Tinggalkan komentar

The Secret Garden #2 – Cerita Ana Antarisa Nugroho

THE SECRET GARDEN ~
“Pintu Hati Perempuan” (2)

Cerita Ana Antarisa Nugroho

Sudah lima kebun aku singgahi dengan lima keping hati yang mengajariku tentang keikhlasan. Belum puas aku menjelajah kebun rahasia ini, dan angin masih menuntun ku ke beberapa sudut indah di Kebun Rahasia. 

*

Kebun Melati

Wangi semerbak. Lembut, anggun dan putih… Aku terbang berputar putar di rimbunan melati bersih. Walau aku Peri, aku merasa bak seorang Putri Raja berada di kumpulan melati-melati tak ternoda ini. Setiap jejakku akan diiringi mekarnya kuncup-kuncup melati…

Letaknya di tepi tebing, hanya dibatasi oleh pagar kayu yang terikat oleh akar alami. Aku tak tahu seberapa dalam tebing itu.. karena dasarnya selalu tertutup oleh kabut, seolah menyembunyikan rahasia Illahi.

Saat yang terlampau pagi, embun dan kabut pekat masih enggan beranjak menyekap fajar. Belaian angin yang mengalun seperti suara flute mendayu. Sungguh damai dan tentram berada di kebun Melati ini. Yaa Allah, Yaa Majiid, Yaa Wahhaab… Allah Maha Mulia, Maha Pemberi Karunia…

Tepat di tepi tebing ada 2 buah kursi besi, seolah diperuntukkan sepasang kekasih untuk menikmati lukisan alam yang sempurna. Tapi aku hanya menemukan seorang sahabat Melatiku duduk sendiri menatap embun-embun yang mulai mencair.

Aku sengaja terbang lebih dekat dan hinggap di ujung di kursi disampingnya. Sahabat Melati ku menoleh, selalu.. tersenyum. Aku suka dengan senyumnya yang menawan.

“Apa yang membuatmu menatap tetesan embun di pagi sedingin ini ?” tanyaku.

“Peri, boleh aku bertanya ?” balasnya.

Aku mengangguk di ikuti bias cahaya dari tongkatku.

“Mengapa embun selalu datang dan pergi di setiap pagiku ? mengapa embun hanya sekejap membasahi pagi ku ? aku ingin lebih lama menikmati sejuknya embun di hatiku ?” urainya.

Kemudian ia menunduk, memetik melati yang basah dan menciumnya dengan lembut, tanpa menghapus embun yang menempel. Tetapi, kini di pipinya mengalir butiran mutiara…

“Sahabat Melatiku yang cantik…” ku angkat dagunya agar matanya bisa sejajar denganku.

“Sanggupkah kau menunggu beberapa saat lagi ? Tuhan sedang memilih embun paling sempurna untukmu” sambungku.

“Apakah kau pikir aku tidak menarik ? sehingga embun enggan melekat padaku ?”

“Ha ha ha… oh, Sahabat Melatiku “ aku tertawa, air muka sahabat Melati berubah.

“Maaf sayang. Kemari, mendekatlah. Aku beritahu sebuah rahasia..” bisikku.

 “Tahukah kau apa yang ada di dasar tebing yang selalu tertutup kabut itu ?” masih berbisik.

Sahabat Melatiku menggeleng, sambil menyeka air mata yang tersisa…

“Disana tersimpan HATI mu… dengan kecantikan mu, engkau lebih indah dari matahari, dengan akhlakmu engkau lebih harum dari aroma minyak misik, dengan rendah hatimu kau lebih mulia dari bulan, dan dengan kelembutanmu, engkau lebih lembut dari rintik hujan… Jagalah kecantikanmu dengan keimanan, kerelaanmu dalam menerima apa yang ada dengan senang hati dan berprasangka baiklah pada Tuhan Sang Maha Lembut… ”

Aku terbang berputar sambil kuayunkan tongkat emasku… dan kilauan cahaya bintang bintang kecil berhamburan memenuhi kebun Melati.

“Sesuatu tidak selalu kelihatan sebagaimana adanya. Kadang-kadang itulah yang kita rasakan ketika kita berpikir bahwa sesuatu tidak seharusnya terjadi. Semua hal yang terjadi adalah demi kebaikan kita. Kita mungkin tidak menyadari hal itu, sampai waktunya tiba…”

Sahabat Melatiku, bersabarlah… semua akan indah pada waktunya.

Kelak, saat aku singgah kembali ke kebunmu, akan kutemui kau dan Sang Embun duduk menikmati lukisan alam berdua di kursi besi itu…

*

Kebun Bougainville

Sambil bersenandung ku tinggalkan sahabat Melati. Kebun Rahasia ini sungguh luar biasa, tanpa merasa mengepakkan sayap, aku sudah bisa melayang, karena lengan-lengan angin lembut telah menuntunku. Entah kemana lagi sang angin akan menerbangkanku.

Aiih, kebun bougainville !

Kebun bunga kertas, gemerisik kelopaknya saling bergesekan terkena hembusan angin semilir. Menciptakan melodi indah seolah menyapa matahari yang siap menebar manfaat. Warna-warna kelopaknya yang cerah membuat suasana hati ceria. Ratusan kupu-kupu terbang mengikuti arah angin, hmm… seperti permadani terbang !

Di tengah kebun Bougainville, sahabat perempuan dengan rok lebar dan topi musim panas sedang berguling-guling canda di hamparan beludru hijau. Rambutnya ikal tergerai, gigi putihnya berderet rapih dibalik tawa riangnya, gaunya yang bermotif bunga bunga dihinggapi banyak kupu-kupu. Hahaha… suasana gembira yang menceriakan.

“Hai sahabat Bougainville… bolehkah aku ikut berguling di rumput bersamamu ?” sapaku.

“Tentu, tentu Peri kecil. Berbagi kebahagiaan akan memberi mu lebih banyak bunga di hidupmu !” sahutnya sambil menjulurkan lengannya seolah ingin menarikku. Kami pun tertawa dan berguling di hamparan rumput yang tampak seperti beludru hijau.

“Sahabat Bougainville, apakah kau selalu riang seperti ini ?” tanyaku.

“Aku ? Tentu saja. Di setiap detik aku selalu bersyukur dan itu membuat aku bahagia. Tidak ada alasan buat bersedih Peri kecil.” jawabnya ditengah gurauan dengan puluhan kupu-kupu yang terus menari mengikuti geraknya.

Sambil setengah berteriak menahan rasa geli karena kupu kupu menggelitiknya, sahabat Bougainville ku melanjutkan perkataannya , “Jika tujuan hidup ini untuk mendapatkan kebahagiaan, kenapa kau melakukan hal yang membuatmu tidak bahagia ? Kenapa kau tak melakukan hal yang bisa membuatmu bahagia ?”

“Di mana kau dapatkan kebahagiaan itu sahabat Bougainville ku ? maukah kau tunjukkan itu kepadaku ?” tanyaku sambil mengejarnya.

Kali ini sahabat Bougainville ku terduduk, memandang ku dengan mata yang berbinar, setengah berbisik dia berkata padaku..

“Sebenarnya kebahagiaan itu tidak usah dicari-cari, kebahagiaan yang sejati itu tidak pernah jauh dari kita, dia ada di sini…. di dalam hati.” katanya sambil mengedipkan matanya dan jarinya menunjuk ke arah dadaku.

Aaahh… sahabat Bougainville ku yang ayu… kau benar-benar menebar kebahagiaan pada dunia ! Matahari tersenyum dan angin bertepuk riang mengiringi hadirmu.

Dan kami terbahak bersama, berguling kembali di hamparan rumput beludru di ikuti ratusan kupu kupu yang terbang bagaikan permadani serta hiasan bintang gemintang dari tongkat ajaibku.

Setiap ucapan syukur mu, akan menambah bahagia mu…

 

*

Kebun Teratai

Aku sampai di atas telaga yang tenang. Airnya biru berkilau, aku dapat melihat dasar telaga yang berlumpur dan berbatu. Aneh, lumpur sama sekali tak mengotori kilaunya air telaga. Bias matahari pagi menembus sempurna. Menjadikan seperti cermin raksasa yang memantulkan bayangan alam di sekelilingnya. Yaa ‘Azhiim, Allah Maha Agung !

Kebun Teratai… sekelompok bunga teratai berayun ayun gemulai tersembul di atas permukaan air. Kelopaknya bersemu merah, daunnya bulat melingkar. Capung dengan sayapnya yang bening dan mata berliannya hinggap dari kelopak satu ke kelopak lainnya dengan lincah.

Sebuah perahu kayu terapung membelah tenangnya air telaga. Sahabat Terataiku yang berseri duduk tersipu sendiri di sana. Dibalik kerudung panjangnya, tampak rambutnya yang sudah memutih, warnanya keperakan. Aku terbang mendekat, kuayunkan tongkatku dan percikan bintang dan bias pelangi jatuh kepermukaan telaga.

“Terima kasih Peri kecilku, indah sekali. “ katanya lirih, tanganya berusaha meraih bintang-bintang kecil yang bertaburan di wajahnya.

“Apakah kau sedang menunggu seseorang sahabat Teratai ?”

“Kau seperti sedang menanti sesuatu.” kataku lagi.

“Ya, aku menunggu sebuah pesan tulus dari seseorang. Pesan yang selalu datang di pagi hari. Sebuah gulungan kertas dalam botol” sahut sahabat Teratai ku. “Aku tak tahu mengapa ia begitu setia mengirimkannya untukku. Bertahun-tahun dia kirimkan pesan itu untukku, tanpa pernah bertemu” lanjutnya.

Aku terbang menari di atasnya, ku pandang sahabat Terataiku yang anggun.. di usianya yang beranjak senja masih tersimpan kecantikan yang terpancar dari hatinya.

“Sahabat Terataiku, sungguh kau sangat beruntung. Pesan itu.. adalah caranya mengatakan bahwa betapa ia selalu ada untukmu..” jelasku.

Kini sahabat Terataiku menatapku “Mengapa ia lakukan itu semua ? Tidakkah dia hanya membuang waktunya saja ?” matanya mulai berkaca-kaca

“Baginya, pagi hanyalah untuk mencintaimu.. seolah tak ada lagi hari esok… Kau terlalu indah untuk menjadi kenyataan maka ia ingin kau kembali lagi dalam mimpi mimpinya, yang terukir indah pada pesan dalam botol yang dikirimnya tiap pagi”.

Sahabat Teratai menatap ku dalam. “Ooh.. Peri..” sahutnya lirih.

Tiba tiba sebuah botol tampak mengapung mendekati perahu. Tangannya menggapai mengambil botol dan membuka sumbatnya. Pesan dalam gulungan kertas…

“Aku jatuh cinta pada kebaikanmu. Aku mencintaimu, karena kamu menjadikanku orang baik..” tulis pesan itu.

Jika cinta dalam diammu itu tak memiliki kesempatan berbicara di dunia nyata, biarkan ia tetap diam, karena Allah punya rencana terbaik untukmu.

Jika dia bukan milikmu, maka Allah akan menghapus cinta dalam diammu dengan memberi rasa yang lebih indah dengan orang yang lebih tepat.

Jadi, biarkan cinta diammu itu menjadi memory tersendiri di sudut hatimu dan menjadi rahasia antara kau dengan sang pemilik hatimu…

Ku ayunkan tongkat ku dan taburan bintang gemintang menetes ke telaga. Kini aku melihat telaga di mata sahabat Terataiku, tempat yang teduh…

*

(Bersambung)

___________________

Ilustrasi diambil dari SINI

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: