. Lebih murah dari bensin. Kalaupun tidak membawa minyak tanah, bagi ustadz-ustadz itu tidak mengapa-ngapa kok yang penting anak-anak itu mau mengaji.

Saat kami datang, sudah banyak anak-anak yang datang. Damis buru-buru menyerahkan plastik yang berisi minyak tanah setengah liter kepada seorang anak yang sudah ditunjuk untuk mengumpulkan minyak tanah hari itu. Segera setelah itu, kami berwudlu dan bergabung bersama anak-anak yang lain.

Waktu magrib pun tiba. Kang Utang masuk ke ruangan mengaji, lalu dengan isyarat dimintanya Damis untuk adzan. Selesai adzan, kami salawatan menunggu beberapa anak yang belum selesai wudlu. Tak berapa lama, Kang Utang memberi isyarat lagi. Salah satu anak berdiri, lalu qomat.

Kami serempak berdiri bangun membuat shof untuk sholat. Anak laki-laki berbaris di depan, sedangkan anak perempuan di belakang.

“Jangan ribut dan jangan bercanda. Kita akan mulai sholat,” kata Kang Utang sambil menghadap ke arah kami.

“Baik, Kang!” jawab kami serempak.

Kang Utang membalikkan badan, menghadap kiblat. Terdengar dia perlahan-lahan membaca basmallah dan, “Usholi fadlol maghribi tsalasa roka’atin….Allahu Akbar!”

“Allahu Akbaaar!” serempak kami bertakbir memulai sholat. Kalau Kang Utang yang menjadi imam, sholat kami terasa khusyuk, tak ada anak yang berani bercanda. Semuanya mendengarkan surah yang dibaca Kang Utang. Suara Kang Utang yang merdu sering terasa olehku menggetarkan hatiku meskipun kami rata-rata tak tahu makna surah yang dibacanya itu. Pernah di suatu sholat, Kang Utang menangis membaca surahnya sehingga kami pun ikut menangis. Betul, kami menangis terbawa emosi suara Kang Utang saat membaca ayat-ayat Qur’an itu, padahal maknanya sama sekali kami tidak mengerti. Dengan kekhusukan seperti itu, sholat kami terasa singkat padahal rata-rata, saat Kang Utang menjadi imam, kami sholat dua puluh menit.

Selesai sholat, Kang Utang duduk di antara kami. Kami duduk melingkar. Kang Utang bersila di atas sajadah.

“Duduk yang rapi. Anak laki-laki di sebelah kanan dan anak perempuan di sebelah kiri, melingkar, tidak boleh duduk bercampur. Ayo, mulai. Baca taawud dulu. Hari ini pakai usholi subuh ya,” begitu kata Kang Utang meminta kami mulai membuka pengajian.

“A’udzubillahi…usholi fardlu subhi rok’ataini….” Serempak kami mulai pengajian. Begitulah setiap hari sebelum kami membaca kitab, terlebih dahulu kami membacakan bacaan sholat dengan keras-keras. Awalnya kami tidak tahu bahwa yang kami bacakan dengan penuh semangat setiap akan memulai pengajian itu adalah bacaan sholat. Bacaan yang cukup panjang itu jika dipaksakan kepada kami untuk dihafalkan tentu kami akan kesulitan untuk menghafalkannya. Namun, teknik menjadikan bacaan sholat sebagai bacaan pembuka setiap kami memulai pengajian menyebabkan kami tidak sadar jika kami sebenarnya sedang menghafalkannya. Biasanya cukup dalam waktu sebulan anak-anak baru sudah bisa hafal, meskipun mereka tidak tahu bahwa yang mereka bacakan itu adalah bacaan sholat. Kami baru menyadari bahwa itu bacaan sholat biasanya setelah kami diminta untuk praktik sholat.

Semua lancar-lancar saja membacakan bacaan sholat itu sebab sudah terbiasa, tetapi ketika bacaan masuk ke dalam doa qunut, banyak anak yang kurang lancar. Maklumlah, doa qunut kami bacakan saat kami memilih dengan usholi subuh. Itu pun paling-paling sekali dalam lima kali pengajian.

Setelah selesai membaca bacaan sholat, kami akan mulai belajar membaca huruf Arab. Anak-anak kecil belajar kepada anak-anak besar. Sambil menunggu giliran mengaji kepada Kang Utang, anak-anak yang lebih besar  biasanya membimbing tiga sampai lima anak-anak kecil.  Diajarinya anak-anak kecil  membaca huruf hijaiyyah, setiap hari satu baris. Selain itu, setelah selesai membaca huruf Arab, diajarkannya rukum iman, rukun Islam, dan macam-macamlah. Sering kami satu-satu diminta untuk menyebutkan apa-apa yang telah diajarkan tanpa melihat buku atau catatan, istilahnya di-talar. Yang unik adalah sebagian besar materi-materi yang mesti kami ingat itu semuanya diajarkan dengan bernyanyi. Materi-materi itu menjadi sebuah lagu yang memudahkan kami untuk menghafalnya.

Aku dan Damis sudah lancar membaca huruf Arab, tapi kami masih di Juz Amma, belum membaca Al-Qur’an. Pembimbing kami adalah Kang Saji. Ada tiga anak lagi yang dibimbing Kang Saji, selain aku dan Damis. Mereka adalah Dadang, Ujem, dan Ocid.

“Damis, ayo sebutkan nama-nama 25 nabi dan rasul!” Kang Saji menunjuk Damis.

“Saya saja, Kang,” ujar Dadang.

“Saya juga bisa, Kang,” kata Ujem tidak mau ketinggalan.

“Damis, kamu bisa tidak?” Kang Saji mengabaikan yang lain.

“Bisa, Kang. Tapi, setelah Dadang dan Ujem, ya,”jawab Damis sambil tersenyum kecut.

“Ya, sudah. Kalau begitu, bareng-bareng saja ya.” Kang Saji bersikap bijaksana, dia sadar Damis sebetulnya belum hafal.

Dengan semangat, kami pun menyebutkan nama-nama nabi, ya tentu saja dengan dinyanyikan. Namun, kami menyanyikannya dengan pelan-pelan sebab khawatir mengganggu kelompok yang lainnya yang juga sedang asyik belajar.

Pukul 19.15 mereka yang masih mengeja dan masih di juz amma diperbolehkan untuk pulang. Aku dan Damis pun pulang.

Di tengah jalan kami bertemu Engkur, pengajian Kang Aning pun baru bubaran.


[1] Tajug=langgar, mushola

[2] Baleg=balig; cukup umur

[3] Saat itu belum ada Metode Iqra untuk belajar membaca Al-Qur’an maka belum ada buku Iqra. Yang ada adalah buku belajar Huruf Hijaiyyah dan Juz Amma dengan Qoidah Bagdadiyyah, yang terdiri atas dua bagian: bagian pertama, belajar mengeja huruf hijaiyyah; dan bagian dua berisi juz pertama.

(Bersambung)

_________________________

Ilustrasi gambar dari SINI

_________________________

INSAN PURNAMA, lahir di Karawang,  27 Juli 1969. Sekarang tinggal di Tambun, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, bersama istri dan tiga orang anak.

Sejak 1996  mengajar di sebuah lembaga bimbingan & konsultasi belajar di Jakarta,  pembuat modul belajar bahasa dan sastra Indonesia, dan sejak tahun 2003 menjadi trainer bagi guru-guru muda.

Dunia tulis-menulis digemarinya selama menjadi mahasiswa. Saat itu cerpen-cerpennya pernah dimuat di Media Indonesia; berbagai artikel masalah sosial politik pernah dimuat di Harian Terbit, Republika, dan tabloid Aksi (sekarang tidak terbit).

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: