2 Komentar

Obituari Murtidjono: Bukan “Marhaen” benar menusuk kalbu… – Oleh Eko Tunas

Obituari Murtidjono

BUKAN “MARHAEN” BENAR MENUSUK KALBU…
Oleh EKO TUNAS


SAYA bertemu dia kali pertama saat Taman Budaya Surakarta (TBS) menyelenggarakan acara bertaraf Internasional “Nurgorarupa” pada tahun 1990. Saat itu saya sudah mendengar namanya, seorang tokoh yang mewabahkan kalimat yang nyaris menjadi mitos: saya seniman, pekerjaan sampingan saya pegawai negeri.

Ya, dialah Murtidjono yang bagi saya seorang PNS pejuang. Melalui tangan dinginnya sebagai Kepala Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta (TBS) berkembang tidak hanya secara fisik representatif untuk pementasan seni dan tempat nongkrong seniman. Tapi juga monumental sebagai barometer Taman Budaya secara nasional maupun internasional.

Menurut bisik-bisik, di depan namanya dia menyandang gelar KRT: Kanjeng Raden Tumenggung. Satu gelar yang di tlatah Surakartahadiningrat sebagai penanda keturunan Keraton, darah biru. Tapi di mata sahabatnya sejak kuliah di Yogya, Halim HD, soal darah biru itu jadi bahan guyonan. Ujar Halim, “iya saja, dia kan kalau donor darah ditolak, karena warna darahnya biru..!”

Bagi saya gurauan itu pasti masuk akal, sebab saya hapal dalam membuat joke, Halim selalu ada alasan. Dan itu saya temukan saat malam acara Nurgora saya mau menyaksikan Teater SAE, “Biografi Yanti 12 Menit”. Satu teater dari Jakarta yang sedang menjad virus post-modern – istiah yang fasih dibanggakan seniman sok pasca modern dengan singkatan posmo – sutradara Boedi Otong dan teks Afizal Malna.

Di hall Teater Arena penonton sudah berjubel, sebagian masih tampak mengantri di Ticket Box. Saya menunggu sambil mengobrol dengan Halim, Kurator Nurgora dan yang mengundang Teater SAE, oleh karena itu dia tahu banyak dan banyak bicara tentang teater ini. Perhatian saya mendadak tertuju pada seorang pria setengah baya, yang datang sendiri dengan langkah lenggang-kangkung. Orangnya berkulit tergolong hitam, berambut gondrong dan berdandan ala seniman. Lenggangnya memang antara seperti kelelahan dan tak acuh, tapi asyik sendiri. Dalam hati saya berkata, mungkin dia salah satu ‘seniman daerah’ – sebutan cukup melecehkan untuk seniman dari kota kecil yang mau mencecap teater posmo. Sungguh meski dia mungkin mengenal Marx, nama yang diagung-agungkan Halim, tapi wajahnya lebih mengesani Marhaen yang diperkenalkan Bung Karno sebagai petani desa khas Jawa. Lebih tepatnya yang menurut agama awal Jawa: Hindu, tergolong klas Sudra: kawula alit, jelata, berdarah merah, dan yang jelas tak mengenal seni modern apalagi posmo!

Tampak dia ikut mengantri tiket, dan anehnya Halim menghampiri sambil mengajak ngobrol. Ini tidak biasanya seorang Halim yang dikenal jaim mau mendatangi dan mengajak ngobrol serius, kalau dia Marhaen biasa. Saya yang ditinggalkan berkesimpulan, mungkin dia tokoh LSM yang juga tergila-gila pada kesenian seperti Simon Hate yang sahabat Halim juga di Yogya.  Saat pintu Teater Arena terbuka kami pun ikut dalam antrian masuk. ‘Si Marhaen’ di depan Halim, dan saya di belakang sang kurator. Penasaran sambil berbisik-bisik saya bertanya, “siapa dia, Lim?” Sontak di telinga saya Halim menjawab, “dia itu Murtidjono..!”

Sesaat saya terpana, sesaat kemudian saya membisikkan kalimat puisi Chairil Anwar di telingan Halim, “bukan Marhaen benar menusuk kalbu…” Halim tertawa.

Datang awal dan menemani

Tahun-tahun sesudah itu saya beberapa kali bertemu Murtidjono, dan kami menjadi akrab. Terutama karena beberapa kali saya diundang TBS, untuk berceramah dalam diskusi, pentas tunggal atau bersama. Selalu saat kami sedang menata stage Teater Arena, dia muncul dengan lenggang itu-itu juga. Menghampiri kami dan menyalami satu-satu, lalu mengajak ngobrol dengan gurauannya yang khas. Misalnya saat set masih belum tertata, masih acak-adul, dengan tersenyum-senyum dikulum dan nada biasa tapi sok serius dia bertanya, “ini sudah selesai ya?”

Kami tentu saja serentak menjawab belum, dan inilah gurauannya, “saya kira sudah selesai, kan mirip seting Teater Sae..?”

Kami pun tertawa, dan terus tertawa mendengar guyonannya yang tak habis-habis. Spontan dan langsung merespon sekeliling, atau persoalan yang dekat-dekat dan kadang-kadang menyentil ‘kiri-kanan’.

Setelah itu, dan ini yang lebih kami tunggu, dia akan menawari untuk yang menurut istilah ajakannya marung, atau gampangannya makan di warung.  Warung makan biasa kami beramai-ramai makan atau sekadar medang, minum teh atau kopi, sambil ngobrol satu warung yang sangat sederhana. Warung lesehan berukuran 2×4 meter, persis di samping kiri trap tangga menurun ke dekat kantornya. Sehingga karena tak menampung banyak orang, kami cerai-berai di rumputan, batu, atau di pinggir jalan beraspal. Sambutan Ibu penjaja warung dan Karyawan TBT pun tampak biasa-biasa saja, sama dengan sambutan terhadap yang lain. Semacam penanapan pergaulan, untuk menghadapi setiap orang sama. Satu gaya pergaulan yang tentu saja membuat nyaman ‘seniman tuan rumah’ atau ‘seniman tamu’ – istilah ini dari dia juga yang mendapat sebutan non birokrasi: ‘kepala suku’.

Meski pun begitu jangan tanya bagaimana disiplinnya. Pernah pagi-pagi antara jam 07.30, saya sarapan di warung lesehan itu setelah pentas malam tadi. Ternyata Murtidjono sudah ada di kantor. Tampak lenggangnya yang kali ini menunjukkan wajah serius. Dia pun duduk memojok sambil memesan teh tubruk. Dan sembari menyeruput teh kesukaanya dia seperti bicara sendiri. Kalimat-kalimatnya yang seperti ditujukan kepada gelas tehnya yang saya rekam di kepala saya, bagai gugatan terhadap ketidakdisiplinan dengan gaya samasekali tidak ada ledakan. “Kepalanya sudah datang, kantor masih tertutup. Tidak ada satu kepalapun yang kelihatan. Pegawai negeri macam apa, kalau tidak menghargai waktu. Lihat saja nanti kalau ganti Kepala, kalau Kepalanya bukan saya yang selalu mengalah…”

Tapi sebagai seniman dia bukan samasekali tanpa ledakan. Belakangan di usianya yang telah melewati 50 tahun, dia justru mendirikan grup band beraliran rock. Sore itu di warung itu juga menjelang pementasan saya, saya diminta melihat latihan grupnya. Di ruang yang disebut sebagai laboratarium musik itu, saya lihat dia bersama awak bandnya seperti sudah menunggu. Anehnya saya lihat dia mengenakan kostum dan aksesoris tak ubahnya seorang rocker, lengkap dengan sepatu laras panjang ala rocker. Saya pikir mungkin dia lakukan itu untuk menyesuaikan diri, meski sebagai bos atau manager. Saya lihat dia ikut mengatur peralatan dan sound, sambil membawa botol kemasan air mineral. Tak disangka begitu musik menggebrak, ternyata dialah vokalis rocknya. Suaranya yang serak menua dipaksakan berteriak-teriak dengan badan terbongkok-bongok, sampai terbatuk-batuk dan berkali-kali menenggak air mineral. Melihat itu terusterang saja saya tertawa.

Berbeda tapi tetap kawan

Pertemuan terakhir saya dengan Murtidjono pada tahun 2011 di Tegal. Saat Dewan Kesenian Kota Tegal (DKKT) mengundang dia dan saya sebagai pembicara dalam diskusi tentang taman budaya. Diskusi itu sendiri dimaksudkan untuk memberi masukan terhadap dibangunnya Taman Budaya Tegal (TBT). Itulah sebabnya sore sebelum diskusi, saya dan dia diajak Ir Wahyudi selaku Kepala Disporasenbudpar dan Nurngudiono Ketua DKT untuk meninjau TBT. Saat itu sedang hangat-hangatnya perdebatan pembangunan TBT, dan pro-kontra pengelolaannya kelak. Terutama yang oleh pihak tertentu TBT yang teater arenanya sudah jadi kira-kira 75% dinilai tidak representatif. Sekaligus mengenai anggarannya yang telah mencapai 6,3 miliar tapi masih mengesani gudang, sebagaimana yang dinyatakan oleh seorang developer M Enthieh Mudakir. Dan apa yang dikatakan Murtidjono, seperti tanpa beban dan memang tidak tahu mengenai ‘konflik’ di balik pra diskusi itu.

Dengan santai dia mengatakan bahwa TBT adalah Teater Arena terbesar di Indonesia, bahkan mungkin di dunia. Hanya perlu sedikit saja perubahan, katanya lebih lanjut sambil menunjuk pintu di belakang stage yang terasa mengganggu, dan lantai seputar stage yang mustilah tidak menggunakan keramik. Bahkan saat bertanya berapa ‘m’ lagi yang dibutuhkan untuk penyelesaian dan maintenancenya, lebih mengejutkan bagi pihak yang kontra. Ialah saat Wahyudi menjawab 3 m, dan sontak dia menjawab sembari tersenyum. “Untuk teater arena sebesar ini paling tidak penyempurnaannya butuh anggaran 13 miliar..!” Dan tetap tenang-tenang saja ia, sambil menceritakan bahwa saat masuk Tegal tadi dia makan di satu restoran. “Di situ ada tukang parkir yang mengaku bisa memijat,” tuturnya sambil menahan tawa, “ya saya pun minta dipijat. Omong punya omong ternyata dia pengurus DKKT..!”

Diskusi malam itu pun berlangsung memanas, antara pro dan kontra TBT. Akan tetapi Murtidjono tenang-tenang saja, sambil memilih duduk di bawah gaya lesehan dan saya pun terpaksa ikut duduk di bawah bersama moderator Nurhidayat Poso. Ada kecemasan diantara saya dan Nurhidayat, karena diskusi yang nyaris tak terkendali. Apalagi dia adalah tamu jauh dan terhormat, terlebih mengingat gelar KRT dan darah birunya. Tapi ternyata tetap dengan tenang sambil sesekali mereguk air mineral, tuturannya begitu secair air putih. “Bagi saya biasa menghadapi diskusi keras seperti ini, yang lebih gila dari ini pun saya sering menemui. Dan saya menghadapi dengan ketawa-ketawa saja, karena saya tahu sesudah ini paling semua yang bersitegang akan makan bareng di warung. Ya begitulah seniman, saya sudah biasa bergaul dengan seniman puluhan tahun. Seniman dalam negeri mau pun luar negeri, seniman priyayi atau seniman gendeng. Ya saya ketawa saja…” Peserta diskusi pun..gerr..!

Siang jam 13.35 saya menerima SMS dari Halim HD: Mas Murtidjono tutup usia hari ini di rumah sakit Sardjito Yogya. Sesudah itu SMS bertubi-tubi masuk, termasuk dari Dewan Kesenian Solo (DKS) yang sempat bubar dan dihidupkan kembali oleh Murtidjono. Membuka SMS demi SMS jujur saja, membayangkan almarhum saya bisa menangis sambil tertawa. Justru ada sesuatu yang hidup dalam diri saya, seperti semangat dalam diam, seperti diam dalam gelora jiwa. Satu kesan yang menggores bahwa, Murtidjono adalah pribadi yang penuh spirit dan mengimbaskan daya hidup kepada seniman-seniman yang dicintainya. Selamat jalan Mas Murti, sampai ketemu di lain waktu.

(EKO TUNAS, Seniman)

_________________________

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

2 comments on “Obituari Murtidjono: Bukan “Marhaen” benar menusuk kalbu… – Oleh Eko Tunas

  1. Mohon izin menambahkan informasi, foto Eko Tunas tersebut diambil oleh Budiarto Gondowijoyo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: