Tinggalkan komentar

Suatu Hari dalam Hidup Seorang Lelaki Setia – Cerpen Achmad Munjid

SUATU HARI DALAM HIDUP SEORANG LELAKI SETIA
Cerpen Achmad Munjid

Ah, kesetiaan memang tak pernah bisa dinilai dengan angka, atau diungkap dengan kata-kata. Baginya, cuma suasana seperti sore itulah yang kian terasa sebagai satu-satunya penghargaan yang bisa menghiburnya.

Sengatan matahari menusuki kulit. Debu yang berpusing-pusing bercampur solar kendaraan sungguh keras menampar mukanya. Meski telah mengenakan jaket dan kain penutup hidung, di jalanan Yogya yang kian semrawut ini ia selalu merasa sesak nafas. Beginilah akibatnya kalau sudah kesiangan. Semuanya serba kalang-kabut, kemrungsung. Knalpot sepeda motor si Pitungnya yang harus merangkak naik dari arah selatan kota itu pun terdengar terus meraung-meraung, persis istri cerewet yang tak henti menggerutu.

Sebetulnya jarang sekali ia berangkat kerja kesiangan seperti ini. Hampir semua orang mengenalnya sebagai laki-laki yang sangat berdisiplin dan tekun. Belasan tahun, setiap jam delapan pagi ia selalu sudah siap di meja kerjanya di sebuah penerbitan buku. Sepanjang hari, ia akan tenggelam dalam belantara huruf dan kata-kata. Ia memang tipe orang yang tak banyak bicara, lebih-lebih ketika sedang bekerja. Baru setelah jam setengah lima sore ia berkemas pulang. Berbaris bersama pekerja penglaju lainnya dari daerah sekitar Bantul, ia biasanya selalu terlihat meluncur tenang di atas kendaraannya yang tua dan setia.

Setia. Siapakah yang lebih setia, ia atau motornya? Mungkin kedua-duanya. Kadang, ia memang seperti melihat pantulan dirinya pada sepeda motornya itu. Tua, terawat, setia dan tak pernah mengeluh. Dua hal harus kita pegang sebagai prinsip dalam hidup, begitu seringkali ia membatin selagi mengelap atau mencuci kendaraan yang ia warisi dari ayahnya itu. Yaitu, kerja keras dan ketulusan hati. Kerja keras tanpa ketulusan hati hanya akan membuat kita terus mengeluh, bahkan frustrasi. Sebaliknya, tulus hati tanpa kerja keras akan membuat kita cuma jadi pemimpi. Ia dan motor tuanya itu memiliki kedua-duanya.

Selain sepeda motor, matahari juga adalah sahabatnya yang setia. Setiap pagi, sinarnya itu selalu jatuh miring, seperti sengaja memberi sebuah usapan hangat pada pipi kanannya. Semacam belaian lembut yang senantiasa menyalakan kembali semangatnya. Sore hari, sekali lagi, matahari itu juga akan mengusap pipi kanannya. Soal matahari itu, sampai-sampai suatu kali ada seorang teman yang meledeknya begini. Mau tahu cara mudah mengidentifikasi orang Bantul? “Lihat, pipi sebelah kanannya hitam!,” katanya. Ah, ada-ada saja.

Begitulah, belasan tahun, di atas sepeda motornya yang tua ia pergi dan pulang kantor dengan matahari yang bersinar hangat di sebelah kanannya. Sementara, bayangan panjang mengikutinya di sebelah kiri. Semuanya begitu setia, Dan itu kian mengukuhkan prinsip hidupnya yang sederhana. Bukankah kerja keras dan ketulusan hati adalah kesetiaan yang sesungguhnya pada hidup ini?

Tapi, hari ini ia kesiangan. Dan sungguh itu membuat segalanya jadi serba berantakan.

“Masak, sudah kerja belasan tahun, pinjam duit ke kantor buat biaya sekolah anaknya saja tidak berani. Ayah macam apa itu?,” begitulah awal mula pertengkaran dengan istrinya pagi itu. Padahal, baru beberapa sendok ia mengunyah sarapan. Mendadak nasi goreng itu rasanya jadi terlalu pedas dan panas. Persis kata-kata istrinya. Maka ia pun tak bisa meneruskan makannya. Lagipula ia agak curiga, nasi sisa kemarin yang digoreng istrinya itu sebenarnya mungkin sudah setengah basi.

“Lho, kerja belasan tahun dan pinjam duit jutaan itu kan dua hal yang saling berbeda. Jangan dihubung-hubungkan.”

“Ah, sudah, sudah. Tidak usah omong berbelit-belit lagi. Yang penting buktinya. Itu si Warto yang cuma jualan es Inul saja bisa kredit motor. Kamu? Bisanya cuma bikin anak. Giliran cari biaya, nggak pernah becus. Dasar laki-laki lembek. Mbok seperti orang-orang, usaha, cari akal, pikirannya hidup. Sebutannya saja e-di-tor, tapi cuma buat menutup belanja harian istrinya saja selalu tekor.”

Kalau sudah begitu, ia lebih memilih diam. Membisu, menuli, membuta. Mematung! Tidak ada gunanya berdebat dengan perempuan yang sudah terlanjur kerasukan setan konsumerisme begitu. Entah, istrinya masih bicara apa lagi. Ia hanya terus membaringkan tubuhnya yang kerontang di atas dipan. Itulah omongan orang yang tidak pernah mau kerja keras dan tak punya ketulusan hati, ia cuma membatin. Kenyamanan dan ketercukupan material kok dijadikan ukuran satu-satunya. Mana ada puasnya?

Jam sepuluh lewat ia akhirnya baru memelintir-melintir gas, memanaskan mesin sepeda motornya. Semakin keras istrinya berceracau, semakin keras ia memelintir gas. Kalau cuma mau cari siapa yang salah, memang perkara gampang. Tinggal tuding sana, tuding sini. Tapi, buat dia, kebenaran tak akan ditemukan hanya dengan cara menunjuk-nunjuk pihak yang bisa disalahkan.

* * * * *

Di atas sadel motornya, sore itu, ia kembali meluncur pulang. Posisi Gunung Merapi di sebelah utara membuat siapapun yang berkendaraan melintasi Yogya ke arah selatan akan merasa seperti melayang. Di atas ratusan sepeda-sepeda dan motor yang berbaris mengalir seperti air, para pekerja penglaju lainnya kadang nampak saling bercanda, sekedar melepas penat. Tapi, ia sendiri, seperti biasa, hanya diam saja. Sinar mentari yang berwarna keemasan kembali membelai-belai pipi kanannya. Bayangan dirinya yang memanjang nampak seperti menari-nari mengiringinya di sebelah kiri. Ah, kesetiaan memang tak pernah bisa dinilai dengan angka, atau diungkap dengan kata-kata. Baginya, cuma suasana seperti sore itulah yang kian terasa sebagai satu-satunya penghargaan yang bisa menghiburnya.

Istri dan anaknya memang sudah lama pergi. Pertengkaran dulu itu rupanya hanya merupakan awal dari percekcokan-percekcokan lebih sengit yang terus beruntun hampir setiap hari. Bukan, bukan pertengkaran atau percekcokan sebenarnya. Karena di tengah semburan kata-kata istrinya yang melengking-lengking, ia biasanya lebih banyak diam. Begitu mulai terdengar barang yang dibanting atau disepak berkerompyang dari arah dapur, ia segera menyingkir ke teras rumah kontrakannya yang sempit. Bersama asap rokoknya yang mengepul, ia lalu berupaya segera mengapung setinggi-tingginya, meninggalkan tubuhnya yang kian tua dan terlunta dicabik-cabik mulut istrinya.

Itulah sebabnya ia tidak terlalu ingat, kapan anak laki-lakinya yang tak jadi kuliah di UGM, meski sebenarnya telah diterima, itu akhirnya memilih pergi ke Jakarta untuk cari kerja. Setelah bosan menghamburkan sumpah-serapah, istrinya pun melesat dengan nafas terengah pulang ke kampung asalnya di Klaten. Setengah kalap, perempuan itu pergi dengan mengangkut segala yang bisa diusungnya dan menerjang segala yang tersentuh tubuhnya. Asal sepeda motor itu tak sampai dijamah, laki-laki itu memang telah merelakan segalanya.

“Dasar laki-laki lembek. Makin tua makin tidak berguna. Aku menyesal jadi istrimu. Menyesaaall!!!” Itu kata-kata terakhir yang dimuntahkan istrinya sebelum berbalik dan menghilang untuk terakhir kali dengan tatapan mata paling mengerikan yang pernah disaksikannya.

Senja ini, ketika membuka kembali kunci pintu rumahnya, kata-kata itu seperti terngiang lagi. Biasanya, setelah melepas baju dan memasukkan motor, ia segera mandi. Sebentar lagi suara adzan maghrib akan terdengar dari loud speaker di masjid seberang jalan. Tapi, kali ini ia ingin duduk-duduk saja dulu barang beberapa menit. Ia merenung-renung, mana yang lebih disukainya: hidup bersama anak istrinya dulu, atau justru ketika sendirian saja begini. Tapi entah, semakin lama terpekur, semakin ia tak punya jawaban. Mungkin seringkali hidup memang bukanlah soal memilih mana yang lebih kita sukai atau mana yang tidak.

Ketika kemudian tangannya menyambar handuk untuk pergi mandi, sejenak ia kembali menatap sepeda motornya yang terparkir sunyi. “Kerja keras dan ketulusan hati”, tak sadar, ia bicara pada diri sendiri. Tiba-tiba saja ia pun tertegun.

“Kerja keras dan ketulusan hati,” seperti kurang yakin, ia ulangi kata-kata itu sekali lagi.

Yogyakarta, 8 Juli 2003

Keterangan: Ilustrasi bersumber dari SINI

______________________________

Achmad Mundjid

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: