Tinggalkan komentar

Pak Sintong #8 – Cerbung Martin Siregar

PAK SINTONG #8

Cerbung Martin Siregar

Sejak awal perjumpaan Amsal dan Ferri simpatik berkawan dengan warga HRM. Tapi dalam interaksi pembicaran antar mereka berdua sering terjadi perbedaan pendapat mengenai visi missi HRM. Ferri menilai bahwa program HRM adalah sebuah sumbangsih mencerdaskan anak bangsa . Karena staf HRM rela letih dan menguras tenaga demi untuk mencapai masyarakat yang cerdas melalui pengetahuan analisa anggaran pemerintahan daerah. Staf HRM tidak mau bekerja di perusahaan swasta maupun pemerintahan yang lebih menjanjikan kesejahteraan. Mereka senang menyingsingkan lengan baju terjun ke masyarakat desa yang sama sekali belum dikenal. Kemudian bersahabat dan bersama sama mempelajari prosedur dan mekanisme menyusun dan mengalokasikan dana anggaran pemerintah. Agar dengan pengetahuan tersebut masyarakat mampu memonitor dan mengevaluasi sekaligus memberi peringatan apabila terjadi kebocoran dana oleh oknum pemerintah. Melalui proses tersebut kolusi korupsi dan nepotisme semakin terkikis dari negara kita.

Amsal tidak fanatik seperti Ferri dalam memberi penilai terhadap HRM. Amsal katakan staf HRM sudah mendapat gaji bulanan dengan standard internasional yang mungkin jauh lebih besar dari gaji pegawai negeri maupun swasta. Karena program dan fasilitasnya dibiyai oleh lembaga dana. Termasuk beberapa lembaga dana yang memberikan dana khusus untuk pensiun dihari tua. Tarif pensiunan tersebut tentulah jauh lebih tinggi dari pensiun pegawai negeri maupun swasta. Jadi jangan dipikir mereka hanya berkorban hidup prihatin di HRM.

Inilah beda pendapat antar Ferri dan Amsal, Dan, keduanya setuju perbedaan pendapat tersebut sangat tepat dipecahkan bersama Pak Sintong, Indra dan Ari. Karena siang ini tak jumpa pak Sintong sedangkan Ari dan Indra sudah didepan mata, maka perjumpaan ini adalah kesempatan emas untuk memecahkan beda pendapatnya dengan Ferri.

“Pada perjumpaan pertama sebelum pementasan Orang Orang di Tikungan Jalan  bulan lalu, kami sudah dengar bahwa HRM Pontiansek baru menjalankan program di empat desa. Progam apa itu bang Indra” Amsal pura pura tak tahu programnya.

“Oh,…itu program pelatihan Pengawasan Pembangunan oleh Masyarakat”.  “Jadi, kita coba panggil beberapa masyarakat desa yang potensial untuk dilatih tentang : Bagaimana cara pemerintah menyusun anggaran daerah dan bagaimana cara mempergunakan dana tersebut untuk kepentingan masyarakat umum” Indra terangkan hal itu dengan tenang dan rendah hati.

“Oh…begitu nya Bang. Berarti mata kuliah yang satu semester di perguruan tinggi akan disampaikan dalam beberapa hari pelatihan saja?” Amsal langsung berkomentar sedangkan ekor matanya  melirik Ferri dengan sinis. Hal ini nampaknya salah satu perbedaan pendapat antar Ferri dan Amsal yang sulit terpecahkan.

“Tidak…tidak begitu maksudnya. HRM hanya memberikan petunjuk praktis dan hal yang prinsip saja”. Tidak mendetail seperti apa yang diterima mahasiswa. Kemudian dalam latihan tersebut ada juga sessi mengorganiser masyarakat agar sepulang dari pelatihan mereka langsung membentuk sebuah forum kecil untuk mengawasi pembangunan di desanya masing masing”. Amsal tetap memasang wajah pura pura bodoh dan pura pura menyimak tekun. Sedangkan Indra nampaknya tak paham bahwa pertanyaan pertanyaan yang diajukan Amsal sekedar sandiwara untuk memojokan Ferri.

“Kan, orang desa yang datang ke pelatihan dibiayai oleh HRM. Dan HRM membiarkan masyarakat itu sendiri yang memilih utusannya datang ke pelatihan”. Pertanyaan Amsal muncul kembali. Tapi, sebelum dijawab Indra, Amsal melanjutkan bicaranya: “Besar jugalah dana HRM kalau bikin pelatihan ya…?. Yah,..Apa mau dikata ?. lembaga dana mengabulkan anggaran yang HRM pusat ajukan. :”Walaupun dananya besar, tapi besar sekali manfaat yang diperoleh masyarakat desa.  Mereka semakin mencintai lingkungan hidupnya di tempat masing masing. Dan akan bekerja dengan sungguh sungguh demi untuk kemajuan desanya. Tidak tergiur meninggalkan desa menyesakan kehidupan kota”. Indra memang menguasai bidang kerjanya, sehingga dengan jelas dia dapat menerangkan keberadaan HRM kepada siapa saja. Tapi, Amsal melihat ada celah dari keterangan Indra, sementara Ferri dan Ari terus menyimak dengan mata melotot.

”Nah !!, disini kesalahan bang Indra. Abang pikir pasca pelatihan semua berjalan mulus tanpa hambatan?”

“Saya pernah tanya bapak muda sehabis pelatihan. Dia justru tak tertarik dengan kondisi desanya karena sangat sulit di organeser. Dia sangat tertarik belajar dengan tekun agar dapat diterima bekerja di HRM. Lebih bergengsi hidup di kota dan kerja di HRM. Dan, nanti anaknya kalau besar akan disekolahkan sampai sarjana agar tidak menetap di desa. Tapi akan jadi staf di HRM. Nah !!! kalau sudah begini jelaslah apa yang di rancang dalam pelatihan meleset 180 derajat”. Dilirik Amsal si Ferri yang tunduk terdiam tak mendengar jawaban Indra yang juga tunduk.

Lantas Amsal lanjut bicara : “Supaya abang tahu, sehabis pelatihan banyak peserta yang jadi elite alternatif di desanya masing masing. Mereka tak mau lagi sembrangan berinteraksi di desanya. Inikan tak mendidik. Justru merusak suasana desa yang sudah tercipta selama ini.  Lumayan kalau ada yang kongkrit dikerjakan. Para alumni pelatihan tak juga mengerjakan apa apa”. Temperamen Amsal meningkat, suaranya agak melengking mukanya merah padam. Mungkin sudah lama kritik ini dipendamnya dalam hati dan perdebatan dengan Ferri tak memuaskan Amsal. Ketika jumpa dengan Indra beban itu terasa lepas dari bathinnya.

Tapi, Indra memaklumi darah muda Amsal yang masih emosionil : “Memang kami seolah menciptakan elite baru di desa. Dan,…… memang itu tidak sehat. HRM sadar itu. Tapi, HRM juga sadar bahwa gerakan yang radikal revolusioner yang seperti kau impikan tak mungkin bisa dilakukan”. (bersambung)

___________

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: