Tinggalkan komentar

Hikayat 3 Sahabat #39 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama

___

Kamis, 16 Agustus, pukul 07.00, Ruang Sidang Tesis

Aku duduk dengan tegang di kursi khusus, sedangkan di depanku empat orang penguji duduk dengan serius. Mas Syam, temanku yang ikut hadir, duduk di belakangku.

Pak Ketua Jurusan, merangkap sebagai ketua sidang, meneliti beberapa berkas. Di sampingnya kanannya duduk pembimbingku, di samping kirinya, Penguji Ahli, dan paling kiri sekretaris sidang. Semuanya serius membolak-balik tesisku.

“Saudara, sudah siap?” tanya Ketua Sidang.

“Siap, Pak!” jawabku seraya menganggukkan kepalaku. Jantungku berdebar-debar keras. Tapi, aku mencoba menahan gejolak itu. Berkali-kali aku menarik napas panjang dan tentu saja berkali-kali pula aku membaca basmallah.

“Kalau Saudara sudah siap, kita mulai saja. Saudara tidak perlu mempresentasikan terlebih dahulu. Kita langsung tanya-jawab, makin banyak tanya-jawab akan semakin baik sebab akan semakin jelas sejauh mana penguasaan Saudara terhadap topik yang Saudara tulis,” jelas Ketua Jurusan.

Aku mengangguk-angguk mendengar penjelasan itu. Aku agak kecewa juga sebab aku sudah mempersiapkan tranparancy sheet untuk presentasi dalam sidang tesis ini. Tapi, tak apalah mungkin Ketua Jurusan menganggap presentasi kurang efektif untuk menggali semua hal berkaitan dengan topik tesisku.

“Saya yang memulai bertanya pada Saudara. Saudara langsung menjawabnya.” Ketua Jurusan menatap saya. Tangannya memegang copy tesis. Sebentar menaikkan kacamatanya.

“Mengapa Saudara tertarik dengan topik ini” tanyanya.

“Topik ini menjadi menarik saat ini, Pak. Menguatnya gejala penegasan terhadap identitas kelompok terjadi berbarengan dengan runtuhnya rezim orde baru.  Pada masa orde ada kecenderungan menyeragamkan perbedaan yang secara unik menjadi ciri utama bangsa Indonesia. Misalnya, ada asas tunggal. Semua partai politik dan ormas dipaksa untuk berasaskan yang sama, yaitu Pancasila. Anak-anak sekolah berpakaian seragam yang sama sesuai tingkatannya.  Demikianlah, semuanya mau disamakan agar mudah mengontrolnya. Pada sisi lain, keinginan untuk menunjukkan identitas masing-masing kelompok bagaikan bara dalam sekam. Karena itu, saat Orde Baru runtuh, keinginan untuk menunjukkan identitas sendiri langsung dimunculkan ke permukaan. Masing-masing suku, agama, golongan, dan segala macamnya muncul dengan identitas khas masing-masing. Parahnya adalah masing-masing merasa paling unggul dibandingkan yang lain. Secara perlahan sikap seperti itu memudarkan semangat kebangsaan.” Aku mencoba menjelaskan dasar pemikiranku mengenai topik yang ku pilih. Mudah-mudahan para penguji tesisku berkesan dengan penejelasanku itu.

“Apa kaitannya antara identitas dengan terbentuknya sebuah kelompok?” tanya Ketua Jurusan lagi.

“Identitas dapat menjadi dasar terbentuknya sebuah kelompok. Atau, sebuah kelompok yang sudah terbentuk akan memilih atau menentukan identitas yang menjadi ciri kelompok tersebut.”

“Maksud, Saudara? Bisa contohkan?”

Aku menarik napas dulu.

“Orang-orang yang merantau sering berkumpul lalu membentuk paguyuban berdasarkan identitas yang sama sebagai sebuah etnis tertentu. Sebuah gank anak muda yang baru terbentuk misalnya akan mencoba mencari identitas tertentu yang dapat membedakannya dengan gank yang lain.”

“Selain identitas faktor apa saja yang bisa mendorong terbentuknya sebuah kelompok?”

“Faktor apa saja bisa, yang penting ada kesamaan baik dalam hal yang konkret, seperti kesamaan fisik, umur, atau kesamaan dalam hal yang abstrak, seperti kesamaan ideologi, cita-cita, bahkan mimpi.”

Demikianlah aku terus-menerus dicecar berbagai pertanyaan berkaiatan dengan topik tesisku. Suasana tidak selalu serius, kadang muncul pertanyaan ringan yang mengundang senyum. Kalau jawabanku tampak kurang tepat, penguji justru menyampaikan saran. Setelah dua jam, sidang tesis dianggap selesai. Aku dipersilakan menunggu di luar. Para penguji  akan rapat untuk memutuskan lulus tidaknya aku dalam sidang tesis itu.

“Luar biasa!” kata Mas Syam saat kami sudah di luar ruangan.

“Apa yang luar biasa, Mas?” tanyaku. Aku mengelap keringatku di dahiku.

“Sidang tesismu itu. Seru banget. Saya sudah beberapa kali menyaksikan sidang tesis tapi tidak seseru sidang tadi.”

“Kira-kira saya lulus tidak, Mas?”

“Rasanya, lulus.”

“Mudah-mudahan, Mas.”

Pintu ruang sidang terbuka.

“Saudara, silakan masuk kembali!” kata Sekretaris sidang saat dia melihatku.

Aku segera masuk. Kembali, aku duduk di kursi khususku.

“Setelah kami rapat tadi, akhirnya kami memutuskan bahwa Saudara dinyatakan lulus. Tapi, Saudara harus memperbaiki tesis ini sesuai saran dan masukan dari kami tadi. Waktu untuk memperbaiki tesis ini adalah dua bulan. Jika selama dua bulan, perbaikan tesis belum selesai maka Saudara harus sidang kembali,” terang Ketua Jurusan.

“Terima kasih, Pak.”

Aku bangun terus berjalan menuju para penguji untuk mengucapkan terima kasih dan bersalaman dengan mereka. Segera aku keluar tempat sidang. Tepat di depan pintu, Mas Syam langsung bertanya, “Bagaimana?”

“Alhamdulillah, saya lulus.”

“Alhamdulillah.”

(Bersambung)

________________________________

INSAN PURNAMA, lahir di Karawang,  27 Juli 1969. Sekarang tinggal di Tambun, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, bersama istri dan tiga orang anak.

Sejak 1996  mengajar di sebuah lembaga bimbingan & konsultasi belajar di Jakarta,  pembuat modul belajar bahasa dan sastra Indonesia, dan sejak tahun 2003 menjadi trainer bagi guru-guru muda.

Dunia tulis-menulis digemarinya selama menjadi mahasiswa. Saat itu cerpen-cerpennya pernah dimuat di Media Indonesia; berbagai artikel masalah sosial politik pernah dimuat di Harian Terbit, Republika, dan tabloid Aksi (sekarang tidak terbit).

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: