Tinggalkan komentar

Hikayat 3 Sahabat #28 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama

___

24

Kang Saji adalah tipikal laki-laki mandiri. Sekolahnya hanya sampai SD, sebab ia tidak mampu meneruskan ke SMP. Waktu di SD pun dia bekerja serabutan untuk bayar SPP dan membeli perlengkapan sekolahnya. Ia sudah yatim sejak kecil.  Ia pernah merantau ke Jakarta dan bekerja sebagai tukang foto keliling di Jakarta. Saat itu, profesi sebagai tukang foto keliling memiliki penghasilan yang lumayan. Tapi, sebab mengkhawatirkan ibunya yang sudah tua, Kang Saji pun kembali ke kampung. Namun, ia tetap berprofesi sebagi tukang foto keliling.

Sejak pulang dari Jakarta, setiap malam Kang Saji  tidur di tajug Kang Utang sebab rumahnya terlalu sempit. Siang harinya ia berkeliling mencari pelanggan dari satu kampung ke kampung lainnya. Kalau tidak keliling, ia mencuci pakaiannya sendiri. Umurnya sekitar dua puluh tahun. Entahlah, pastinya berapa tidak tahu persis sebab umumnya anak-anak di tempatku tidak punya akta kelahiran, bahkan orang tua tidak mencatat tanggal kelahiran, hanya mengaitkan dengan peristiwa yang terjadi saat anaknya lahir.

 Dulu, Kang Saji pun mengaji di tajug Kang Utang, tapi ia tidak mengaji kepada Kang Utang, tetapi mengaji kepada kakaknya Kang Utang. Sebab itu, menurut Kang Utang sendiri, sebenarnya bacaan Al-Qur’an Kang Saji sangat bagus. Tapi, ia selalu rendah hati untuk tetap belajar kepada siapa pun.

Kang Saji sangat humoris. Ia sering menceritakan pengalamannya dengan gaya dan ekspresi yang lucu sehingga kami sering tertawa terpingkal-pingkal mendengar ceritanya. Seperti malam itu, kami berkumpul setelah yasinan[1] dan sholat isya berjamaah. Malam itu malam Jumat, pengajian libur, tapi sebagai gantinya diadakan yasinan.

“Ji, katanya kamu mengalami kejadian seru minggu lalu ya?” tanya Kang Utang. Saat itu kamu duduk-duduk santai. Aku dan Damis hanya menguping saja pembicaraan mereka.

“Iya, Kang,” jawab Kang Saji sambil rebahan. Lalu, ia bangun, lantas duduk bersila.

“Bagaimana ceritanya, Ji?”

“Waktu itu, saya pergi menonton wayang golek di Tegal Asem. Rencananya mau nonton semalam suntuk sebab dalangnya R. Cecep Supriyadi, Kang. Dalang nge-top dari Kota Karawang. Lagi seru-serunya nonton, saya ingat, Kang, saya belum sholat isya. Saya putuskan sholat isya dulu, Kang. Waktu itu sekitar jam setengah dua malam. Sebab di kampung orang, saya mencari-cari masjid atau mushola. Ternyata masjidnya jauh dari tempat pertunjukkan wayang golek.” Saji berhenti dulu. Ia menyelonjorkan kakinya.

“Terusnya bagaimana, Ji?” kata Kang Utang.

“Waktu sampai masjid, saya melihat ada lima atau tujuh pemuda sedang duduk-duduk di lantai depan masjid, sepertinya mereka sudah selesai sholat dan mau pergi. Saya langsung wudlu, tempat wudlu agak jauh juga. Setelah selesai wudlu, saya masuk masjid. Suasana masjid itu terasa membuat saya merinding mungkin sebab saya pikir saya seorang diri. Untuk menghilangkan takut, dan sesuai sunah Rosul, maka saat membaca Fatihah, saya membacanya keras-keras.”

“Betul, Ji. Nah, Damis, kalau sholat maghrib, isya, dan subuh, membaca fatihah dan surahnya pada dua rakaat pertama harus terdengar jelas, ya.” Kang Utang menegaskan.

“Tapi, saya mah keras banget bacanya sebab saya tiba-tiba merasa seperti ada sesuatu di belakang saya,” kata Kang Saji. “Bulu kuduk saya sudah merinding. Saya mulai ketakutan, tapi saya terus sholat dan membaca Fatihah. Nah, waktu saya selesai membaca waladh dholiiin, tiba-tiba di belakang saya terdengar ada yang jawab ‘aamiiiiiin!’ suara orang banyak dan keras lagi. Saya kaget, Kang. Saking kagetnya, saya pun lari ketakutan sambil teriak ‘setaaaan!’, eh, yang di belakang saya bubar sambil teriak, ‘setaaan! setaaan!’ sambil berlari keluar masjid.”

“Lho, kok, bisa?”

“Iya, Kang, ternyata pemuda-pemuda yang tadi di depan masjid itu ternyata mereka menjadi ma’mum kepada saya, tetapi mereka tidak memberi isyarat. Saya pikir tadi mereka sudah sholat dan mau pergi dari masjid. Jadi, saya merasa sholat seorang sendiri, makanya alangkah kaget dan ketakutannya saya waktu ada yang jawab amin.”

Semua yang hadir tertawa. Kang Utang terlihat memerah wajahnya menahan tawa dan bahunya terguncang-guncang.

Aya-aya wae maneh mah[2],” kata Kang Utang.

“Terus, Kang Saji jadi tidak sholatnya?” tanya Damis.

“Tidak jadi sholat di situ, saya langsung pulang dan sholat di sini,” jawab Kang Saji.

“Saya dengar-dengar kamu juga punya pengalaman lain waktu di Jakarta,” kata Kang Utang setelah tawa kami reda.

“Nah, waktu di Jakarta, saya bertemu orang-orang yang sholatnya berniat tidak pakai usholi. Memangnya boleh, Kang? Tapi, mengapa Kang Utang masih mengajari anak-anak untuk pakai usholi?”

“Boleh,” kata Kang Utang, “baik yang pakai usholi maupun yang tidak pakai usholi tetap sama-sama muslim. Saya mengajari anak-anak agar berniat sholat pakai usholi sebab dengan pakai usholi sekurang-kurang ada sepatah-dua patah kata Arab yang kita mampu ucapkan dengan baik. Siapa tahu nanti mereka termotivasi mau belajar bahasa Arab, sebagai bahasa agama kita. Coba jika saya  mengajari agar tidak pakai usholi, maka bisa dibayangkan tak sepatah kata Arab pun yang bakalan dipelajari anak-anak.”

Dengan terkantuk-kantuk, Damis bertanya, “Kang, bagaimana caranya agar kita bisa berbahasa Arab?”

“Belajar Nahwu dan Shorof. Sudah jam sembilan, sudah malam, kalian pulang ya.”

Bergegas anak-anak menyalami Kang Utang, Kang Saji dan beberapa orang yang dituakan. Tak lupa kami uluk salam sebelum melangkahkan kaki meninggalkan tajug itu.

Assalamualaikum!

Waalaikum salam!

Esoknya aku berkumpul bersama Damis dan Engkur sepulang sekolah. Siang itu mamaku sengaja menyuruhku mengajak Damis dan Engkur untuk makan di rumahku. Mama masak agak banyak sebab keluarga kami sedang dapat kelebihan rezeki. Yang dimasak mama adalah pepes ikan mujair, sayur ayem, goreng tahu, dan goreng ikan teri. Sederhana memang, tapi bagi kebanyakan orang di kampungku, itu sudah cukup mewah sebab biasanya mereka makan dengan satu jenis lauk saja. Kalaupun ada dua jenis lauk, maka pasti harus dibagi sekian anggota keluarganya. Misalnya keluarga Damis, kalau ibunya masak sayur ditambah telur, maka sayur asem itu pasti banyak banget kuahnya dan telurnya didadar lalu dipotong dibagi lima.

“Wah, makan enak nih,” kata Engkur.

“Ini sih bukan enak lagi, tapi enak-enak-enak-enak-enak!” timpal Damis.

Kami duduk bersila di ruang tengah di atas tikar yang sudah digelar.

Tiap-tiap kami sudah memegang piring. Engkur yang duluan menyendok nasi, ia tipe anak yang tidak malu-malu. Dibukanya pepes ikan mujair, diletakkan di depannya. Diambilnya tahu, ikan teri diletakkan di atas nasinya. Cekatan banget tangannya. Aku santai saja. Tak perlu cepat-cepat sebab pasti mama masih punya banyak persediaan. Setelah menyendok nasi, Damis hanya mengambil tahu.

“Kamu punya sirop[3] tidak?” tanya Damis kepadaku. Piring nasinya diletakkan di bawah.

“Punya. Buat apa?” jawabku.

“Ambil dong aku mau,”

Aku bangun, lalu ke belakang mengambil sirup.

“Ini sirupnya.” Kataku setelah balik ke tempat tadi.

“Mantap!” serunya sambil menerima sirup dari tanganku.

“Belum makan kok sudah mau minum sih,” kata Engkur, “tidak bagus itu.”

“Siapa yang mau minum”

“Itu kamu minta sirop buat apa?”

“Aku mau makan tahu sama sirop kok.”

“Haaaah?!” teriak aku dan Engkur bersamaan

“Mana ada orang makan tahu sama sirop,” Engkur heran.

“Buat apa?” Aku lebih heran lagi.

“Supaya pintar bahasa Arab,” Kata Damis dengan mantapnya.

“Haaaaah!? Kata siapa?” Sekali lagi Engkur heran.

“Kata Kang Utang semalam,”  jawab Damis tenang.

“Semalam?” Giliranku yang heran.

“Iya, waktu aku tanya supaya pintar bahasa Arab harus bagaimana Kang?”

“Terus, apa jawab Kang Utang?”

Ngadahar tahu jeung sirop[4], begitu jawab Kang Utang.” Damis begitu yakin akan kata-kata yang diucapkannya.

“Salah,” sergahku seketika, “katanya belajar nahwu dan shorof, bukan ngadahar tahu jeung sirop.”

“Yang benar?” sekarang giliran Damis yang heran.

“Iya, jelas banget aku mendengar jawaban Kang Utang. Kamu ‘kan semalam mengantuk, jangan-jangan kamu salah dengar,” kataku yakin. Aku ingat situasi semalam.

“Wah, bagaimana dong? Tapi, boleh juga dicoba ya bagaimana rasanya makan tahu dicampur sirop.”

Tanpa menunggu komentar kami, Damis pun mengguyurkan sirop ke atas tahu goreng, lalu memasukkan tahu yang berlumuran sirup itu ke dalam mulutnya. Matanya terpejam sayu.

Aku dan Engkur ternganga.

Ngeunaaaaaaah euy[5]!” gumamnya sambil mengunyah.

(Bersambung)


[1] Yasinan=membaca surah Yasiin secara bersama-sama

[2] Ada-ada saja kamu ini

[3] Sirop=sirup

[4] Makan tahu dengan sirop

[5] Ngeunah=enak, euy= kata seru

_________________________

Ilustrasi gambar dari SINI

_________________________

INSAN PURNAMA, lahir di Karawang,  27 Juli 1969. Sekarang tinggal di Tambun, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, bersama istri dan tiga orang anak.

Sejak 1996  mengajar di sebuah lembaga bimbingan & konsultasi belajar di Jakarta,  pembuat modul belajar bahasa dan sastra Indonesia, dan sejak tahun 2003 menjadi trainer bagi guru-guru muda.

Dunia tulis-menulis digemarinya selama menjadi mahasiswa. Saat itu cerpen-cerpennya pernah dimuat di Media Indonesia; berbagai artikel masalah sosial politik pernah dimuat di Harian Terbit, Republika, dan tabloid Aksi (sekarang tidak terbit).

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: