Tinggalkan komentar

“The Secret Garden” #1 : Cerpen Ana Antarisa Nugroho

“The Secret Garden”
Pintu Hati Perempuan (1)

Cerpen Ana Antarisa Nugroho

Entah harus ku mulai dari mana.

Di suatu hari, saat menikmati kopi yang ke empat untuk sepanjang hari ini, sementara diluar derai canda hujan menghujam bumi yang kerontang menebarkan aroma khas hujan. Sejuk. Hujan juga telah melukis embun di jendela kamarku. Secret Garden memainkan piano dan biolanya dengan lembut membuatku kembali berkhayal pada dongeng seribu satu malam ku.

*

Dongengku bermula dari sebuah kebun. Kebun yang tiba tiba muncul dari balik lemari tua di kamarku. Kemudian aku menyebutnya sebagai “The Secret Garden”. Kebun yang memiliki banyak pintu. Hari ini aku akan membuka salah satu pintunya yang bernama, “Pintu Hati Perempuan”. Kebun yang penuh semerbak bunga dan hamparan hijau yang mendamaikan. Hanya perempuan terpilih yang bisa menembusnya. Kebun rahasia yang dipenuhi oleh hati perempuan. Dan aku belajar banyak tentang hati disana.  

Sebenarnya aku tak sengaja bermain dalam kebun indah itu. Aku dianugerahi sebuah kunci perak berukir. Dalam dongeng, aku adalah Peri, dengan tongkat emas yang mengeluarkan jutaan bintang kecil bila kuayunkan. Aku mengunjungi kebun cantik itu dan bertemu banyak sahabat sahabat perempuan dengan sejuta kisahnya. Bahagia, kekuatan, hasrat cinta, kesunyian, ketulusan, pengorbanan, terluka, kepedihan, kecewa, dan pengkhianatan… Aah, sahabat-sahabat tercantik, sesungguhnya engkau adalah perempuan terpilih yang paling beruntung di dunia.  

Dan hari ini, maukah kau ikut dengan ku ? Kau akan tau kata hati perempuan perempuan istimewa pilihan itu…

*

Kebun Tulip

Aku terbang mengelilingi kebun indah itu, hinggap pada kumpulan bunga tulip yang masih kuncup.. sungguh menawan. Diantara bunga asli Turki itu, berbaring seorang sahabat di atas hamparan kain bermotif diagonal. Memandang langit biru bersih berhias segumpal awan putih berbentuk hati. Disampingnya tergeletak buku jurnal hitam tebal miliknya. Hmm… perempuan cantik ini sedang menulis.

Tiba-tiba ia menoleh ke arahku. “Oh, maafkan aku, apakah kehadiranku mengganggu lamunanmu ?” kataku.

“Hallo, tidak sama sekali Peri mungil. Sudah lamakah kau berada di atas jurnalku ? maukah kau mendengarkan bisikan hatiku ?” jawab sahabat Tulip sambil membalikkan badannya.

“Selalu sahabat cantikku, apa yang sedang kau tulis ? mengapa wajahmu berseri seri, kisah indahkah yang sedang kau tulis itu ?” kataku sambil terbang berputar di atas buku jurnalnya…

“Ya, karena aku sedang bahagia.. mengikhlaskan sesuatu yang bukan menjadi hak ku, karena begitu banyak hati yang harus ku jaga. Bukankah membahagiakan banyak hati akan lebih bermakna daripada memaksakan kisah yang seharusnya tidak terukir ? Cerita yang sempurna untuk dikenang karena kuakhiri dengan indah..” balasnya sambil memainkan penanya mengikuti bias jejakku.

“Apakah itu ?” tanyaku.

“Cinta dalam hati..” jawabnya sambil tersenyum. Aaah.. senyum tulus itu.

“Tapi aku kehabisan kata-kata untuk bagian akhir dari kisah ku” sambungnya.

Melepas sesuatu rasa yang dalam, pasti tidak mudah… tapi Sahabat Tulip ku tengah berusaha dan lebih bahagia karenanya. Aku yakin, walau meninggalkan luka di hatinya tapi sama sekali tidak nampak di senyumnya…

“Kau mau aku membantumu menggoreskan sentuhan terakhir untuk tulisan indahmu, sahabat Tulip ku ?” kataku. Dia mengangguk pasti. Aku kembali terbang berputar di atas jurnal nya, kuayunkan tongkat emas ku dan menebar sejuta bintang kecil yang berhambur dan mengukir sebait kalimat pada akhir paragraph tulisannya…

“Cukup cintai dia dalam diam..
Bukan karena membenci hadirnya, tetapi menjaga kesuciannya,
Bukan menghindari dunia, tetapi meraih surgaNya,
Bukan karena lemah untuk menghadapinya, tetapi menguatkan jiwa dari godaan syaitan yang begitu halus dan menyelusup…“ 

“Terimakasih Peri mungil, kau telah menyempurnakan catatan hatiku..” kata sahabat Tulipku sambil mendekap jurnal hitamnya.

*

Kebun Mawar 

Kutinggalkan kumpulan tulip yang menawan, kini aku terbang ke arah Selatan.. dekat dengan telaga biru yang berkilau. Serumpun mawar tumbuh di sana. Harum, semerbaknya mengundang banyak kumbang. Walau berduri, mawar tetap menawarkan keelokan.

Sahabat perempuan duduk di bangku kayu dikelilingi mawar yang bermekaran,.. Ah, sahabat Mawar ku yang ayu. Aura wajahnya menunjukkan keramahannya, tak heran banyak kumbang yang datang… Dia bersenandung, entah lagu apa yang dinyanyikan, tapi cukup menarik segerombolan kumbang untuk lebih lama bertengger di putik putik mawar….

“Sahabat Mawar ku yang baik, mengapa engkau bersenandung riang ? kabar apakah yang membuat mu begitu bersinar ?” sapa ku.

“Peri yang lucu, aku begitu bahagia… aku bertemu dengan cinta pertamaku. Aku juga memiliki suami yang mencintai, setia dan percaya padaku. Sungguh sempurna lagu cintaku.” jawabnya.

“Ooh, indahnya.. aku turut bahagia sahabat Mawarku. Tidakkah itu membuat suami mu gundah ?” aku terbang berputar seiring senandungnya.

“Peri kecilku, suamiku tidak akan cemburu.. karena dia yakin hatiku terkunci hanya untuknya “ jawabnya.

“Tidakkah engkau yang akan tergoda suatu saat ? lihatlah.. begitu berserinya wajahmu, aku khawatir suatu saat kau akan terhanyut bersamanya” kataku sambil terbang mendekati bola matanya, mencoba mencari celah kejujuran di sana.

Sejenak sahabat Mawarku terdiam… senandung riangnya terhenti, memandangku dan menarik nafas dalam dalam, lalu tersenyum.

“Peri, bagiku.. cukup satu cinta tulus lelaki yang kini menjadi imam ku, aku akan membalasnya lebih dari cintanya padaku. Akan aku pagari hatiku, aku biarkan cinta pertamaku datang mendekatiku, tapi tidak akan kubiarkan dia mengusik bahagiaku bersama suamiku yang setia. Kupikir malaikat telah menyuruhku membantu kekasih pertamaku menguatkan hatinya. Setelahnya, tugas ku pun selesai” paparnya sambil kembali bersenandung cinta…

“Yakinkah kau tidak akan terluka jika suatu saat cinta pertamamu menjauh dari mu ?” kejarku.

Sahabat Mawarku terus bersenandung, seolah tak mendengar pertanyaan terakhirku. Ia melepas alas kakinya, kemudian bermain air dalam telaga biru yang berkilau.

Jangan berenang terlalu ke tengah sayang.. aku takut kau akan terhanyut bahkan tenggelam ditelan gelora rasa mu…  Kutebarkan warna warni gemerlap tongkatku di wajahnya yang bulat sebelum aku beranjak pergi meninggalkannya, ku berdoa semoga sang sahabat Mawar ku hanya setia pada cinta atas ridhaNYA.

“Sekuat apa pun engkau mengikat rambutmu, dan membiarkan khayalan dan penyesalan hati bergelayut di lehermu, engkau tetap tidak akan dapat mengembalikan masa lalumu sedikit apa pun…”  

*

Kebun Anggrek 

Sang angin membawaku ke kebun Anggrek.

Kebun dalam rumah kaca yang rapat. Sederet pot tertata rapi, aneka macam anggrek berkelompok sesuai jenisnya. Kelopak kelopak yang mempesona, seperti kertas dengan warna warna alami. Masya Allah barakallahu… Allah Maha Indah !

Aku bertemu sahabat Anggrek ku, perempuan dengan hati lembutnya. Lembut tuturnya, lembut tatapannya, lembut sentuhannya.. dia memelihara kebun dengan segenap kelembutannya. Aku terbang begitu dekat di ujung hidungnya, sepertinya ada sesuatu yang hilang.. kebebasan.

“Mengapa kau menatapku seperti itu Peri yang mungil ?” sapanya

“Mengapa engkau bertanya seperti itu sahabat Anggrek ku ?” balasku tanpa menjawab pertanyaannya

Matanya yang lembut, samar samar berair.. butiran mutiara jatuh membasahi kelopak Anggrek Bulannya.

“Mengapa engkau menangis sahabat lembut ku ?” tanyaku kali ini lebih lirih.

Dia menggeleng, menarik nafas dalam, menghapus butiran jernih bak embun di matanya… “Tidak apa-apa, aku hanya merasa sendiri dalam rumah kaca ini. Maukah engkau menemani ku bermain Peri yang baik ?”

“Tentu..” kataku pendek. Aku mendarat di ujung tulunjuknya.

“Ah, Periku… kau begitu kecil, aku ingin memelukmu…hahaha” tawa yang terlalu dipaksakan ditengah isaknya.

Aku terbang ke atas kepalanya, kumainkan tongkatku sehingga butiran bintang bertaburan. Aku ingin melihatnya tersenyum ceria, sehingga keindahan hatinya terbaca di wajahnya.

“Aku merasa bukan istri yang baik… “katanya lirih, kini airmatanya deras mengalir.

“Mengapa kau berkata seperti itu sahabat Anggrek ku sayang ? kau adalah istri paling cantik di dunia, yang taat pada suami. Dan suamimu adalah pria yang paling beruntung di dunia memiliki mu. Dia sangat mencintai dan ingin menjagamu seakan kau adalah gelas kristal termahal di dunia. Kau patut berbangga karenanya.” aku berceloteh sambil terus mengayunkan tongkat saktiku.

“Indahkan hatimu. Bidadari surga akan iri melihat ketaatan mu.” sekali lagi aku hinggap di telunjuknya.. sekali lagi aku tebarkan lebih banyak lagi kilau-kilau bintangku.

“Menaati suami dengan ikhlas adalah bagian dari taat kepada Allah Swt dan ketaatan istri akan menjadikan suami ridha kepada istrinya, sebagai salah satu syarat kemudahan istri untuk masuk taman surga…”  

Pesan Nabi Muhammad SAW “Seandainya aku memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada seseorang, niscaya aku perintahkan wanita bersujud kepada suaminya” (HR. Tirmidzi) 

Kutinggalkan sahabat Anggrekku yang lembut dalam rumah kaca, terbang menjauh, tapi kini tanpa muram di wajahnya…

*

Kebun Bunga Perdu 

Tidak jauh dari kebun Anggrek ada suatu padang ilalang, yang ditumbuhi bunga-bunga perdu yang rimbun. Tanahnya agak berbukit, tepat di atas bukit yang paling tinggi ada sebatang pohon flamboyan yang rindang berbunga merah merona dan daunnya yang sedikit keemasan.

Tadinya aku tak ingin singgah, tapi karena gerimis tiba tiba menyapa, memaksa aku untuk berteduh di bawah pohon flamboyan itu. Ternyata aku tidak sendiri, berteduh disitu sahabat perempuan dengan gaun panjang berwarna salem. Rambut hitam tergerai, matanya bulat, jari-jarinya lentik, matanya tak berkedip menatap hujan. Dia sedang berduka…

“Mengapa kau menatap hujan seperti itu ?” tanyaku memecah keheningan.

Tanpa menoleh sahabat bunga Perdu ku menjawab “Karena aku mencintai hujan.. Aku sedang menghitung tetesnya, sehingga ku tahu besarnya rinduku padanya“

Aku ikut terdiam. Aku mulai menikmati suara tetesan hujan yang bermelodi.

Tiba-tiba si Bunga Perdu terisak, semakin keras dan kini dia menutup wajah ayunya dengan telapak tangannya yang kurus.

Aku terbang mendekat, tak tahu harus berkata apa.

“Peri, jangan terbang jauh dari ku. Bolehkan aku meminjam gemerlap bintang-bintangmu untuk menerangi hatiku ?” pintanya masih dengan uraian air mata.

“Tentu sahabat Perduku.. aku tidak akan pergi sampai kau tersenyum kembali” jawabku lembut.

“Seseorang telah merebut suami dan ayah dari anak anakku… dan aku belum siap menerima semua ini. Apa yang harus aku lakukan kunang kunang kecil ? aku hanya perempuan biasa, istri biasa, manusia biasa yang punya hati dan rasa.. “

“Haruskah aku mengikhlaskan mereka ? Berdua menari diatas keping-keping hatiku ? Apa aku masih bisa bahagia ?” pertanyaan yang tidak mudah ku jawab.

“Sahabat Ayu ku.. tahukah engkau mengapa kau berada di hamparan rumput ilalang yang penuh bunga perdu ini” tanyaku, dan dia menggeleng.

“Karena engkau adalah perempuan terpilih yang sangat istimewa, Tuhan memberimu hati yang tak bertepi untuk selalu bisa memaafkan. Bunga Perdu yang tumbuh liar, kuat, tegar, tercantik, bermanfaat sebagai penyegar lapang yang tandus.. kau seperti itu sahabat Perdu ku”

“Sekarang, tersenyumlah… kau lebih berguna dan bermartabat dari pada si pencuri kekasihmu yang hidup seperti hama. Sebenarnya Tuhan Yang Maha Baik sedang berusaha menjauhkan suamimu dari mu dan dia sama sekali tidak layak untukmu.

Berhentilah menangis dan memburukkan kehidupan mu sahabat Perduku… hanya karena menyesali perginya si pengkhianat ? Tidak, terlalu sia sia buat hidupmu..”

Kemudian, aku menabur jutaan kilau binar bintang dari tongkat emasku, benderang menembus celah celah dedaunan flamboyan.

“Cara terbaik untuk membalas dendam kepada orang yang mencuri kekasih mu adalah mengikhlaskan kebersamaan mereka berdua. Karena jika dia kekasih yang baik, dia tiak akan mengkhianati mu. Sehingga orang yang mencuri kekasih mu, sebetulnya mencuri seorang pengkhianat” (Mario Teguh) 

Pelangi pun muncul di kaki langit, bias warnanya yang menawan sampai ke kaki bukit tempat ku berteduh bersama sahabat Perduku.

Indah sekali, dan kami menangis bahagia bersama…

*

Kebun Bintang 

Kebun Bintang memang menawan dan paling unik. Semuanya berbentuk segi lima. Pohon-pohon yang berbentuk bintang, keping-keping daun, kelopak bunga, danau, bebatuan dan sebuah pondok tepat di atas bukit yang berkilau perak. Hebatnya kau bisa memandang bulan setiap waktu. Aku bertemu dengan seorang sahabat Bintang duduk di sebuah batu datar besar berbentuk bintang di atas bukit sambil menatap langit.

“Halo Sahabat Bintang, mengapa tak lepas kau memandang langit ?” sapa ku.

Dia menoleh dan tersenyum “Aku suka pada malam, kau tahu ? bintang selalu setia pada malam.. “

“Mengapa matamu basah ? Kau menangis ?” kataku menyelidik sambil terbang menari mengitari wajahnya.

“Tidak, aku tidak menangis.. apakah aku tampak seperti sedang menangis ?” selanya sambil membuang muka seolah ingin menyembunyikan genangan di matanya.

Aku terdiam, aah.. aku terlalu banyak bertanya pada sahabat Bintang ku.

“Peri mungil, kau lihat Bulan besar yang benderang di atas sana ? kau lihat bintang emas di sisinya ?” tanyanya sambil menunjuk Bulan indah malam itu.

“Ya” jawabku pendek.

“Aku yang telah memasangkan mereka, indah bukan ?” lanjutnya sambil terus menatap langit.

“Itukah yang membuat matamu basah ?” kembali aku bertanya.

Kini sahabat Bintang ku menoleh ke arahku, menjulurkan kedua telapaknya seolah ingin meraupku.

“Aku menangis bukan karena melihat mereka bersanding, aku menangis karena mengapa baru sekarang aku melukiskan Bintang Emas dan Bulan Benderang bersanding di langit malamku, dan ternyata itu sangat sempurna.” jelasnya

“Mengapa kau tak ikut terbang menghiasi langitmu sahabat Bintangku ?” sambung ku.

“Tidak Periku sayang, karena aku hanya akan merusak keindahan lukisan mereka, kau paham ?” katanya sambil tersenyum.

Oh, sahabat Bintangku… tetaplah tersenyum seperti itu, ku yakin pelangi di malam hari akan menghiasi langitmu.

Sebelum terbang meninggalkan sahabat Bintang, aku menjatuhkan pesan yang tergulung di atas kertas perak diikuti taburan bintang bintang kecil berkilau.

“Cukup cintai dia dalam diam.. karena hadirmu tiada kan mampu menjauhkannya dari ujian. Karena hadirmu hanya akan menggoyahkan iman dan ketenangan, karena mungkin saja akan membawa kelalaian hati hati yang terjaga” 

Dan sahabat Bintangku tampak semakin bercahaya.

*

Lima kebun cantik dengan lima hati telah aku kunjungi.. aku lelah. Aku hinggap di pucuk cemara menikmati semilir dan suara angin berdesir membelai wajah. Sejenak merenung dan mengisi kembali tongkat ku dengan lebih banyak lagi kilau cahaya. 

Masih ada beberapa kebun cantik yang akan ku singgahi…

#bersambung…

_______________

Ilustrasi gambar dari SINI

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: