Tinggalkan komentar

THE SECRET GARDEN #3 ~ Cerita Ana Antarisa Nugroho

THE SECRET GARDEN ~
“Pintu Hati Perempuan” (3)

Cerita Ana Antarisa Nugroho

Kebun Sakura

Aku terbang menjauh sahabat Terataiku yang teduh. Angin membawa ku arah matahari terbit. Sayup sayup terdengar nyanyian indah… nyanyian bunga sakura.

Sakura, Sakura…

Nayamamo satomo, miwatasu kagiri, kasumi-ka kumo-ka,

Ashahi-ni ni ou,

Sakura, Sakura hanazakari…

Sungguh kebun yang indah. Lima keping kelopak kecilnya yang bersemu merah muda, sangat muda, tampak seperti kapas dari kejauhan. Berseri dan mekar bersama, bergerombol pada dahan-dahan yang munjuntai dan menjulur ke atas air di tepi danau. Hembusan angin pagi sesekali menerbangkan kelopak kelopak tuanya, bagai butiran salju yang lembut menerpa wajah.

Sahabat Sakura ku berdiri mematung di tepi danau, ditaburi keping keping kelopak yang berguguran. Aku tak tahu mengapa ia tampak begitu bersedih.

“Sahabat cantikku, mengapa kau muram di kebun yang secantik ini ? tidak kah keindahan bunga bunga mungil ini bisa mengobati pedihnya hatimu ?” sapa ku perlahan.

“Kenapa aku terbuat dari pagi dan dia malam ? Kami berbeda waktu dan tempat, tidak mungkinkah kami bisa seiring ?” matanya mulai berkabut.

“Peri, maafkan.. aku tidak bisa menyembunyikan sedihku. Biarlah aku di sini menikmati indahnya sakura. Kebun ini selalu memberiku kekuatan.” sahutnya.

Aku terbang berputar, ku lempar tongkat ku dan seketika menaburkan banyak bintang dan bias warna pelangi. Kuntum-kuntum Sakura bermekaran seolah ingin menangkap setiap kilau bintang yang terjatuh. Aku hanya ingin sahabat Sakura ku gembira.. paling tidak tersenyum.

Aku hinggap di pundaknya dan berbisik “Sayangku, mekarnya bunga Sakura menandakan datangnya musim baru, kuncup-kuncupnya selalu mekar bersamaan dan gugur pada saat yang sama, ku ingin kau seperti sakura, yang gugur dan mekar tak putus putusnya, tak pernah berhenti berharap, bertambah mempesona, bertambah kuat.”

Jarinya di arahkan kepadaku, menyuruh ku hinggap di antara sela jemarinya. Kami berhadap-hadapan, kini butiran air matanya tampak membasahi pipinya yang merona, merah muda seperti kelopak sakura… “Peri, aku merasa sedih sekali” katanya lirih.

“Berhentilah menangis sahabat Sakura ku, jika kau tertawa, dunia akan ikut tertawa bersamamu, jika kau menangis, kau akan menangis seorang diri” kubelai pipinya dengan tangan mungilku.

Ingatlah saat airmata berlinang dan hatimu terluka, “La Tahzan, Innallaha Ma’anna. Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah berserta kita…”

 

Perbedaan prinsip, haruskan menjadi tembok tumbuhnya cinta ? Aku hanya Peri yang tak mampu berkata lebih dari mengayunkan tongkat dan menaburkan bintang berkilau.

*

Kebun Kamboja

Ini adalah kebun terakhirku…

Matahari semakin condong ke barat, senja itu aku sampai di tanah berbukit dengan rumput hijau membentang serta hiasan batu batu pualam murni. Pohon Kamboja tumbuh merindangkan kebun terakhirku. Entah mengapa, harumnya kamboja membuat suasana yang sedikit sendu.

Bunga Kamboja berhias lima helai mahkota putih semburat kuning di ujungnya, menebarkan bau harum yang khas. Konon, bunga yang miliki empat atau enam helai dipercaya mempunya kekuatan mistis. Daunnya hijau dengan urat daun yang jelas terlihat, serta batangnya yang artistik. Alam telah membentuknya menjadi tumbuhan yang eksotis. Yaa Muhaimin… Allah Sang Maha Pemilihara.

Rasanya aku perlu meminjam kilau tongkatku untuk menerangi jalanan setapak yang mulai remang. Aku melihat bayangan seorang sahabat bersimpuh pada sebuah batu pualam besar. Tangannya yang kurus sedang mengukir kata kata indah di batu pualam. Wajahnya pucat seperti bulan, bulir bulir keringat tampak didahinya. Bunyi dentingan alat pahatnya begitu bermelodi dipadu bunyi serangga senja yang mulai turun bernyanyi.

“Sahabat Cantik ku, apa yang sedang kau ukir ? Berhentilah, hari mulai remang, bolehkah aku memberikan sedikit cahaya agar kau tak merasa gelap ?” kuayunkan tongkatku sehingga butiran bintang-bintang halus berkilau terjatuh ke tanah.

Sahabat Kamboja menengadah, dan tersenyum “Terima kasih Peri baik, aku tidak punya banyak waktu, aku harus menyelesaikan ukiranku. Karena aku takut, Malaikat akan menjemputku sewaktu-waktu, Tidak bisa kutunda.”

“Apa yang kau ukir diatas batu pualam itu ?” tanyaku.

“Kisah-kisah indah agar bisa dikenang saat aku pergi..” sambungnya.

Kini bukan bulir bulir keringat yang ku lihat, tapi butiran berlian yang menetes dan jatuh di atas batu pualam.

“Sahabat Kamboja ku, pandanglah awan dan jangan melihat ke tanah.. “kuayunkan tongkatku, kutiup ujungnya sehingga lebih banyak lagi bintang gemintang yang bertaburan.

“Aku tahu, kau adalah sahabat yang tegar. Terimalah bagian yang telah diberikan Allah kepadamu dengan senang hati, maka engkau akan menjadi orang paling beruntung. Hitunglah karunia-karunia Allah yang dianugerahkan kepadamu” lanjutku.

“Ya, aku tahu Peri kecil, tetapi rasanya belum cukup aku merawat bunga bunga kambojaku” masih dalam isaknya.

“Sahabat Kamboja, tahukah engkau bahwa penyakit merupakan sebuah pesan yang menyimpan kabar gembira ? Berdoalah kepadaNya, niscaya Allah akan mengabulkan dan meringankan untukmu” berharap dapat menenangkan hatinya.

Ku hapus butiran berlian yang menetes di pipinya yang pasi, “Akan kukumpulkan air matamu menjadi sebuah sungai, agar bunga bunga kamboja tetap berbunga dan mengingatmu, bila saatnya tiba”.

Dua kuntum kamboja terjatuh tepat di pangkuannya… bunga dengan empat dan enam mahkota ! “Lihatlah, Malaikat mendengar doamu, bersemangatlah ! Dengan segala niat baikmu, kau masih bisa berharap Dia akan urungkan niatnya mengajakmu.” hiburku.

“Bila kau sudah sadar bahwa hari-hari mu itu suka mengambil dan menolak, memberi dan menahan dan mereka tak pernah lupa dengan segala hal yang pernah mereka berikan, hingga mereka mengambilnya kembali, maka ringankanlah kesedihanmu”

Selamat tidur sahabat Kamboja … Mimpi yang indah !

*

Aku kembali ke jalan setapak yang begitu teduh dan damai. Ke pintu besar tempat aku membuka Pintu Hati Perempuan dengan setangkai kunci perakku. Terasa begitu ringan langkahku.. karena aku telah melihat dan belajar begitu banyak hati perempuan disana, dalam kebun kebun yang indah.

Kini,

Aku kembali terduduk di “singgahsanaku”. Bukan sebagai Peri. Tapi aku yang suka kopi dan berkhayal.

Hari mulai gelap.. seberkas sinar mengintip melalui celah tirai jendelaku. Kuhirup sisa kopi dalam cangkir porselinku, ada bayangan bulan di situ.

“Hmm, Kebun Rahasia, tunggulah aku. Suatu saat akan kubuka pintu mu yang lain” kataku dalam hati.

***

Ilustrasi gambar dari SINI

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: