Tinggalkan komentar

Pak Sintong #9 (Tamat) – Cerbung Martin Siregar

PAK SINTONG #9 (Tamat)

Cerbung Martin Siregar

Masyarakat kita sudah terpecah belah tak mungkin solid akibat hasutan kekuatan modal oleh politikus politikus yang rakus ” Dengan gampang mereka akan menyusup ke tengah masyarakat apabila gerakan revolusioner didengungkan”. Menyebarkan duit dalam jumlah besar ke masing masing anggota masyarkat. Mereka punya banyak duit”

Dan masyarkat desa yang miskin tetap jadi korban”. Jadi janganlah sepele sekali sama kerja HRM Hua…ha…ha,…Indra tertawa pertanda dia paham sekali pikiran Amsal. Karena komentar seperti yang disampaikan Amsal sudah sering sekali dihadapi Indra. Jadi tidak membuat Indra berkecil hati mendengarnya. Ferri ikut tertawa sambil berkata: “Bang Indra,.. sudah lama perbedaan pendapat ini terjadi antar saya dan Amsal”. Keras kepala Amsal tak juga lunak sampai sekarang”. “Iya…kerasnya Amsal sama dengan kerasnya Ari” Ha…ha…Pak Sintong juga keras tapi dia masih membuka diri untuk menerima masukan dari orang lain”. Dia itu sudah matang dalam dunia pengembanagn masyarakat”. Mendadak Indra teringat Pak Sintong yang selalu berdiskusi akrab dengannya .

Pak Sintong tak jadi pastor karena terlalu kaku menafsirkan Marxisme. Itu makanya beliau menyesal karena menghabiskan masa mudanya dengan pikiran pikiran ideologis yang kaku tak mau bergeser sedikitpun. Seandainya dia mendengar sikap keras Amsal, pasti Amsal dinasehatinya habis habisan. Tapi tidak dengan sikap sinis, Pak Sintong  akan pakai kalimat kalimat yang lembut.

Sekarang Amsal yang balik menunduk diam seribu bahasa duduk disamping Ferri. “Janganlah kau terkontaminasi oleh pikiran  pikiran mahasiswa”. kata Indra melanjutkan.

Mungkin selama tahun 2004 ini masyarakat dihebohkan oleh maraknya pemilihan presiden Indonesia. Pemilihan umum yang baru berlangsung telah  menerbitkan berbagai pendapat pro dan kontra. Baik antar caleg partai, korelasi partai dengan KPU maupun Panwaslu atau dengan pemerintahan Megawati yang sedang berkuasa. Keterlibatan militer, preman, islam garis keras dan kaum oportunis masih sangat menyolok kelihatan dalam peta politik Indonesia. Banyak juga yang masih mengharapkan kubu status quo kembali memegang tampuk kekuasaan, walaupun lebih banyak yang sangat sinis terhadap orde baru kepemimpinan presiden Suharto selama lebih 30 tahun.

Pada pemilu 2004 lembaga dana asing yang beroperasi dalam jumlah sangat besar. Mulai dari pemantauan pemilu oleh beberapa organisasi dunia dan nasional sampai ke soal pengadaan kotak suara mempergunakan dana yang bukan dikelola pemerintah.

Hal ini juga menerbitkan perbedaan pendapat antar Amsal dan Ferri. Mereka adalah dua sahabat yang terus menerus bertengkar tapi tetap bersahabat akrab. Karena keduanya memiliki niat belajar yang tinggi dan memiliki selera yang sama soal cita rasa tentang banyak hal di dunia ini.

Sementara kawan kawan mereka ada yang kaya mendadak karena ikut dalam tim sukses partai dan caleg. Sibuk cetak poster, brosur spanduk atau perlengkapan kampanye lainnya. Kampang salah seorang kawan dekat mereka yang bijaksana mengatakan: “Jangan harap dedikasi saya untuk partai kambing”. “Karena partai kambing kasih duit lebih banyak maka saya jadi tim sukses”. “Kalau tarif saya lebih tinggi diberikan partai ayam, maka secepat kilat saya akan tinggalkan partai kambing”. Ada beberapa kawan yang sinis melihat Kampang, tapi Kampang dengan gesit katakan:”Tak usahlah sok idealis sok berjuang untuk demokrasi Indonesia”. “Mahasiswa sok idealis, padahal mahasiswa itu sama sekali tak dihitung dalam kancah politik Indonesia”.  Hua…ha…ha…. Kampang sangat muak lihat aktivis mahasiswa. Dan sinisnya Kampang  sama saja dengan  sikap para aktivis mahasiswa melihat sikapnya. Tapi Kampang sama sekali tak perduli dan tak mau tahu entah apa yang dikerjakan oleh para aktivis tersebut.

Kampang mahasiswa pintar yang mata duitan. Sama sekali tak ada niatnya menjaga martabat mahasiswa dan perguruan tinggi almamaternya. Kampang sudah frustasi melihat keberadaan perguruan tinggi. Pada semester 1 – 2 dia masih niat untuk belajar dengan tekun serius menjadi sarjana berkwalitas. Tapi, melihat mutu dosen dan sistem pendidikan yang rakus duit maka Kampang jadi kecewa . Bahkan untuk mendapatkan duit, Kampang jadi tukang bikin skripsi para mahasiswa malas/bodoh dengan tarif rupiah yang lumayan tinggi. Sekaligus mengkordinir

Jam empat sore Sisilia, Ari, Asmi dan Asep sudah hadir di HRM. Telepon Indra baru saja katakan bahwa dia agak datang terlambat. Mereka sangat menanti kira kira apa kabar penting yang akan disampaikan oleh Indra. Mereka berempat sudah tak sabar.

“Tadi siang Pak Sintong telepon saya”. Indra mulai cerita. Sekarang beliau sedang diuber preman dan militer mau dihabiskan (dibunuh). Karena dalam pelariannya tersebut Pak Sintong  jumpa dengan kawan lamanya Pastor Cevara Lubis yang juga lari dari Medan karena ada kasus pembakaran mobil militer di pinggir pantai. Pantai itu akan didirikan hotel hotel mewah sebagai tempat kunjungan wisatawan mancanegara. Nelayan dan rakyat miskin yang selama ini menetap disitu akan digusur paksa oleh militer. Pastor Cevara Lubis mengorganeser nelayan tersebut dan dituduh membakar mobil militer.

Nah !!! dalam status buron,  keduanya jumpa dengan kawan lama mereka yang sekarang sudah menjadi pimpinan redaksi majalah mingguan “Bonagit”. Ari terkejut: “Oh !! jadi Gunara pimpinan redaksi majalah yang hebat itu kawan Pak Sintong”. Hebat betul kawan Pak Sintong”. Tapi, lanjutkan ceritanya bang Indra”.  Head line majalah “Bonagit” yang akan datang Pak Gunara sarankan : Mengungkap Persekongkolan Militer, Preman dan Konglomerat dalam Dunia Bussines Indonesia. Ternyata Pak Sintong dan Pastor Cevara Lubis yang terlibat dalam investigasi reporting ketahuan oleh militer. Militer menekan mereka agar kebusukan bussines  tersebut tidak dipaparkan dalam majalah Bonagit. Tapi Bonagit berkeras. Kebusukan itu harus dimuat pada edisi minggu depan. Maka terrorpun terjadi di kantor Bonagit. Kaca jendela pecah dilempari batu dan 2  buah mobil staf Bonagit dibakar minggu lalu. “Iya.. kasus itu ada saya baca di koran” kata Sisilia. “ Ananta wartawan senior  Bonagit juga ditusuk sampai harus menginap di rumah sakit (mungkin) sampai hari ini”  Ari menambahkan. Nah !!! sasaran utama mereka Pak Sintong tak nampak batang hidungnya 2 minggu belakangan ini”. Kalau ketahuan oleh preman dan militer,  pasti Pak Sintong dan Pastor Cevara Lubis sudah jadi mayat. Untung mereka dapat sembunyi ditempat yang sangat rahasia, sehingga tak diketahui preman dan militer ( yang menyamar menjadi preman).

“Saya tak tahu entah dari mana Pak Sintong telepon HRM tadi siang. Tapi Pak Sintong minta saya untuk jemput dia di pelabuhan kapal plonton Kinsiru. Yang biasa angkat minyak kelapa sawit PT Anseli, mungkin 5 hari lagi. Oleh karena itu kita bagi tugas” kata Indra.

“Sisilia coba tanya informasi soal kedatangan kapal ke PT Anseli, Ari dan Asep cari kamar atau rumah kost Pak Sintong dipinggir kota yang aman tidak terlalu ramai untuk Pak Sintong beberapa minggu. Asmi tanya informasi soal pelacakan Pak  Sintong sebagai buron korem, dan saya terus kontak intens kawan dekat Pak Sintong di Bonagit”. Asmi langsung minta kejelasan :”Maksudnya ?. Apa saya secara resmi tanya korem, apakah Pak Sintong masih buron”. Indra nampak jengkel oleh pertanyaan itu:    “Yah !! tak begitu !!, mungkin kau sok intelijen kenalan dengan oknum korem di warung kopi atau dimana sajalah”. Sedikit demi sedikit kau bangun komunikasi sehinga mereka mau terbuka memberitahukan kasus Pak Sintong”. Atau langsung saja menyamar wawancara pejabat korem pura pura untuk kepentingan study”. “Yah,… caranya terserah kau sajalah”.

Suasana agak hening, masing masing orang larut dalam pikirannya masing masing. “Okelah Bang Indra, saya mau pulang dulu”. “Saya mau ke dokter mau periksa kehamilan”. Sisilia bangkit berdiri. “Saya juga ada kerjaan lain” kata Asmi disusul Ari dan Asep. Indra masih di HRM melanjutkan tugas yang tertunda karena kedatangan Amsal Ferri dan Kampang. Niatnya bekerja sudah hilang tapi dipaksakannya juga.

Kring..Kring…kring… telepon berdering. Sore itu terdengar tangis ditelepon : “Halo…uh..uh..uh…apa ini dengan Indra uh..uh..  Indra panik menghadapi suara di telepon. “Saya Cevara Lubis uh…uh…uh… ma…yat… Pak Sintong uh..uh..di..te..mu..kan uh..uh… de..kat..pelabuhan. Dia mati terbunuh uh…uh..berlahan telepon langsung ditutup.”

Indra hampir jatuh ketika meletakan gagang telepon. Dengan jalan lunglai Indra ke dapur, minum segelas air dan kembali ke ruang tamu. Di teleponnya HP Santoso kawan Pak Sintong investigasi reporting kasus persekongkolan militer preman dan konglomerat dalam bussines. Santoso katakan informasi Pastor Cevera adalah benar. Pak Sintong sudah mati terbunuh dengan luka tusukan pisau 7 kali di perut dan pukulan benda keras di kepala beberapa kali. “Indra,…tak usah ragukan informasi itu” suara memelas terdengar dari HP Indra. (Tamat)

_____________

Martin Siregar

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: